I Want You XI – XII

​”Dinda!”pekik Rafael melihat Dinda yang tengah jatuh tertelungkup di dasar tangga. Darah segar pun mengalir dari rahim Dinda membentuk aliran kecil di kaki jenjang Dinda. Rafael pun segera membopong Dinda menuju mobil untuk segera dibawa ke Rumah sakit.

“Ayah, sakit.”pekik Dinda tertahan.

“Iya, tahan bunda. Kamu harus bertahan.”ucap Rafael menyemangati Dinda.

Karena rasa sakit yang tak tertahankan, akhirnya Dinda jatuh pingsan.

***

Setengah jam sudah, dokter berkutat dengan pekerjaannya di ruang rawat Dinda. Rafael masih setia menunggu di ruang tunggu ruangan. Morgan, Asti, Reza, dan Nisa juga telah datang. Sedangkan keluarga Dinda dan Rafael belum menampakkan batang hidungnya karena mereka memang sedang sibuk. Tampak jelas gurat khawatir di wajah mereka.

Wanita cantik berjas putih dengan masker berwarna hijauyang menutupi sebagian wajahnya pun keluar dari ruang pemeriksaan Dinda. Dengan sigap, Rafael segera menghampiri Dokter yang masih muda itu.

“Bagaimana dok keadaan istri saya?”tanya Rafael.

Dokter itu menghela nafas sambil membuka masker yang sedang digunakannya.

“Istri anda tak apa-apa.”ucap dokter itu tersenyum kecil.

Nampak sedikit kelegaan di wajah Rafael beserta yang lainnya.

“Namun, maaf saya tidak bisa menyelamatkan janin yang sedang dikandung istri bapak. Istri anda keguguran.”terang dokter itu yang membuat tampang kesedihan di wajah setiap orang yang mendengarnya.

“Keguguran dok?”ulang Rafael.

Dokter itu hanya mengangguk yakin.

“Arrgghh..”erang Rafael frustasi mengingat dia sangat bahagia ketika mendengar berita kehamilan Dinda. Dan sekarang, semua hilang begitu saja.

“Raf, yang sabar ini semua pasti ada hikmahnya kok.”hibur Morgan dan menepuk-nepuk pelan pundak Rafael.

“Diem loe!”bentak Rafael dan pergi begitu saja tanpa melihat keadaan Dinda yang sedang terkulai lemas di dalam.

Setelah dipersilahkan masuk oleh dokter, Morgan, Asti, Reza, dan Nisa pun segera menengok Dinda. Terlihat wajah Dinda yang sedikit pucat sedang memejamkan mata.

“Semoga Dinda bisa kuat mendengar berita ini.”celetuk Nisa.

“Iya, semoga Rafael juga segera kembali ke sini. Bagaimanapun juga Dinda saat ini sangat butuh Rafael.”tambah Asti.

Semuanya hanya mengangguk mengiyakan ucapan Asti.

“Permisi, pasien akan dipindahkan ke Ruang rawat dulu.”ucap salah seorang suster yang baru saja datang.

“Silahkan sus.”ucap Reza.

***

Malam telah tiba, Dinda belum bangun dari pingsannya. Asti dan Nisa masih setia menemani Dinda, sedangkan Reza dan Morgan harus pergi karena ada urusan. Rafael? Rafael masih belum kembali sejak sore tadi. Entah kemana ia pergi.Pelan tapi pasti, tangan Dinda mulai bergerak. Matanya terbuka perlahan. Ia sedikit mengerjap-ngerjapkan matanya, berusaha menyesuaikan cahaya dari lampu yang menyala terang yang melekat di langit putih ruangan tersebut.

“Aww.”rintih Dinda ketika sedikit bergerak untuk merenggangkan otot.

Mendengar rintihan kecil seorang perempuan dengan suara yang sangat familiar di telinga mereka, Asti dan Nisa yang sedang asyik berbincang pun menoleh ke tempat Dinda berbaring. Terlihat Dinda yang sudah sadar dari pingsannya. Segera mereka menghampiri sahabatnya itu.

“Din, bentar gue panggilin dokter dulu. Jangan banyak bergerak dulu ya.”nasihat Nisa dan berlalu pergi.

“Asti, kenapa perut gue sakit banget? Anak gue gak kenapa-kenapa kan? Tapi, kok rasanya datar banget ya? Terus, kak Rafa mana? Kenapa dia gak ada di sini?”tanya Dinda bertubi-tubi pada Asti.

“Eh.. Eh.. loe.. loe..”ucap Asti bingung harus menjawab apa. Apa dia harus jujur?

“Permisi.”ucap seseorang yang ternyata Dokter yang menangani Dinda tadi datang bersama Nisa.

“Dok, kenapa perut saya sakit ya dok kalau buat bergerak. Terus, anak saya baik-baik saja kan dok? Kenapa perut saya rasanya datar dok. Jawab dok. Jawab.”tanya Dinda dengan suaranya yang sedikit parau seperti akan menangis. Air matanya telah berkumpul di pelupuk mata. Ia takut. Sangat takut, jika apa pikiran negatif yang ia pikirkan saat ini benar. Dokter masih diam.

“Dokter, tolong dijawab dok.mohon Dinda.

Dokter itu menghela nafas lagi. Mungkin ini adalah salah satu hal yang paling ia benci, karena harus memberi kabar buruk kepada pasien yang ditanganinya.

“Saya harap anda tenang dulu. Karena benturan yang terjadi di perut anda, sehingga menyebabkan pendarahan. Dan, janin yang ada di rahim anda tak terselamatkan. Anda keguguran.”jelas dokter itu akhirnya.

“Keguguran dok? Anda  sedang berbohong kan?”tanya Dinda tak percaya. Matanya panas. Akhirnya, air mata itu jatuh juga. Apa yang ditakutkannya ternyata benar.

“Gak.. Ini gak mungkin kan?”ucap Dinda lirih.

“Din.. Sabar.. Mungkin Tuhan masih belum bisa mempercayai loe sama Rafael untuk jadi orang tua.”hibur Asti.

