I Want You #14

​***

Dingin masih setia menembus tubuh Dinda. Bahkan, ia semakin dalam masuk ke badan Dinda. Menjalar dari ujung kepala hingga ujung kaki. Dinda masih setia dengan posisinya menghadap cake ulang tahun yang telah terkena guyuran hujan.  Ia berharap ada seseorang yang akan menemaninya menikmati hujan yang dingin itu.

Bahu Dinda mulai bergetar. Bukan bergetar karena isakan tangis. Melainkan, beregeyar karena hawa dingin semakin menusuk tulang bahkan ikut mengalir berama darah ke seluruh tubuh. Wajahnya semakin pucat. Bibir yang semula berwarna pink itu kini telah berganti biru.

***

Rafael masih berdiri di dekat jendela. Ia masih memandang setiap rintikan hujan yang turun dari langit dan jatuh cepat menghujam bumi. Pikirannya melayang ke masa kecilnya.

-Flashback on-

“Kakak, sini deh!”teriak gadis kecil di tengah derasnya hujan, melambai pada seorang pria kecil yang sedang duduk di tangga teras sebuah rumah kosong.

“Dinda, kamu  bisa sakit. Ayo buruan balik ke sini.”teriak si pria kecil kepada gadis kecil bernama Dinda itu.

Dinda tak mengindahkan kata-kata pria kecilnya itu. Ia malah melentangkan tangannya. Ia mendongakkan wajahnya menghadap langit kelabu itu. Matanya terpejam, merasakan setiap buliran air yang menerpa wajah cantiknya.

“Ternyata asyik juga.”celetuk seseorang di sebelah Dinda yang tengah melakukan hal sama dengan apa yang Dinda lakukan.

Dinda hanya diam tak membalas perkataan seseorang itu. Ia tahu, itu Rafa. Tepatnya, Rafael sahabat yang sudah ia anggap kakaknya yang tadi mengajaknya berteduh, tapi kini ia malah terperangkap oleh ajakan Dinda. Merasakan dinginnya air hujan bersama. Suasana hening. Hanya suara rintikan air hujan yang jatuh di atap rumah dan tanah.

“Kak Rafa, aku ingin tetap seperti ini. Berama kakak selalu. Aku ingin nanti saat hujan membasahiku lagi kakak berdiri di samping ku, menemaniku di tengah hujan.”ucap Dinda memecah keheningan yang sudah cukup lama terjadi di antar mereka.

“Aku juga. Aku senang memiliki sahabat dan adik yang cantik sepertimu.”ucap Rafael tersenyum memandang Dinda yang masih setia dengan aktivitasnya. “Jika hujan datang dan membasahimu, aku berjanji akan menemanimu. Menikmati hujan yang menenangkan ini.”janji Rafael.

-Flashback off-

“Dinda.”ucap Rafael tiba-tiba setelah sadar dari lamunan masa kecilnya.

Ia segera membalikkan badannya dan berjalan cepat menuju meja kerjanya. Ia segera mengambil kunci mobil yang tergeletak di sebelah laptopnya yang masih menyala. Kemudian, ia berlalu pergi menuju parkiran mobil yang berada di bawah menggunakan tangga darurat karena lampu masih padam.

***

Tubuh Dinda semakin bergetar. Tubuhnya dingin, sangat dingin. Wajahnya semakin pucat dan bibirnya semakin membiru.

‘BRUKK’

“Dinda?”lirih seseorang melihat Dinda yang sudah terkapar jatuh di rerumputan basah.

“Morgan! Morgan!”pekik Asti dan segera berlari menghampiri Dinda.

Morgan yang sedang duduk di ruang tengah segera bangkit mendengar teriakan kekasihnya dari belakang rumah.

“Dinda kenapa?”tanya Morgan.

“Aku juga gak tahu, sepertinya ia hujan-hujanan. Ayo buruan. Bantuin.”

