I Want You – END

​***

Tubuh Rafael telah seutuhnya berada di mana Kara berada. Di sisi lain di awan pembatas tadi. Lubang pada awan yang ia gunakan sebagai pintu masuk tadi, perlahan tertutup.

“Rafael, ini kesempatan terakhirmu. Apa kau masih yakin akan ikut bersamaku?”tanya Kara lagi-lagi.

Rafael hanya menatap lubang di awan itu dengan tatapan ragu. Tiba-tiba di awan itu terlihat seorang wanita cantik. Ia tersenyum manis. Senyuman paling manis yang ia miliki. Rambut panjangnya terbang karena angin.

“Dinda.”lirih Rafael


Ia tersenyum memandang sosok itu. Kemudian tampak sosok lain. Sosok mamanya. Mamanya juga sedang tersenyum manis di samping Dinda. Membuka lebar kedua tangannya, berharap Rafael akan datang dan memeluknya.

“Mama.”ucap pelan Rafael.

Lubang itu semakin tertutup. Kini Rafael telah yakin. Ia menatap Kara dengan tatapan ‘Sepertinya aku akan ikut mereka’. Kara mengangguk pelan seakan mengerti dengan arti tatapan Rafael dan Rafael segera berlari menghampiri kedua wanita yang sangat berarti dalam hidupnya itu.

***

Dinda masih menangis di dada Rafael. Mungkin saat ini baju Rafael telah basah karena air mata Dinda. Tiba-tiba saja garis yang tertera di elektrokardiograf yang tadinya telah dipasang kembali oleh Dinda sedikit demi sedikit mulai berubah. Garis yang tadinya lurus, kini menjadi sedikit ada gelombang-gelombang kecil. Menandakan jantung Rafael telah berdenyut kembali walaupun itu masih sangat lemah.

Semua orang di ruangan itu masih belum menyadari. Hingga tiba-tiba jari jemari Rafael bergerak, dan itu mampu membuat ekor mata Dinda menangkap gerakan kecil itu. Dinda yang sadar akn itu pun mulai mendongakkan kepalanya dan kini ia sedang mendapati Rafael yang tengah mengerjap-ngerjapkan matanya untuk menyesuaikan dengan cahaya. Rafael pun tersenyum tipis memandang Dinda. Kini mata Rafael telah membuka sempurna dan ia bisa melihat jelas bidadari di hadapannya yang dadanya masih naik turun akibat menangis.

“Kak Rafael!”seru Dinda dan berdiri tegak.

Orang-orang yang sebelumnya sedang sibuk dengan pikirannya sendiri pun akhirnya menatap ke arah Dinda dan Rafael. Sontak mata mereka membulat sempurna melihat Rafael yang telah sadar. Rafael hanya tersenyum mengingat rasanya ia belum mampu jika berteriak dan menghambur memeluk mereka satu persatu.

***

“Tuhan, terima kasih. Kau telah mengembalikan malaikatku. Aku berjanji akan selalu menjaga malaikatku. Aku tak akan pernah menyia-nyiakannya lagi. Terima kasih Tuhan atas semua  kesempatan yang Kau berikan kepadaku.”batin Dinda.

Ia tersenyum memandang wajah tenang Rafael di sebelahnya yang sedang tertidur tenang di ranjang kamar mereka. Rafael telah diperbolehkan pulang semenjak tadi pagi.

“Sayang, aku tahu aku tampan. Jangan memandangiku seperti itu.”ucap Rafael dengan mata yang masih terpejam.

Sontak Dinda segera sadar dari lamunanya. Semburat merah pun muncul di kedua pipinya.

“Hah? Kakak belum tidur?”tanya Dinda heran.

“Aku sudah lelah tidur berhari-hari.”jawab Rafael santai.

“Kak Rafa.”

Rafael hanya berdehem menyahuti panggilan Dinda lalu ia mengubah posisi tidurnya menjadi menghadap Dinda. Menopang kepalanya dengansalah satu tangannya yang dibentuk siku.

“Maaf.”ucap Dinda lirih.

“Sudahlah, tak sepenuhnya ini kesalahnmu. Aku juga salah. Andai saja waktu itu aku tak mementingkan egoku pasti ini semua tak akan terjadi.”

“Tapi,,”

Rafael berdesis pelan dan meletakkan telunjuknya di depan bibir Dinda.

“Yang terpenting saat ini adalah aku bisa bersamamu lagi. Memandang wajah indahmu lagi. Memandang manik matamu yang tenang. Sekarang yang terpenting adalah kita buka lembaran baru dan menjadikan masa lalu kita menjadi sebuah pelajaran yang berharga bagi  kita. Love you.”

“Love you too.”

***

“DOUBLE WEDDING?”tanya Dinda tak percaya dengan apa yang dibacanya pada undangan berwarna biru gelap itu.

Tertulis jelas dengan tinta silver dua pasangan yang akan menikah.

“Bagaimana? Keren kan?”ujar Reza dengan bangganya.

Mereka ber-enam kini memang sedang berkumpul di ruang tengah rumah Rafael dan Dinda.

“Gak. Biasa aja.”tanggap Rafael.

“Rese’ lo.”umpat Reza kesal dan melempar bantal ke arah muka Rafael.

“Pokoknya kalian berdua harus datang. Gak boleh gak.”ujar Nisa dengan nada sedikit mengancam.

“Sip deh. Kita bakalan dateng, tenang aja. Mana mungkin kita gak dateng di special moment kalian. Iya kan kak?”tanya Dinda pada Rafael di sebelahnya.

“Gak ah. Kamu dateng sendiri aja ya.”jawab Rafael.

“Ah, kok gitu sih. Gak kompak.”kesal Dinda mengerucutkan bibirnya manja.

Mereka semua hanya tertawa melihat Dinda yang sedang cemberut.

***

“Udah, gak usah dandan cantik-cantik nanti ada yang naksir lagi.”ucap Rafael kemudian memeluk Dinda yang sedang duduk di depan meja riasnya.

“Kalaupun ada yang naksir, hati dan cinta ini hanya untukmu.”ucap Dinda sambil berdiri dan berbalik sehingga kini ia mnenghadap Rafael. Menatap dalma manik mata Rafael.

“Aku tahu dan percaya itu.”ujar Rafael tersenyum dan mencium kening Dinda singkat. “Siap?”

“Siap.”jawab Dinda semangat.

***

Dengan balutan long dress berwarna merah dengan bahu sebelah kiri yang terbuka, Dinda berjalan anggun. Tangan sebelah kirinya bergelayut di lengan kanan Rafael. Rafael yang waktu itu menggunakan tuxedo hitam dengan dalaman putih juga sangat tampan, ditambah senyuman yang selalu mengembang di bibir merahnya.

Tampak di ujung karpet merah yang tergelar dari pintu masuk, dua pasangan yang snagat serasi. Morgan dan Reza dengan tuxedo emasnya. Asti dan Nisa dengan gaun berwarna merah berbalut warna emas dengan model yang berbeda. Tak ada kesedihan yang tersirat dari ekspresi wajah mereka. Hanya ada ekspresi kebahagiaan dan sunggingan senyum yang tak pernah luntur.

Kini, para tamu undangan yang terdiri dari para relasi bisnis keluarga pengantin dan beberapa teman mereka pun tengah duduk santai sembari menikmati hidangan yang telah disajikan. Panggung kecil di sebelah kanan panggung pengantin pun kini tengah menjadi sorotan. Rafael yang duduk tak jauh dari panggung pun berdiri sambil memegang mic ketika musik mulai berbunyi..

[Super Junior – A Day]

(Sambil berjalan ke panggung Rafael pun bernyanyi)

Neon mudji, hangsang eolmana, neol sarang ha neunji

gakkeumsshik, ajik meon, mirae kkaji buranhae haji

(Morgan pun juga berdiri dan berjalan menuju ke panggung dan bernyanyi)

geokjeong hajima neol gwerob hajima, naegen wanbyeokhan saram ingeol

summan shwi eo do, hwajang anhaedo, neon areum dawo, nun busheo

 (Mereka berdua menyanyi bersama)

haru e hanbeon man neol saenggakhae

himdeul eobtdeon haru ye sunshine geudaeman

isseo jun damyeon O.K. geugeollo dwae

 (Reza pun juga ikut berdiri kemudian bernyanyi menghampiri Morgan dan Rafael)

neol bomyeon, pyeonhae ireon mal, neon shilheo haetjiman

haengbokhae, hajiman, yeojeonhi neon buranhae haetji

ye shim hajima neol gwerob hijima, sashil sunjinhan saram ingeol

sarang seureon nun useum neomchil ttae, neon areum dawo, nun busheo

 [All]

haru e hanbeon man neol saenggakhae

deo isangeun andwae, akkyeo dul geoya

himdeul eobtdeon haru ye sunshine geudaeman

isseo jun damyeon O.K. geugeollo dwae

 

meorissok ontong neoye saenggak ppun

mwonga dareun geoseul wonhaedo, jamshi meolli tteoreojyeo bwado

gyeolguk neo, gyeolguk neo, neomu shinbihae

 

jamshi nun gamgo neol tteo ollyeo

You’re So Beautiful Girl, neo ppunya

jigeum geudaero ni moseubi

gajang areum dawo nun busheo (My Girl)

 

haru e hanbeon man neol saenggakhae (ohh)

deo isangeun andwae, akkyeo dul geoya (deo isangeun andwae, akkyeo dullae)

himdeul eobtdeon haru ye sunshine geudaeman

(himdeul eobtdeon haru ye sunshine, geudaeman)

isseo jun damyeon O.K. geugeollo dwae (O.K. geugeollo)

haru e hanbeon man neol saenggakhae (haru e hanbeonman, saenggakhae)

deo isangeun andwae, akkyeo dul geoya (andwae, akkyeo dul geoya)

himdeul eobtdeon haru ye sunshine geudaeman

(himdeul eobtdeon haru ye sunshine geudaeman)

isseo jun damyeon O.K. geugeollo dwae (isseo jun damyeon O.K. geugeollo dwae

 

 Translation :

You always ask, how much I love you

Sometimes, you get worried about the far ahead future

Don’t worry, don’t torture yourself

You are my perfect love

Even if you’re just breathing

Even if you don’t have makeup on

You are beautiful, eye-blinding

I think of you just once a day

It can’t be more, because I’m saving you up

The sunshine of a hard day

If only you are here, it’s OK

That’s all I need

When I see you, I feel comfortable

Even though you don’t like it when I say that

I’m happy but still you are nervous

Don’t doubt- don’t torture yourself

Actually, this is a pure love

When you give off that lovely smile with your eyes

You are beautiful, eye-blinding

I think of you just once a day

It can’t be more, because I’m saving you up

The sunshine of a hard day

If only you are here, it’s OK

That’s all I need

Tepuk tangan meriah pun terdengar di setiap sudut gedung tempat berlangsungnya acara pernikahan. Bahkan ada beberapa orang yang memberikan mereka standing applause. Dinda, Asti dan Nisa pun tak mau kalah. Mereka bertiga berlari kecil ke panggung menghampiri pasangan mereka yang akan menghampiri mereka. Mereka ber-enam berpelukan sesaat kemudian bergandengan tangan menatap satu sama lain dengan tatapan bahagia. Tatapan masa depan di mana mereka akan hidup bersama dan itu semua  akan tetap berakhir dengan indah.