“Iya Din, sabar ya. Gue tahu loe pasti kuat kok. Mungkin saat ini belum waktunya. Pasti, suatu saat bakalan ada penggantinya kok.”lanjut Nisa sambil mengusap-usap rambut panjang Dinda.

Dinda masih menangis.

“Ini semua salah aku. Andai saja aku dengerin kak Rafa. Andai saja aku gak maksa buat pergi ke taman. Pasti ini semua tak akan terjadi.”rutuk Dinda pada dirinya sendiri.

“Ini bukan salah loe. Ini takdir.”ujar Nisa.

“Gak seharusnya gue ngeyel. Harusnya gue nurut. Gue salah. Gue salah.”

“Udah Din, ini bukan salah loe. Please, jangan salahin diri loe kayak gini.”ucap Nisa yang masih mencoba menenangkan Dinda.

“Gak. Gue salah. Gue gak bisa nge-jaga pemberian Tuhan.Gue udah ngecewain kak Rafa. Gue udah ngecewain mama, papa. Ini salah gue. Gue salah.”ucap Dinda yang semakin kalut.

 Tangannya tak bisa diam. Sedari tadi tangannya mengepal dan terus memukul-mukul tempat tidur tempatnya berbaring. Baju rumah sakit bagian pundaknya telah basah karena air matanya sendiri.

“Kenapa ini harus kejadian sama gue!”teriak Dinda histeris sambil mengacak-acak rambutnya sendiri.

Asti pun memeluk Dinda yang sedang kalut dalam keadaan duduk itu. Selimut yang digunakan untuk menyelimuti tubuhnya, kini sudah tak terbentuk lagi karena sedari tadi terus ditendanginya. Bahkan, di pelukan Asti ia masih meronta-ronta. Namun, Asti malah semakin mempererat pelukannya.Tiba-tiba gerakan Dinda melemah, mungkin ia sudah lelah.

“Gue salah. Gue udah ngecewain banyak orang.”ucap Dinda lirih. Sangat lirih. Lebih lirih dari sebuah bisikan.

Dinda masih terus menangis. Seakan air matanya tak pernah habis. Ia menangis di pelukan Asti. Pertahanan Asti dan Nisa pun akhirnya jebol mereka tak kuasa menahan tangis melihat sahabat mereka kalut seperti ini. Nisa pun menghampiri dua sahabatnya yang sedang berpelukan itu. Ia ikut merengkuh tubuh mungil Dinda mencoba memberikan gelombang ketenangan.Dari arah pintu nampak Reza yang baru datang. Mendengar isakan tangis dari ketiga wanita itu, membuat Reza tahu pasti Dinda telah mengetahui apa yang terjadi pada dirinya. Reza mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan Dinda. Tak ada seorang pun selain ketiga wanita itu. Kemana Rafael? Di saat seperti ini dia tak juga nampak.

Reza pun melangkahkan kakinya keluar ruangan Dinda. Ia pun merogoh ponselnya di saku celana jeans hitam panjangnya. Setelah menemukan kontak yang dicarinya, ia pun segera menekan tombol hijau di handphone nya.

‘Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada..’ Reza segera menekan tombol merah pada handphonenya.

“Ini orang kemana sih.”kesal Reza.Tak menyerah, ia pun mencoba menghubunginya lagi. Hasilnya sama. Hanya ada suara dari operator telpon seluler.

“Dasar Rafael, istrinya depresi malah keluyuran gak jelas.”umpat Reza dan segera kembali ke ruangan Dinda.

***

Tiga hari sudah Dinda terbaring di Rumah Sakit. Selama itu juga Rafael tak pernah sekalipun menengok Dinda semenjak hari itu. Entah apa yang membuatnya menjadi seperti bukan Rafael. Tanpa kabar apapun, dia meninggalkan Dinda. Hanya Nisa dan Asti atau sesekali Morgan dan Reza yang menemani Dinda selama di Rumah Sakit. Keluarga Dinda dan Rafael pun hanya menelpon Dinda sekali saja. Meskipun begitu, setidaknya masih ada sedikit perhatian yang terselip untuk Dinda.

Dinda menjadi seseorang yang pendiam sejak hari itu. Dinda yang biasanya cerewet dan manja itu, hanya diam. Melamun adalah pekerjaannya setiap waktu. Hari ini akhirnya Dinda diperbolehkan untuk pulang. Ia pulang bersama Reza dan Nisa. 

“Din, udah nyampe nih. Oya, sepertinya suami loe belum pulang deh. Buktinya mobilnya gak ada. Gue temenin ya, sampe Rafa pulang.”tawar Nisa.

“Gak usah, Nis. Gue gak papa kok sendirian udah biasa. Ini udah sore. Pasti sebentar lagi pulang. Loe tenang aja.”jelas Dinda lembut.

“Yakin?”tanya Reza.

“Iya, loe berdua pulang aja.”jawab Dinda.

“Kita anterin sampai ke dalam ya.”ucap Reza.

“Gak. Gak usah gue sendiri aja. Gue udah kuat kok.”

“Tap..”

“Gue duluan ya. Makasih buat selama ini. Thanks banget. Bye.”potong Dinda kemudian mengambil tas sedikit besar di sebelahnya dan segera pergi menuju rumah.

Langkah kaki Dinda terhenti di depan kamarnya. Ia merasa ragu. Tah tahu apa yang membuatnya ragu. Perlahan, ia pun membuka daun pintu bercat putih itu. Matanya menjelajah ke setiap sudut ruangan. Tak ada yang berubah. Masih tetap rapi. Sepertinya, kamar itu tak ada yang memasukinya sejak ia berada di Rumah Sakit. Ia merasa, sepertinya Rafael tak pernah pulang ke rumah.

Setelah meletakkan tasnya, ia pun segera turun ke bawah menuju dapur.Di dapur, terlihat si bibi yang sedang berkutat dengan pekerjaan rumahnya.

“Eh non, mau buat apa? Biar bibi yang buatin.”tanya si bibi melihat Dinda yang sedang mengambil gelas di lemari atas dapur.

