I Want You #17

​Morgan yang baru saja sampai di rumah Asti dan melihat Dinda yang sedang duduk di lantai teras rumah Asti.

“Dinda.”panggil Morgan kemudian berjongkok di depan Dinda.

Dinda mendongkak melihat siapa yang memanggil namanya. Terlihat matanya merah karena menangis. Pipinya telah basah oleh air mata. Morgan menatap Dinda khawatir.

“Aku cinta dia. Aku tak ingin berpisah dengannya. Aku menyesal mengucapkan itu.”lirih Dinda menunduk.

Morgan mencengkeram lembut kedua bahu Dinda.

“Aku yakin, semua akan baik-baik saja. Sekarang kamu tenang.”

Belum sempat Morgan menyeleaikan kalimatnya, Dinda memotongnya,

“Gimana bisa tenang? Kak Rafa akan menceraikanku. Dan itu semua karena permintaan bodohku.”

“Sekarang pikirkan semuanya dengan tenang, kita bisa bicarakan baik-baik. Sekarang kita masuk dulu. Aku yakin Rafael tak akan mengabulkan permintaanmu itu.”tutur Morgan lembut.

Dinda mengangguk dan berjalan masuk dengan Morgan yang berjalan di sampingnya.

***

Dua hari setelah insiden di rumah Asti tersebut, Dinda masih belum bisa tenang. Bahkan lingkaran hitam di bawah matanya semakin tebal. Ia memang tak bisa tidur selama dua hari ini.  Bahkan badannya Nampak tak terurus. Asti telah membujuk dengan segala cara. Namun, Dinda tak bergeming. Ia masih tak mau bergerak dari tempat tidurnya.

“Din, makan ya. Lo belum makan sama sekali dari kemarin.”bujuk Asti .

Dinda hanya menggeleng lemah.

“Gue nyesel, As. Gue terlalu bego sampai nyampei permohonan bodoh itu.”gumam Dinda lirih.

“Gue yakin kok. Rafael gak mungkin ngelakuin itu. Kalau dia bener-bener ngabulin pastilah dia udah ngirim surat cerai ke lo. Jadi lo jangan sedih ya. Gue yakin banget Rafael sayang kok sama lo.”hibur Asti.

“Tapi lo bilang,,”ucap Dinda menggantung.

“Gak. Lupain semua kata-kata gue. Sekarang gue yakin Rafael masih sayang dan cinta banget sama lo. Lo makan ya.”

“Gak. Gue maunya kak Rafael. Gue nyesel. Harusnya sekarang ini kita idah bareng-bareng lagi.Kenapa gue bisa sebego’ itu sih. Gue nyesel.”

“Udah din, lo jangan nyiksa diri lo sendiri.”

Lagi-lagi Dinda menggeleng. Asti menghela napas panjang. Asti pun meletakkan piring makan di meja kosong sebelah ranjang Dinda. Lalu beranjak pergi.

***

Rafael masih tak habis pikir dengan apa yang diminta Dinda. Kini, ia sedang berada di kantornya. Menatap kertas-kertas putih yang dirangkup rapi dalam satu map berwarna merah.

“Apa iya gue harus tanda tangan? Tapi gue yakin gue bakal hancur setelah ini.”gumam Rafael.

Yah, saat ini Rafael sedang menatap lembaran putih yang berisi surat cerai. Rafael dan Dinda harus menandatangani kertas itu jika mereka ingin bercerai. Namun, Rafael bimbang. Ia tak ingin melakukan hal ini. Tapi di sudut hatinyayang lain, ia harus melakukan ini. Karena saat itu ia telah berjanji di depan Dinda. Ia adalah orang yang tak akan mengingkari janjinya sendiri.

 

Setelah satu jam memikirkan berbagai kemungkinan-kemungkinan, akhirnya Rafael memutuskan untuk menandatangani surat itu. ia yakin Dinda pasti tak akan ikut membubuhkan tanda tangannya di kertas putih itu. Toh, perceraian tak akan terjadi tanpa persetujuan dari kedua belah pihak. Itulah alasan kuat Rafael menandatangani ini semua. Dengan tangan cekatan, akhirnya Rafael mengirimkan sebuah pesan singkat untuk Dinda.

‘Aku telah mengabulkan permintaanmu. Sekarang juga datanglah ke Amazon Café di sebelah kantorku.’