-THE END-

Advertisements

I Want You #18

​***

“Kakak, bukan berarti aku lelah. Bukan berarti aku bosan. Ini tak ada sangkut pautnya dengan hal itu. Apa kak Rafa tak merindukanku? Apa kak Rafa tak merindukan mama? Papa? Mereka merindukanmu. Bahkan aku bisa melihat wajah mama yang semakin hari semakin lesu. Ia selalu memikirkanmu. Memikirkan keadaanmu yang tak pernah bangun.”

“Ku mohon bangunlah. Aku mencintaimu. Aku butuh kamu. Aku tak bisa hidup tanpamu. Hidupku kosong tanpa hadirmu. Aku rindu suara merdumu. Aku rindu mata sipitmu. Aku rindu pelukan hangatmu. Rindu genggaman tanganmu. Bangun kak. Ku mohon.”

Sedari tadi Dinda hanya berbicara sendiri sambil menggenggam erat tangan Rafael. Seminggu telah berlalu, tak ada suatu hal yang bisa menunjukkan perkembangan Rafael. Mata Rafael masih tertutup. Tertutup rapat. Seakan tak ingin ada yang mengusiknya. Orang tua Dinda dan Rafael pun segera pulang dari luar negeri setelah tahu kabar itu. Mereka silih berganti menunggu Rafael meskipun Dinda tak pernah sedikitpun mau meninggalkan ruangan Rafael. Ia masih tetap setia berada di samping Rafael. Ia tak ingin ada penyesalan untuk kedua kalinya. Ia tak ingin kehilangan Rafael lagi.

***

“Rafa, apa kau tak lelah? Kenapa kau selalu menolak saat ku menyuruhmu pulang? Lihatlah mereka.  Mereka terlihat sangat merindukan sosok kehadiranmu.”tanya seorang wanita cantik pada seorang pemuda bermata sipit. Rafael.

“Jadi kau mengusirku, Kara? Aku ingin ada di sini.”tanya balik Rafael tanpa menjawab pertanyaan Kara.

Mereka sekarang sedang berada di sebuah dunia yang amat indah. Hamparan rumput hijau terbentang luas sejauh mata memandang. Belum lagi langit yang selalu cerah memayunginya. Pohon-pohon rindang berdiri dengan kokohnya menambah kesejukan udara sekitar.

“Tapi ini belum waktumu Rafael.”tolak Kara.

“Aku akan menunggu hingga waktuku datang.”

“Dengarkan suara rintihan hatinya Rafael. Apa kau tak sedikitpun kasihan dengan istrimu itu?”

“Tapi dia telah mengajukan permohonan bodoh yang bahkan bisa menghancurkan hidupku dan hidupnya sendiri.”

“Ia telah menyesali semuanya. Maafkan dia, Rafael.”

“Aku telah memaafkannya. Oya, bukankah kau bisa membawaku ke hari itu?”

“Aku memang bisa tapi aku yakin kau akan menyesal jika kau melakukan ini.”

“Aku tak akan menyesal . Percayalah. Aku mohon.”

“Baik.”pasrah Kara akhirnya dan mengulurkan tangannya pada Rafael.

Rafael menerima uluran tangan Kara dan berjalan mengekori Kara. Ternyata Kara membawanya ke sebuah awan tipis yang membentang tinggi di depan mereka. Seakan awan itu adalah sebuah batas antara tempat itu dengan tempat lain yang Rafael tak pernah tahu tempat seperti apa itu.

“Kau yakin?”tanya Kara lagi.

“Yakin.”jawab Rafael tegas.

‘Kakak! aku mohon jangan pergi!’suara pekikan histeris seorang wanita .

Mendengar teriakan itu hati Rafael menjadi sedikit ragu. Namun, ia tetap saja mengikuti Kara yang telah berjalan masuk ke awan putih itu. Rafael telah melangkahkan salah satu kakinya.

***

“Dokter! Kenapa garisnya jadi seperti itu?”histeris Dinda sambil menggoyangkan-goyangkan bahu dokter yang sedang memeriksa Rafael.

“Tenang nona.”

“Kakak! kak Rafael! Jangan pergi! Maafkan aku.”lagi-lagi Dinda menjerit histeris.

Ia menciumi setiap jengkal wajah Rafael. Dengan wajah yang telah merah dan basah karena semenjak setengah jam lalu ia menangis histeris karena melihat grafik denyut jantung Rafael yang hampir datar.

“Pak Morgan, bisa anda membawa nona Dinda keluar ruangan? Saya tak ingin dia tambah histeris melihat perubahan garis alat ini.”ucap dokter itu.

Morgan yang sedari tadi memegangi Dinda hanya mengannguk kecil dan menarik Dinda untuk keluar ruangan.

“Kak Morgan! Aku ingin tetap di sini. Jangan bawa aku pergi.”teriak Dinda berusaha melepaskan cengkeraman tangan Morgan di pinggangnya dari belakang.

Tangan Dinda masih menggenggam jemari Rafael. Sedangkan Morgan, masih berusaha menarik tubuh Dinda untuk segera keluar dari ruangan. Sedikit demi sedikit genggaman tangan Dinda di jemari lemas Rafael pun terlepas.

Dinda masih mencoba untuk meraihnya. Namun, tubuh Morgan lebih kuat. Ia hanya bisa berteriak histeris. Dan akhirnya kini Dinda telah berada di koridor Rumah Sakit di depan ruang Rafael. Tampak di sana orang tua Rafael dan Dinda. Reza dan Nisa dan Asti. Mama Rafael juga tak henti-hentinya menangis di pelukan papa Rafael. Dinda terduduk lemas di lantai Rumah Sakit. Sesekali ia memukul-mukul lantai Rumah Sakit.

“Kak Rafa. Maaf. jangan pergi. Jangan tinggalkan aku. Aku mohon.”

***

Rafael masih saja melangkahkan satu kakinya ke sisi lain dari awan itu. Setelah mendengar suara itu, hatinya ragu. Apalagi suara-suara lain menyusul dan membuat hati Rafael semakin ragu.

‘Kakak! Maafkan aku!’

‘Jangan tinggalkan mama, Rafael.’

‘Rafa. Lo gak boleh pergi. Gue bener-bener gak tega lihat Dinda’

‘Kakak, aku mohon. Kembalilah. Aku berjanji aku tak akan pernah membantahmu lagi.’

‘Raf, please lo balik.’

Suara-suara itu semakin terdengar jelas. Rafael menatap Kara yang telah berada di sisi lain awan itu. Ia melambai sembari tersenyum pada Rafael. Dan Rafael pun melewati awan itu hingga saat ini ia telah berada di tengah awan pembatas itu. Setengah tubuhnya berada di tempat asalnya. Dan setengah tubuhnya lagi berada di tempat sekarang Kara berada. Rafael hanya menatap Kara dengan tatapan penuh keraguan.

***

Garis monitor itu semakin lama semakin melemah. Bahkan garis itu hampir lurus. Hanya ada gelombang kecil. Sangat kecil. Memperlihatkan betapa lemahnya jantung Rafael saat ini.

***

Rafael menatap langit cerah yang memayngi rumput hijau yang sejuk itu. Tiba-tiba ada gambaran seorang wanita yang amat dicintainya. Ia sedang menangis tersedu-sedu duduk bersimpuh di depan pintu ruang perawatan. Ia menangis dan menceracau tak jelas menyebut namanya dengan panggila khas-nya. Dan tiba-tiba gambaran itu hilang.

Rafael kembali memandnag wajah cantik Kara. Ia pun mulai menggerakkan tubuhnya lagi. Sehingga kini hanya sebelah kakinyayang berada di tempat asalnya. Rafael tersenyum ragu memandang Kara di depannya.

***

Garis pada alat pengukur detak jantung itu semakin melemah. Dan akhirnya..

‘Titttt…..’

Garis itu lurus. Lurus tanpa ada lonjakan gelombang seperti sebelumnya. Dokter yang menangani Rafael hanya bisa membuang napas berat dan membuka masker hijau yang dipakainya. Suster yang berada di sebelah dokter itu pun membuka masker oksigen yang selama seminggu ini digunakan Rafael. Kemudian menutupi seluruh tubuh Rafael dengan kain putih.

Dengan sedikit ragu, dokter itu membuka pintu ruang rawat Rafael. Seketika itu juga wajah semua orang menatap dokter dengan tatapan ‘Katakan bahwa Rafael baik-baik saja’. Dinda yang sudah tak sabar mendengar jawaban dokter pun berdiri dan menerobos masuk ke dalam.

“Suster, apa yang anda lakukan? Buka penutup kain itu dan pasang masker itu lagi. Suamiku   bisa mati karena kehabisan oksigen.”teriak Dinda memarahi suster yang sedang membereskan alat-alat yang selama ini digunakan Rafael.

“Tapi nona, bapak Rafael telah-“

“Jangan memberi alasan yang tak masuk akal.  Cepat pasang lagi.”perintah Dinda.

Suster itu masih bingung harus menjawab apa kepada Dinda. Dan dengan tak sabarannya, akhirnya Dinda memasangkan masker oksigen yang sambungannya dengan tabung oksigen belum terlepas itu tepat di hidung Rafael. Dinda memasangkan semua peralatan medis itu asal. Suster yang melihat itu hanya diam.