“Gak usah bi. Lagian cuman mau buat coklat panas aja” 

“Ya udah non, bibi permisi dulu. Mau buang sampah.”ucap bibi lalu mau berbalik pergi.

“Eh bi, tunggu!”

“Iya, non?”

“Apa kak Rafa kemarin pulang?”tanya Dinda.

“Loh, bukannya den Rafa nemenin non di Rumah Sakit? Sejak non di Rumah Sakit, den Rafa gak pernah pulang cuman pulang sekali saja ngambil sesuatu itu pun kemarin lusa.”jelas bibi.

“Ya sudah bi, makasih.”ucap Dinda. Bibi hanya mengangguk dan berlalu pergi.

“Kenapa kak Rafa pergi tanpa kabar? Apa dia marah denganku? Maaf kak, aku memang ceroboh.”ucap Dinda dan meneteslah air matanya namun segera ia hapus cepat dan melanjutkan kegiatannya membuat coklat panas.

Setelah selesai membuat coklat panas, ia pun duduk di meja makan. Ia masih terus mengaduk-aduk coklat panasnya meski pikirannya telah melayang entah kemana. Perlahan, air mata Dinda jatuh lagi. Namun, kali ini ia tak menghapusnya. Ia biarkan air mata itu mengalir. Berharap air mata itu, dapat mengurangi kesedihannya. Ia sudah merasa sangat terpukul dengan apa yang telah terjadi pada dirinya. Ia tak ingin orang yang dicintainya juga harus pergi karena ia tak bisa menjaga anaknya dengan baik. Ia rindu Rafael. Bahkan, rindu itu sudah menjalar ke seluruh tubuhnya. Terakhir, ia hanya melihat wajah rupawan Rafael ketika membopongnya sebelum ia pingsan.

‘Apa kak Rafa benar-benar marah kepadaku? Apa kak Rafa akan meninggalkanku? Atau bahkan dia akan mengusirku?’

Hanya pertanyaan itu yang ia lontarkan berulang kali pada dirinya sendiri. Dan sebanyak pertanyaan itu juga ia tak bisa menjawabnya.

Dinda pun berjalan menuju ruang tengah. Meninggalkan begitu saja coklat panas yang ia buat tanpa sedikitpun ia mencicipinya.Ia menunggu Rafael pulang dari kerjanya. Karena sekarang ini biasanya Rafael telah pulang. Mencoba menghilangkan kebosanan, ia meraih remote dan menyalakan televisi besar di hadapannya. Ia merasa semua tayangan TV sungguh membosankan. Bahkan serial drama favoritnya pun terasa tak menarik lagi untuk dilihat. Dengan kesal, ia mematikan TV dan membuang remote begitu saja di sofa.

Ia berjalan menghampiri rak majalah yang tak jauh dari tempatnya duduk dan mengambil sebuah majalah fashion yang saat itu belum sempat ia baca. Ia pun akhirnya tenggelam di dalam keseruan majalah itu. Sampai akhirnya ia tertidur di sofa ruang tengah.

***

Mengetahui Dinda kini telah berada di rumah. Rafael pun segera meraih jas yang ia sampirkan sembarangan di sofa ruangannya dan bergegas pulang. Sebelum pulang, ia mengambil iPad nya yang tertinggal di apartemennya. Ya, selama ini ia memang tinggal di apartemen pribadinya yang masih satu kota dengan rumahnya.

Perlahan, Rafael membuka pintu rumahnya. Dia kaget melihat Dinda yang sedang tertidur pulas di sofa ruang tengah. Meskipun sedang tidur, Dinda masih sangat cantik. Rafael pun mendekati Dinda dan melihat wajah cantik sang istri yang sangat dirindukannya. Sudah beberapa hari ini ia tak melihatnya. Jujur, sebenarnya ia juga sangat rindu dengan istri tercintanya. Tapi, ia masih marah dengan Dinda. Karena Dinda yang menyebabkan ia harus kehilangan anaknya. Anak yang selama ini diinginkannya. Andai saja saat itu Dinda mau menuruti nasehatnya pasti ini semua tak akan terjadi.

Meskipun ia marah, ia masih sayang dengan Dinda. Perlahan, ia mengangkat Dinda dan menggendongnya menuju kamarnya dengan hati-hati agar Dinda tak terbangun. Ia pun menyelimuti tubuh Dinda yang sedang tidur dengan tenang dengan selimut. Dan ia ikut berbaring di samping Dinda dengan posisi tidur membelakangi Dinda.

-To be Continued-

Advertisements

I Want You Part X

​”Huh,, capek kak.”keluh Dinda kemudian berbaring di kamar barunya, tepatnya kamar Rafael yang kini menjadi kamarnya juga. 

“Iya, tapi meski begitu aku bahagia banget. Mimpi buruk itu tak terjadi.”ujar Rafael yang ikut berbaring di sebelah Dinda yang sedang asyik memandang langit kamar. 

“Aku gak nyangka kak, ternyata Asti baik banget. Kak Morgan beruntung udah ngedapetin Asti.”ucap Dinda melingkarkan tangannya di perut Rafael sedang Rafael mengusap-usap rambut panjang Dinda. 

“Aku lebih beruntung karena aku sekarang bisa di sini memeluk istriku yang cantik.”gombal Rafael. 

“Gombal.” 

“Ngapain gombal itu fakta.” 

“Terserah deh, tidur yuk kak.”ajak Dinda. 

“Din. Dinda.”ucap Rafael sambil melirik Dinda yang sudah tertidur di dekapannya. 

“Eh, ternyata udah tidur. Good night, baby. Saranghae.”ujar Rafael mencium kening Dinda cukup lama lalu menarik selimut sampai menutupi tubuh mereka berdua. 

*** 

Hari telah pagi, sinar matahari pagi menyeruak masuk ke kamar pengantin baru itu. Menuntut si empunya kamar agar segera membuka matanya, memulai aktivitas pagi. 

Merasa terganggu, Dinda pun membuka matanya. Ia tersenyum kecil melihat orang yang sangat dicintainya, kini adalah orang pertama yang akan selalu dilihatnya setiap ia pertama kali membuka mata. Ia mengelus kecil pipi pujaan hatinya itu, membuat si empunya pipi sedikit terganggu. Setelah mengelus pipi Rafael, ia bergegas bangun dari tempat dan mencium kilat pipi Rafael dan segera mandi. 

