I Want You – END

​***

Tubuh Rafael telah seutuhnya berada di mana Kara berada. Di sisi lain di awan pembatas tadi. Lubang pada awan yang ia gunakan sebagai pintu masuk tadi, perlahan tertutup.

“Rafael, ini kesempatan terakhirmu. Apa kau masih yakin akan ikut bersamaku?”tanya Kara lagi-lagi.

Rafael hanya menatap lubang di awan itu dengan tatapan ragu. Tiba-tiba di awan itu terlihat seorang wanita cantik. Ia tersenyum manis. Senyuman paling manis yang ia miliki. Rambut panjangnya terbang karena angin.

“Dinda.”lirih Rafael


Ia tersenyum memandang sosok itu. Kemudian tampak sosok lain. Sosok mamanya. Mamanya juga sedang tersenyum manis di samping Dinda. Membuka lebar kedua tangannya, berharap Rafael akan datang dan memeluknya.

“Mama.”ucap pelan Rafael.

Lubang itu semakin tertutup. Kini Rafael telah yakin. Ia menatap Kara dengan tatapan ‘Sepertinya aku akan ikut mereka’. Kara mengangguk pelan seakan mengerti dengan arti tatapan Rafael dan Rafael segera berlari menghampiri kedua wanita yang sangat berarti dalam hidupnya itu.

***

Dinda masih menangis di dada Rafael. Mungkin saat ini baju Rafael telah basah karena air mata Dinda. Tiba-tiba saja garis yang tertera di elektrokardiograf yang tadinya telah dipasang kembali oleh Dinda sedikit demi sedikit mulai berubah. Garis yang tadinya lurus, kini menjadi sedikit ada gelombang-gelombang kecil. Menandakan jantung Rafael telah berdenyut kembali walaupun itu masih sangat lemah.

Semua orang di ruangan itu masih belum menyadari. Hingga tiba-tiba jari jemari Rafael bergerak, dan itu mampu membuat ekor mata Dinda menangkap gerakan kecil itu. Dinda yang sadar akn itu pun mulai mendongakkan kepalanya dan kini ia sedang mendapati Rafael yang tengah mengerjap-ngerjapkan matanya untuk menyesuaikan dengan cahaya. Rafael pun tersenyum tipis memandang Dinda. Kini mata Rafael telah membuka sempurna dan ia bisa melihat jelas bidadari di hadapannya yang dadanya masih naik turun akibat menangis.

“Kak Rafael!”seru Dinda dan berdiri tegak.

Orang-orang yang sebelumnya sedang sibuk dengan pikirannya sendiri pun akhirnya menatap ke arah Dinda dan Rafael. Sontak mata mereka membulat sempurna melihat Rafael yang telah sadar. Rafael hanya tersenyum mengingat rasanya ia belum mampu jika berteriak dan menghambur memeluk mereka satu persatu.

***

“Tuhan, terima kasih. Kau telah mengembalikan malaikatku. Aku berjanji akan selalu menjaga malaikatku. Aku tak akan pernah menyia-nyiakannya lagi. Terima kasih Tuhan atas semua  kesempatan yang Kau berikan kepadaku.”batin Dinda.

Ia tersenyum memandang wajah tenang Rafael di sebelahnya yang sedang tertidur tenang di ranjang kamar mereka. Rafael telah diperbolehkan pulang semenjak tadi pagi.

“Sayang, aku tahu aku tampan. Jangan memandangiku seperti itu.”ucap Rafael dengan mata yang masih terpejam.

Sontak Dinda segera sadar dari lamunanya. Semburat merah pun muncul di kedua pipinya.

“Hah? Kakak belum tidur?”tanya Dinda heran.

“Aku sudah lelah tidur berhari-hari.”jawab Rafael santai.

“Kak Rafa.”

