I Want You part V-VI

And this are part V and part VI. I thought that there no body will read the next of this story. Tapi ternyata masih ada yang mau baca. So, just enjoy this story and sorry for the typo or maybe anything else that make this post not satisfy you because it’s just repost.

AN : If u are a new reader, u can find the previous part on library. Thank you🙂

PART V

Dia menarik tubuhnya kembali. Kemudian mengambil note dan bolpenku kemudian memberikan tanda tangannya. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, dia pergi meninggalkan ku begitu saja.
‘Huhh..’
Aku lega, akhirnya Tuhan menarik setan itu dari tubuhnya. Ku hirup oksigen sebanyak-banyaknya dan mengeluarkannya perlahan.
“Apa yang terjadi dengannya? Aku hampir mati karena takut. Apa maksud perbuatannya tadi? Aku benar-benar tak mengerti.”ucapku.
Segera ku tinggalkan tempat mengerikan itu. Sepanjang perjalanan kembali menuju camp, aku masih bingung dengan sikap kak Morgan barusan. Sungguh aneh, apa itu efek karena aku masih mendiamkannya? Tapi,
***
Akhirnya, OSPEK telah berakhir. Setelah kejadian itu aku tak pernah melihat batang hidung kak Morgan. Bahkan, saat upacara penutupan pun dia tak hadir. Sebenarnya aku merasa sedikit khawatir dengannya. Tapi, sepertinya tak ada gunanya aku mengkhawatirkannya.
“Kak Rafa?”ucapku melihat kak Rafa yang berdiri memunggungiku di depan pintu rumahku.
Segera ku berlari dan langsung saja kupeluk tubuhnya dari belakang. Namun, kak Rafa malah melepaskan tanganku yang melingkar di perutnya. Dia pun membalikkan badannya. Ku tatap wajahnya. Ada yang aneh dengan raut wajahnya. Raut wajah yang sangat tak ingin ku tatap.
“Apa Din kurangnya kakak?”tanya kak Rafa emosi.
Aku bingung harus berkata apa. Sungguh aku tak mengerti dengan maksud ucapan kak Rafa.
“Jawab Din. Jawab! Sebenarnya apa sih mau kamu? HAH!”bentak kak Rafa
“A..a..apa maksud kakak? Aku gak ngerti.”ucapku terbata-bata. Aku takut.
“Benar-benar bodoh!”umpat kak Rafa dan berlalu pergi.
Aku bingung. Ada apa dengan kak Rafa selama ini tak pernah sekalipun ia membentakku.
‘drrt.. drrt..’
Handphone ku berbunyi.
“Iya. Halo.”
“Apa?”
“Baik saya akan segera ke sana.”
***
“Bagaimana dok, keadaan pacar saya?”tanyaku pada Dokter yang menangani kak Rafa.
“Pacar anda baik-baik saja. Hanya saja kepalanya terluka. Dan sekarang ini dia belum sadar.”jawab dokter sopan.
“Saya boleh masuk dok?”
“Boleh silahkan. Tapi jangan ganggu pasien.”
“Baik dok.”jawabku dan segera memasuki ruang rawat kak Rafa.
Terlihat kak Rafa yang terbujur lemah di atas ranjang rumah sakit. Di tangan kanannya tertancap selang infuse. Sedangkan, kepalanya diperban.
“Kakak. Maafin Dinda. Meski Dinda gak tahu apa salah Dinda. Tapi, maafin Dinda kak. Dinda memang bodoh. Maaf kak maaf. Kakak harus kuat. Kakak harus bangun. Aku gak mau kakak seperti ini. Kakak harus bangun.”ucapku dengan air mata yang telah menetes sambil menggenggam tangan kak Rafa erat.
Karena merasa lelah, aku pun tertidur dengan posisi duduk di samping ranjang kak Rafa dengan tanganku yang masih menggenggam erat tangannya.
***
Aku merasa tangan kak Rafa bergerak di genggaman tanganku. Aku pun terbangun dari tidurku. Ku lihat kak Rafa yang sedang membuka matanya perlahan.
“Kakak. Akhirnya kakak sadar juga.”ucapku sumringah tanpa melepaskan genggaman tanganku.
Kak Rafa hanya diam. Dia memandang ku sinis. Aku tetap berusaha tersenyum. Dan dengan sekali hentakan, ia pun melepaskan genggaman tanganku. Mataku membulat tak percaya. Namun, aku tak akan mempertanyakan ini.
“Ini kak minum dulu.”ucapku menyodorkan sedotan yang telah terhubung dengan sebotol kecil air mineral yang saat ini ku pegang.
Namun, kak Rafa tetap memalingkan wajahnya dari wajahku tanpa menyambut perhatian yang ku berikan. Aku masih berusaha tersenyum menanggapi sikap kak Rafa yang menjadi cuek dan dingin seperti ini.
“Raf, kamu gak papa kan? Aku khawatir banget setelah denger kamu kecelakaan.”ucap seorang perempuan yang ku kenal dari arah pintu ruang rawat kak Rafa dan berlari menghampiri kak Rafa.