“Mama, kak Rafa baik-baik saja. Lihat dia sedang tersenyum kepadaku.”ucap Dinda pada mamanya yang telah berdiri di belakangnya dan menarik tangan mamanya dan tangan mama Rafael mendekat ke arah tubuh Rafael.

“Kak, lihat mereka semua sedang berada di sini. Untuk kak Rafael.”ucap Dinda tersenyum lebar.

Senyuman Dinda malah membuat semua orang menatapnya iba.

“Dinda, nak Rafael sudah tenang. Kamu harus bisa menerimanya.”ujar mama Dinda lembut mencoba memberi pengertian kepada anak semata wayangnya itu.

“Mama! Jangan ngomong yang aneh-aneh deh. Kak Rafael itu hanya tidur.”sentak Dinda namun air matanya menetes dari sudut matanya.

“Dinda, lo harus sabar. Rafael udah tenang.”ucap Nisa mendekati Dinda dan mengelus-elus pundak Dinda.

“Nis, lo ngomong apaan sih. Jangan ngaco deh. Kak Rafael itu masih hidup.”elak Dinda.

“Kakak, buka mata dong. Ngomong kalau kakak itu cuman pingin tidur. Dan nanti pasti bakalan bangun lagi.”ujar Dinda mengguncangkan tubuh Rafael.

Tiba-tiba Dinda memeluk tubuh Rafael. Ia menangis histeris di dada Rafael. Semua orang yang melihatnya hanya bisa menatap iba Dinda yang menangis. Tak ada yang bisa mereka perbuat untuk menenangkan Dinda. Percuma saja, jika saat ini mereka mengatakan kebenaran yang harus didengar Dinda. Dinda masih belum bisa menerima semua kenyataan ini meskipun di sedikit kecil otak Dinda telah berkata bahwa Rafael telah tiada. Namun, Dinda menepisnya. Ia masih percaya. Sangat percaya bahwa Rafael akan bangun dan mereka akan hidup bersama lagi.

-To be Continued-

I Want You #17

​Morgan yang baru saja sampai di rumah Asti dan melihat Dinda yang sedang duduk di lantai teras rumah Asti.

“Dinda.”panggil Morgan kemudian berjongkok di depan Dinda.

Dinda mendongkak melihat siapa yang memanggil namanya. Terlihat matanya merah karena menangis. Pipinya telah basah oleh air mata. Morgan menatap Dinda khawatir.

“Aku cinta dia. Aku tak ingin berpisah dengannya. Aku menyesal mengucapkan itu.”lirih Dinda menunduk.

Morgan mencengkeram lembut kedua bahu Dinda.

“Aku yakin, semua akan baik-baik saja. Sekarang kamu tenang.”

Belum sempat Morgan menyeleaikan kalimatnya, Dinda memotongnya,

“Gimana bisa tenang? Kak Rafa akan menceraikanku. Dan itu semua karena permintaan bodohku.”

“Sekarang pikirkan semuanya dengan tenang, kita bisa bicarakan baik-baik. Sekarang kita masuk dulu. Aku yakin Rafael tak akan mengabulkan permintaanmu itu.”tutur Morgan lembut.

Dinda mengangguk dan berjalan masuk dengan Morgan yang berjalan di sampingnya.

***

Dua hari setelah insiden di rumah Asti tersebut, Dinda masih belum bisa tenang. Bahkan lingkaran hitam di bawah matanya semakin tebal. Ia memang tak bisa tidur selama dua hari ini.  Bahkan badannya Nampak tak terurus. Asti telah membujuk dengan segala cara. Namun, Dinda tak bergeming. Ia masih tak mau bergerak dari tempat tidurnya.

“Din, makan ya. Lo belum makan sama sekali dari kemarin.”bujuk Asti .

Dinda hanya menggeleng lemah.

“Gue nyesel, As. Gue terlalu bego sampai nyampei permohonan bodoh itu.”gumam Dinda lirih.

“Gue yakin kok. Rafael gak mungkin ngelakuin itu. Kalau dia bener-bener ngabulin pastilah dia udah ngirim surat cerai ke lo. Jadi lo jangan sedih ya. Gue yakin banget Rafael sayang kok sama lo.”hibur Asti.

“Tapi lo bilang,,”ucap Dinda menggantung.

“Gak. Lupain semua kata-kata gue. Sekarang gue yakin Rafael masih sayang dan cinta banget sama lo. Lo makan ya.”

“Gak. Gue maunya kak Rafael. Gue nyesel. Harusnya sekarang ini kita idah bareng-bareng lagi.Kenapa gue bisa sebego’ itu sih. Gue nyesel.”

“Udah din, lo jangan nyiksa diri lo sendiri.”

Lagi-lagi Dinda menggeleng. Asti menghela napas panjang. Asti pun meletakkan piring makan di meja kosong sebelah ranjang Dinda. Lalu beranjak pergi.

***

Rafael masih tak habis pikir dengan apa yang diminta Dinda. Kini, ia sedang berada di kantornya. Menatap kertas-kertas putih yang dirangkup rapi dalam satu map berwarna merah.

“Apa iya gue harus tanda tangan? Tapi gue yakin gue bakal hancur setelah ini.”gumam Rafael.

Yah, saat ini Rafael sedang menatap lembaran putih yang berisi surat cerai. Rafael dan Dinda harus menandatangani kertas itu jika mereka ingin bercerai. Namun, Rafael bimbang. Ia tak ingin melakukan hal ini. Tapi di sudut hatinyayang lain, ia harus melakukan ini. Karena saat itu ia telah berjanji di depan Dinda. Ia adalah orang yang tak akan mengingkari janjinya sendiri.

 

Setelah satu jam memikirkan berbagai kemungkinan-kemungkinan, akhirnya Rafael memutuskan untuk menandatangani surat itu. ia yakin Dinda pasti tak akan ikut membubuhkan tanda tangannya di kertas putih itu. Toh, perceraian tak akan terjadi tanpa persetujuan dari kedua belah pihak. Itulah alasan kuat Rafael menandatangani ini semua. Dengan tangan cekatan, akhirnya Rafael mengirimkan sebuah pesan singkat untuk Dinda.

‘Aku telah mengabulkan permintaanmu. Sekarang juga datanglah ke Amazon Café di sebelah kantorku.’

 

Pesan telah terkirim. Rafael pun melangkah pergi dan menuju ke café tempat mereka akan bertemu.

***

Setengah jam lebih Rafael menunggu, akhirnya yang dinantikan datang juga dengan hanya mengenakan celana pendek sepaha dan hem biru polos kelonggaran. Rafael memandang Dinda lekat. Banyak perubahan yang terjadi pada Dinda. Ia terlihat lebih kurus. Lingkaran mata Dinda terlihat jelas. Melihat ini, Rafael ingin sekali memeluk Dinda merengkuhnya dalam pelukan hangatnya. Ia sangat khawatir dengan keadaan Dinda.

“Kamu sudah makan?”tanya Rafael lembut pada Dinda.

Dinda menggeleng pelan.

“Kalau begitu, kita makan dulu.”

“Gak, kita langsung saja.”suruh Dinda.

Rafael pun mengeluarkan map yang berisi surat-surat perceraian itu. Dengan berat hati, ia menyodorkan kertas yang harus ditanda tangani Dinda dan sebuah pulpen.

“Tuhan, apa ini? Nyatakah ini?”batin Dinda bertanya.

Dengan kuat hati, Dinda mulai memegang pulpen bertinta hitam yang disodorkan Rafael. Entah setan apa yang membuat Dinda akhirnya membubuhkan tanda tangannya di atas materai 6000 itu. Bukankah ia tak menginginkan ini? Rafael terpelongo melihat apa yang dilakukan Dinda.

“Jadi, ia tak main-main?”batin Rafael.

“Adakah lagi? Aku ingin segera pulang.”ucap Dinda dingin.

“Apa? Semudah itu ia berkata seperti itu?”gumam Rafael.

“Tidak ada.”jawab Rafael mencoba tenang.

“Baik.”ucap Dinda dan segera pergi.

Rafael hanya memandang punggung Dinda hingga hilang dalam pandangannya. Sete;ah keluar dari café tersebut, Dinda segera menyetop taksi.

 

Di dalam taksi, Dinda menangis. Sebenarnya ia ingin menangis sedari tadi. Namun, ia harus menahannya. Ia tak ingin terlihat lemah di depan Rafael. Bagaimana bisa ia menandatangani surat tadi?

***

Rafael masih terduduk diam. Ia benar-benar tak percaya dengan apa yang baru saj terjadi. Hubungan mereka hanya tinggal menunggu siding dari pengadilan agama. Dan semuanya akan berakhir.

“Apa sebegitu bencinya kamu padaku?”batin Rafael bertanya-tanya.

Rafael pun  akhirnya meninggalkan café tersebut dan bermaksud untuk pulang ke rumahnya.Dengan pikiran yang tak karuan, Rafael mengendarai mobilnya. Saat di persimpangan jalan, tiba-tiba mesin mobil Rafael mati dan..

‘BRAKK’

Mobil Rafael ringsek karena ditabrak oleh mobil lain yang melaju dengan kecepatan tinggi dari samping kiri mobil  Rafael. Dan map merah yang berisi surat perceraian itu pun terbuka dan menerbangkan apa yang ada di dalamnya. Otomatis, tak akan ada sidang perceraian di antara mereka berdua.

***

Sesampainya di rumah, Dinda segera mandi dan beranjak ke dapur untuk membuat susu coklat kesukaannya.

‘PRANGG’

Cangkir yang sedang digenggam Dinda tiba-tiba lepas dan jatuh ke lantai dapur. Dinda juga merasa ada sesuatu yang terjadi dan seketika pikirannya mengarah pada satu nama. Rafael.

 

Dengan sedikit berlari menaiki anak tangga rumahnya, ia menuju kamarya dan segera mengambil ponselnya yang masih berada di tas selempang ungu yang baru saja ia gunakan. Tampak satu panggilan tak terjawab dari Rafael.

 

Tanpa membuang waktu, ia segera menelpon balik Rafael. Berharap tak ada kabar buruk yang akan ia terima.

“Halo?”ucap seseorang di seberang sana. Suara laki-laki yang sangat asing di telinga Dinda.

“Maaf. Bisa saya berbicara dengan Rafael?”

“Maaf. Anda siapa?”

“Saya.. istrinya.”jawab Dinda sedikit ragu.

“Kebetulan. Suami anda mengalami kecelakaan dan sekarang berada di rumah sakit ‘Citra’.”