*** 

“Kok belum bangun sih.”gumam Dinda kemudian duduk di tepian ranjang dekat Rafael. 

“Kak, jangan manja deh. Ayo bangun.”ucap Dinda sembari mengguncangkan tubuh Rafael. 

“ngh, bentar masih ngantuk.”keluh Rafael. 

“Ayo kak, bangun kalau kakak gak bangun aku ngambek nih.”ucap Dinda menyilangkan tangannya di depan dada dan cemberut. 

“Iya deh iya. Udah bangun nih. Jangan ngambek yah.”ujar Rafael kemudian duduk. 

“Nah, gitu dong. Ayo buruan mandi, aku mau masak.”ucap Dinda dan menarik tangan Rafael agar berdiri. 

Dengan sedikit malas, Rafael pun bergegas mandi.

*** 

Dinda sedang memasak nasi goreng di dapur. Ketika ia asyik mengaduk nasi goreng, tiba-tiba ia merasakan sentuhan hangat melingkar di perutnya. 

“Lagi masak apa sih?”tanya Rafael. 

“Masak Nasi goreng spesial.”jawab Dinda. 

“Apanya yang spesial?” 

“Kan aku buatnya pake cinta.” 

“Iya deh, yang masak pake cinta harus enak.” 

“Kak, awas deh. Jangan ganggu.”ucap Dinda dan berusaha melepaskan tangan Rafael yang melingkar di perutnya. 

“Biarinlah kayak gini. Kamu kan masih bisa masak.”tolak Rafael. 

“Iya, tapi gak nyaman.”ucap Dinda. 

“Tapi, aku nyaman banget kalau kayak gini.”ujar Rafael. 

“Ish,,”dengus Dinda kesal. 

*** 

Akhirnya nasi goreng spesial yang dibuat Dinda selesai. Rafael telah siap duduk di kursi di balik meja makan, menunggu Dinda yang masih di dapur entah apa yang ia lakukan. 

“Dindaa.. Lagi ngapain sih kamu.”ucap Rafael sedikit berteriak. 

“Iya kak. Sabar dong.”ucap Dinda sembari berjalan menghampiri Rafael dengan membawa sepiring besar nasi goreng. 

“Silahkan dimakan..” 

“Udah gede juga masih aja makan belepotan kayak gitu.”ucap Rafael sambil membersihkan nasi yang menempel di bibir Dinda dengan tissue.

“Om, tante udah berangkat lagi ya kak?”tanya Dinda.

“Kok masih manggil om-tante sih. Kamu sekarang kan juga anaknya pagi mama-papa dong.

“Iya. Mama-papa udah berangkat lagi kak?”tanya Dinda lagi.

“Udah. Tadi pagi waktu aku habis mandi, mama telpon ternyata udah berangkat.”jawab Rafael.Dinda hanya mengangguk tanda mengerti.

***

Enam bulan telah berlalu, sampai detik ini hubungan mereka baik-baik saja. Bahkan sekarang Dinda sedang mengandung anak Rafael. Rafael sangat senang mendengar berita yang menggembirakan itu. Hal ini, membuat Rafael semakin perhatian dengan Dinda. Sampai-sampai semua makanan yang Dinda makan si bawah kontrol Rafael. Ia juga membelikan kaset-kaset musik klasik, agar anaknya menjadi pintar. Sebenarnya perhatian Rafael yang sedikit overprotective membuat Dinda kesal. Namun, ia tahu semua ini dilakukan karena Rafa tak ingin terjadi apa-apa dengan calon anaknya.

“Ayah, bunda pingin ke taman kompleks deh.”ucap Dinda manja.

Memang sekarang mereka memanggil satu sama lain dengan sebutan ayah-bunda.

“Tapi bunda, di sana kalau sore-sore begini banyak anak-anak kecil yang lari-larian ke sana kemari. Ayah khawatir, nanti salah satu dari mereka gak sengaja nabrak bunda terus.-”

“Ayah sekarang cerewet banget deh.”potong Dinda.

“Ayah bukannya cerewet, ayah itu cuman gak mau terjadi apa-apa dengan calon anak kita, Bunda.”

“Iya kan? Selalu begitu. Lagian ini bukan Bunda lho yah yang minta. Tapi, yang minta anak kita. Ayah mau ya kalau anak kita nanti ngiler. Janji deh bunda bakalan hati-hati.”ucap Dinda berjanji sambil menunjukkan wajah memelasnya berharap Rafael mau menerima ajakannya.

“Iya deh iya, Ayah temenin. Tapi, janji ya bunda harus hati-hati.”

“Iya Ayah yang cerewet.”ucap Dinda tersenyum lebar.

***

Kini mereka telah sampai di taman kompleks. Mereka ke sana mengendarai motor, karena memang taman itu berada tak jauh dari rumah Rafael.

Sesampainya di sana mereka sedikit berjalan-jalan mengelilingi taman, karena lagi-lagi Dinda yang meminta. Rafael sempat melarang karena suasana di taman saat itu sangat ramai. Banyak sekali anak-anak kecil yang sedang bermain kejar-kejaran ke sana kemari. Tapi, karena Dindanya sempat ngambek karena dilarang Rafael, akhirnya Rafael mengijinkannya.

Rafael dan Dinda pun berjalan pelan melewati jalan yang memang khusus pejalan kaki. Ketika mereka sedang berjalan di tangga menurun, tiba-tiba ada sebuah kereta

bayi yang melucur ke arah Rafael dan Dinda. Namun, Rafael dan Dinda tak menyadari bahwa ada kereta bayi yang sedang melaju kencang karena jalanan yang menurun. Dan..

‘BUGG’

Kereta bayi yang ternyata tanpa bayi itu mengenai kaki belakang Dinda yang sedang hamil 3 bulan itu.

“Dinda!”pekik Rafael.

