I Want You #13

​***

Dinda mulai menggeliat pelan di dalam selimut tebal yang menyelimuti tubuhnya. Tiba-tiba mata Dinda melebar seperti mengingat sesuatu.

“Selimut? Kamar?”tanya Dinda pada dirinya sendiri. “Kok bisa?”tanya Dinda lagi kemudian menoleh ke samping tempat tidurnya. Tak ada Rafael di sini.

Dinda segera menyibak selimut tebalnya dan segera berlari menuju kamar mandi. Tak ada seorang pun. Dia berlari ke meja makan. Kemudian, dia lari menuju garasi mobil tak ada mobil Rafael.

“Aku yakin. Sangat yakin kak Rafa yang membawa ku ke kamar.”gumam Dinda di depan pintu yang menghubungkan garasi dengan rumah. “Tapi, kemana dia? Ini masih pagi. Benar-benar masih pagi.”ucap Dinda melihat jam dinding kotak di tembok belakangnya masih menunjukkan pukul lima pagi.

Ia berjalan lemas kembali ke kamarnya untuk sekedar mandi dan bersiap ke kampus.

***

Jam telah menunjukkan pukul 10 pagi. Karena hari ini jadwalnya hanya satu mata kuliah, jadi Dinda bisa pulang sebelum jam makan siang hari ini. Ia segera meninggalkan kampus dan mampir ke sebuah restaurant. Niatnya, hari ini Dinda ingin mengantarkan makan siang untuk Rafael. Meski bukan masakan sendiri, tapi ia hanya ingin makan siang bersama dengan Rafael.

Setelah mendapatkan menu makan siang yang cocok, Dinda segera melajukan mobilnya pelan menuju ke kantor Rafael. Sesampainya di sana ia segera memarkirkan mobilnya dan masuk ke lift dan memencet tombol 14 karena ruangan Rafael memang berada di lantai 14. Senyuman terukir jelas di bibirnya.

“Maaf bu, anda mau kemana?”cegat sekretaris Rafael di depan pintu ruangan Rafael.

“Saya mau ketemu pak Rafael. Dia ada kan? Lagian jam makan siang masih beberapa menit lagi.”tanya Dinda.

“Maaf bu, pak Rafaelnya sedang berada di luar kantor. Mungkin ibu ingin titip sesuatu agar  nanti bisa saya sampaikan.”tawar sekretaris itu.

“Di luar kantor? Padahal jelas banget di parkiran tadi adalah mobil kak Rafa. Apa kak Rafa menghindariku?”gumam Dinda dalam hati sambil sesekali menengok ke dalam ruangan berpintu kaca buram di depannya.

“Saya titip ini saja. Tolong berikan ya. Makasih.”ucap Dinda sedikit memaksakan senyumnya dan berlalu pergi dengan rasa kecewa di hatinya.

***

Matahari mulai condong ke barat. Pertanda, hari sudah sore dan sebentar lagi gelap akan datang. Biasanya, jam-jam sekarang ini adalah saatnya Rafael pulang. Menunggu. Lagi-lagi Dinda menunggu Rafael di kursi putih di dekat pintu masuk rumah. Menikmati angin sore yang sejuk ditemani secangkir teh hangat.

“Aku kangen kamu, kak. Please temuin aku.”ucap Dinda kepada angin sore yang berhembus. Berharap angin bisa menyampaikan kerinduannya.

Matahari semakin condong ke barat, namun tak ada tanda-tanda Rafael datang sedikit pun. Perlahan tapi pasti, langit berwarna jingga itu semakin lama semakin gelap. Dinda masih saja setia menunggu, bahkan teh yang dibuatnya pun telah dingin.

Kini langit benar-benar gelap. Angin malam yang dingin berhembus menembus pori-pori kulit Dinda. Dinda yang saat itu hanya mengenakan baju lengan buntung dan celana pendek selutut pun merasa kedinginan. Akhirnya ia memutuskan untuk masuk ke dalam rumah. Dinda segera berjalan menuju dapur. Menyiapkan beberapa hidangan makan malam.

Masakan Dinda telah tertata rapi di meja makan. Lengkap dengan dua piring kosong yang terbalik. Setelah semuanya siap, ia pergi ke ruang tamu. Menunggu Rafael untuk makan malam.

‘Semoga kali ini tak sia-sia begitu saja. Cepat pulang. I Miss You :*’

Begitulah sedikit ungkapan hati Dinda di salah satu jejaring sosial, twitter. Berharap orang yang diharapkannya membaca dan segera pulang.

Rafael yang saat itu sedang lembur pun tiba-tiba merasa bosan. Akhirnya ia memutuskan untuk membuka twitter menghilangkan sedikit kepenatan. Namun, tak sengaja ia membaca tweet Dinda yang mampir di timelinenya.

“Miss you too. But, I’m sorry I can’t”gumam Rafael.

***

Jam telah menunjukkan pukul 10 malam. Lagi-lagi tak ada sedikit pun tanda-tanda kepulangan Rafael. Dinda sedari tadi terus menguap. Kantuk sudah menghampirinya semenjak tadi. Namun, ia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya berharap dapat menghilangkan rasa ngantuk itu. Tapi, nihil semakin malam rasa kantuk itu semakin lama semakin bertambah. Akhirnya dengan mata yang sudah sangat berat. Ia tertidur. Lagi-lagi hari ini ia tak bertemu dengan Rafael.

Tak lama setelah Dinda memejamkan mata, Rafael datang. Dengan mimik muka yang datar, ia mendekati Dinda. Ia mencium kening Dinda cukup lama dan tersenyum tipis.

“Maaf, entah apa yang membuatku belum bisa menerima ini.”lirih Rafael kemudian membopong Dinda ke kamar.

