I Want You XI – XII

​”Dinda!”pekik Rafael melihat Dinda yang tengah jatuh tertelungkup di dasar tangga. Darah segar pun mengalir dari rahim Dinda membentuk aliran kecil di kaki jenjang Dinda. Rafael pun segera membopong Dinda menuju mobil untuk segera dibawa ke Rumah sakit.

“Ayah, sakit.”pekik Dinda tertahan.

“Iya, tahan bunda. Kamu harus bertahan.”ucap Rafael menyemangati Dinda.

Karena rasa sakit yang tak tertahankan, akhirnya Dinda jatuh pingsan.

***

Setengah jam sudah, dokter berkutat dengan pekerjaannya di ruang rawat Dinda. Rafael masih setia menunggu di ruang tunggu ruangan. Morgan, Asti, Reza, dan Nisa juga telah datang. Sedangkan keluarga Dinda dan Rafael belum menampakkan batang hidungnya karena mereka memang sedang sibuk. Tampak jelas gurat khawatir di wajah mereka.

Wanita cantik berjas putih dengan masker berwarna hijauyang menutupi sebagian wajahnya pun keluar dari ruang pemeriksaan Dinda. Dengan sigap, Rafael segera menghampiri Dokter yang masih muda itu.

“Bagaimana dok keadaan istri saya?”tanya Rafael.

Dokter itu menghela nafas sambil membuka masker yang sedang digunakannya.

“Istri anda tak apa-apa.”ucap dokter itu tersenyum kecil.

Nampak sedikit kelegaan di wajah Rafael beserta yang lainnya.

“Namun, maaf saya tidak bisa menyelamatkan janin yang sedang dikandung istri bapak. Istri anda keguguran.”terang dokter itu yang membuat tampang kesedihan di wajah setiap orang yang mendengarnya.

“Keguguran dok?”ulang Rafael.

Dokter itu hanya mengangguk yakin.

“Arrgghh..”erang Rafael frustasi mengingat dia sangat bahagia ketika mendengar berita kehamilan Dinda. Dan sekarang, semua hilang begitu saja.

“Raf, yang sabar ini semua pasti ada hikmahnya kok.”hibur Morgan dan menepuk-nepuk pelan pundak Rafael.

“Diem loe!”bentak Rafael dan pergi begitu saja tanpa melihat keadaan Dinda yang sedang terkulai lemas di dalam.

Setelah dipersilahkan masuk oleh dokter, Morgan, Asti, Reza, dan Nisa pun segera menengok Dinda. Terlihat wajah Dinda yang sedikit pucat sedang memejamkan mata.

“Semoga Dinda bisa kuat mendengar berita ini.”celetuk Nisa.

“Iya, semoga Rafael juga segera kembali ke sini. Bagaimanapun juga Dinda saat ini sangat butuh Rafael.”tambah Asti.

Semuanya hanya mengangguk mengiyakan ucapan Asti.

“Permisi, pasien akan dipindahkan ke Ruang rawat dulu.”ucap salah seorang suster yang baru saja datang.

“Silahkan sus.”ucap Reza.

***

Malam telah tiba, Dinda belum bangun dari pingsannya. Asti dan Nisa masih setia menemani Dinda, sedangkan Reza dan Morgan harus pergi karena ada urusan. Rafael? Rafael masih belum kembali sejak sore tadi. Entah kemana ia pergi.Pelan tapi pasti, tangan Dinda mulai bergerak. Matanya terbuka perlahan. Ia sedikit mengerjap-ngerjapkan matanya, berusaha menyesuaikan cahaya dari lampu yang menyala terang yang melekat di langit putih ruangan tersebut.

“Aww.”rintih Dinda ketika sedikit bergerak untuk merenggangkan otot.

Mendengar rintihan kecil seorang perempuan dengan suara yang sangat familiar di telinga mereka, Asti dan Nisa yang sedang asyik berbincang pun menoleh ke tempat Dinda berbaring. Terlihat Dinda yang sudah sadar dari pingsannya. Segera mereka menghampiri sahabatnya itu.

“Din, bentar gue panggilin dokter dulu. Jangan banyak bergerak dulu ya.”nasihat Nisa dan berlalu pergi.