-To be Continued-

I Want You Part IX

​”Dinda, loe yakin sama keputusan loe?”tanya Nisa saat mereka sedang duduk menyantap mie ayam di depan mereka. 

“Gue yakin kok, mungkin kak Rafa bukan yang terbaik buat gue. Gue yakin kok Tuhan bakal ngasih yang terbaik siapapun jodoh gue nanti.”ucap Dinda bijak. 

“Loe juga bakalan dateng?”tanya Nisa lagi. 

Dinda hanya mengangguk mantap. 

“Loe yakin kan, Din? Jangan sampe loe dateng terus mewek di sana.” 

“Ish, loe sekarang cerewet ya. Gue udah yakin, gue gak bakalan mewek.”ujar Dinda kesal. 

***

Tak terasa hari yang terasa sangat berat bagi Dinda pun datang juga. Ia tampak cantik dengan setelan kebaya putih yang dikirimkan Rafael waktu itu. Rambutnya yang panjang ia gelung dan diberi tusuk yang di pangkalnya tergelantung hiasan kecil berwarna putih mengkilap. Dan juga mengenakan high heels berwarna silver dan sebuah dompet yang berwarna senada dengan high heels yang ia kenakan. 

Jam telah menunjukkan pukul 08.54. Sebentar lagi acara akan dimulai

Dinda pun menghadapkan dirinya di depan cermin besar yang terletak di pintu lemari bajunya. Sejenak, ia hanya diam memandangi dirinya sendiri. Dengan tekad yang kuat, ia pun mulai melangkahkan kakinya menuju tempat akad nikah yang tak lain adalah di rumah Rafael. 

*** 

“Asti, ayo! Siapa yang kamu tunggu?”tanya mama Asti kepada anaknya yang masih berdiri menghadap jendela kamar di rumah Rafael. 

“Bentar ma, Asti mau nunggu temen Asti sebentar. Sebentar saja ma.”ujar Asti masih tak mengalihkan pandangannya.

Dari tempat Asti berdiri, ia bisa melihat seorang perempuan yang mengenakan kebaya putih sama dengan dirinya. Hanya saja riasan rambutnya yang berbeda. 

“Itu ma, dia sudah datang. Ayo ma turun.”ajak Asti pada mamanya yang sedari tadi hanya duduk di tepian ranjang menunggui dirinya. 

Dengan langkah yang anggun, dia pun berjalan menuruni tangga. Baknya seorang putri sekarang semua orang memperhatikannya. Tak terkecuali Morgan dengan senyum manisnya. Sedangkan Rafa hanya diam tanpa ekspresi.

Asti sekarang telah berdiri di samping Rafael yang sedang duduk di hadapan penghulu. Namun, ketika ia akan duduk ia membalikkan badannya dan menghampiri Dinda yang sedang duduk tepat di belakangnya di samping Morgan. 

“Dinda, ayo kamu berdiri.”ucap Asti. 

Dinda masih diam tak bergeming. Ia menoleh ke Morgan di sampingnya. Dilihatnya Morgan yang tersenyum dan mengangguk pelan seakan memberi isyarat agar ia mau berdiri menuruti perkataan Asti. Sedangkan ketika ia mendongakkan kepalanya, ia juga melihat Asti yang juga sedang tersenyum manis kepadanya. Dengan sedikit keraguan, ia pun berdiri dengan banyak pertanyaan yang melintas di pikirannya. 

“As, ada apa?”tanya Dinda ragu. 

“Udah mending kamu duduk di sini aja deh.”ucap Asti sambil menarik tangan Dinda dan mendudukkan Dinda di depan penghulu di samping Rafael. 

“Kakak, apa ini?”tanya Dinda pada Rafael yang hanya dibalas dengan gelengan kepala dan ekspresi muka tanda tanya. 

Di belakang mereka, Asti sedang mengambil kain putih dan meletakkannya di atas kepala Rafael dan Dinda. 

“Aku tahu, kalian saling mencintai. Semoga ini yang terbaik untuk kalian.”bisik Asti tepat di telinga keduanya. 

Mendengar ucapan Asti seperti itu, seketika wajah Rafael dan Dinda berseri-seri. Mereka sangat bahagia. Mereka tak menyangka bahwa ini semua akan terjadi. 

*** 

Akad Nikah telah dilaksanakan dengan lancar. Kini dengan pesta yang berkonsep garden party itu, Rafael dan Dinda berdiri menghadap kolam renang yang kini telah disulap menjadi sebuah panggung kecil dengan kaca tebal yang menutupi permukaan air kolam. Dinda dan Rafael benar-benar nampak sangat serasi. Konsep pernikahan ini semua, sama persis dengan apa yang sudah mereka rencanakan sebelumnya. Dengan kemeja putih berdasi dibalut dengan jas hitam dengan kain yang dilipat sedemikian berwarna gold yang dimasukkan saku jas yang terletak di dada sebelah kiri. Rafael terlihat sangat rupawan ditambah senyum yang tak henti-hentinya terlukis di bibir merahnya. Dinda juga tak kalah cantik. Ia menggunakan dress hitam terusan berkemben yang panjangnya hingga menjuntai ke tanah. Hiasan-hiasan kecil berwarna emas di tubuh bagian atas menambah kesan elegan. 

Asti pun datang bersama dengan Morgan. Mereka bergandengan tangan seperti sepasang kekasih. 

“Selamat ya Dinda, kamu cantik banget.”ucap Asti di hadapan Dinda. 

“Makasih As, ini semua berkat kamu juga. Terus, apa papamu gak marah dengan semua ini?”tanya Dinda. 

“Enggak kok. Tenang aja. Papa gak marah kok. Papa juga bakalan tetep bantuin perusahaan Rafael meski aku gak nikah dengan Rafael. Lagian aku udah punya tambatan hati lain.”jelas Asti panjang lebar sambil menggaet tangan Morgan yang juga sedang asyik berbincang dengan Rafael. 

“Jadi, kalian?”tanya Dinda sambil menunjuk keduanya. 

Sedangkan yang ditunjuk hanya tersenyum dan mengangguk pelan. 

“Cepat-cepat susul kami ya.”ucap Rafael sambil sambil menggenggam telapak tangan Dinda lalu menciumnya. 