Morgan pun membopong Dinda ke dalam rumah. Sebelum Asti beranjak mengekori Morgan, matanya tak sengaja melihat cake ulang tahun di atas meja. Asti hanya memandan sinis dan segera berjalam masuk dalam rumah.

“As, tubuh Dinda dingin banget. Mukanya juga, pucat banget. Apa perlu kita bawa ke rumah sakit?”tanya Morgan setelah menidurkan Dinda di temapt tidur kamar Dinda.

“Gak usah. Kita ke rumah aku aja. Dia gak akan ada yang ngerawat di sini. Tapi sebelumnya, aku mau gantiin baju Dinda bentar. Ini keringin badan kamu.”ucap Asti sambil memeberikan handuk pada Morgan.

***

“Cukup kan? Mau minum apa? Biar aku buatin.”tanya Asti pada Morgan yang baru saja keluar dari kamar mandi di rumah Asti.

“Cukup kok. Terserah deh kamu mau buatin apa. Apapun yang kamu buat pasti enak kok.”gombal Morgan.

Asti hanya tersipu malu lalu berjalan ke dapur untuk membuatkan minum.

“Aku buatin vanilla latte ya.”ucap Asti sambil menyuguhkan dua cangkirucap Asti sambil menyuguhkan dua cangkir berwarna merah.

“Oya, keadaan Dinda bagaimana?”tanya Morgan.

“Dia belum sadar. Untung aja kita tadi ke rumahnya. Kalau gak, gak tahu deh apa yang bakal terjadi. Tadi aku udah kasih minyak angin terus aku selimutin biar hangat.”jelas Asti.

‘PRANGG’

“Dinda!”pekik Morgan dan langsung belari ke kamar Asti diikuti Asti yang mengekor di belakang Morgan.

“Dinda, kamu kok bisa jatuh di lantai seperti ini sih.”tanya Morgan khawatir.

Dinda hanya menjawab dengan gelengan kepala dan Morgan segera mengangkat Dinda kembali ke tempat tidur.

“Asti, kamu punya sapu sama pengki kan?”tanya Morgan pada Asti yang masih berdiri di ambang pintu kamarnya.

“Eh iya. Sebentar.”jawab Asti kemudian berlalu pergi mengambil apa yang dipesan Morgan.

“Din, sekarang kamu cerita ya, kenapa kamu bisa hujan-hujanan seperti tadi sampai-sampai pingsan.”tanya Morgan hati-hati.

“Kk..ak.”ucap Dinda terbata-bata.

Tak kuasa menahan sakita yang Dinda rasakan,  air mata jatuh dari sudut matanya. Morgan menarik Dinda dalam pelukannya dan menenggelamkan kepala Dinda di dadanya yang bidang.

“Maaf. Maaf. Kalau kamu gak mau cerita sekarang gak papa kok.”ucap Morgan lembut sambil mengusap-usap puncak kepala Dinda.

Asti yang melihat pemandangan tak mengenakkan itu hanya diam dan mulai membersihkan pecahan gelas di lantai kamarnya. Morgan yang sadar akan kehadiran Asti hanya diam. Dia masih sibuk menenangkan Dinda yang menangis di pelukannya.

Dengan cepat, Asti segera menyelesaikan pekerjaannya dan berlalu pergi dari kamarnya. Asti segera membuang serpihan kaca itu di tong sampah depan rumahnya.

***

“Dinda. Maaf.”lirih Rafael di kursi basah di seberang tempat duduk Dinda tadi.

Ia sudah mencari Dinda di setiap sudut rumahnya sejak setengah jam yang lalu. Naun nihil. Ia tak menemukan sosok Dinda. Ia hanya menemukan sebuah cake ulang tahun dengan lilin hanya tinggal separuh yang telah basah terguyur air hujan. Pita kertas berwarna-warni yang telah basah dan warnanya luntur menggelantung tak beraturan di pohon. Lampu-lampu kecil yag berwarna-warni membentuk tulisan ‘Happy Birthday’ di papan yang terpasang di tembok di atas kolam ikan telah basah.