“Asti, kenapa perut gue sakit banget? Anak gue gak kenapa-kenapa kan? Tapi, kok rasanya datar banget ya? Terus, kak Rafa mana? Kenapa dia gak ada di sini?”tanya Dinda bertubi-tubi pada Asti.

“Eh.. Eh.. loe.. loe..”ucap Asti bingung harus menjawab apa. Apa dia harus jujur?

“Permisi.”ucap seseorang yang ternyata Dokter yang menangani Dinda tadi datang bersama Nisa.

“Dok, kenapa perut saya sakit ya dok kalau buat bergerak. Terus, anak saya baik-baik saja kan dok? Kenapa perut saya rasanya datar dok. Jawab dok. Jawab.”tanya Dinda dengan suaranya yang sedikit parau seperti akan menangis. Air matanya telah berkumpul di pelupuk mata. Ia takut. Sangat takut, jika apa pikiran negatif yang ia pikirkan saat ini benar. Dokter masih diam.

“Dokter, tolong dijawab dok.mohon Dinda.

Dokter itu menghela nafas lagi. Mungkin ini adalah salah satu hal yang paling ia benci, karena harus memberi kabar buruk kepada pasien yang ditanganinya.

“Saya harap anda tenang dulu. Karena benturan yang terjadi di perut anda, sehingga menyebabkan pendarahan. Dan, janin yang ada di rahim anda tak terselamatkan. Anda keguguran.”jelas dokter itu akhirnya.

“Keguguran dok? Anda  sedang berbohong kan?”tanya Dinda tak percaya. Matanya panas. Akhirnya, air mata itu jatuh juga. Apa yang ditakutkannya ternyata benar.

“Gak.. Ini gak mungkin kan?”ucap Dinda lirih.

“Din.. Sabar.. Mungkin Tuhan masih belum bisa mempercayai loe sama Rafael untuk jadi orang tua.”hibur Asti.

“Iya Din, sabar ya. Gue tahu loe pasti kuat kok. Mungkin saat ini belum waktunya. Pasti, suatu saat bakalan ada penggantinya kok.”lanjut Nisa sambil mengusap-usap rambut panjang Dinda.

Dinda masih menangis.

“Ini semua salah aku. Andai saja aku dengerin kak Rafa. Andai saja aku gak maksa buat pergi ke taman. Pasti ini semua tak akan terjadi.”rutuk Dinda pada dirinya sendiri.

“Ini bukan salah loe. Ini takdir.”ujar Nisa.

“Gak seharusnya gue ngeyel. Harusnya gue nurut. Gue salah. Gue salah.”

“Udah Din, ini bukan salah loe. Please, jangan salahin diri loe kayak gini.”ucap Nisa yang masih mencoba menenangkan Dinda.

“Gak. Gue salah. Gue gak bisa nge-jaga pemberian Tuhan.Gue udah ngecewain kak Rafa. Gue udah ngecewain mama, papa. Ini salah gue. Gue salah.”ucap Dinda yang semakin kalut.

 Tangannya tak bisa diam. Sedari tadi tangannya mengepal dan terus memukul-mukul tempat tidur tempatnya berbaring. Baju rumah sakit bagian pundaknya telah basah karena air matanya sendiri.

“Kenapa ini harus kejadian sama gue!”teriak Dinda histeris sambil mengacak-acak rambutnya sendiri.

Asti pun memeluk Dinda yang sedang kalut dalam keadaan duduk itu. Selimut yang digunakan untuk menyelimuti tubuhnya, kini sudah tak terbentuk lagi karena sedari tadi terus ditendanginya. Bahkan, di pelukan Asti ia masih meronta-ronta. Namun, Asti malah semakin mempererat pelukannya.Tiba-tiba gerakan Dinda melemah, mungkin ia sudah lelah.

“Gue salah. Gue udah ngecewain banyak orang.”ucap Dinda lirih. Sangat lirih. Lebih lirih dari sebuah bisikan.