Rafael hanya berdehem menyahuti panggilan Dinda lalu ia mengubah posisi tidurnya menjadi menghadap Dinda. Menopang kepalanya dengansalah satu tangannya yang dibentuk siku.

“Maaf.”ucap Dinda lirih.

“Sudahlah, tak sepenuhnya ini kesalahnmu. Aku juga salah. Andai saja waktu itu aku tak mementingkan egoku pasti ini semua tak akan terjadi.”

“Tapi,,”

Rafael berdesis pelan dan meletakkan telunjuknya di depan bibir Dinda.

“Yang terpenting saat ini adalah aku bisa bersamamu lagi. Memandang wajah indahmu lagi. Memandang manik matamu yang tenang. Sekarang yang terpenting adalah kita buka lembaran baru dan menjadikan masa lalu kita menjadi sebuah pelajaran yang berharga bagi  kita. Love you.”

“Love you too.”

***

“DOUBLE WEDDING?”tanya Dinda tak percaya dengan apa yang dibacanya pada undangan berwarna biru gelap itu.

Tertulis jelas dengan tinta silver dua pasangan yang akan menikah.

“Bagaimana? Keren kan?”ujar Reza dengan bangganya.

Mereka ber-enam kini memang sedang berkumpul di ruang tengah rumah Rafael dan Dinda.

“Gak. Biasa aja.”tanggap Rafael.

“Rese’ lo.”umpat Reza kesal dan melempar bantal ke arah muka Rafael.

“Pokoknya kalian berdua harus datang. Gak boleh gak.”ujar Nisa dengan nada sedikit mengancam.

“Sip deh. Kita bakalan dateng, tenang aja. Mana mungkin kita gak dateng di special moment kalian. Iya kan kak?”tanya Dinda pada Rafael di sebelahnya.

“Gak ah. Kamu dateng sendiri aja ya.”jawab Rafael.

“Ah, kok gitu sih. Gak kompak.”kesal Dinda mengerucutkan bibirnya manja.

Mereka semua hanya tertawa melihat Dinda yang sedang cemberut.

***

“Udah, gak usah dandan cantik-cantik nanti ada yang naksir lagi.”ucap Rafael kemudian memeluk Dinda yang sedang duduk di depan meja riasnya.

“Kalaupun ada yang naksir, hati dan cinta ini hanya untukmu.”ucap Dinda sambil berdiri dan berbalik sehingga kini ia mnenghadap Rafael. Menatap dalma manik mata Rafael.

“Aku tahu dan percaya itu.”ujar Rafael tersenyum dan mencium kening Dinda singkat. “Siap?”

“Siap.”jawab Dinda semangat.

***

Dengan balutan long dress berwarna merah dengan bahu sebelah kiri yang terbuka, Dinda berjalan anggun. Tangan sebelah kirinya bergelayut di lengan kanan Rafael. Rafael yang waktu itu menggunakan tuxedo hitam dengan dalaman putih juga sangat tampan, ditambah senyuman yang selalu mengembang di bibir merahnya.

Tampak di ujung karpet merah yang tergelar dari pintu masuk, dua pasangan yang snagat serasi. Morgan dan Reza dengan tuxedo emasnya. Asti dan Nisa dengan gaun berwarna merah berbalut warna emas dengan model yang berbeda. Tak ada kesedihan yang tersirat dari ekspresi wajah mereka. Hanya ada ekspresi kebahagiaan dan sunggingan senyum yang tak pernah luntur.

Kini, para tamu undangan yang terdiri dari para relasi bisnis keluarga pengantin dan beberapa teman mereka pun tengah duduk santai sembari menikmati hidangan yang telah disajikan. Panggung kecil di sebelah kanan panggung pengantin pun kini tengah menjadi sorotan. Rafael yang duduk tak jauh dari panggung pun berdiri sambil memegang mic ketika musik mulai berbunyi..

