I Want You #15

​Nisa segera menuju sebuah rumah sakit yang dikatakan orang di telepon tadi. sesampainya di rumah sakit, ia segera menuju ruang UGD. Yap, Reza mengalami kecelakaan dalam perjalanan menjemput Nisa tadi.

“Apa anda yang bernama Nisa?”tanya seorang laki-laki paruh baya disebelah Nisa yang sedang berdiri.

“Iya,”jawab Nisa singkat pandangannya kembali menghadap pintu ruang UGD di depannya.

“Maaf ini telepon genggam korban dan dompetnya. Yang sabar, percayalah semua akan baik-baik saja. Saya permisi dulu.”

“Terima kasih.”

***

“Reza, kamu kenapa sih? Naik motor gitu aja pake jatuh segala. Ceroboh banget deh kamu.”ujar Nisa yang duduk di samping ranjang ruang rawat Reza.

“Reza, jawab! Jangan tidur aja.”ucap Nisa dengan nada tinggi tapi tak terelakkan cairan bening meluncur mulus di pipi mulusnya.

“Kamu tahu gak? Aku tadi kesel banget tau udah nungguin kamu lama banget.”cerita Nisa sambil menggenggam tangan Reza yang masih tak sadarkan diri.

“Udah hampir satu jam aku nungguin kamu.”

“Mana dari tadi pagi langit mendung terus. Aku takut kalau turun hujan.”

“Kamu tahu kan? Aku benci hujan.”

“Aku udah coba hubungin kamu. Tapi aku  juga gak ngerti kenapa rasanya aku ragu buat ngehubungin kamu.”

“Sampai akhirnya kamu telpon aku. Aku seneng akhirnya kamu ngehubungin aku.”

“Tapi, aku kecewa banget waktu yang bicara bukan kamu. Melainkan bapak-bapak yang membawa kabar buruk kalau kamu kecelakaan.”

“Aku langsung panik tahu. Aku gak mau terjadi apa-apa sama kamu.”

“Rencananya sih aku pingin ngajakin kamu jalan-jalan ke Mall. Tapi ternyata kamu malah ngajakin aku ke Rumah Sakit.”

“Aku emang mau ngajak kamu jalan. Tapi bukan ke Mall.”ucap suara yang sangat familiar menghentikan cerita Nisa.

Nisa yang sedari tadi menunduk pun mendongakkan kepalanya dan mendapati Reza yang sedang nyengir menampakkan deretan gigi putihnya. Tampak ia sangat sehat. Seperti halnya tak ada apapun yang telah terjadi pada dirinya.

“Reza, kamu?”tanya Nisa tak percaya.

1 detik..

2 detik..

3 detik..

“Reza!!!”pekik Nisa yang langsung memeluk Reza erat.

“Akhirnya.. hiks..hiks.. kamu bangun juga. Aku gak mau kehilangan kamu.”

“Udah dong, jangan nangis lagi ya. Aku gak papa kok. Aku sehat banget. Gak ada yang terjadi pada diriku.”ucap Reza dan melepaskan pelukan Nisa.

Reza tersenyum dan menghapus air mata Nisa dengan kedua ibu jarinya.

“Apa?”tanya Nisa. “Tapi kecelakaan itu?”

“Hmmhhmm.. Itu..”jawab Reza menggantung.

“Jangan bilang kamu cuman ngerjain aku.”ucap Nisa curiga.

Lagi-lagi Reza hanya meringis dan itu membuat Nisa cemberut sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada dan berbalik memunggungi Reza.

“Jangan ngambek dong. Nanti gak cantik lagi lho.”goda Reza sambil memeluk Nisa dari belakang.

“Biarin.”ujar Nisa kesal.

“Maaf ya, gak ngulangin lagi deh janji.”

“Terserah, ulangin lagi juga gak papa.”ujar Nisa ketus.

“Aku tahu kamu benci hujan.”

“Terus?”

“Ayo, aku mau ajak kamu biar kamu gak benci hujan lagi.”ajak Reza dan langsung menggandeng tangan Nisa keluar ruangan.

“Reza! Di luar hujan!”

***

“Asti, gue pingin pulang.”ucap Dinda pada Asti yang kini sedang duduk di samping tempat tidurnya.

“Gak boleh.”ujar Asti singkat.

“Kok gak boleh sih. Gue pingin pulang.”rengek Dinda.

“Gue bilang gak boleh.”

“Tapi, kalau kak Rafa nyariin gue, gimana?”

“Dia gak bakal nyariin loe.”

“Kok loe gitu sih, As.”

“Dia itu udah gak sayang lagi ama loe. Gue gak mau sahabat gue disakitin lagi. Cukup dia udah bikin loe sakit kayak gini.”

“Dia masih sayang kok sama gue. Buktinya, waktu gue ketiduran di sofa pasti dia bawa gue ke kamar.”

“Dia itu bukan sayang sama loe. Tapi, cuman kasihan sama loe.”

“Emang loe tahu darimana?”tanya Dinda polos.

“Sekarang loe tatap mata gue.”ujar Asti dan memegang bahu Dinda, Dinda pun menatap mata Asti.

“Sekarang gue tanya sama loe. Apa Rafael pernah ngelihat loe di Rumah sakit dan waktu loe nangis histeris karena kehilangan anak loe?”

Dinda hanya menggeleng.

“Terus, apa waktu loe pulang dan kembali ke rumah diantar Nisa sama Reza Rafael ada di rumah?”

Lagi-lagi Dinda menggeleng.

