I Want You part VII

​“Bagaimana Rafael? Hanya ada dua pilihan. Pilih aku atau nyawa Dinda melayang.”

Rafael melihat ke jam tangan silver yang melekat di tangannya. 15 menit lagi nyawa Dinda akan melayang jika ia belum mendapatkan darah. Dia ingin Dinda tetap hidup. Tapi, jika dia menerima tawaran Asti otomatis dia sama saja mengkhianati Dinda.

“Tuhan, apa yang harus aku lakukan?”

Part VII

 “Maafin kakak, Dinda nyawamu lebih penting. I will always Love you forever.”batin Rafael.

“Baiklah. Aku akan mengambil keputusan. Aku..”

“STOP! Gue mau kok bantu loe.”ucap seseorang di belakang Rafael.

Rafael pun membalikkan badannya untuk melihat siapa orang itu.

“Morgan! Apa maksud loe.”teriak Asti geram.

“Gue udah mutusin gak bakalan lagi ikut ke dalam permainan bodoh loe lagi. gue tau cinta gak bisa dipaksa. Loe tahu sendirikan seberapa frustasinya Dinda ketika Rafael nyuekin dia. Itu hanya nyuekin belum lagi kalau Rafael ninggalin Dinda sepenuhnya cuman buat orang jahat kayak loe. Gue sayang Dinda. Gue mau lihat Dinda bahagia.”ujar Morgan panjang lebar.

“Dasar pengecut!”ucap Asti emosi dan pergi meninggalkan morgan dan Rafael.

“Sorry, loe siapa ya? Terus maksud ucapan loe tadi apa?”tanya Rafael.

“Gue Morgan, cowok di foto yang ngebuat loe emosi. Tapi tenang gue gak beneran ciuman kok sama Dinda. Udah tahu kan? Sekarang loe anterin gue. Gue bakalan donorin darah gue buat Dinda. Darah gue cocok kok.”

Rafael hanya mengangguk dan berjalan menuju ruangan dokter dengan Morgan membuntuti Rafael.

***

Akhirnya nyawa Dinda dapat terselamatkan. Semua lega mendengar berita itu. meskipun, Dinda masih belum sadarkan diri.

“Dinda, maafin kakak. Kapan kamu bangun? Kakak udah kangen berat sama kamu.”ucap Rafael yang sedang duduk di kursi yang berada di samping ranjang Dinda sambil menggenggam tangan Dinda erat.

“Raf, loe makan dulu ya. Biar gue yang nungguin Dinda.”ucap Nisa yang masuk ke ruangan Dinda bersama Reza.

“Gak Nis. Gue mau jagain Dinda sampai bangun.”tolak Rafael.

“Tapi, loe belum makan kan? Loe mau waktu Dinda bangun loe malah tidur gara-gara gak mau makan. Kalau begitu caranya sama aja dong.”ucap Nisa.

“Bener Raf, apa yang dikatain Nisa. Udah ayo makan sama gue. Gue juga lapar.”buju Reza.

“Iya deh. Nis, kalau ada apa-apa sama Dinda langsung calling gue ya.”ucap Rafael akhirnya.

“Sip. Udah sana.”ucap Nisa tersenyum.

Akhirnya Rafael dan Reza berlalu ke kantin. Sedang Nisa duduk di samping tempat tidur Dinda sambil membaca majalah remaja yang kebetulan ia bawa. Tangan Dinda mulai bergerak. Mata Dinda juga perlahan terbuka. Dinda menoleh ke samping terlihat Nisa yang sangat serius membaca majalah hingga seluruh wajah Nisa tenggelam di halaman majalah itu.

“Nisa.”ucap Dinda pelan.

Mendengar suara yang tak asing lagi bagi Nisa, ia pun menurunkan majalahnya dan terlihatlah Dinda yang sudah sadar dan sedang tersenyum lemah pada dirinya.

“Dinda loe udah bangun? Syukurlah. Gue calling Rafa dulu deh.”ujar Nisa kemudian mengambil handphone dari saku celananya.

“Jangan.”cegah Dinda.

“Kenapa?”tanya Nisa bingung.

“Percuma Nisa. Dia itu cuekin gue.”

“Jadi, loe masih ngira dia cuekin loe?”

Dinda hanya mengangguk.

“Loe salah, din. Loe gak tahu kan yang jaga loe dari kemarin gak sadar itu kak Rafa. Loe gak tahu kan yang bawa loe dari taman ke sini itu dia. Dia itu masih sayang banget sama loe. Bahkan dia itu cinta mati sama loe.”urai Nisa panjang lebar.

“Bener itu semua yang ngelakuin kak Rafa? Tapi, apa maksud kak Rafa ngecuekin au. Gak tahu apa aku kayak gini juga gara-gara dia.”pikir Dinda

“Udah gak usah kebanyakan mikir deh. Gue telponin aja.”ucap Nisa.