Ponsel Dinda yang tadinya menempel di telinga kanannya telah lepas dari genggaman tangannya dan jatuh ke lantai kamarnya.

 

 Dua menit kemudian, Dinda telah berada di depan rumahnya menunggu taksi yang akan menjemputnya.

***

Setelah mendapat perawatan dari dokter, akhirnya kondisi Rafael telah stabil meskipun matanya masih enggan terbuka. Kini, Rafael telah berada di ruang rawat VIP dengan masker oksigen yang menutupi hampir sebagian besar wajahnya.

 

Dinda yang sudah datang dengan perasaan yang campur aduk pun segera masuk ke ruang rawat Rafa. Tentunya setelah memakai pakaian steril berwarna hijau tua yang telah disediakan pihak Rumah Sakit. Ia menggenggam jari tangan Rafael dengan kedua tangannya dan mencium jemari itu.

 

“Kak, Maaf. Kalau saja aku bisa menghentikan ini semua, aku akan menghentikan ini semua. aku tak mau ada perceraian. Aku tak mau ada hitam di atas putih. Aku hanya ingin ada kita. Bersamamu, aku ingin merangkai cerita indah di sisa episode hidupku ini. Bangun kak. Don’t leave me and make me feel regret again.”

 

Dinda terus menangis. Ia juga sakit memandang tubuh yang dulunya kekar kini sedang berbaring lemah tak sadarkan diri di hadapannya. Andai saja ia tak memberikan tanda tangan di atas kertas itu, apa ini semua bisa dicegah? Jika iya. Itu adalah jawaban yang sungguh membuat Dinda lebih menyesal.

 

Genggaman tangan Dinda tak pernah lepas. Bahkan mungkin semakin erat. Berulang kali, ia menciumi jemari tangan Rafael.

“Kak, bangun. Sampai kapan kamu tidur? Apa kamu kesulitan untuk membuka kelopak mata yang menutupi mata indahmu itu? Apa kamu ingin aku untuk membantumu? Buka mata sayang, aku ingin melihat bola matamu yang selalu menyejukkan hati ini. Ku mohon.”

***

Detik telah menjadi menit. Menit telah berganti jam. Bahkan jam telah berganti hari. Namun. Rafael masih belum juga sadar. Ia masih asyik dengan kegelapan yang membelenggunya. Dinda juga masih setia menunggu Rafael. Menunggu hingga orang yang amat dicintainya mau membuka matanya.

 

Hingga tiba-tiba jari telunjuk Rafael mulai bergerak dan disusul dengan jari-jari lainnya. Dinda segera memencet tombol di atas ranjang Rafael. Sedetik kemudian, dokter telah datang bersama dua suster di belakangnya.

“Iya Nona. Adakah yang bisa saya bantu?”tanya dokter itu karena dia masih melihat keadaan Rafael masih sama dengan satu jam lalu saat dia memeriksanya.

“Jari suami saya bergerak dok. Apa itu suatu pertanda bahwa suami saya akan segera bangun dari tidur panjangnya? Tapi mengapa ia tak jua membuka matanya?”

“Maaf Nona, namun suami anda masih dalam masa komanya. Keadaannya masih sama seperti satu jam lalu saat saya memeriksa keadaannya. Tak ada perubahan yang signifikan.”

“Tapi apa tadi? Aku yakin melihat jarinya bergerak.”

“Itu hanya sebuah gerakan kecil yang disampaikan otaknya. Raganya memang tidur. Tetapi, tidak dengan otaknya. Otaknya masih berkerja meskipun belum normal seperti orang sehat.”jelas dokter itu.

Wajah Dinda kembali lesu mendengar penjelasan dokter. Ia merasa telah merasa kehilangan semangat hidupnya.

“Lalu kapan, ia akan sadar dok?”

“Saya juga belum tahu. Menginga betapa parahnya kecelakaan yang menimpa bapak Rafael. Kita hanya bisa menyerahkan semuanya kepada Tuhan. Saya harap anda selalu bersabar dan terus berdo’a agar pak Rafael segera diberi kesembuhan. Saya permisi.”ujar dokter itu dan pergi diikuti oleh suster-susternya.

 

Dinda kembali menatap Rafael. Air matanya jatuh. Entah sudah keberapa kalinya ia menjatuhkannya.

-To be Continued-

I Want You #16

​“Hah? Are you seriously?”tanya Nisa tak percaya.

“Yes, I am.”jawab Reza yakin.

“I Want you, Reza.”ujar Nisa malu-malu.

“Can you repeat it again?”

“I Want you, Reza. I will marry you.”

Mendengar kata-kata indah itu, Reza tersenyum dan mengambil sebuah kotak bening dari saku baju rumah sakitnya. Ia membuka kotak itu. Terpampang sepasang cincin emas putih yang cantik dengan satu mata cincing yang bersinar. Reza pun memakaikan cincin itu di jari manis Nisa.

“Bagaimana pendapatmu tentang hujan, Nyonya Anugerah?”

“Hujan? I Love it.”ujar Nisa tersenyum di tengah hujan yang sudah mulai mereda.

***

‘tok tok tok’

‘tok tok tok’

“Iya, sebentar.”teriak si empunya rumah yang merasa terganggu dengan kedatangan seseorang.

“Rafael!”pekik Asti, wajahnya menunjukkan keterkejutan.

“Ada apa loe kemari?”tanya Asti, Raut mukanya berubah menjadi sinis.

“Gue mau istri gue.”jawab Rafael.

“Dinda gak disini.”ujar Asti cepat. “Ada yang lain? Gak ada? Bagus deh.”ucap Asti menutup daun pintu rumahnya. Tapi, dengan sigap Rafael menahannya.

“Ada apa lagi?”tanya Asti.

“Gue yakin istri gue di sini. Jangan bohongin gue, Asti.”

“Apa peduli loe? Loe mau nyakitin dia lagi? Mau bikin dia sakit lagi?”

“Dinda sakit?”

“Iya, Dinda sakit bahkan dia hampir mati. Dan itu gara-gara loe. Jadi, gak usah sok-sok an khawatir. Sekarang lebih baik loe pergi.”usir Asti.

“Inget ya, gue suaminya. Gak mungkin gue gak ngekhawatirin dia.”

“Suami? Suami macam apa loe? Bisanya cuman nyakitin doang. Gue minta sekarang loe pulang dan angkat kaki dari rumah gue.”

“Gak, gue bakal nungguin Dinda di sini. Sampai dia ngehampirin gue dan pulang bareng gue.”tegas Rafael.

“Terserah loe!”ucap Asti dan menutup pintu rumahnya.

Rafael pun mundur beberapa langkah kemudian berbalik dan berjalan. Ia berhenti tepat di bawah sebuah jendela kamar yang masih tertutup rapat.

“Dinda, aku yakin kamu ada di sana.”teriak Rafael.

“Keluar Dinda, please. Aku sadar aku salah. Aku terlalu egois. Please Dinda, ku mohon keluar.”mohon Rafael.

Dinda yang mendengar seseorang yang sekarang sedang berada di tahap sesuatu hal yang harus ia lupakan pun segera berjalan menuju jendela. Ia membuka sedikit gorden yang menutupi jendela itu. Ia melihat, di bawah sana Rafael sedang berdiri memandang ke arahnya. Meski ia yakin, bukan dirinya lah yang ditatap melainkan gorden yang masih menutupi sebagian besar jendela kamar itu.

“Dinda!!! Aku sayang kamu. Aku tak bisa hidup tanpa kamu. Ku mohon.”teriak Rafael lagi.

Hujan memang telah reda, tapi angin masih berhembus kencang. Menerbangkan benda-benda ringan yang dilaluinya. Rangsangan suhu dingin mulai diterima oleh tubuh Rafael. Angin malam yang berhembus menembus pori-pori kulit Rafael. Memberikan suasana dingin yang mencekat.

Rafael masih setia berdiri di sana. Berkali-kali ia meneriakkan permohonan agar Dinda keluar. Dinda yang dari tadi masih setia mendengarkan teriakan-teriakan Rafael pun mulai merasa tak tega. Namun, setiap Dinda ingin berjalan menghampiri Rafael di bawah sana pasti Asti selalu melarangnya.

Hari semakin malam. Tak terasa dua jam sudah Rafael berdiri disana melawan rasa dingin yang semakin menggerayangi tubuhnya. Dinda yang sedari tadi masih mengintip dari balik gorden jendela makin tak tega. Bagaimanapun juga ia masih menyayangi suami yang akan dilupakannya itu.

Dinda berjalan ke luar kamar, dan berniat menghampiri Rafael. Ia tak memperdulikan teriakan Asti yang tak setuju dengan langkah yang diambil Dinda.

“Kak Rafa.”ujar Dinda pelan saat ia berada di depan pintu rumah Asti.

Rafael yang mendengar suar yang sangat dirindukannya pun menoleh kea rah sumber suara.

“Dinda.”ucap Rafael segera berlari menghampiri Dinda dan mencoba memeluknya. Namun, dengan sigap Dinda mencegahnya.

“Mengapa Dinda? Kau tak merindukanku?”tanya Rafael bingung melihat tingkah Dinda biasanya ia tak akan menolak jika Rafael memeluk tubuh mungilnya.

Dinda hanya menggeleng pelan menanggapi pertanyaan Rafael. Sebenarnya ia ingin sekali membiarkan Rafael memeluknya. Memberinya kehangatan ditengah dinginnya malam seperti ini. Bukankah selama ini ia merindukan hangatnya pelukan Rafael?

Tapi, ia tak ingin terlalu jauh dalam perasaan ini. Ia tak ingin disakiti lagi. Rasanya begitu menusuk. Ia ingin melepas semua. Melepas semua yang ada, membiarkan dirinya bebas dan hidup tanpa baying-bayang rasa sakit itu lagi.

“Bukannya aku tak merindukan kakak. Tapi, keadaan yang membuatku seperti ini.”jelas Dinda pelan.

“Keadaan? Keadaan apa yang merubahmu seperti ini?”

“Ceraikan aku, kak Rafa.”lirih Dinda. Mata Rafael membulat sempurna.  

“Apa? Aku hanya salah dengar kan?”tanya Rafael berusaha meyakinkan bahwa kali ini pendengarannya sedikit tak berfungsi dengan baik.

