I Want You Part VIII

​*** 

“Morgan!”pekik Asti. 

“Apa?”tanya Morgan sinis. 

“Aku cuman mau minta maaf sama kamu. Aku khilaf.”ujar Asti pelan. 

“Gak seharusnya kamu bilang ini ke aku.” 

“Iya, aku tahu seharusnya aku bilang ini ke Dinda dan Rafael. Aku mohon kamu bantu aku. Aku mau ngerencanain sesuatu buat mereka.” 

“Gak, aku gak mau ikutan kamu lagi.” 

“Please, Gan. Ini gak akan menyakiti mereka kok.” 

Asti pun membisikkan sesuatu di telinga Morgan. Morgan hanya mengangguk pelan dan tersenyum. 

***

*** 

“Karena ini semua sekarang udah kumpul, saya ingin memberitahukan sesuatu.”ucap Papa Rafael ketika Dinda, Rafael, dan orang tua keduanya telah berkumpul di ruang keluarga rumah Rafael. 

“Sebelumnya saya minta maaf. Dan saya harap kalian mau membantu dan mau mengerti keadaan ini.”lanjutnya dan menghirup oksigen sebanyak-banyaknya dan membuangnya perlahan. 

“Saya ingin menghentikan perjodohan ini.”ucapnya yang sontak membuat semua orang yang berada di ruangan itu melebarkan mata tak percaya. 

“Papa!”Dinda dan keluarganya hanya diam mendengar ini. Dinda yang saat itu duduk bersebelahan dengan Rafael hanya mampu mencengkeram lengan Rafael kuat dan menahan agar air mata yang telah berada di pelupuk mata itu tak menetes. 

“Maafkan papa, Rafa. Tapi, perusahaan kita sedang diambang kehancuran dan satu-satunya jalan adalah menerima bantuan sahabat papa dengan jalan kamu harus menikah dengan anaknya.”jawab Papa Rafael. 

“Tapi, Rafael gak bisa Pa.”tolak Rafael keras. “Maafkan kami Mario, Shella. Ini sungguh di luar kehendak kami.”ucap papa Rafael meminta maaf pada orang tua Dinda. 

“Aku permisi dulu.”ucap Dinda melepas cengkeraman tangannya di lengan Rafael dan berlalu pergi meninggalkan ruangan itu. 

“Dinda!”teriak Rafael dan mengejar Dinda. 

“Kami mengerti. Permisi saya harus menyusul Dinda.”ucap papa Dinda dan berlalu pergi. 

** 

“Dinda, please ini bukan kemauan kakak.”ucap Rafael di depan kamar Dinda. 

Dinda pun membuka pintu kamarnya dan memeluk tubuh tegap Rafael. “Kak, biarkan aku memeluk kakak seperti ini untuk yang terakhir kalinya.”isak Dinda di pelukan Rafael. 

“Gak, Dinda aku gak bakalan turutin Papa. Aku gak bisa hidup tanpa kamu. Mending aku hidup sederhana tapi sama kamu. Daripada aku harus hidup mewah tapi tanpa kamu. Kamu nafasku, kamu nyawaku, kamu hidupku. Aku gak bakalan bisa ngejalanin hidup ini tanpa kamu.”ucap Rafael panjang lebar. 

“Aku tahu kak. Tapi, belum tentu tante dan om bisa hidup sederhana seperti yang kakak bilang. Turutin apa kata mereka.””Tapi din.”elak Rafael. 

“Kak, do it for me. Aku ikhlas kak.”ujar Dinda melepaskan pelukannya dan memandang lekat mata Rafael. 

“Baiklah, kalau itu mau kamu. Kakak bakal lakuin itu atas permintaan kamu. Kakak harap kamu gak menyesal dengan apa yang telah kau ucapkan.” 

“Semoga kakak bahagia.”ucap Dinda kembali memeluk tubuh Rafael. 

*** 

Dua hari sudah berlalu setelah pernyataan papa Rafael waktu itu. Dinda masih berusaha tersenyum meski kadang tiba-tiba air mata mengalir begitu saja dari pelupuk mata Dinda ketika ia mengingat kenangan manisnya selama ini dengan Rafael. 

‘tok tok tok’ 

terdengar ketukan pintu dari balik pintu kamar Dinda. Ia yang saat itu sedang memegang foto dirinya dan Rafael pun bergegas membukakan pintu. 

“Iya bi, ada apa ya?”tanya Dinda pada orang di depannya yang ternyata pembantunya. 

“Ini, non ada kiriman untuk non.”ucap bibi menyerahkan sebuah kotak persegi panjang yang cukup besar berwarna emas. 

“Dari siapa bi?” 

“Bibi juga gak tahu, permisi.”

“Iya bi, makasih.”ucap Dinda kemudian menutup pintu kamarnya kembali. 

Dinda kembali duduk di tepi ranjang. Ia masih menimang-nimang kotak itu. Karena penasaran, akhirnya ia buka juga kotak yang lumayan berat itu. 

Ternyata isinya adalah sebuah baju kebaya berwarna putih. Baju kebaya yang akan ia kenakan untuk akad nikah. Ketika dia mengeluarkan baju itu, tiba-tiba ada sebuah notes kecil berwarna biru jatuh dari lipatan baju itu ke lantai kamarnya. 

Isi notes itu adalah

‘Dinda, aku harap kamu datang di acara akad nikah dan resepsi aku nanti. Dan, aku harap kamu mau memakai baju ini nanti. 

-Rafael-‘ 

Tak terasa air mata Dinda menetes lagi. Namun, ia segera menghapus cepat air mata itu. Ia dongakkan kepalanya berharap air mata itu takkan jatuh lagi. 

Setelah membaca notes itu, ia menemukan sebuah kertas lagi di dasar kotak tadi. Sebenarnya bukan hanya sebuah kertas biasa, lebih tepatnya itu adalah sebuah undangan pernikahan. Ia mulai membuka bungkus plastik transparan yang membungkus rapi undangan bertema black and gold itu. Terpampang jelas foto sepasang calon pengantin di cover. Calon pengantin pria yang mengenakan kemeja putih berbalut jas berwarna putih dengan celana panjang dan sepatu pantofel yang berwarna senada sedang memeluk si calon mempelai wanita dari belakang. Seorang mempelai wanita yang terlihat anggun dengan gaun putih kemben terusan yang panjang dan tangannya sedang menggenggam seikat bunga. Dinda pun membuka lembar undangan berikutnya. Terdapat nama calon pengantin dan tanggal pelaksanaannya. Ia pun menutup undangan itu. 

“Rafael dan Asti.”gumam Dinda membaca tulisan dengan tinta gold itu di cover undangan bagian belakang. 

“Jadi, Asti calon pengantin perempuannya? Aku harap dengan kalian yang sudah kenal, kalian bisa bahagia.”ucap Dinda air matanya menetes lagi dan ia pun segera menghapusnya cepat. 

-To be Continued- 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s