Dinda masih terus menangis. Seakan air matanya tak pernah habis. Ia menangis di pelukan Asti. Pertahanan Asti dan Nisa pun akhirnya jebol mereka tak kuasa menahan tangis melihat sahabat mereka kalut seperti ini. Nisa pun menghampiri dua sahabatnya yang sedang berpelukan itu. Ia ikut merengkuh tubuh mungil Dinda mencoba memberikan gelombang ketenangan.Dari arah pintu nampak Reza yang baru datang. Mendengar isakan tangis dari ketiga wanita itu, membuat Reza tahu pasti Dinda telah mengetahui apa yang terjadi pada dirinya. Reza mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan Dinda. Tak ada seorang pun selain ketiga wanita itu. Kemana Rafael? Di saat seperti ini dia tak juga nampak.

Reza pun melangkahkan kakinya keluar ruangan Dinda. Ia pun merogoh ponselnya di saku celana jeans hitam panjangnya. Setelah menemukan kontak yang dicarinya, ia pun segera menekan tombol hijau di handphone nya.

‘Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada..’ Reza segera menekan tombol merah pada handphonenya.

“Ini orang kemana sih.”kesal Reza.Tak menyerah, ia pun mencoba menghubunginya lagi. Hasilnya sama. Hanya ada suara dari operator telpon seluler.

“Dasar Rafael, istrinya depresi malah keluyuran gak jelas.”umpat Reza dan segera kembali ke ruangan Dinda.

***

Tiga hari sudah Dinda terbaring di Rumah Sakit. Selama itu juga Rafael tak pernah sekalipun menengok Dinda semenjak hari itu. Entah apa yang membuatnya menjadi seperti bukan Rafael. Tanpa kabar apapun, dia meninggalkan Dinda. Hanya Nisa dan Asti atau sesekali Morgan dan Reza yang menemani Dinda selama di Rumah Sakit. Keluarga Dinda dan Rafael pun hanya menelpon Dinda sekali saja. Meskipun begitu, setidaknya masih ada sedikit perhatian yang terselip untuk Dinda.

Dinda menjadi seseorang yang pendiam sejak hari itu. Dinda yang biasanya cerewet dan manja itu, hanya diam. Melamun adalah pekerjaannya setiap waktu. Hari ini akhirnya Dinda diperbolehkan untuk pulang. Ia pulang bersama Reza dan Nisa. 

“Din, udah nyampe nih. Oya, sepertinya suami loe belum pulang deh. Buktinya mobilnya gak ada. Gue temenin ya, sampe Rafa pulang.”tawar Nisa.

“Gak usah, Nis. Gue gak papa kok sendirian udah biasa. Ini udah sore. Pasti sebentar lagi pulang. Loe tenang aja.”jelas Dinda lembut.

“Yakin?”tanya Reza.

“Iya, loe berdua pulang aja.”jawab Dinda.

“Kita anterin sampai ke dalam ya.”ucap Reza.

“Gak. Gak usah gue sendiri aja. Gue udah kuat kok.”

“Tap..”

“Gue duluan ya. Makasih buat selama ini. Thanks banget. Bye.”potong Dinda kemudian mengambil tas sedikit besar di sebelahnya dan segera pergi menuju rumah.

Langkah kaki Dinda terhenti di depan kamarnya. Ia merasa ragu. Tah tahu apa yang membuatnya ragu. Perlahan, ia pun membuka daun pintu bercat putih itu. Matanya menjelajah ke setiap sudut ruangan. Tak ada yang berubah. Masih tetap rapi. Sepertinya, kamar itu tak ada yang memasukinya sejak ia berada di Rumah Sakit. Ia merasa, sepertinya Rafael tak pernah pulang ke rumah.

Setelah meletakkan tasnya, ia pun segera turun ke bawah menuju dapur.Di dapur, terlihat si bibi yang sedang berkutat dengan pekerjaan rumahnya.

“Eh non, mau buat apa? Biar bibi yang buatin.”tanya si bibi melihat Dinda yang sedang mengambil gelas di lemari atas dapur.

“Gak usah bi. Lagian cuman mau buat coklat panas aja” 

“Ya udah non, bibi permisi dulu. Mau buang sampah.”ucap bibi lalu mau berbalik pergi.

“Eh bi, tunggu!”

“Iya, non?”

“Apa kak Rafa kemarin pulang?”tanya Dinda.

