I Want You #18

​***

“Kakak, bukan berarti aku lelah. Bukan berarti aku bosan. Ini tak ada sangkut pautnya dengan hal itu. Apa kak Rafa tak merindukanku? Apa kak Rafa tak merindukan mama? Papa? Mereka merindukanmu. Bahkan aku bisa melihat wajah mama yang semakin hari semakin lesu. Ia selalu memikirkanmu. Memikirkan keadaanmu yang tak pernah bangun.”

“Ku mohon bangunlah. Aku mencintaimu. Aku butuh kamu. Aku tak bisa hidup tanpamu. Hidupku kosong tanpa hadirmu. Aku rindu suara merdumu. Aku rindu mata sipitmu. Aku rindu pelukan hangatmu. Rindu genggaman tanganmu. Bangun kak. Ku mohon.”

Sedari tadi Dinda hanya berbicara sendiri sambil menggenggam erat tangan Rafael. Seminggu telah berlalu, tak ada suatu hal yang bisa menunjukkan perkembangan Rafael. Mata Rafael masih tertutup. Tertutup rapat. Seakan tak ingin ada yang mengusiknya. Orang tua Dinda dan Rafael pun segera pulang dari luar negeri setelah tahu kabar itu. Mereka silih berganti menunggu Rafael meskipun Dinda tak pernah sedikitpun mau meninggalkan ruangan Rafael. Ia masih tetap setia berada di samping Rafael. Ia tak ingin ada penyesalan untuk kedua kalinya. Ia tak ingin kehilangan Rafael lagi.

***

“Rafa, apa kau tak lelah? Kenapa kau selalu menolak saat ku menyuruhmu pulang? Lihatlah mereka.  Mereka terlihat sangat merindukan sosok kehadiranmu.”tanya seorang wanita cantik pada seorang pemuda bermata sipit. Rafael.

“Jadi kau mengusirku, Kara? Aku ingin ada di sini.”tanya balik Rafael tanpa menjawab pertanyaan Kara.

Mereka sekarang sedang berada di sebuah dunia yang amat indah. Hamparan rumput hijau terbentang luas sejauh mata memandang. Belum lagi langit yang selalu cerah memayunginya. Pohon-pohon rindang berdiri dengan kokohnya menambah kesejukan udara sekitar.

“Tapi ini belum waktumu Rafael.”tolak Kara.

“Aku akan menunggu hingga waktuku datang.”

“Dengarkan suara rintihan hatinya Rafael. Apa kau tak sedikitpun kasihan dengan istrimu itu?”

“Tapi dia telah mengajukan permohonan bodoh yang bahkan bisa menghancurkan hidupku dan hidupnya sendiri.”

“Ia telah menyesali semuanya. Maafkan dia, Rafael.”

“Aku telah memaafkannya. Oya, bukankah kau bisa membawaku ke hari itu?”

“Aku memang bisa tapi aku yakin kau akan menyesal jika kau melakukan ini.”

“Aku tak akan menyesal . Percayalah. Aku mohon.”

“Baik.”pasrah Kara akhirnya dan mengulurkan tangannya pada Rafael.

Rafael menerima uluran tangan Kara dan berjalan mengekori Kara. Ternyata Kara membawanya ke sebuah awan tipis yang membentang tinggi di depan mereka. Seakan awan itu adalah sebuah batas antara tempat itu dengan tempat lain yang Rafael tak pernah tahu tempat seperti apa itu.

“Kau yakin?”tanya Kara lagi.

“Yakin.”jawab Rafael tegas.

‘Kakak! aku mohon jangan pergi!’suara pekikan histeris seorang wanita .

Mendengar teriakan itu hati Rafael menjadi sedikit ragu. Namun, ia tetap saja mengikuti Kara yang telah berjalan masuk ke awan putih itu. Rafael telah melangkahkan salah satu kakinya.

***

“Dokter! Kenapa garisnya jadi seperti itu?”histeris Dinda sambil menggoyangkan-goyangkan bahu dokter yang sedang memeriksa Rafael.

“Tenang nona.”

“Kakak! kak Rafael! Jangan pergi! Maafkan aku.”lagi-lagi Dinda menjerit histeris.

Ia menciumi setiap jengkal wajah Rafael. Dengan wajah yang telah merah dan basah karena semenjak setengah jam lalu ia menangis histeris karena melihat grafik denyut jantung Rafael yang hampir datar.

“Pak Morgan, bisa anda membawa nona Dinda keluar ruangan? Saya tak ingin dia tambah histeris melihat perubahan garis alat ini.”ucap dokter itu.

Morgan yang sedari tadi memegangi Dinda hanya mengannguk kecil dan menarik Dinda untuk keluar ruangan.

“Kak Morgan! Aku ingin tetap di sini. Jangan bawa aku pergi.”teriak Dinda berusaha melepaskan cengkeraman tangan Morgan di pinggangnya dari belakang.

Tangan Dinda masih menggenggam jemari Rafael. Sedangkan Morgan, masih berusaha menarik tubuh Dinda untuk segera keluar dari ruangan. Sedikit demi sedikit genggaman tangan Dinda di jemari lemas Rafael pun terlepas.

Dinda masih mencoba untuk meraihnya. Namun, tubuh Morgan lebih kuat. Ia hanya bisa berteriak histeris. Dan akhirnya kini Dinda telah berada di koridor Rumah Sakit di depan ruang Rafael. Tampak di sana orang tua Rafael dan Dinda. Reza dan Nisa dan Asti. Mama Rafael juga tak henti-hentinya menangis di pelukan papa Rafael. Dinda terduduk lemas di lantai Rumah Sakit. Sesekali ia memukul-mukul lantai Rumah Sakit.