Ia tak ingat sama sekali. Hari ini adalah hari bersejarah baginya. Hari ulang tahunnya. Dan semua yang dilakukan Dinda harus sia-sia begitu saja karena hujan yang telah mereda setengah jam yang lalu dan ketidak hadiran dirinya. Sungguh, Rafael merasa dirinya sangat egois. Dan ia menyesal atas apa yang telah ia lakukan.

***

“Asti, kenapa kamu di sini?”tanya Morgan membuyarkan lamunan Asti.

“Aku buang sampah.”ucap Asti segera menghapus air matanya dan berbalik menghadap Morgan.

Morgan menganggukkan kepalanya dan tersenyum.

“Ayo, masuk!”ajak Morgan.

Asti hanya mengangguk dan meraih lengan Morgan kemudian mereka berjalan beriringan.

“Dulu memang rasaku untuk seseorang sangat besar. Tapi rasa untuknya kini telah hilang. Hilang tanpa bekas sedikitpun. Dan rasa itu tergantikan dengan rasa kepadamu. Entah kapan rasa itu hadir. Perlahan, hati ini terasa sesak olehmu. Sejak kita sering bertemu, ada rasa aneh tapi luar biasa yang menyelimuti hati ini. Tapi, aku bahagia sangat bahagia merasakan rasa yang tiba-tiba datang itu. Bahkan, malam itu saat kau mengungkapkan perasaanmu. Aku serasa sedang melayang jauh ke atas menembus awan gelap dan tiba di langit cerah yang menjanjikan ketenangan dan kebahagiaan. Aroma tubuhmu, dekapan tanganmu, sentuhan hangatmu sungguh membuatku nyaman. Membuatku selalu ingin bersamamu dan selalu di sampingmu. Bahkan saat kau menyakitiku seperti ini pun aku masih merasa nyaman bergelanjut manja di lengan kekarmu itu.”batin Asti.

Setetes air mata pun akhirnya berhasil lolos dan mengalir halus di pipi mulus Asti dan jatuh di lengan Morgan yang sedang di peluk Asti. Morgan yang merasakan ada setetes air di lengannya pun melihat kea rah Asti. Ia menangis.

“Hei, kenapa menangis?”tanya Morgan menghentikan langkahnya dan menatap Asti yang hanya menundukkan kepalanya.

Asti masih bergeming. Jari-jari Morgan yang lembut menyentuh dagu Asti. Dengan lembut, ia mengangkat dagu Asti sehingga kini mata mereka beradu. Mata Asti sembab, karena sedari tadi menangis. Morgan menatap Asti lembut, mencoba memberi ketenangan dari tatapan mata teduhnya itu.

“Apa ada yang menyakitimu?”tanya Morgan pelan.

Asti masih diam sambil menatap mata hitam teduh Morgan.

“Aku tak akan membiarkan orang lain menyakitimu.”ujar Morgan.

“Tapi apa kau juga tak akan membiarkan orang yang menyakitiku adalah kau sendiri?”tanya Asti dalam hati.

“Asti, ku mohon bicaralah.”mohon Morgan.

“Aku cinta kamu Morgan.”ucap Asti.

“Aku juga mencintaimu.”jawab Morgan.

“Aku mohon jangan tinggalkan aku. Aku tak mau mengulang sakit itu lagi.”ujar Asti.

“Apa yang kau bicarakan? Aku berjanji. Kau tak kan pernah merasakan sakit itu lagi. Meskipun sakit itu hanya sebesar butiran debu. Meski aku tak sampingmu, tapi percayalah bahwa aku kan selalu di hatimu.”ucap Morgan terdengar sangat meyakinkan.

Asti langsung membaur memeluk Morgan. Morgan hanya bisa membalas pelukan Asti. Ia yakin ada sesuatu hal yang menyebabkan Asti bicara seperti itu. Apa mungkin ia menyakitinya?

“Aku mohon. Aku ingin selalu seperti ini.”ucap Asti di pelukan Morgan.