“Loh, bukannya den Rafa nemenin non di Rumah Sakit? Sejak non di Rumah Sakit, den Rafa gak pernah pulang cuman pulang sekali saja ngambil sesuatu itu pun kemarin lusa.”jelas bibi.

“Ya sudah bi, makasih.”ucap Dinda. Bibi hanya mengangguk dan berlalu pergi.

“Kenapa kak Rafa pergi tanpa kabar? Apa dia marah denganku? Maaf kak, aku memang ceroboh.”ucap Dinda dan meneteslah air matanya namun segera ia hapus cepat dan melanjutkan kegiatannya membuat coklat panas.

Setelah selesai membuat coklat panas, ia pun duduk di meja makan. Ia masih terus mengaduk-aduk coklat panasnya meski pikirannya telah melayang entah kemana. Perlahan, air mata Dinda jatuh lagi. Namun, kali ini ia tak menghapusnya. Ia biarkan air mata itu mengalir. Berharap air mata itu, dapat mengurangi kesedihannya. Ia sudah merasa sangat terpukul dengan apa yang telah terjadi pada dirinya. Ia tak ingin orang yang dicintainya juga harus pergi karena ia tak bisa menjaga anaknya dengan baik. Ia rindu Rafael. Bahkan, rindu itu sudah menjalar ke seluruh tubuhnya. Terakhir, ia hanya melihat wajah rupawan Rafael ketika membopongnya sebelum ia pingsan.

‘Apa kak Rafa benar-benar marah kepadaku? Apa kak Rafa akan meninggalkanku? Atau bahkan dia akan mengusirku?’

Hanya pertanyaan itu yang ia lontarkan berulang kali pada dirinya sendiri. Dan sebanyak pertanyaan itu juga ia tak bisa menjawabnya.

Dinda pun berjalan menuju ruang tengah. Meninggalkan begitu saja coklat panas yang ia buat tanpa sedikitpun ia mencicipinya.Ia menunggu Rafael pulang dari kerjanya. Karena sekarang ini biasanya Rafael telah pulang. Mencoba menghilangkan kebosanan, ia meraih remote dan menyalakan televisi besar di hadapannya. Ia merasa semua tayangan TV sungguh membosankan. Bahkan serial drama favoritnya pun terasa tak menarik lagi untuk dilihat. Dengan kesal, ia mematikan TV dan membuang remote begitu saja di sofa.

Ia berjalan menghampiri rak majalah yang tak jauh dari tempatnya duduk dan mengambil sebuah majalah fashion yang saat itu belum sempat ia baca. Ia pun akhirnya tenggelam di dalam keseruan majalah itu. Sampai akhirnya ia tertidur di sofa ruang tengah.

***

Mengetahui Dinda kini telah berada di rumah. Rafael pun segera meraih jas yang ia sampirkan sembarangan di sofa ruangannya dan bergegas pulang. Sebelum pulang, ia mengambil iPad nya yang tertinggal di apartemennya. Ya, selama ini ia memang tinggal di apartemen pribadinya yang masih satu kota dengan rumahnya.

Perlahan, Rafael membuka pintu rumahnya. Dia kaget melihat Dinda yang sedang tertidur pulas di sofa ruang tengah. Meskipun sedang tidur, Dinda masih sangat cantik. Rafael pun mendekati Dinda dan melihat wajah cantik sang istri yang sangat dirindukannya. Sudah beberapa hari ini ia tak melihatnya. Jujur, sebenarnya ia juga sangat rindu dengan istri tercintanya. Tapi, ia masih marah dengan Dinda. Karena Dinda yang menyebabkan ia harus kehilangan anaknya. Anak yang selama ini diinginkannya. Andai saja saat itu Dinda mau menuruti nasehatnya pasti ini semua tak akan terjadi.

Meskipun ia marah, ia masih sayang dengan Dinda. Perlahan, ia mengangkat Dinda dan menggendongnya menuju kamarnya dengan hati-hati agar Dinda tak terbangun. Ia pun menyelimuti tubuh Dinda yang sedang tidur dengan tenang dengan selimut. Dan ia ikut berbaring di samping Dinda dengan posisi tidur membelakangi Dinda.

-To be Continued-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s