Seperti malam sebelumnya, ia membaringkan Dinda perlahan di atas ranjang dan menyelimutinya. Karena merasa lapar, akhirnya Rafael memutuskan untuk menuju ke dapur berharap ada sesuatu yang bisa dimasak.

Ketika ia melewati ruang makan, ia melihat makanan-makanan yang telah tertata rapi di meja makan. Ia pun mendekati meja makan. Semua makanan telah dingin, hanya nasi putih yang masih hangat  karena disimpan di ‘Magic jar’. Karena merasa sudah sangat lapar, makanan itu pun akhirnya dimakan Rafael juga. Meskipun telah dingin, namun tak merubah sedikit pun rasa masakan itu.

***

Lagi-lagi hari telah pagi. Dan seperti pagi sebelumnya, Rafael sudah berangkat.

“Aku rindu lekukan wajah itu.”lirih Dinda ketika menatap tempat kosong di sebelahnya.

“Sampai kapan aku harus menjalani kehidupan seperti ini? Tuhan, aku ingin bertemu kak Rafa. Aku rindu dengannya, Tuhan. Aku rindu pelukan hangatnya. Aku rindu suara merdunya. Aku rindu aroma tubuhnya. Aku rindu semua yang ada pada dirinya.”keluh Dinda kemudian bangkit dari tidurnya dan beranjak ke dapur.

“Makanlah, aku tahu kau belum makan semenjak kemarin karena menungguku. Jangan menungguku lagi.”ucap Dinda ketika membaca sebuah note kecil yang tertempel di kulkas.

Dinda menarik sudut bibirnya dan tersenyum kecil membaca note kecil itu. Rafael masih perhatian kepada dirinya. Meski begitu, ia terasa berada di tempat yang sangat berjauhan dengan Rafael. Padahal mereka tinggal satu atap. Bahkan, tidur satu ranjang. Namun, Dinda tak pernah sama sekali melihat Rafael sekalipun sejak sore itu.

***

Dua minggu sudah ini berlalu. Setiap hari, Dinda hanya menunggu, menunggu, dan menunggu. Namun, selama itu pula ia tak pernah bertemu Rafael karena ia selalu tertidur dan paginya ia sudah berada di tempat tidur kamarnya di balik selimut hangat.

Esok adalah hari ulang tahun Rafael. Dinda berniat memberikan sedikit kejutan kecil di rumahnya. Ia tak peduli, entah bagaimana tanggapan Rafael nanti. Ia membeli sebuah cake ulang tahun berukuran sedang untuk Rafael.

***

Gelap telah datang menghampiri Dinda yang tengah duduk manis di sebuah meja di tengah taman belakang rumahnya. Ia mengenakan dress terusan selutut berwarna putih dengan lengan buntung. Rambutnya ia gerai begitu saja.

Di tengah meja, terdapat sebuah cake berbentuk persegi dengan irisan-irisan coklat yang menutupi seluruh bagian cake.

‘Happy Birthday 26th

Rafael Landry Tanubrata

Best wishes for you’

Begitulah tulisan dengan krim berwarna putih yang tertulis jelas di atas cake yang tak terlalu besar itu. Diatas tulisan tersebut ditancapkan dua buah lilin angka ‘2’ dan ‘6’ berwarna merah dengan pinggiran putih.

Malam makin larut. Sepertinya langit juga mulai bersuara dengan mengeluarkan decakan-decakan kecil. Tak ada sinar bulan atau pun bintang yang menemani Dinda malam ini. Hanya ada kilatan-kilatan cahaya putih di langit yang disusul dengan decakan-decakan yang semakin besar.

Dinda hanya bisa menatap sendu lilin di depannya yang seperempatnya telah meleleh sambil mnegusap-usap lengannya sendiri. Dengan kondisi seperti ini dia masih bertahan. Bertahan menunggu seseorang yang mungkin akan mengabaikannya begitu saja. Meski ia tahu itu, tekadnya bulat. Ia tak akan menyerah, ia akan tetap menunggu, menunggu, dan menunggu. Dinda melakukan ini atas dasar.. CINTA. Ia hanya ingin Rafael tahu bahwa seluruh hati, seluruh nafas, seluruh jiwa, dan seluruh hidup ini hanya untuknya. Walaupun Rafael mengacuhkannya, tak pernah sedikit pun cinta itu hilang. Ia masih sangat mencintai menyayanginya. Sungguh.

Malam semakin tak bersahabat. Angin malam yang dingin semakin menusuk tulang. Suar gempuran di langit semakin kentara. Api lilin kecil itu sedikit bergoyang terkena angin malam dan semakin meliuk tatkala terkena rintikan air dari langit. Air-air itu kini semakin besar dan semakin cepat jatuh dari langit, membuat api lilin indah itu padam seketika menyisakan setengah dari batang lilin itu.

Tak dapat dihindari, tubuh Dinda telah basah. Ia masih bertahan di tengah dingin dan derasnya hujan. Tak dapat dipungkiri, dengan alasan cinta Dinda masih bertahan. Bertahan demi cinta yang mungkin bisa membunuhnya sekarang.

***

Rafael masih sibuk berkutat di depan laptopnya. Tangannya masih menari di atas keyboard putih itu. Ia memang sengaja lembur hari ini membiarkan pikirannya hanya dipenuhi dengan pekerjaan kantornya.  Tepat setelah ia menekan tombol save, ia sedikit merenggangkan otot-ototnya yang tegang.

Tiba-tiba saja lampu padam. Semua gelap, hanya ada cahaya dari laptop putihnya yang masih menyala. Ia bergerak mendekati jendela yang tertutup itu.

-to be continued-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s