“Now, It’s time to dance.”ucap pembawa acara. 

Rafael pun berjongkok di hadapan Dinda dan mengulurkan tangannya. Dengan sigap, Dinda pun menerima uluran tangan itu. Mereka pun beranjak ke kolam renang yang permukaannya telah ditutupi dengan kaca tebal. Dan ketika mereka telah berada di atasnya, tiba-tiba saja pancaran cahaya berwarna putih keunguan menyala dari bawah dan beberapa sisi di kolam renang. Mereka berdansa layaknya Pangeran dan Putri.

Melihat kemesraan pasangan Rafael dan Dinda membuat iri pasangan yang melihatnya. Ditambah lagi alunan musik dansa yang memanjakan telinga. Morgan dan Asti pun akhirnya ikut berdansa, disusul dengan Reza dan Nisa, dan juga pasangan-pasangan lain. Mereka semua tampak bahagia. Bersatu dalam alunan musik merdu dan gerakan yang dinamis. 
-to be continued-

I Want You Part VIII

​*** 

“Morgan!”pekik Asti. 

“Apa?”tanya Morgan sinis. 

“Aku cuman mau minta maaf sama kamu. Aku khilaf.”ujar Asti pelan. 

“Gak seharusnya kamu bilang ini ke aku.” 

“Iya, aku tahu seharusnya aku bilang ini ke Dinda dan Rafael. Aku mohon kamu bantu aku. Aku mau ngerencanain sesuatu buat mereka.” 

“Gak, aku gak mau ikutan kamu lagi.” 

“Please, Gan. Ini gak akan menyakiti mereka kok.” 

Asti pun membisikkan sesuatu di telinga Morgan. Morgan hanya mengangguk pelan dan tersenyum. 

***

*** 

“Karena ini semua sekarang udah kumpul, saya ingin memberitahukan sesuatu.”ucap Papa Rafael ketika Dinda, Rafael, dan orang tua keduanya telah berkumpul di ruang keluarga rumah Rafael. 

“Sebelumnya saya minta maaf. Dan saya harap kalian mau membantu dan mau mengerti keadaan ini.”lanjutnya dan menghirup oksigen sebanyak-banyaknya dan membuangnya perlahan. 

“Saya ingin menghentikan perjodohan ini.”ucapnya yang sontak membuat semua orang yang berada di ruangan itu melebarkan mata tak percaya. 

“Papa!”Dinda dan keluarganya hanya diam mendengar ini. Dinda yang saat itu duduk bersebelahan dengan Rafael hanya mampu mencengkeram lengan Rafael kuat dan menahan agar air mata yang telah berada di pelupuk mata itu tak menetes. 

“Maafkan papa, Rafa. Tapi, perusahaan kita sedang diambang kehancuran dan satu-satunya jalan adalah menerima bantuan sahabat papa dengan jalan kamu harus menikah dengan anaknya.”jawab Papa Rafael. 

“Tapi, Rafael gak bisa Pa.”tolak Rafael keras. “Maafkan kami Mario, Shella. Ini sungguh di luar kehendak kami.”ucap papa Rafael meminta maaf pada orang tua Dinda. 

“Aku permisi dulu.”ucap Dinda melepas cengkeraman tangannya di lengan Rafael dan berlalu pergi meninggalkan ruangan itu. 

“Dinda!”teriak Rafael dan mengejar Dinda. 

“Kami mengerti. Permisi saya harus menyusul Dinda.”ucap papa Dinda dan berlalu pergi. 

** 

“Dinda, please ini bukan kemauan kakak.”ucap Rafael di depan kamar Dinda. 

Dinda pun membuka pintu kamarnya dan memeluk tubuh tegap Rafael. “Kak, biarkan aku memeluk kakak seperti ini untuk yang terakhir kalinya.”isak Dinda di pelukan Rafael. 

“Gak, Dinda aku gak bakalan turutin Papa. Aku gak bisa hidup tanpa kamu. Mending aku hidup sederhana tapi sama kamu. Daripada aku harus hidup mewah tapi tanpa kamu. Kamu nafasku, kamu nyawaku, kamu hidupku. Aku gak bakalan bisa ngejalanin hidup ini tanpa kamu.”ucap Rafael panjang lebar. 

“Aku tahu kak. Tapi, belum tentu tante dan om bisa hidup sederhana seperti yang kakak bilang. Turutin apa kata mereka.””Tapi din.”elak Rafael. 

“Kak, do it for me. Aku ikhlas kak.”ujar Dinda melepaskan pelukannya dan memandang lekat mata Rafael. 

“Baiklah, kalau itu mau kamu. Kakak bakal lakuin itu atas permintaan kamu. Kakak harap kamu gak menyesal dengan apa yang telah kau ucapkan.” 

“Semoga kakak bahagia.”ucap Dinda kembali memeluk tubuh Rafael. 

*** 

Dua hari sudah berlalu setelah pernyataan papa Rafael waktu itu. Dinda masih berusaha tersenyum meski kadang tiba-tiba air mata mengalir begitu saja dari pelupuk mata Dinda ketika ia mengingat kenangan manisnya selama ini dengan Rafael. 

‘tok tok tok’ 

terdengar ketukan pintu dari balik pintu kamar Dinda. Ia yang saat itu sedang memegang foto dirinya dan Rafael pun bergegas membukakan pintu. 

“Iya bi, ada apa ya?”tanya Dinda pada orang di depannya yang ternyata pembantunya. 

“Ini, non ada kiriman untuk non.”ucap bibi menyerahkan sebuah kotak persegi panjang yang cukup besar berwarna emas. 

“Dari siapa bi?” 

“Bibi juga gak tahu, permisi.”

“Iya bi, makasih.”ucap Dinda kemudian menutup pintu kamarnya kembali. 

Dinda kembali duduk di tepi ranjang. Ia masih menimang-nimang kotak itu. Karena penasaran, akhirnya ia buka juga kotak yang lumayan berat itu. 