“Kau tak salah dengar. Ceraikan aku.”ulang Dinda. Ia berjuang menahan air matanya untuk tidak jatuh di depan Rafael.

“Apa? Apa yang sedang kau bicarakan? Aku tak mengerti maksudmu.”

“Ceraikan aku. Lalu, tinggalkan aku.”ulang Dinda untuk kesekian kalinya.

Rafael berjongkok di depan Dinda sembari menggenggam jari-jari Dinda lembut.

“Tidak.”ucap Rafael tegas.

“Bukankah ini yang kau mau?”

“Aku tak akan menceraikanmu. Aku minta maaf, Dinda. Aku terlalu egois. Aku tak pernah mengerti bagaimana perasaanmu. Aku tak tahu betapa sakitnya kau saat itu. Betapa depresinya kau saat itu. Tapi apa? Aku tak berada di sampingmu saat itu. Bahkan setelah itu, aku malah menyibukkan diriku dengan pekerjaan-pekerjaan yang bahkan bisa ku kerjakan esok hari. Aku menyesal Dinda. Aku terlalu egois. Maafkan aku.”urai Rafael.

“Aku telah memaafkanmu kak, bahkan sudah jauh-jauh hari aku telah memaafkanmu. Tanpa kau meminta maaf seperti ini pun aku telah memaafkanmu.”ujar Dinda mencoba membangunkan Rafael yang sedamg bersimpuh di hadapannya.

“Jadi, kau akan menghentikan permintaanmu tadi kan?”tanya Rafael kini ia telah berdiri tegap lagi.

“Tidak. Aku tak akan membatalkannya. Itu adalah keputusan yang terbaik. Aku mohon, tinggalkan aku.”ujar Dinda lembut.

“Dimana letak kebaikan itu, Dinda? Itu semua hanya akan menyakitkan kita berdua.”

“Tak aka nada yang tersakiti di antara kita. Jika kita berpisah, kakak pasti akan menemukan wanita lain yang akan selalu patuh dengan ucapan kakak. Bukan wanita bandel seperti diriku. Nanti, wanita itu akan melahirkan anak-anak yang lucu untuk kakak. Aku ikut bahagia, jika kakak bahagia.”ujar Dinda tersenyum semanis mungkin menutupi semua perih yang dirasakannya.

“Dan wanita itu adalah kau. Tak ada yang lain. Aku hanya akan menikahi satu wanita dalam hidupku. Dan itu adalah kau.”

“Yakin sekali kakak bicara seperti itu. Aku bukan wanita yang terbaik untukmu. Ceraikan dan tinggalkanlah aku. Kita jalani hidup kita masing-masing.”

“Kau sungguh keras kepala. Baik jika itu maumu, aku akan mengabulkannya. Asalkan kau tahu, meskipun kita hidup masing-masing aku tak akan menikah lagi. Hanya ada satu wanita yang akan aku nikahi dalam hidup ini. Dan satu lagi, ku harap kau tak akan menyesal dengan semua keputusanmu ini. Selamat tinggal Dinda Putri Kirana.”ucap Rafael dengan tegas lalu pergi meninggalkan Dinda yang masih berdiri mematung.

Tiba-tiba kaki Dinda terasa sangat lemas. Ia tak kuasa menahan berat tubuhnya hingga ia jatuh tersimpuh di lantai teras rumah Asti. Air mata yang sedari tadi sudah mendesak ingin keluar pun kini telah mengalir sangat deras.

“Apa hidupku akan lebih bahagia setelah ini? Atau mungkin hidupku akan lebih buruk setelah ini? Apakah aku kuat ketika nanti aku melihat kak Rafa menikah dengan wanita lain?”tanya Dinda pada dirinya sendiri.

“Arrgghh…!!! Aku ingin kamu, Rafael Landry Tanubrata. Aku mencintaimu!!”teriak Dinda kencang.

-To be Continued-

I Want You #15

​Nisa segera menuju sebuah rumah sakit yang dikatakan orang di telepon tadi. sesampainya di rumah sakit, ia segera menuju ruang UGD. Yap, Reza mengalami kecelakaan dalam perjalanan menjemput Nisa tadi.

“Apa anda yang bernama Nisa?”tanya seorang laki-laki paruh baya disebelah Nisa yang sedang berdiri.

“Iya,”jawab Nisa singkat pandangannya kembali menghadap pintu ruang UGD di depannya.

“Maaf ini telepon genggam korban dan dompetnya. Yang sabar, percayalah semua akan baik-baik saja. Saya permisi dulu.”

“Terima kasih.”

***

“Reza, kamu kenapa sih? Naik motor gitu aja pake jatuh segala. Ceroboh banget deh kamu.”ujar Nisa yang duduk di samping ranjang ruang rawat Reza.

“Reza, jawab! Jangan tidur aja.”ucap Nisa dengan nada tinggi tapi tak terelakkan cairan bening meluncur mulus di pipi mulusnya.

“Kamu tahu gak? Aku tadi kesel banget tau udah nungguin kamu lama banget.”cerita Nisa sambil menggenggam tangan Reza yang masih tak sadarkan diri.

“Udah hampir satu jam aku nungguin kamu.”

“Mana dari tadi pagi langit mendung terus. Aku takut kalau turun hujan.”

“Kamu tahu kan? Aku benci hujan.”

“Aku udah coba hubungin kamu. Tapi aku  juga gak ngerti kenapa rasanya aku ragu buat ngehubungin kamu.”

“Sampai akhirnya kamu telpon aku. Aku seneng akhirnya kamu ngehubungin aku.”

“Tapi, aku kecewa banget waktu yang bicara bukan kamu. Melainkan bapak-bapak yang membawa kabar buruk kalau kamu kecelakaan.”

“Aku langsung panik tahu. Aku gak mau terjadi apa-apa sama kamu.”

“Rencananya sih aku pingin ngajakin kamu jalan-jalan ke Mall. Tapi ternyata kamu malah ngajakin aku ke Rumah Sakit.”

“Aku emang mau ngajak kamu jalan. Tapi bukan ke Mall.”ucap suara yang sangat familiar menghentikan cerita Nisa.

Nisa yang sedari tadi menunduk pun mendongakkan kepalanya dan mendapati Reza yang sedang nyengir menampakkan deretan gigi putihnya. Tampak ia sangat sehat. Seperti halnya tak ada apapun yang telah terjadi pada dirinya.

“Reza, kamu?”tanya Nisa tak percaya.

1 detik..

2 detik..

3 detik..

“Reza!!!”pekik Nisa yang langsung memeluk Reza erat.

“Akhirnya.. hiks..hiks.. kamu bangun juga. Aku gak mau kehilangan kamu.”

“Udah dong, jangan nangis lagi ya. Aku gak papa kok. Aku sehat banget. Gak ada yang terjadi pada diriku.”ucap Reza dan melepaskan pelukan Nisa.

Reza tersenyum dan menghapus air mata Nisa dengan kedua ibu jarinya.

“Apa?”tanya Nisa. “Tapi kecelakaan itu?”

“Hmmhhmm.. Itu..”jawab Reza menggantung.

“Jangan bilang kamu cuman ngerjain aku.”ucap Nisa curiga.

Lagi-lagi Reza hanya meringis dan itu membuat Nisa cemberut sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada dan berbalik memunggungi Reza.

“Jangan ngambek dong. Nanti gak cantik lagi lho.”goda Reza sambil memeluk Nisa dari belakang.

“Biarin.”ujar Nisa kesal.

“Maaf ya, gak ngulangin lagi deh janji.”

“Terserah, ulangin lagi juga gak papa.”ujar Nisa ketus.

“Aku tahu kamu benci hujan.”

“Terus?”

“Ayo, aku mau ajak kamu biar kamu gak benci hujan lagi.”ajak Reza dan langsung menggandeng tangan Nisa keluar ruangan.

“Reza! Di luar hujan!”

***

“Asti, gue pingin pulang.”ucap Dinda pada Asti yang kini sedang duduk di samping tempat tidurnya.

“Gak boleh.”ujar Asti singkat.

“Kok gak boleh sih. Gue pingin pulang.”rengek Dinda.

“Gue bilang gak boleh.”

“Tapi, kalau kak Rafa nyariin gue, gimana?”

“Dia gak bakal nyariin loe.”

“Kok loe gitu sih, As.”

“Dia itu udah gak sayang lagi ama loe. Gue gak mau sahabat gue disakitin lagi. Cukup dia udah bikin loe sakit kayak gini.”

“Dia masih sayang kok sama gue. Buktinya, waktu gue ketiduran di sofa pasti dia bawa gue ke kamar.”

“Dia itu bukan sayang sama loe. Tapi, cuman kasihan sama loe.”

“Emang loe tahu darimana?”tanya Dinda polos.

“Sekarang loe tatap mata gue.”ujar Asti dan memegang bahu Dinda, Dinda pun menatap mata Asti.

“Sekarang gue tanya sama loe. Apa Rafael pernah ngelihat loe di Rumah sakit dan waktu loe nangis histeris karena kehilangan anak loe?”

Dinda hanya menggeleng.

“Terus, apa waktu loe pulang dan kembali ke rumah diantar Nisa sama Reza Rafael ada di rumah?”

Lagi-lagi Dinda menggeleng.

“Setiap hari loe selalu nunggu Rafael pulang kan?”

Kini Dinda mengangguk.

“Apa pernah loe berhasil bicara sama Rafael saat dia udah pulang? Loe selalu ketiduran kan?”

Dinda mengangguk lagi.

“Terus, apa saat loe bangun dia selalu ada di samping loe?”

Dinda menggeleng.

“Dan, parahnya waktu hari ulang tahun dia. Loe udah buat susah-susah bahkan sampai rela hujan-hujanan. Tapi apa? Dia gak datang kan?”

Lagi, Dinda mengangguk.

“Sekarang loe pikir. Kalau dia sayang ama loe dia gak bakal bikin loe sakit kayak gini. Intinya sekarang, loe gak boleh pulang. Dan dengan senang hati loe boleh tinggal di sini sama gue dan lupain Rafael.”ujar Asti kemudian pergi dengan membawa mangkuk kosong dan gelas kosong bekas makan Dinda tadi pagi.

“Apa bener gue harus ngelupain kak Rafa? Setelah penantian gue selama ini? Sampai akhirnya kita menikah? Dan gue harus ninggalin kak Rafa?”