“Setiap hari loe selalu nunggu Rafael pulang kan?”

Kini Dinda mengangguk.

“Apa pernah loe berhasil bicara sama Rafael saat dia udah pulang? Loe selalu ketiduran kan?”

Dinda mengangguk lagi.

“Terus, apa saat loe bangun dia selalu ada di samping loe?”

Dinda menggeleng.

“Dan, parahnya waktu hari ulang tahun dia. Loe udah buat susah-susah bahkan sampai rela hujan-hujanan. Tapi apa? Dia gak datang kan?”

Lagi, Dinda mengangguk.

“Sekarang loe pikir. Kalau dia sayang ama loe dia gak bakal bikin loe sakit kayak gini. Intinya sekarang, loe gak boleh pulang. Dan dengan senang hati loe boleh tinggal di sini sama gue dan lupain Rafael.”ujar Asti kemudian pergi dengan membawa mangkuk kosong dan gelas kosong bekas makan Dinda tadi pagi.

“Apa bener gue harus ngelupain kak Rafa? Setelah penantian gue selama ini? Sampai akhirnya kita menikah? Dan gue harus ninggalin kak Rafa?”

***

Hari ini Rafael memang pergi ke kantor. Tapi sepertinya, keberadaannya sekarang di kantor juga tak berarti apa-apa. Sedari tadi setumpuk laporan dengan map berwarna-warni di depannya yang menunggu dirinya untuk ditandatangani tak disentuh Rafael sedikitpun. Bahkan, meliriknya saja rasanya enggan. Ia masih asyik bercengkerama dengan pikirannya sendiri.

Memutar semua kenangannya bersama Dinda yang sedari tadi berlari-lari di otaknya. Mulai dari mereka kecil sampai saat ini. Disaat Rafael harus menyakiti separuh jiwanya sendiri. Hanya karena Dinda yang keguguran. Akhirnya, Rafael pun memutuskan untuk meninggalkan ruangan dan pergi menuju café yang berada tepat di samping kantornya.

Sesampainya di kantin, Rafael mengambil tempat duduk paling pojok dan di sebelahnya ada kumpulan ibu-ibu yang sedang berbincang-bincang asyik. Awalnya, Rafael cuek saja. Namun, tiba-tiba ia mendengar sesuatu yang menggelitik telinga untuk mendengarnya.

“Eh jeng, denger-denger anak si Lidya keguguran ya.”

“Iya jeng, saya udah denger itu. Kasihan ya.”

“Pasti rasanya sedih banget. Belum lagi, tekanan psikologis yang harus dirasain. Bahkan, saya pernah denger lho orang keguguran sampai stress. Untung aja tuh si anak Lidya gak ngalamin stress kayak begitu karena si suami mau nerima dan menganggap itu semua sebuah ujian dari Tuhan.”

“Beruntung banget si Lidya punya menantu yang pengertian kayak begitu.”

Rafael yang mendengar percakapan itu pun langsung melangkahkan kakinya pergi ke luar café sesudah ia meninggalkan beberapa lembar uang kertas di mejanya.

***

“Ayo dong, Nis! Ini asyik tahu.”ajak Reza sambil melentangkan tangannya di tengah hujan di taman Rumah Sakit itu.

Nisa masih terdiam di teras kamar inap yang kebetulan dekat dengan taman itu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya menolak ajakan Reza. Karena merasa kesal, akhirnya Reza menarik tangan Nisa. Sehingga, kini Nisa juga telah berada di tengah derasnya hujan.

“Reza! Lepasin! Aku benci kamu! Aku gak suka hujan, Reza! Kamu tahu itu, harusnya kamu gak ngelakuin ini!”teriak Nisa marah, ia mencoba melepaskan genggaman tangan Reza di pergelangan tangannya.

“Gak, Nisa! Kamu harus bisa ngelupain masa lalu kamu. Gak mungkin selamanya kamu benci dengan hujan seperti ini. Bukan hujan yang salah, tapi itu semua udah takdir.”jelas Reza.

“Gak, selamanya aku bakal benci hujan. Karena hujan, aku harus kehilangan kak Reno. Aku sayang dia. Ini semua gara-gara hujan. Andai saja waktu itu gak hujan, gak mungkin jalanan akan licin, dan mungkin jika hujan tak hadir waktu itu kak Reno masih di sini. Masih di sini bersama aku, Reza. Aku benci hujan!”ujar Nisa yang bergelinang air mata.

Reza yang melihat itu pun akhirnya memeluk Nisa. Menenggelamkan kepala Nisa di dadanya. Ia tahu, kekasihnya sangat membenci hujan karena kakaknya meninggal karena kecelakaan dan saat itu hujan sedang turun dengan derasnya. Tapi, Reza tak mau Nisa selalu membenci hujan. Karena kehidupan dan kematian manusia adalah sebuah takdir. Dan itu, tak bisa dihindari. Maka dari itu, ia ingin menghapus memori hitam di otak Nisa. Dan memberikan memori manis di saat hujan seperti ini. Agar nisa mengenang hujan bukanlah sebuah  kenangan pahit melainkan sebuah kenangan manis yang tak akan pernah terlupakan.

Reza pun melepaskan pelukannya.

“Sekarang kamu tatap aku.”ujar Reza lembut.

Reza pun berjongkok di depan Nisa layaknya seorang pangeran dan seorang putri. Ia menggenggam kedua jemari Nisa. Dengan tatapan lembut dan penuh cinta. Reza berkata..

“Nisa, will you marry me.”

-To be Continued-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s