I Want You #16

​“Hah? Are you seriously?”tanya Nisa tak percaya.

“Yes, I am.”jawab Reza yakin.

“I Want you, Reza.”ujar Nisa malu-malu.

“Can you repeat it again?”

“I Want you, Reza. I will marry you.”

Mendengar kata-kata indah itu, Reza tersenyum dan mengambil sebuah kotak bening dari saku baju rumah sakitnya. Ia membuka kotak itu. Terpampang sepasang cincin emas putih yang cantik dengan satu mata cincing yang bersinar. Reza pun memakaikan cincin itu di jari manis Nisa.

“Bagaimana pendapatmu tentang hujan, Nyonya Anugerah?”

“Hujan? I Love it.”ujar Nisa tersenyum di tengah hujan yang sudah mulai mereda.

***

‘tok tok tok’

‘tok tok tok’

“Iya, sebentar.”teriak si empunya rumah yang merasa terganggu dengan kedatangan seseorang.

“Rafael!”pekik Asti, wajahnya menunjukkan keterkejutan.

“Ada apa loe kemari?”tanya Asti, Raut mukanya berubah menjadi sinis.

“Gue mau istri gue.”jawab Rafael.

“Dinda gak disini.”ujar Asti cepat. “Ada yang lain? Gak ada? Bagus deh.”ucap Asti menutup daun pintu rumahnya. Tapi, dengan sigap Rafael menahannya.

“Ada apa lagi?”tanya Asti.

“Gue yakin istri gue di sini. Jangan bohongin gue, Asti.”

“Apa peduli loe? Loe mau nyakitin dia lagi? Mau bikin dia sakit lagi?”

“Dinda sakit?”

“Iya, Dinda sakit bahkan dia hampir mati. Dan itu gara-gara loe. Jadi, gak usah sok-sok an khawatir. Sekarang lebih baik loe pergi.”usir Asti.

“Inget ya, gue suaminya. Gak mungkin gue gak ngekhawatirin dia.”

“Suami? Suami macam apa loe? Bisanya cuman nyakitin doang. Gue minta sekarang loe pulang dan angkat kaki dari rumah gue.”

“Gak, gue bakal nungguin Dinda di sini. Sampai dia ngehampirin gue dan pulang bareng gue.”tegas Rafael.

“Terserah loe!”ucap Asti dan menutup pintu rumahnya.

Rafael pun mundur beberapa langkah kemudian berbalik dan berjalan. Ia berhenti tepat di bawah sebuah jendela kamar yang masih tertutup rapat.

“Dinda, aku yakin kamu ada di sana.”teriak Rafael.

“Keluar Dinda, please. Aku sadar aku salah. Aku terlalu egois. Please Dinda, ku mohon keluar.”mohon Rafael.

Dinda yang mendengar seseorang yang sekarang sedang berada di tahap sesuatu hal yang harus ia lupakan pun segera berjalan menuju jendela. Ia membuka sedikit gorden yang menutupi jendela itu. Ia melihat, di bawah sana Rafael sedang berdiri memandang ke arahnya. Meski ia yakin, bukan dirinya lah yang ditatap melainkan gorden yang masih menutupi sebagian besar jendela kamar itu.

“Dinda!!! Aku sayang kamu. Aku tak bisa hidup tanpa kamu. Ku mohon.”teriak Rafael lagi.

Hujan memang telah reda, tapi angin masih berhembus kencang. Menerbangkan benda-benda ringan yang dilaluinya. Rangsangan suhu dingin mulai diterima oleh tubuh Rafael. Angin malam yang berhembus menembus pori-pori kulit Rafael. Memberikan suasana dingin yang mencekat.

Rafael masih setia berdiri di sana. Berkali-kali ia meneriakkan permohonan agar Dinda keluar. Dinda yang dari tadi masih setia mendengarkan teriakan-teriakan Rafael pun mulai merasa tak tega. Namun, setiap Dinda ingin berjalan menghampiri Rafael di bawah sana pasti Asti selalu melarangnya.

Hari semakin malam. Tak terasa dua jam sudah Rafael berdiri disana melawan rasa dingin yang semakin menggerayangi tubuhnya. Dinda yang sedari tadi masih mengintip dari balik gorden jendela makin tak tega. Bagaimanapun juga ia masih menyayangi suami yang akan dilupakannya itu.

Dinda berjalan ke luar kamar, dan berniat menghampiri Rafael. Ia tak memperdulikan teriakan Asti yang tak setuju dengan langkah yang diambil Dinda.

“Kak Rafa.”ujar Dinda pelan saat ia berada di depan pintu rumah Asti.

Rafael yang mendengar suar yang sangat dirindukannya pun menoleh kea rah sumber suara.

“Dinda.”ucap Rafael segera berlari menghampiri Dinda dan mencoba memeluknya. Namun, dengan sigap Dinda mencegahnya.

“Mengapa Dinda? Kau tak merindukanku?”tanya Rafael bingung melihat tingkah Dinda biasanya ia tak akan menolak jika Rafael memeluk tubuh mungilnya.