[Super Junior – A Day]

(Sambil berjalan ke panggung Rafael pun bernyanyi)

Neon mudji, hangsang eolmana, neol sarang ha neunji

gakkeumsshik, ajik meon, mirae kkaji buranhae haji

(Morgan pun juga berdiri dan berjalan menuju ke panggung dan bernyanyi)

geokjeong hajima neol gwerob hajima, naegen wanbyeokhan saram ingeol

summan shwi eo do, hwajang anhaedo, neon areum dawo, nun busheo

 (Mereka berdua menyanyi bersama)

haru e hanbeon man neol saenggakhae

himdeul eobtdeon haru ye sunshine geudaeman

isseo jun damyeon O.K. geugeollo dwae

 (Reza pun juga ikut berdiri kemudian bernyanyi menghampiri Morgan dan Rafael)

neol bomyeon, pyeonhae ireon mal, neon shilheo haetjiman

haengbokhae, hajiman, yeojeonhi neon buranhae haetji

ye shim hajima neol gwerob hijima, sashil sunjinhan saram ingeol

sarang seureon nun useum neomchil ttae, neon areum dawo, nun busheo

 [All]

haru e hanbeon man neol saenggakhae

deo isangeun andwae, akkyeo dul geoya

himdeul eobtdeon haru ye sunshine geudaeman

isseo jun damyeon O.K. geugeollo dwae

 

meorissok ontong neoye saenggak ppun

mwonga dareun geoseul wonhaedo, jamshi meolli tteoreojyeo bwado

gyeolguk neo, gyeolguk neo, neomu shinbihae

 

jamshi nun gamgo neol tteo ollyeo

You’re So Beautiful Girl, neo ppunya

jigeum geudaero ni moseubi

gajang areum dawo nun busheo (My Girl)

 

haru e hanbeon man neol saenggakhae (ohh)

deo isangeun andwae, akkyeo dul geoya (deo isangeun andwae, akkyeo dullae)

himdeul eobtdeon haru ye sunshine geudaeman

(himdeul eobtdeon haru ye sunshine, geudaeman)

isseo jun damyeon O.K. geugeollo dwae (O.K. geugeollo)

haru e hanbeon man neol saenggakhae (haru e hanbeonman, saenggakhae)

deo isangeun andwae, akkyeo dul geoya (andwae, akkyeo dul geoya)

himdeul eobtdeon haru ye sunshine geudaeman

(himdeul eobtdeon haru ye sunshine geudaeman)

isseo jun damyeon O.K. geugeollo dwae (isseo jun damyeon O.K. geugeollo dwae

 

 Translation :

You always ask, how much I love you

Sometimes, you get worried about the far ahead future

Don’t worry, don’t torture yourself

You are my perfect love

Even if you’re just breathing

Even if you don’t have makeup on

You are beautiful, eye-blinding

I think of you just once a day

It can’t be more, because I’m saving you up

The sunshine of a hard day

If only you are here, it’s OK

That’s all I need

When I see you, I feel comfortable

Even though you don’t like it when I say that

I’m happy but still you are nervous

Don’t doubt- don’t torture yourself

Actually, this is a pure love

When you give off that lovely smile with your eyes

You are beautiful, eye-blinding

I think of you just once a day

It can’t be more, because I’m saving you up

The sunshine of a hard day

If only you are here, it’s OK

That’s all I need

Tepuk tangan meriah pun terdengar di setiap sudut gedung tempat berlangsungnya acara pernikahan. Bahkan ada beberapa orang yang memberikan mereka standing applause. Dinda, Asti dan Nisa pun tak mau kalah. Mereka bertiga berlari kecil ke panggung menghampiri pasangan mereka yang akan menghampiri mereka. Mereka ber-enam berpelukan sesaat kemudian bergandengan tangan menatap satu sama lain dengan tatapan bahagia. Tatapan masa depan di mana mereka akan hidup bersama dan itu semua  akan tetap berakhir dengan indah.

-THE END-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s