“Kak Rafa. Maaf. jangan pergi. Jangan tinggalkan aku. Aku mohon.”

***

Rafael masih saja melangkahkan satu kakinya ke sisi lain dari awan itu. Setelah mendengar suara itu, hatinya ragu. Apalagi suara-suara lain menyusul dan membuat hati Rafael semakin ragu.

‘Kakak! Maafkan aku!’

‘Jangan tinggalkan mama, Rafael.’

‘Rafa. Lo gak boleh pergi. Gue bener-bener gak tega lihat Dinda’

‘Kakak, aku mohon. Kembalilah. Aku berjanji aku tak akan pernah membantahmu lagi.’

‘Raf, please lo balik.’

Suara-suara itu semakin terdengar jelas. Rafael menatap Kara yang telah berada di sisi lain awan itu. Ia melambai sembari tersenyum pada Rafael. Dan Rafael pun melewati awan itu hingga saat ini ia telah berada di tengah awan pembatas itu. Setengah tubuhnya berada di tempat asalnya. Dan setengah tubuhnya lagi berada di tempat sekarang Kara berada. Rafael hanya menatap Kara dengan tatapan penuh keraguan.

***

Garis monitor itu semakin lama semakin melemah. Bahkan garis itu hampir lurus. Hanya ada gelombang kecil. Sangat kecil. Memperlihatkan betapa lemahnya jantung Rafael saat ini.

***

Rafael menatap langit cerah yang memayngi rumput hijau yang sejuk itu. Tiba-tiba ada gambaran seorang wanita yang amat dicintainya. Ia sedang menangis tersedu-sedu duduk bersimpuh di depan pintu ruang perawatan. Ia menangis dan menceracau tak jelas menyebut namanya dengan panggila khas-nya. Dan tiba-tiba gambaran itu hilang.

Rafael kembali memandnag wajah cantik Kara. Ia pun mulai menggerakkan tubuhnya lagi. Sehingga kini hanya sebelah kakinyayang berada di tempat asalnya. Rafael tersenyum ragu memandang Kara di depannya.

***

Garis pada alat pengukur detak jantung itu semakin melemah. Dan akhirnya..

‘Titttt…..’

Garis itu lurus. Lurus tanpa ada lonjakan gelombang seperti sebelumnya. Dokter yang menangani Rafael hanya bisa membuang napas berat dan membuka masker hijau yang dipakainya. Suster yang berada di sebelah dokter itu pun membuka masker oksigen yang selama seminggu ini digunakan Rafael. Kemudian menutupi seluruh tubuh Rafael dengan kain putih.

Dengan sedikit ragu, dokter itu membuka pintu ruang rawat Rafael. Seketika itu juga wajah semua orang menatap dokter dengan tatapan ‘Katakan bahwa Rafael baik-baik saja’. Dinda yang sudah tak sabar mendengar jawaban dokter pun berdiri dan menerobos masuk ke dalam.

“Suster, apa yang anda lakukan? Buka penutup kain itu dan pasang masker itu lagi. Suamiku   bisa mati karena kehabisan oksigen.”teriak Dinda memarahi suster yang sedang membereskan alat-alat yang selama ini digunakan Rafael.

“Tapi nona, bapak Rafael telah-“

“Jangan memberi alasan yang tak masuk akal.  Cepat pasang lagi.”perintah Dinda.

Suster itu masih bingung harus menjawab apa kepada Dinda. Dan dengan tak sabarannya, akhirnya Dinda memasangkan masker oksigen yang sambungannya dengan tabung oksigen belum terlepas itu tepat di hidung Rafael. Dinda memasangkan semua peralatan medis itu asal. Suster yang melihat itu hanya diam.

“Mama, kak Rafa baik-baik saja. Lihat dia sedang tersenyum kepadaku.”ucap Dinda pada mamanya yang telah berdiri di belakangnya dan menarik tangan mamanya dan tangan mama Rafael mendekat ke arah tubuh Rafael.

“Kak, lihat mereka semua sedang berada di sini. Untuk kak Rafael.”ucap Dinda tersenyum lebar.

Senyuman Dinda malah membuat semua orang menatapnya iba.

“Dinda, nak Rafael sudah tenang. Kamu harus bisa menerimanya.”ujar mama Dinda lembut mencoba memberi pengertian kepada anak semata wayangnya itu.

“Mama! Jangan ngomong yang aneh-aneh deh. Kak Rafael itu hanya tidur.”sentak Dinda namun air matanya menetes dari sudut matanya.

“Dinda, lo harus sabar. Rafael udah tenang.”ucap Nisa mendekati Dinda dan mengelus-elus pundak Dinda.

“Nis, lo ngomong apaan sih. Jangan ngaco deh. Kak Rafael itu masih hidup.”elak Dinda.

“Kakak, buka mata dong. Ngomong kalau kakak itu cuman pingin tidur. Dan nanti pasti bakalan bangun lagi.”ujar Dinda mengguncangkan tubuh Rafael.

Tiba-tiba Dinda memeluk tubuh Rafael. Ia menangis histeris di dada Rafael. Semua orang yang melihatnya hanya bisa menatap iba Dinda yang menangis. Tak ada yang bisa mereka perbuat untuk menenangkan Dinda. Percuma saja, jika saat ini mereka mengatakan kebenaran yang harus didengar Dinda. Dinda masih belum bisa menerima semua kenyataan ini meskipun di sedikit kecil otak Dinda telah berkata bahwa Rafael telah tiada. Namun, Dinda menepisnya. Ia masih percaya. Sangat percaya bahwa Rafael akan bangun dan mereka akan hidup bersama lagi.

-To be Continued-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s