 

Pesan telah terkirim. Rafael pun melangkah pergi dan menuju ke café tempat mereka akan bertemu.

***

Setengah jam lebih Rafael menunggu, akhirnya yang dinantikan datang juga dengan hanya mengenakan celana pendek sepaha dan hem biru polos kelonggaran. Rafael memandang Dinda lekat. Banyak perubahan yang terjadi pada Dinda. Ia terlihat lebih kurus. Lingkaran mata Dinda terlihat jelas. Melihat ini, Rafael ingin sekali memeluk Dinda merengkuhnya dalam pelukan hangatnya. Ia sangat khawatir dengan keadaan Dinda.

“Kamu sudah makan?”tanya Rafael lembut pada Dinda.

Dinda menggeleng pelan.

“Kalau begitu, kita makan dulu.”

“Gak, kita langsung saja.”suruh Dinda.

Rafael pun mengeluarkan map yang berisi surat-surat perceraian itu. Dengan berat hati, ia menyodorkan kertas yang harus ditanda tangani Dinda dan sebuah pulpen.

“Tuhan, apa ini? Nyatakah ini?”batin Dinda bertanya.

Dengan kuat hati, Dinda mulai memegang pulpen bertinta hitam yang disodorkan Rafael. Entah setan apa yang membuat Dinda akhirnya membubuhkan tanda tangannya di atas materai 6000 itu. Bukankah ia tak menginginkan ini? Rafael terpelongo melihat apa yang dilakukan Dinda.

“Jadi, ia tak main-main?”batin Rafael.

“Adakah lagi? Aku ingin segera pulang.”ucap Dinda dingin.

“Apa? Semudah itu ia berkata seperti itu?”gumam Rafael.

“Tidak ada.”jawab Rafael mencoba tenang.

“Baik.”ucap Dinda dan segera pergi.

Rafael hanya memandang punggung Dinda hingga hilang dalam pandangannya. Sete;ah keluar dari café tersebut, Dinda segera menyetop taksi.

 

Di dalam taksi, Dinda menangis. Sebenarnya ia ingin menangis sedari tadi. Namun, ia harus menahannya. Ia tak ingin terlihat lemah di depan Rafael. Bagaimana bisa ia menandatangani surat tadi?

***

Rafael masih terduduk diam. Ia benar-benar tak percaya dengan apa yang baru saj terjadi. Hubungan mereka hanya tinggal menunggu siding dari pengadilan agama. Dan semuanya akan berakhir.

“Apa sebegitu bencinya kamu padaku?”batin Rafael bertanya-tanya.

Rafael pun  akhirnya meninggalkan café tersebut dan bermaksud untuk pulang ke rumahnya.Dengan pikiran yang tak karuan, Rafael mengendarai mobilnya. Saat di persimpangan jalan, tiba-tiba mesin mobil Rafael mati dan..

‘BRAKK’

Mobil Rafael ringsek karena ditabrak oleh mobil lain yang melaju dengan kecepatan tinggi dari samping kiri mobil  Rafael. Dan map merah yang berisi surat perceraian itu pun terbuka dan menerbangkan apa yang ada di dalamnya. Otomatis, tak akan ada sidang perceraian di antara mereka berdua.

***

Sesampainya di rumah, Dinda segera mandi dan beranjak ke dapur untuk membuat susu coklat kesukaannya.

‘PRANGG’

Cangkir yang sedang digenggam Dinda tiba-tiba lepas dan jatuh ke lantai dapur. Dinda juga merasa ada sesuatu yang terjadi dan seketika pikirannya mengarah pada satu nama. Rafael.

 

Dengan sedikit berlari menaiki anak tangga rumahnya, ia menuju kamarya dan segera mengambil ponselnya yang masih berada di tas selempang ungu yang baru saja ia gunakan. Tampak satu panggilan tak terjawab dari Rafael.

 

Tanpa membuang waktu, ia segera menelpon balik Rafael. Berharap tak ada kabar buruk yang akan ia terima.

“Halo?”ucap seseorang di seberang sana. Suara laki-laki yang sangat asing di telinga Dinda.

“Maaf. Bisa saya berbicara dengan Rafael?”

“Maaf. Anda siapa?”

“Saya.. istrinya.”jawab Dinda sedikit ragu.

“Kebetulan. Suami anda mengalami kecelakaan dan sekarang berada di rumah sakit ‘Citra’.”