***

Hari ini Rafael memang pergi ke kantor. Tapi sepertinya, keberadaannya sekarang di kantor juga tak berarti apa-apa. Sedari tadi setumpuk laporan dengan map berwarna-warni di depannya yang menunggu dirinya untuk ditandatangani tak disentuh Rafael sedikitpun. Bahkan, meliriknya saja rasanya enggan. Ia masih asyik bercengkerama dengan pikirannya sendiri.

Memutar semua kenangannya bersama Dinda yang sedari tadi berlari-lari di otaknya. Mulai dari mereka kecil sampai saat ini. Disaat Rafael harus menyakiti separuh jiwanya sendiri. Hanya karena Dinda yang keguguran. Akhirnya, Rafael pun memutuskan untuk meninggalkan ruangan dan pergi menuju café yang berada tepat di samping kantornya.

Sesampainya di kantin, Rafael mengambil tempat duduk paling pojok dan di sebelahnya ada kumpulan ibu-ibu yang sedang berbincang-bincang asyik. Awalnya, Rafael cuek saja. Namun, tiba-tiba ia mendengar sesuatu yang menggelitik telinga untuk mendengarnya.

“Eh jeng, denger-denger anak si Lidya keguguran ya.”

“Iya jeng, saya udah denger itu. Kasihan ya.”

“Pasti rasanya sedih banget. Belum lagi, tekanan psikologis yang harus dirasain. Bahkan, saya pernah denger lho orang keguguran sampai stress. Untung aja tuh si anak Lidya gak ngalamin stress kayak begitu karena si suami mau nerima dan menganggap itu semua sebuah ujian dari Tuhan.”

“Beruntung banget si Lidya punya menantu yang pengertian kayak begitu.”

Rafael yang mendengar percakapan itu pun langsung melangkahkan kakinya pergi ke luar café sesudah ia meninggalkan beberapa lembar uang kertas di mejanya.

***

“Ayo dong, Nis! Ini asyik tahu.”ajak Reza sambil melentangkan tangannya di tengah hujan di taman Rumah Sakit itu.

Nisa masih terdiam di teras kamar inap yang kebetulan dekat dengan taman itu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya menolak ajakan Reza. Karena merasa kesal, akhirnya Reza menarik tangan Nisa. Sehingga, kini Nisa juga telah berada di tengah derasnya hujan.

“Reza! Lepasin! Aku benci kamu! Aku gak suka hujan, Reza! Kamu tahu itu, harusnya kamu gak ngelakuin ini!”teriak Nisa marah, ia mencoba melepaskan genggaman tangan Reza di pergelangan tangannya.

“Gak, Nisa! Kamu harus bisa ngelupain masa lalu kamu. Gak mungkin selamanya kamu benci dengan hujan seperti ini. Bukan hujan yang salah, tapi itu semua udah takdir.”jelas Reza.

“Gak, selamanya aku bakal benci hujan. Karena hujan, aku harus kehilangan kak Reno. Aku sayang dia. Ini semua gara-gara hujan. Andai saja waktu itu gak hujan, gak mungkin jalanan akan licin, dan mungkin jika hujan tak hadir waktu itu kak Reno masih di sini. Masih di sini bersama aku, Reza. Aku benci hujan!”ujar Nisa yang bergelinang air mata.

Reza yang melihat itu pun akhirnya memeluk Nisa. Menenggelamkan kepala Nisa di dadanya. Ia tahu, kekasihnya sangat membenci hujan karena kakaknya meninggal karena kecelakaan dan saat itu hujan sedang turun dengan derasnya. Tapi, Reza tak mau Nisa selalu membenci hujan. Karena kehidupan dan kematian manusia adalah sebuah takdir. Dan itu, tak bisa dihindari. Maka dari itu, ia ingin menghapus memori hitam di otak Nisa. Dan memberikan memori manis di saat hujan seperti ini. Agar nisa mengenang hujan bukanlah sebuah  kenangan pahit melainkan sebuah kenangan manis yang tak akan pernah terlupakan.

Reza pun melepaskan pelukannya.

“Sekarang kamu tatap aku.”ujar Reza lembut.

Reza pun berjongkok di depan Nisa layaknya seorang pangeran dan seorang putri. Ia menggenggam kedua jemari Nisa. Dengan tatapan lembut dan penuh cinta. Reza berkata..

“Nisa, will you marry me.”

-To be Continued-

I Want You #14

​***

Dingin masih setia menembus tubuh Dinda. Bahkan, ia semakin dalam masuk ke badan Dinda. Menjalar dari ujung kepala hingga ujung kaki. Dinda masih setia dengan posisinya menghadap cake ulang tahun yang telah terkena guyuran hujan.  Ia berharap ada seseorang yang akan menemaninya menikmati hujan yang dingin itu.

Bahu Dinda mulai bergetar. Bukan bergetar karena isakan tangis. Melainkan, beregeyar karena hawa dingin semakin menusuk tulang bahkan ikut mengalir berama darah ke seluruh tubuh. Wajahnya semakin pucat. Bibir yang semula berwarna pink itu kini telah berganti biru.

***

Rafael masih berdiri di dekat jendela. Ia masih memandang setiap rintikan hujan yang turun dari langit dan jatuh cepat menghujam bumi. Pikirannya melayang ke masa kecilnya.

-Flashback on-

“Kakak, sini deh!”teriak gadis kecil di tengah derasnya hujan, melambai pada seorang pria kecil yang sedang duduk di tangga teras sebuah rumah kosong.

“Dinda, kamu  bisa sakit. Ayo buruan balik ke sini.”teriak si pria kecil kepada gadis kecil bernama Dinda itu.

Dinda tak mengindahkan kata-kata pria kecilnya itu. Ia malah melentangkan tangannya. Ia mendongakkan wajahnya menghadap langit kelabu itu. Matanya terpejam, merasakan setiap buliran air yang menerpa wajah cantiknya.

“Ternyata asyik juga.”celetuk seseorang di sebelah Dinda yang tengah melakukan hal sama dengan apa yang Dinda lakukan.

Dinda hanya diam tak membalas perkataan seseorang itu. Ia tahu, itu Rafa. Tepatnya, Rafael sahabat yang sudah ia anggap kakaknya yang tadi mengajaknya berteduh, tapi kini ia malah terperangkap oleh ajakan Dinda. Merasakan dinginnya air hujan bersama. Suasana hening. Hanya suara rintikan air hujan yang jatuh di atap rumah dan tanah.

“Kak Rafa, aku ingin tetap seperti ini. Berama kakak selalu. Aku ingin nanti saat hujan membasahiku lagi kakak berdiri di samping ku, menemaniku di tengah hujan.”ucap Dinda memecah keheningan yang sudah cukup lama terjadi di antar mereka.

“Aku juga. Aku senang memiliki sahabat dan adik yang cantik sepertimu.”ucap Rafael tersenyum memandang Dinda yang masih setia dengan aktivitasnya. “Jika hujan datang dan membasahimu, aku berjanji akan menemanimu. Menikmati hujan yang menenangkan ini.”janji Rafael.

-Flashback off-

“Dinda.”ucap Rafael tiba-tiba setelah sadar dari lamunan masa kecilnya.

Ia segera membalikkan badannya dan berjalan cepat menuju meja kerjanya. Ia segera mengambil kunci mobil yang tergeletak di sebelah laptopnya yang masih menyala. Kemudian, ia berlalu pergi menuju parkiran mobil yang berada di bawah menggunakan tangga darurat karena lampu masih padam.

***

Tubuh Dinda semakin bergetar. Tubuhnya dingin, sangat dingin. Wajahnya semakin pucat dan bibirnya semakin membiru.

‘BRUKK’

“Dinda?”lirih seseorang melihat Dinda yang sudah terkapar jatuh di rerumputan basah.

“Morgan! Morgan!”pekik Asti dan segera berlari menghampiri Dinda.

Morgan yang sedang duduk di ruang tengah segera bangkit mendengar teriakan kekasihnya dari belakang rumah.

“Dinda kenapa?”tanya Morgan.

“Aku juga gak tahu, sepertinya ia hujan-hujanan. Ayo buruan. Bantuin.”

Morgan pun membopong Dinda ke dalam rumah. Sebelum Asti beranjak mengekori Morgan, matanya tak sengaja melihat cake ulang tahun di atas meja. Asti hanya memandan sinis dan segera berjalam masuk dalam rumah.

“As, tubuh Dinda dingin banget. Mukanya juga, pucat banget. Apa perlu kita bawa ke rumah sakit?”tanya Morgan setelah menidurkan Dinda di temapt tidur kamar Dinda.

“Gak usah. Kita ke rumah aku aja. Dia gak akan ada yang ngerawat di sini. Tapi sebelumnya, aku mau gantiin baju Dinda bentar. Ini keringin badan kamu.”ucap Asti sambil memeberikan handuk pada Morgan.

***

“Cukup kan? Mau minum apa? Biar aku buatin.”tanya Asti pada Morgan yang baru saja keluar dari kamar mandi di rumah Asti.

“Cukup kok. Terserah deh kamu mau buatin apa. Apapun yang kamu buat pasti enak kok.”gombal Morgan.

Asti hanya tersipu malu lalu berjalan ke dapur untuk membuatkan minum.

“Aku buatin vanilla latte ya.”ucap Asti sambil menyuguhkan dua cangkirucap Asti sambil menyuguhkan dua cangkir berwarna merah.

“Oya, keadaan Dinda bagaimana?”tanya Morgan.

“Dia belum sadar. Untung aja kita tadi ke rumahnya. Kalau gak, gak tahu deh apa yang bakal terjadi. Tadi aku udah kasih minyak angin terus aku selimutin biar hangat.”jelas Asti.

‘PRANGG’

“Dinda!”pekik Morgan dan langsung belari ke kamar Asti diikuti Asti yang mengekor di belakang Morgan.

“Dinda, kamu kok bisa jatuh di lantai seperti ini sih.”tanya Morgan khawatir.

Dinda hanya menjawab dengan gelengan kepala dan Morgan segera mengangkat Dinda kembali ke tempat tidur.

“Asti, kamu punya sapu sama pengki kan?”tanya Morgan pada Asti yang masih berdiri di ambang pintu kamarnya.

“Eh iya. Sebentar.”jawab Asti kemudian berlalu pergi mengambil apa yang dipesan Morgan.