Lagi-lagi Morgan hanya mengangguk dan membelai rambut panjang Asti.

***

Rafael masih terduduk lemas. Ia sungguh menyesali perbuatannya. Tapi, ini terlambat. Mata Rafael tertuju pada sebuah kunci yang baru saja jatuh dari genggaman tangannya. Sebuah kunci mobil dengan gantungan kunci berbentuk kelinci yang sedang tersenyum menunjukkan dua gigi depan khasnya. Di dahi kelinci itu terukir kecil ‘RnD’ . Gantungan kunci yang dihadiahkan Dinda di ulang tahunnya yang ke-10. Ia menggenggam gantungan kelinci itu dan segera bergegas menstater mobil sedan hitamnya dan turun ke jalanan.

***

“Asti, ini udah malem banget. Aku pulang ya.”ucap Morgan yang sedang duduk di sofa bersama Asti yang sudah tak menangis.

Kepala Asti yang sedang menyandar di bahu Morgan pun mendongak menatap si empunya bahu.

“Aku mohon, jangan pulang. Satu malam ini saja. Temani aku.”mohon Asti.

“Iya deh, aku tidur di mana?”tanya Morgan.

“Bener?”tanya Asti dengan mata berbinar. “Kamu pakai kamar kosong di sebelah kamarku aja. Kamarnya udah bersih kok. kebetulan kemarin habis dipakai saudara aku.”

“Iya udah. Ayo tidur.”ajak Morgan.

“Di sini dulu yah.”ujar Asti tersenyum manis kemudian memeluk lengan Morgan dan menyandarkan kepalanya di bahu Morgan.

Lama mereka masih di posisi yang sama. Tak ada pembicaraan apapun diantara mereka. Hingga tanpa mereka sadari, Morgan dan Asti tertidur.

***

Rafael masih menyusuri jalan-jalan lengang. Karena memang saat ini jam sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Sebelumnya, ia telah ke rumah Dinda yang berada di seberang rumahnya. Tapi nihil. Ia tak menemukannya. Jingga kini, ia menyusuri jalanan kota Jakarta yang masih terlihat ramai meski tak sepadat saat siang. Merasa sedikit kelelahan, Rafael pun menepikan mobilnya. Ia terduduk memandang lurus ke depan dengan tatapan kosong. Sampai akhirnya kelopak matanya tertutup, ia tertidur.

***

Hari telah pagi. Tapi, sang mentari masih enggan keluar. Ia masih bersembunyi di balik awan hitam yang menutupi kota Jakarta pagi itu. Rafael yang saat itu sedang terlelap di mobilnya un terbangun. Dengan sedikit malas, Rafael melajukan mobilnya ke rumah dan segerma mandi untuk sekedar menyegarkan badan dan pikirannya.

Dinda yang sedari malam sudah berada di kamar masih terbaring dengan mata terpejam di kamar tidur Asti. Mata Dinda memang terpejam, tapi sebenarnya ia telah bangun. Namun, rasanya matanya tak ingin melihat dunia ini. Ia masih terpejam. Setetes air mata pun jatuh di sudut mata Dinda yang tertutup. Lagi, ia menangis. Kenapa di saat tubuhnya sakit seperti ini tak ada sentuhan hangat yang diinginkannya.

Hari telah beranjak siang, kuliah pun telah usai. Nisa yang sedang menunggu jemputan Reza di depan gerbang kampus pun sedikit bosan. Berulang kali, ia melihat ke layar ponselnya. Ia ingin menghubungi Reza tapi sebelum tersambung, seketika itu juga ia memutus hubungan.

Setelah cukup lama menunggu, akhirnya handphone Nisa bergetar. Terpampang nama Reza di layar ponselnya. Dengan semangat ia mengangkatnya.

“Reza, aku udah nungguin kamu. Kamu lama banget sih. Buruan ke sini.”omel Nisa.

“….”

“Apa?”pekik Nisa panik dan segera menaiki taksi yang kebetulan baru saja menurunkan penumpang di depannya.

-To be Continued-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s