Dinda hanya menggeleng pelan menanggapi pertanyaan Rafael. Sebenarnya ia ingin sekali membiarkan Rafael memeluknya. Memberinya kehangatan ditengah dinginnya malam seperti ini. Bukankah selama ini ia merindukan hangatnya pelukan Rafael?

Tapi, ia tak ingin terlalu jauh dalam perasaan ini. Ia tak ingin disakiti lagi. Rasanya begitu menusuk. Ia ingin melepas semua. Melepas semua yang ada, membiarkan dirinya bebas dan hidup tanpa baying-bayang rasa sakit itu lagi.

“Bukannya aku tak merindukan kakak. Tapi, keadaan yang membuatku seperti ini.”jelas Dinda pelan.

“Keadaan? Keadaan apa yang merubahmu seperti ini?”

“Ceraikan aku, kak Rafa.”lirih Dinda. Mata Rafael membulat sempurna.  

“Apa? Aku hanya salah dengar kan?”tanya Rafael berusaha meyakinkan bahwa kali ini pendengarannya sedikit tak berfungsi dengan baik.

“Kau tak salah dengar. Ceraikan aku.”ulang Dinda. Ia berjuang menahan air matanya untuk tidak jatuh di depan Rafael.

“Apa? Apa yang sedang kau bicarakan? Aku tak mengerti maksudmu.”

“Ceraikan aku. Lalu, tinggalkan aku.”ulang Dinda untuk kesekian kalinya.

Rafael berjongkok di depan Dinda sembari menggenggam jari-jari Dinda lembut.

“Tidak.”ucap Rafael tegas.

“Bukankah ini yang kau mau?”

“Aku tak akan menceraikanmu. Aku minta maaf, Dinda. Aku terlalu egois. Aku tak pernah mengerti bagaimana perasaanmu. Aku tak tahu betapa sakitnya kau saat itu. Betapa depresinya kau saat itu. Tapi apa? Aku tak berada di sampingmu saat itu. Bahkan setelah itu, aku malah menyibukkan diriku dengan pekerjaan-pekerjaan yang bahkan bisa ku kerjakan esok hari. Aku menyesal Dinda. Aku terlalu egois. Maafkan aku.”urai Rafael.

“Aku telah memaafkanmu kak, bahkan sudah jauh-jauh hari aku telah memaafkanmu. Tanpa kau meminta maaf seperti ini pun aku telah memaafkanmu.”ujar Dinda mencoba membangunkan Rafael yang sedamg bersimpuh di hadapannya.

“Jadi, kau akan menghentikan permintaanmu tadi kan?”tanya Rafael kini ia telah berdiri tegap lagi.

“Tidak. Aku tak akan membatalkannya. Itu adalah keputusan yang terbaik. Aku mohon, tinggalkan aku.”ujar Dinda lembut.

“Dimana letak kebaikan itu, Dinda? Itu semua hanya akan menyakitkan kita berdua.”

“Tak aka nada yang tersakiti di antara kita. Jika kita berpisah, kakak pasti akan menemukan wanita lain yang akan selalu patuh dengan ucapan kakak. Bukan wanita bandel seperti diriku. Nanti, wanita itu akan melahirkan anak-anak yang lucu untuk kakak. Aku ikut bahagia, jika kakak bahagia.”ujar Dinda tersenyum semanis mungkin menutupi semua perih yang dirasakannya.

“Dan wanita itu adalah kau. Tak ada yang lain. Aku hanya akan menikahi satu wanita dalam hidupku. Dan itu adalah kau.”

“Yakin sekali kakak bicara seperti itu. Aku bukan wanita yang terbaik untukmu. Ceraikan dan tinggalkanlah aku. Kita jalani hidup kita masing-masing.”

“Kau sungguh keras kepala. Baik jika itu maumu, aku akan mengabulkannya. Asalkan kau tahu, meskipun kita hidup masing-masing aku tak akan menikah lagi. Hanya ada satu wanita yang akan aku nikahi dalam hidup ini. Dan satu lagi, ku harap kau tak akan menyesal dengan semua keputusanmu ini. Selamat tinggal Dinda Putri Kirana.”ucap Rafael dengan tegas lalu pergi meninggalkan Dinda yang masih berdiri mematung.

Tiba-tiba kaki Dinda terasa sangat lemas. Ia tak kuasa menahan berat tubuhnya hingga ia jatuh tersimpuh di lantai teras rumah Asti. Air mata yang sedari tadi sudah mendesak ingin keluar pun kini telah mengalir sangat deras.

“Apa hidupku akan lebih bahagia setelah ini? Atau mungkin hidupku akan lebih buruk setelah ini? Apakah aku kuat ketika nanti aku melihat kak Rafa menikah dengan wanita lain?”tanya Dinda pada dirinya sendiri.

“Arrgghh…!!! Aku ingin kamu, Rafael Landry Tanubrata. Aku mencintaimu!!”teriak Dinda kencang.

-To be Continued-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s