“Din, sekarang kamu cerita ya, kenapa kamu bisa hujan-hujanan seperti tadi sampai-sampai pingsan.”tanya Morgan hati-hati.

“Kk..ak.”ucap Dinda terbata-bata.

Tak kuasa menahan sakita yang Dinda rasakan,  air mata jatuh dari sudut matanya. Morgan menarik Dinda dalam pelukannya dan menenggelamkan kepala Dinda di dadanya yang bidang.

“Maaf. Maaf. Kalau kamu gak mau cerita sekarang gak papa kok.”ucap Morgan lembut sambil mengusap-usap puncak kepala Dinda.

Asti yang melihat pemandangan tak mengenakkan itu hanya diam dan mulai membersihkan pecahan gelas di lantai kamarnya. Morgan yang sadar akan kehadiran Asti hanya diam. Dia masih sibuk menenangkan Dinda yang menangis di pelukannya.

Dengan cepat, Asti segera menyelesaikan pekerjaannya dan berlalu pergi dari kamarnya. Asti segera membuang serpihan kaca itu di tong sampah depan rumahnya.

***

“Dinda. Maaf.”lirih Rafael di kursi basah di seberang tempat duduk Dinda tadi.

Ia sudah mencari Dinda di setiap sudut rumahnya sejak setengah jam yang lalu. Naun nihil. Ia tak menemukan sosok Dinda. Ia hanya menemukan sebuah cake ulang tahun dengan lilin hanya tinggal separuh yang telah basah terguyur air hujan. Pita kertas berwarna-warni yang telah basah dan warnanya luntur menggelantung tak beraturan di pohon. Lampu-lampu kecil yag berwarna-warni membentuk tulisan ‘Happy Birthday’ di papan yang terpasang di tembok di atas kolam ikan telah basah.

Ia tak ingat sama sekali. Hari ini adalah hari bersejarah baginya. Hari ulang tahunnya. Dan semua yang dilakukan Dinda harus sia-sia begitu saja karena hujan yang telah mereda setengah jam yang lalu dan ketidak hadiran dirinya. Sungguh, Rafael merasa dirinya sangat egois. Dan ia menyesal atas apa yang telah ia lakukan.

***

“Asti, kenapa kamu di sini?”tanya Morgan membuyarkan lamunan Asti.

“Aku buang sampah.”ucap Asti segera menghapus air matanya dan berbalik menghadap Morgan.

Morgan menganggukkan kepalanya dan tersenyum.

“Ayo, masuk!”ajak Morgan.

Asti hanya mengangguk dan meraih lengan Morgan kemudian mereka berjalan beriringan.

“Dulu memang rasaku untuk seseorang sangat besar. Tapi rasa untuknya kini telah hilang. Hilang tanpa bekas sedikitpun. Dan rasa itu tergantikan dengan rasa kepadamu. Entah kapan rasa itu hadir. Perlahan, hati ini terasa sesak olehmu. Sejak kita sering bertemu, ada rasa aneh tapi luar biasa yang menyelimuti hati ini. Tapi, aku bahagia sangat bahagia merasakan rasa yang tiba-tiba datang itu. Bahkan, malam itu saat kau mengungkapkan perasaanmu. Aku serasa sedang melayang jauh ke atas menembus awan gelap dan tiba di langit cerah yang menjanjikan ketenangan dan kebahagiaan. Aroma tubuhmu, dekapan tanganmu, sentuhan hangatmu sungguh membuatku nyaman. Membuatku selalu ingin bersamamu dan selalu di sampingmu. Bahkan saat kau menyakitiku seperti ini pun aku masih merasa nyaman bergelanjut manja di lengan kekarmu itu.”batin Asti.

Setetes air mata pun akhirnya berhasil lolos dan mengalir halus di pipi mulus Asti dan jatuh di lengan Morgan yang sedang di peluk Asti. Morgan yang merasakan ada setetes air di lengannya pun melihat kea rah Asti. Ia menangis.

“Hei, kenapa menangis?”tanya Morgan menghentikan langkahnya dan menatap Asti yang hanya menundukkan kepalanya.

Asti masih bergeming. Jari-jari Morgan yang lembut menyentuh dagu Asti. Dengan lembut, ia mengangkat dagu Asti sehingga kini mata mereka beradu. Mata Asti sembab, karena sedari tadi menangis. Morgan menatap Asti lembut, mencoba memberi ketenangan dari tatapan mata teduhnya itu.

“Apa ada yang menyakitimu?”tanya Morgan pelan.

Asti masih diam sambil menatap mata hitam teduh Morgan.

“Aku tak akan membiarkan orang lain menyakitimu.”ujar Morgan.

“Tapi apa kau juga tak akan membiarkan orang yang menyakitiku adalah kau sendiri?”tanya Asti dalam hati.

“Asti, ku mohon bicaralah.”mohon Morgan.

“Aku cinta kamu Morgan.”ucap Asti.

“Aku juga mencintaimu.”jawab Morgan.

“Aku mohon jangan tinggalkan aku. Aku tak mau mengulang sakit itu lagi.”ujar Asti.

“Apa yang kau bicarakan? Aku berjanji. Kau tak kan pernah merasakan sakit itu lagi. Meskipun sakit itu hanya sebesar butiran debu. Meski aku tak sampingmu, tapi percayalah bahwa aku kan selalu di hatimu.”ucap Morgan terdengar sangat meyakinkan.

Asti langsung membaur memeluk Morgan. Morgan hanya bisa membalas pelukan Asti. Ia yakin ada sesuatu hal yang menyebabkan Asti bicara seperti itu. Apa mungkin ia menyakitinya?

“Aku mohon. Aku ingin selalu seperti ini.”ucap Asti di pelukan Morgan.

Lagi-lagi Morgan hanya mengangguk dan membelai rambut panjang Asti.

***

Rafael masih terduduk lemas. Ia sungguh menyesali perbuatannya. Tapi, ini terlambat. Mata Rafael tertuju pada sebuah kunci yang baru saja jatuh dari genggaman tangannya. Sebuah kunci mobil dengan gantungan kunci berbentuk kelinci yang sedang tersenyum menunjukkan dua gigi depan khasnya. Di dahi kelinci itu terukir kecil ‘RnD’ . Gantungan kunci yang dihadiahkan Dinda di ulang tahunnya yang ke-10. Ia menggenggam gantungan kelinci itu dan segera bergegas menstater mobil sedan hitamnya dan turun ke jalanan.

***

“Asti, ini udah malem banget. Aku pulang ya.”ucap Morgan yang sedang duduk di sofa bersama Asti yang sudah tak menangis.

Kepala Asti yang sedang menyandar di bahu Morgan pun mendongak menatap si empunya bahu.

“Aku mohon, jangan pulang. Satu malam ini saja. Temani aku.”mohon Asti.

“Iya deh, aku tidur di mana?”tanya Morgan.

“Bener?”tanya Asti dengan mata berbinar. “Kamu pakai kamar kosong di sebelah kamarku aja. Kamarnya udah bersih kok. kebetulan kemarin habis dipakai saudara aku.”

“Iya udah. Ayo tidur.”ajak Morgan.

“Di sini dulu yah.”ujar Asti tersenyum manis kemudian memeluk lengan Morgan dan menyandarkan kepalanya di bahu Morgan.

Lama mereka masih di posisi yang sama. Tak ada pembicaraan apapun diantara mereka. Hingga tanpa mereka sadari, Morgan dan Asti tertidur.

***

Rafael masih menyusuri jalan-jalan lengang. Karena memang saat ini jam sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Sebelumnya, ia telah ke rumah Dinda yang berada di seberang rumahnya. Tapi nihil. Ia tak menemukannya. Jingga kini, ia menyusuri jalanan kota Jakarta yang masih terlihat ramai meski tak sepadat saat siang. Merasa sedikit kelelahan, Rafael pun menepikan mobilnya. Ia terduduk memandang lurus ke depan dengan tatapan kosong. Sampai akhirnya kelopak matanya tertutup, ia tertidur.

***

Hari telah pagi. Tapi, sang mentari masih enggan keluar. Ia masih bersembunyi di balik awan hitam yang menutupi kota Jakarta pagi itu. Rafael yang saat itu sedang terlelap di mobilnya un terbangun. Dengan sedikit malas, Rafael melajukan mobilnya ke rumah dan segerma mandi untuk sekedar menyegarkan badan dan pikirannya.

Dinda yang sedari malam sudah berada di kamar masih terbaring dengan mata terpejam di kamar tidur Asti. Mata Dinda memang terpejam, tapi sebenarnya ia telah bangun. Namun, rasanya matanya tak ingin melihat dunia ini. Ia masih terpejam. Setetes air mata pun jatuh di sudut mata Dinda yang tertutup. Lagi, ia menangis. Kenapa di saat tubuhnya sakit seperti ini tak ada sentuhan hangat yang diinginkannya.

Hari telah beranjak siang, kuliah pun telah usai. Nisa yang sedang menunggu jemputan Reza di depan gerbang kampus pun sedikit bosan. Berulang kali, ia melihat ke layar ponselnya. Ia ingin menghubungi Reza tapi sebelum tersambung, seketika itu juga ia memutus hubungan.

Setelah cukup lama menunggu, akhirnya handphone Nisa bergetar. Terpampang nama Reza di layar ponselnya. Dengan semangat ia mengangkatnya.

“Reza, aku udah nungguin kamu. Kamu lama banget sih. Buruan ke sini.”omel Nisa.

“….”

“Apa?”pekik Nisa panik dan segera menaiki taksi yang kebetulan baru saja menurunkan penumpang di depannya.

-To be Continued-

I Want You #13

​***

Dinda mulai menggeliat pelan di dalam selimut tebal yang menyelimuti tubuhnya. Tiba-tiba mata Dinda melebar seperti mengingat sesuatu.

“Selimut? Kamar?”tanya Dinda pada dirinya sendiri. “Kok bisa?”tanya Dinda lagi kemudian menoleh ke samping tempat tidurnya. Tak ada Rafael di sini.

Dinda segera menyibak selimut tebalnya dan segera berlari menuju kamar mandi. Tak ada seorang pun. Dia berlari ke meja makan. Kemudian, dia lari menuju garasi mobil tak ada mobil Rafael.

“Aku yakin. Sangat yakin kak Rafa yang membawa ku ke kamar.”gumam Dinda di depan pintu yang menghubungkan garasi dengan rumah. “Tapi, kemana dia? Ini masih pagi. Benar-benar masih pagi.”ucap Dinda melihat jam dinding kotak di tembok belakangnya masih menunjukkan pukul lima pagi.