Ternyata isinya adalah sebuah baju kebaya berwarna putih. Baju kebaya yang akan ia kenakan untuk akad nikah. Ketika dia mengeluarkan baju itu, tiba-tiba ada sebuah notes kecil berwarna biru jatuh dari lipatan baju itu ke lantai kamarnya. 

Isi notes itu adalah

‘Dinda, aku harap kamu datang di acara akad nikah dan resepsi aku nanti. Dan, aku harap kamu mau memakai baju ini nanti. 

-Rafael-‘ 

Tak terasa air mata Dinda menetes lagi. Namun, ia segera menghapus cepat air mata itu. Ia dongakkan kepalanya berharap air mata itu takkan jatuh lagi. 

Setelah membaca notes itu, ia menemukan sebuah kertas lagi di dasar kotak tadi. Sebenarnya bukan hanya sebuah kertas biasa, lebih tepatnya itu adalah sebuah undangan pernikahan. Ia mulai membuka bungkus plastik transparan yang membungkus rapi undangan bertema black and gold itu. Terpampang jelas foto sepasang calon pengantin di cover. Calon pengantin pria yang mengenakan kemeja putih berbalut jas berwarna putih dengan celana panjang dan sepatu pantofel yang berwarna senada sedang memeluk si calon mempelai wanita dari belakang. Seorang mempelai wanita yang terlihat anggun dengan gaun putih kemben terusan yang panjang dan tangannya sedang menggenggam seikat bunga. Dinda pun membuka lembar undangan berikutnya. Terdapat nama calon pengantin dan tanggal pelaksanaannya. Ia pun menutup undangan itu. 

“Rafael dan Asti.”gumam Dinda membaca tulisan dengan tinta gold itu di cover undangan bagian belakang. 

“Jadi, Asti calon pengantin perempuannya? Aku harap dengan kalian yang sudah kenal, kalian bisa bahagia.”ucap Dinda air matanya menetes lagi dan ia pun segera menghapusnya cepat. 

-To be Continued- 

I Want You part VII

​“Bagaimana Rafael? Hanya ada dua pilihan. Pilih aku atau nyawa Dinda melayang.”

Rafael melihat ke jam tangan silver yang melekat di tangannya. 15 menit lagi nyawa Dinda akan melayang jika ia belum mendapatkan darah. Dia ingin Dinda tetap hidup. Tapi, jika dia menerima tawaran Asti otomatis dia sama saja mengkhianati Dinda.

“Tuhan, apa yang harus aku lakukan?”

Part VII

 “Maafin kakak, Dinda nyawamu lebih penting. I will always Love you forever.”batin Rafael.

“Baiklah. Aku akan mengambil keputusan. Aku..”

“STOP! Gue mau kok bantu loe.”ucap seseorang di belakang Rafael.

Rafael pun membalikkan badannya untuk melihat siapa orang itu.

“Morgan! Apa maksud loe.”teriak Asti geram.

“Gue udah mutusin gak bakalan lagi ikut ke dalam permainan bodoh loe lagi. gue tau cinta gak bisa dipaksa. Loe tahu sendirikan seberapa frustasinya Dinda ketika Rafael nyuekin dia. Itu hanya nyuekin belum lagi kalau Rafael ninggalin Dinda sepenuhnya cuman buat orang jahat kayak loe. Gue sayang Dinda. Gue mau lihat Dinda bahagia.”ujar Morgan panjang lebar.

“Dasar pengecut!”ucap Asti emosi dan pergi meninggalkan morgan dan Rafael.

“Sorry, loe siapa ya? Terus maksud ucapan loe tadi apa?”tanya Rafael.

“Gue Morgan, cowok di foto yang ngebuat loe emosi. Tapi tenang gue gak beneran ciuman kok sama Dinda. Udah tahu kan? Sekarang loe anterin gue. Gue bakalan donorin darah gue buat Dinda. Darah gue cocok kok.”

Rafael hanya mengangguk dan berjalan menuju ruangan dokter dengan Morgan membuntuti Rafael.

***

Akhirnya nyawa Dinda dapat terselamatkan. Semua lega mendengar berita itu. meskipun, Dinda masih belum sadarkan diri.

“Dinda, maafin kakak. Kapan kamu bangun? Kakak udah kangen berat sama kamu.”ucap Rafael yang sedang duduk di kursi yang berada di samping ranjang Dinda sambil menggenggam tangan Dinda erat.

“Raf, loe makan dulu ya. Biar gue yang nungguin Dinda.”ucap Nisa yang masuk ke ruangan Dinda bersama Reza.

“Gak Nis. Gue mau jagain Dinda sampai bangun.”tolak Rafael.

“Tapi, loe belum makan kan? Loe mau waktu Dinda bangun loe malah tidur gara-gara gak mau makan. Kalau begitu caranya sama aja dong.”ucap Nisa.

“Bener Raf, apa yang dikatain Nisa. Udah ayo makan sama gue. Gue juga lapar.”buju Reza.

“Iya deh. Nis, kalau ada apa-apa sama Dinda langsung calling gue ya.”ucap Rafael akhirnya.

“Sip. Udah sana.”ucap Nisa tersenyum.

Akhirnya Rafael dan Reza berlalu ke kantin. Sedang Nisa duduk di samping tempat tidur Dinda sambil membaca majalah remaja yang kebetulan ia bawa. Tangan Dinda mulai bergerak. Mata Dinda juga perlahan terbuka. Dinda menoleh ke samping terlihat Nisa yang sangat serius membaca majalah hingga seluruh wajah Nisa tenggelam di halaman majalah itu.

“Nisa.”ucap Dinda pelan.

Mendengar suara yang tak asing lagi bagi Nisa, ia pun menurunkan majalahnya dan terlihatlah Dinda yang sudah sadar dan sedang tersenyum lemah pada dirinya.

“Dinda loe udah bangun? Syukurlah. Gue calling Rafa dulu deh.”ujar Nisa kemudian mengambil handphone dari saku celananya.

“Jangan.”cegah Dinda.

“Kenapa?”tanya Nisa bingung.

“Percuma Nisa. Dia itu cuekin gue.”

“Jadi, loe masih ngira dia cuekin loe?”