Ponsel Dinda yang tadinya menempel di telinga kanannya telah lepas dari genggaman tangannya dan jatuh ke lantai kamarnya.

 

 Dua menit kemudian, Dinda telah berada di depan rumahnya menunggu taksi yang akan menjemputnya.

***

Setelah mendapat perawatan dari dokter, akhirnya kondisi Rafael telah stabil meskipun matanya masih enggan terbuka. Kini, Rafael telah berada di ruang rawat VIP dengan masker oksigen yang menutupi hampir sebagian besar wajahnya.

 

Dinda yang sudah datang dengan perasaan yang campur aduk pun segera masuk ke ruang rawat Rafa. Tentunya setelah memakai pakaian steril berwarna hijau tua yang telah disediakan pihak Rumah Sakit. Ia menggenggam jari tangan Rafael dengan kedua tangannya dan mencium jemari itu.

 

“Kak, Maaf. Kalau saja aku bisa menghentikan ini semua, aku akan menghentikan ini semua. aku tak mau ada perceraian. Aku tak mau ada hitam di atas putih. Aku hanya ingin ada kita. Bersamamu, aku ingin merangkai cerita indah di sisa episode hidupku ini. Bangun kak. Don’t leave me and make me feel regret again.”

 

Dinda terus menangis. Ia juga sakit memandang tubuh yang dulunya kekar kini sedang berbaring lemah tak sadarkan diri di hadapannya. Andai saja ia tak memberikan tanda tangan di atas kertas itu, apa ini semua bisa dicegah? Jika iya. Itu adalah jawaban yang sungguh membuat Dinda lebih menyesal.

 

Genggaman tangan Dinda tak pernah lepas. Bahkan mungkin semakin erat. Berulang kali, ia menciumi jemari tangan Rafael.

“Kak, bangun. Sampai kapan kamu tidur? Apa kamu kesulitan untuk membuka kelopak mata yang menutupi mata indahmu itu? Apa kamu ingin aku untuk membantumu? Buka mata sayang, aku ingin melihat bola matamu yang selalu menyejukkan hati ini. Ku mohon.”

***

Detik telah menjadi menit. Menit telah berganti jam. Bahkan jam telah berganti hari. Namun. Rafael masih belum juga sadar. Ia masih asyik dengan kegelapan yang membelenggunya. Dinda juga masih setia menunggu Rafael. Menunggu hingga orang yang amat dicintainya mau membuka matanya.

 

Hingga tiba-tiba jari telunjuk Rafael mulai bergerak dan disusul dengan jari-jari lainnya. Dinda segera memencet tombol di atas ranjang Rafael. Sedetik kemudian, dokter telah datang bersama dua suster di belakangnya.

“Iya Nona. Adakah yang bisa saya bantu?”tanya dokter itu karena dia masih melihat keadaan Rafael masih sama dengan satu jam lalu saat dia memeriksanya.

“Jari suami saya bergerak dok. Apa itu suatu pertanda bahwa suami saya akan segera bangun dari tidur panjangnya? Tapi mengapa ia tak jua membuka matanya?”

“Maaf Nona, namun suami anda masih dalam masa komanya. Keadaannya masih sama seperti satu jam lalu saat saya memeriksa keadaannya. Tak ada perubahan yang signifikan.”

“Tapi apa tadi? Aku yakin melihat jarinya bergerak.”

“Itu hanya sebuah gerakan kecil yang disampaikan otaknya. Raganya memang tidur. Tetapi, tidak dengan otaknya. Otaknya masih berkerja meskipun belum normal seperti orang sehat.”jelas dokter itu.

Wajah Dinda kembali lesu mendengar penjelasan dokter. Ia merasa telah merasa kehilangan semangat hidupnya.

“Lalu kapan, ia akan sadar dok?”

“Saya juga belum tahu. Menginga betapa parahnya kecelakaan yang menimpa bapak Rafael. Kita hanya bisa menyerahkan semuanya kepada Tuhan. Saya harap anda selalu bersabar dan terus berdo’a agar pak Rafael segera diberi kesembuhan. Saya permisi.”ujar dokter itu dan pergi diikuti oleh suster-susternya.

 

Dinda kembali menatap Rafael. Air matanya jatuh. Entah sudah keberapa kalinya ia menjatuhkannya.

-To be Continued-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s