Ia berjalan lemas kembali ke kamarnya untuk sekedar mandi dan bersiap ke kampus.

***

Jam telah menunjukkan pukul 10 pagi. Karena hari ini jadwalnya hanya satu mata kuliah, jadi Dinda bisa pulang sebelum jam makan siang hari ini. Ia segera meninggalkan kampus dan mampir ke sebuah restaurant. Niatnya, hari ini Dinda ingin mengantarkan makan siang untuk Rafael. Meski bukan masakan sendiri, tapi ia hanya ingin makan siang bersama dengan Rafael.

Setelah mendapatkan menu makan siang yang cocok, Dinda segera melajukan mobilnya pelan menuju ke kantor Rafael. Sesampainya di sana ia segera memarkirkan mobilnya dan masuk ke lift dan memencet tombol 14 karena ruangan Rafael memang berada di lantai 14. Senyuman terukir jelas di bibirnya.

“Maaf bu, anda mau kemana?”cegat sekretaris Rafael di depan pintu ruangan Rafael.

“Saya mau ketemu pak Rafael. Dia ada kan? Lagian jam makan siang masih beberapa menit lagi.”tanya Dinda.

“Maaf bu, pak Rafaelnya sedang berada di luar kantor. Mungkin ibu ingin titip sesuatu agar  nanti bisa saya sampaikan.”tawar sekretaris itu.

“Di luar kantor? Padahal jelas banget di parkiran tadi adalah mobil kak Rafa. Apa kak Rafa menghindariku?”gumam Dinda dalam hati sambil sesekali menengok ke dalam ruangan berpintu kaca buram di depannya.

“Saya titip ini saja. Tolong berikan ya. Makasih.”ucap Dinda sedikit memaksakan senyumnya dan berlalu pergi dengan rasa kecewa di hatinya.

***

Matahari mulai condong ke barat. Pertanda, hari sudah sore dan sebentar lagi gelap akan datang. Biasanya, jam-jam sekarang ini adalah saatnya Rafael pulang. Menunggu. Lagi-lagi Dinda menunggu Rafael di kursi putih di dekat pintu masuk rumah. Menikmati angin sore yang sejuk ditemani secangkir teh hangat.

“Aku kangen kamu, kak. Please temuin aku.”ucap Dinda kepada angin sore yang berhembus. Berharap angin bisa menyampaikan kerinduannya.

Matahari semakin condong ke barat, namun tak ada tanda-tanda Rafael datang sedikit pun. Perlahan tapi pasti, langit berwarna jingga itu semakin lama semakin gelap. Dinda masih saja setia menunggu, bahkan teh yang dibuatnya pun telah dingin.

Kini langit benar-benar gelap. Angin malam yang dingin berhembus menembus pori-pori kulit Dinda. Dinda yang saat itu hanya mengenakan baju lengan buntung dan celana pendek selutut pun merasa kedinginan. Akhirnya ia memutuskan untuk masuk ke dalam rumah. Dinda segera berjalan menuju dapur. Menyiapkan beberapa hidangan makan malam.

Masakan Dinda telah tertata rapi di meja makan. Lengkap dengan dua piring kosong yang terbalik. Setelah semuanya siap, ia pergi ke ruang tamu. Menunggu Rafael untuk makan malam.

‘Semoga kali ini tak sia-sia begitu saja. Cepat pulang. I Miss You :*’

Begitulah sedikit ungkapan hati Dinda di salah satu jejaring sosial, twitter. Berharap orang yang diharapkannya membaca dan segera pulang.

Rafael yang saat itu sedang lembur pun tiba-tiba merasa bosan. Akhirnya ia memutuskan untuk membuka twitter menghilangkan sedikit kepenatan. Namun, tak sengaja ia membaca tweet Dinda yang mampir di timelinenya.

“Miss you too. But, I’m sorry I can’t”gumam Rafael.

***

Jam telah menunjukkan pukul 10 malam. Lagi-lagi tak ada sedikit pun tanda-tanda kepulangan Rafael. Dinda sedari tadi terus menguap. Kantuk sudah menghampirinya semenjak tadi. Namun, ia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya berharap dapat menghilangkan rasa ngantuk itu. Tapi, nihil semakin malam rasa kantuk itu semakin lama semakin bertambah. Akhirnya dengan mata yang sudah sangat berat. Ia tertidur. Lagi-lagi hari ini ia tak bertemu dengan Rafael.

Tak lama setelah Dinda memejamkan mata, Rafael datang. Dengan mimik muka yang datar, ia mendekati Dinda. Ia mencium kening Dinda cukup lama dan tersenyum tipis.

“Maaf, entah apa yang membuatku belum bisa menerima ini.”lirih Rafael kemudian membopong Dinda ke kamar.

Seperti malam sebelumnya, ia membaringkan Dinda perlahan di atas ranjang dan menyelimutinya. Karena merasa lapar, akhirnya Rafael memutuskan untuk menuju ke dapur berharap ada sesuatu yang bisa dimasak.

Ketika ia melewati ruang makan, ia melihat makanan-makanan yang telah tertata rapi di meja makan. Ia pun mendekati meja makan. Semua makanan telah dingin, hanya nasi putih yang masih hangat  karena disimpan di ‘Magic jar’. Karena merasa sudah sangat lapar, makanan itu pun akhirnya dimakan Rafael juga. Meskipun telah dingin, namun tak merubah sedikit pun rasa masakan itu.

***

Lagi-lagi hari telah pagi. Dan seperti pagi sebelumnya, Rafael sudah berangkat.

“Aku rindu lekukan wajah itu.”lirih Dinda ketika menatap tempat kosong di sebelahnya.

“Sampai kapan aku harus menjalani kehidupan seperti ini? Tuhan, aku ingin bertemu kak Rafa. Aku rindu dengannya, Tuhan. Aku rindu pelukan hangatnya. Aku rindu suara merdunya. Aku rindu aroma tubuhnya. Aku rindu semua yang ada pada dirinya.”keluh Dinda kemudian bangkit dari tidurnya dan beranjak ke dapur.

“Makanlah, aku tahu kau belum makan semenjak kemarin karena menungguku. Jangan menungguku lagi.”ucap Dinda ketika membaca sebuah note kecil yang tertempel di kulkas.

Dinda menarik sudut bibirnya dan tersenyum kecil membaca note kecil itu. Rafael masih perhatian kepada dirinya. Meski begitu, ia terasa berada di tempat yang sangat berjauhan dengan Rafael. Padahal mereka tinggal satu atap. Bahkan, tidur satu ranjang. Namun, Dinda tak pernah sama sekali melihat Rafael sekalipun sejak sore itu.

***

Dua minggu sudah ini berlalu. Setiap hari, Dinda hanya menunggu, menunggu, dan menunggu. Namun, selama itu pula ia tak pernah bertemu Rafael karena ia selalu tertidur dan paginya ia sudah berada di tempat tidur kamarnya di balik selimut hangat.

Esok adalah hari ulang tahun Rafael. Dinda berniat memberikan sedikit kejutan kecil di rumahnya. Ia tak peduli, entah bagaimana tanggapan Rafael nanti. Ia membeli sebuah cake ulang tahun berukuran sedang untuk Rafael.

***

Gelap telah datang menghampiri Dinda yang tengah duduk manis di sebuah meja di tengah taman belakang rumahnya. Ia mengenakan dress terusan selutut berwarna putih dengan lengan buntung. Rambutnya ia gerai begitu saja.

Di tengah meja, terdapat sebuah cake berbentuk persegi dengan irisan-irisan coklat yang menutupi seluruh bagian cake.

‘Happy Birthday 26th

Rafael Landry Tanubrata

Best wishes for you’

Begitulah tulisan dengan krim berwarna putih yang tertulis jelas di atas cake yang tak terlalu besar itu. Diatas tulisan tersebut ditancapkan dua buah lilin angka ‘2’ dan ‘6’ berwarna merah dengan pinggiran putih.

Malam makin larut. Sepertinya langit juga mulai bersuara dengan mengeluarkan decakan-decakan kecil. Tak ada sinar bulan atau pun bintang yang menemani Dinda malam ini. Hanya ada kilatan-kilatan cahaya putih di langit yang disusul dengan decakan-decakan yang semakin besar.

Dinda hanya bisa menatap sendu lilin di depannya yang seperempatnya telah meleleh sambil mnegusap-usap lengannya sendiri. Dengan kondisi seperti ini dia masih bertahan. Bertahan menunggu seseorang yang mungkin akan mengabaikannya begitu saja. Meski ia tahu itu, tekadnya bulat. Ia tak akan menyerah, ia akan tetap menunggu, menunggu, dan menunggu. Dinda melakukan ini atas dasar.. CINTA. Ia hanya ingin Rafael tahu bahwa seluruh hati, seluruh nafas, seluruh jiwa, dan seluruh hidup ini hanya untuknya. Walaupun Rafael mengacuhkannya, tak pernah sedikit pun cinta itu hilang. Ia masih sangat mencintai menyayanginya. Sungguh.

Malam semakin tak bersahabat. Angin malam yang dingin semakin menusuk tulang. Suar gempuran di langit semakin kentara. Api lilin kecil itu sedikit bergoyang terkena angin malam dan semakin meliuk tatkala terkena rintikan air dari langit. Air-air itu kini semakin besar dan semakin cepat jatuh dari langit, membuat api lilin indah itu padam seketika menyisakan setengah dari batang lilin itu.

Tak dapat dihindari, tubuh Dinda telah basah. Ia masih bertahan di tengah dingin dan derasnya hujan. Tak dapat dipungkiri, dengan alasan cinta Dinda masih bertahan. Bertahan demi cinta yang mungkin bisa membunuhnya sekarang.

***

Rafael masih sibuk berkutat di depan laptopnya. Tangannya masih menari di atas keyboard putih itu. Ia memang sengaja lembur hari ini membiarkan pikirannya hanya dipenuhi dengan pekerjaan kantornya.  Tepat setelah ia menekan tombol save, ia sedikit merenggangkan otot-ototnya yang tegang.

Tiba-tiba saja lampu padam. Semua gelap, hanya ada cahaya dari laptop putihnya yang masih menyala. Ia bergerak mendekati jendela yang tertutup itu.

-to be continued-