Belum sempat telpon Nisa tersambung, Rafael dan Reza udah datang.

“Dinda.”ucap Rafael dan berlari menghampiri Dinda dan segera saja memeluk Dinda yang saat itu masih tiduran.

“Kak Rafa.”ucap Dinda membalas pelukan Rafael, teruntai senyum bahagia terlukis di wajah Dinda.

“Maaf.”ucap mereka berbarengan.

“Kamu gak seharusnya minta maaf. Ini semua salah kakak. Andai saja kakak tak terbawa emosi, pasti ini semua gak akan terjadi.”ucap Rafael melepas pelukannya dan berdiri menatap Dinda.

“Kak, boleh aku tahu apa yang ngebuat kakak marah sama aku?”ucap Dinda dan Rafael mengangguk.

***

“Din, loe tahu kan kalau waktu itu loe kalau nyawa loe diujung tanduk?”tanya Nisa ketika ia dan Dinda sedang makan bersama di kantin kampus.

Dinda hanya mengangguk.

“Loe tahu kan kalau loe waktu itu sangat butuh darah?”

Lagi-lagi Dinda hanya mengangguk.

“Tapi, apa loe tahu siapa yang ngedonorin darah buat loe?”

“Siapa?”tanya Dinda.

“Orang yang selama ini loe cuekin.”kata Nisa.

“Maksud loe kak Morgan?”

***

“Kak, bisa bicara sebentar?”tanya Dinda menghampiri Morgan yang sedang membaca buku di perpustakaan.

“Mau bicara apa duduk deh.”ucap Morgan dan Dinda duduk di sebelah Morgan.

Dinda memutar kursinya sehingga berhadapan dengan Morgan begitu juga dengan Morgan. Kini mereka saling berhadapan.

“Terima kasih dan Maaf.”ujar Dinda.

“Buat?”

“Buat darah kakak dan sikap aku selama ini.”

“Sama-sama. Aku seneng banget udah bisa lihat kamu sehat kayak gini. Kamu gak seharusnya ngomong maaf kok. Seharusnya aku yang bilang maaf. Karena aku dan Asti kamu jadi ngelakuin hal bodoh kayak gitu. Gak tega banget rasanya ngelihat kamu terbaring lemah di Rumah sakit. ”ujar Morgan tersenyum manis.

“Makasih ya kak.”ucap Dinda kemudian berhambur memeluk Morgan sekilas.

“Sama-sama. Sekarang damai ini.”

Dinda hanya mengangguk dan tertawa.

***

Sekarang sudah cukup sore, namun Rafael tak jua menjemput Dinda yang sedari tadi menunggu di gerbang kampus. Berulang kali Dinda melihat jam tangan hitam yang melingkar di tangan kirinya. Berulang kali juga dia mengetik SMS dan menelpon Rafael.  Namun, tak ada respon apapun. Sedangkan mulut Dinda tak henti-hentinya menggerutu. Ia paling tak suka menunggu.

‘tinn tinn tinn’

Terdengar suara klakson mobil Rafael. Segera Dinda membuka pintu depan untuk penumpang. Ia duduk ke dalam mobil dengan bibir yang mengerucut. Ia sungguh kesal.

“Aduh, My Princess maaf ya. Tadi ada meeting mendadak. Beneran deh gak maksud ngebuat kamu nunggu.”ujar Rafael.

“Kakak gak tahu sih kalau aku udah nunggu lama udah garing ini.”

“Mana sih yang garing sini aku basahin.”

“Udah ini mau pulang atau cuman diem di sini.”

“Sampai lupa ini. Aku bakal ngajak kamu ke tempat special. Pasti kamu suka.”

***

“Huwaaa… Ini indah banget kak. Aku suka tempat ini.”ucap Dinda saat melihat tempat indah di depannya.

Hamparan ilalang terpampang jelas di depannya. Rumput-rumput tinggi berwarna kecoklatan menambah suasana Indah. Dinda pun berjalan ke tengah hamparan ilalang yang rumputnya jarang. Ia pun kemudian berbaring menikmati langit yang mulai menampakkan semburat kemerahan.

“Gimana? Udah aku bilang kan kamu pasti suka.”ucap Rafael sambil mengikuti Dinda berbaring.

“Makasih kakak ku yang super ganteng.”ucap Dinda kemudian tengkurap kemudian mencubit kedua pipi Rafael.

“Tadi aja marah-marah sekarang muji-muji.”

“Hehe maaf deh.”ujar Dinda yang kemudian berbaring terlentang lagi.

Mereka terdiam dan menatap lurus ke langit. Menikmati lukisan langit yang indah. Warna merah, orange, dan kuning dengan komposisi yang sedemikian rupa seakan memberikan kedamaian dan menjanjikan kebahagiaan. Seperti Dinda dan Rafael terucap harapan tulus di hati mereka. Harapan ingin bersatu selamanya hingga maut yang memisahkan.

-to be continued-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s