Dinda hanya mengangguk.

“Loe salah, din. Loe gak tahu kan yang jaga loe dari kemarin gak sadar itu kak Rafa. Loe gak tahu kan yang bawa loe dari taman ke sini itu dia. Dia itu masih sayang banget sama loe. Bahkan dia itu cinta mati sama loe.”urai Nisa panjang lebar.

“Bener itu semua yang ngelakuin kak Rafa? Tapi, apa maksud kak Rafa ngecuekin au. Gak tahu apa aku kayak gini juga gara-gara dia.”pikir Dinda

“Udah gak usah kebanyakan mikir deh. Gue telponin aja.”ucap Nisa.

Belum sempat telpon Nisa tersambung, Rafael dan Reza udah datang.

“Dinda.”ucap Rafael dan berlari menghampiri Dinda dan segera saja memeluk Dinda yang saat itu masih tiduran.

“Kak Rafa.”ucap Dinda membalas pelukan Rafael, teruntai senyum bahagia terlukis di wajah Dinda.

“Maaf.”ucap mereka berbarengan.

“Kamu gak seharusnya minta maaf. Ini semua salah kakak. Andai saja kakak tak terbawa emosi, pasti ini semua gak akan terjadi.”ucap Rafael melepas pelukannya dan berdiri menatap Dinda.

“Kak, boleh aku tahu apa yang ngebuat kakak marah sama aku?”ucap Dinda dan Rafael mengangguk.

***

“Din, loe tahu kan kalau waktu itu loe kalau nyawa loe diujung tanduk?”tanya Nisa ketika ia dan Dinda sedang makan bersama di kantin kampus.

Dinda hanya mengangguk.

“Loe tahu kan kalau loe waktu itu sangat butuh darah?”

Lagi-lagi Dinda hanya mengangguk.

“Tapi, apa loe tahu siapa yang ngedonorin darah buat loe?”

“Siapa?”tanya Dinda.

“Orang yang selama ini loe cuekin.”kata Nisa.

“Maksud loe kak Morgan?”

***

“Kak, bisa bicara sebentar?”tanya Dinda menghampiri Morgan yang sedang membaca buku di perpustakaan.

“Mau bicara apa duduk deh.”ucap Morgan dan Dinda duduk di sebelah Morgan.

Dinda memutar kursinya sehingga berhadapan dengan Morgan begitu juga dengan Morgan. Kini mereka saling berhadapan.

“Terima kasih dan Maaf.”ujar Dinda.

“Buat?”

“Buat darah kakak dan sikap aku selama ini.”

“Sama-sama. Aku seneng banget udah bisa lihat kamu sehat kayak gini. Kamu gak seharusnya ngomong maaf kok. Seharusnya aku yang bilang maaf. Karena aku dan Asti kamu jadi ngelakuin hal bodoh kayak gitu. Gak tega banget rasanya ngelihat kamu terbaring lemah di Rumah sakit. ”ujar Morgan tersenyum manis.

“Makasih ya kak.”ucap Dinda kemudian berhambur memeluk Morgan sekilas.

“Sama-sama. Sekarang damai ini.”

Dinda hanya mengangguk dan tertawa.

***

Sekarang sudah cukup sore, namun Rafael tak jua menjemput Dinda yang sedari tadi menunggu di gerbang kampus. Berulang kali Dinda melihat jam tangan hitam yang melingkar di tangan kirinya. Berulang kali juga dia mengetik SMS dan menelpon Rafael.  Namun, tak ada respon apapun. Sedangkan mulut Dinda tak henti-hentinya menggerutu. Ia paling tak suka menunggu.

‘tinn tinn tinn’

Terdengar suara klakson mobil Rafael. Segera Dinda membuka pintu depan untuk penumpang. Ia duduk ke dalam mobil dengan bibir yang mengerucut. Ia sungguh kesal.

“Aduh, My Princess maaf ya. Tadi ada meeting mendadak. Beneran deh gak maksud ngebuat kamu nunggu.”ujar Rafael.

“Kakak gak tahu sih kalau aku udah nunggu lama udah garing ini.”

“Mana sih yang garing sini aku basahin.”

“Udah ini mau pulang atau cuman diem di sini.”

“Sampai lupa ini. Aku bakal ngajak kamu ke tempat special. Pasti kamu suka.”

***

“Huwaaa… Ini indah banget kak. Aku suka tempat ini.”ucap Dinda saat melihat tempat indah di depannya.

Hamparan ilalang terpampang jelas di depannya. Rumput-rumput tinggi berwarna kecoklatan menambah suasana Indah. Dinda pun berjalan ke tengah hamparan ilalang yang rumputnya jarang. Ia pun kemudian berbaring menikmati langit yang mulai menampakkan semburat kemerahan.

“Gimana? Udah aku bilang kan kamu pasti suka.”ucap Rafael sambil mengikuti Dinda berbaring.

“Makasih kakak ku yang super ganteng.”ucap Dinda kemudian tengkurap kemudian mencubit kedua pipi Rafael.

“Tadi aja marah-marah sekarang muji-muji.”

“Hehe maaf deh.”ujar Dinda yang kemudian berbaring terlentang lagi.

Mereka terdiam dan menatap lurus ke langit. Menikmati lukisan langit yang indah. Warna merah, orange, dan kuning dengan komposisi yang sedemikian rupa seakan memberikan kedamaian dan menjanjikan kebahagiaan. Seperti Dinda dan Rafael terucap harapan tulus di hati mereka. Harapan ingin bersatu selamanya hingga maut yang memisahkan.

-to be continued-

GLOOM

Bubble Soap

Author : elva^^ (sobubble.wordpress.com)

Casts :

1. Lee Hyukjae

2. Oh Moni

Genre : Angst

Rate : PG-13

Well~ Happy birthday for Hyukkie. Wish in this year, he’ll be better and always love his Eevrlasting Friends ~LOL , RCL are needed. Be free to visit my own blog. Thank you^^

Sorry for post it late, it’s for Hyuk birthday ff competition in SJFF and I can’t publish it before the deadline there 🙂

***

View original post 2,846 more words