“Aku gak papa kok As. Cuman sedikit luka di kepala.”ucap kak Rafa lembut pada perempuan itu yang ternyata Asti.
“Kalau sama orang lain, kak Rafa lembut banget. Sebenarnya ada apa sih ini? Sabar Dinda, sabar. Jangan egois. Mungkin, itu hanya sebuah ungkapan terima kasih karena Asti, temannya udah mau ngejenguk.”ucapku dalam hati berusaha positive thinking.
“Kamu udah makan?”tanya Asti pada kak Rafa. Kak Rafa hanya menggeleng lemah.
“Gimana sih, emang dari tadi siapa sih yang jagain kamu. Gak pengertian banget.”sindir Asti.
“Oya, aku bawain kamu bubur ayam kesukaan kita lho. Dimakan yuk. Aku suapin ya.”ujar Asti lalu mengeluarkan makanan dari kantong plastik yang sedang dibawanya.
Asti pun menyuapkan bubur ayam pada kak Rafa. Kak Rafa tak menolaknya sama sekali. Bahkan sepertinya dia sangat menikmatinya. Bahkan sesekali mereka tertawa senang ketika bercerita tentang masa-masa kuliah mereka di Paris. Asti memang teman kuliah kak Rafa di Paris dulu.
‘Uhuk.. uhuk..’
Kak Rafa tersedak, segera ku buka tutup botol air mineral yang memang sedari tadi masih ku pegang erat. Namun, ketika aku ingin memberikannya kepada kak Rafa, Asti segera merebutnya dan meminumkannya pada kak Rafa. Dan setelah selesai, ia meletakkannya di meja samping ranjang kak Rafa.
“Hemm.”aku berdehem bermaksud menarik perhatian kak Rafa dan Asti namun sia-sia. Mereka hanya diam sekejap. Kemudian melanjutkan mengobrol lagi.
“Hemm. Kak Rafa, Asti aku permisi dulu. Mau ke ruangan dokter dan mengurus administrasi.”ucapku lagi-lagi tanpa respon dari mereka berdua. Aku hanya diam dan berlalu pergi meninggalkan ruangan kak Rafa.
***
Semua administrasi rumah sakit telah aku selesaikan. Menurut dokter, kak Rafa boleh pulang sore ini juga. Tetapi, untuk beberapa hari ke depan kak Rafa tak boleh beraktivitas rutin seperti biasanya. Dia harus banyak istirahat. Mendengar hal itu, aku sangat senang. Segera ku berlari menuju ke ruang rawat kak Rafa dan memberi tahu kabar baik ini.
Setelah sampai di depan ruang rawat kak Rafa, aku sedikit ragu untuk masuk ke dalam. Ketika aku akan melangkah menuju kursi tunggu, tak sengaja aku mendengar perbincangan kak Rafa dengan Asti.
“Aku juga cinta kamu, Asti.”ucap kak Rafa
Ku tepuk-tepuk pelan kedua pipiku. Apa ini? Aku tak percaya. Tanpa ada yang mencegah, butiran – butiran bening mengalir mulus dari kedua pelupuk mataku. Namun, segera ku hapus cepat air mata itu. Aku yakin, ini hanya salah dengar. Telingaku pasti bermasalah, dan sepertinya aku harus segera pergi ke dokter THT.
“Dinda. Kenapa berdiri disitu? Kenapa gak masuk ke dalam.”ucap tante Nia, mama kak Rafa membuyarkan lamunanku.
“Eh tante. Ini juga mau masuk kok tan, tadi habis dari kantin beli teh hangat sebentar. Lagian di dalam juga masih ada teman kak Rafa kok tan.”ucapku sedikit berbohong.
“Oh begitu, ya udah masuk yuk sama tante.”
Aku hanya mengangguk dan membuntuti tante Nia.
“Rafa, kamu gak papa kan sayang? Mama khawatir banget denger kamu kecelakaan dari Dinda.”ucap tante Nia khawatir.
“Rafa gak papa kok ma. Lagian dari tadi juga ada Asti kok yang nemenin Rafa. Oya, ma kenalin ini Asti ma teman Rafa waktu kuliah di Paris. Asti kenalin ini mama aku.”
“Asti tante.”ucap Asti memperkenalkan diri.
“Saya Nia mamanya Rafael. Makasih ya udah mau nemenin Rafa. Jadi ngerepotin kamu.”
“Sama-sama tan. Gak ngerepotin aku kok, malahan aku seneng bisa nemenin Rafa.”
***
Kak Rafa telah pulang kembali ke rumahnya. Kini aku sedang duduk di sofa kamar kak Rafa. Memandangi wajah tampan kak Rafa yang kini sedang tertidur pulas. Hanya ini yang bisa ku lakukan. Sampai detik ini kak Rafa benar-benar sangat dingin padaku. Dan sampai detik ini juga aku tak mengetahui pasti apa yang sebenarnya membuat kak Rafa seperti ini.
Hari-hari berlalu begitu saja. Sudah satu minggu terlewati, sifat dingin kak Rafa masih melekat kuat. Memang setiap hari dia mengantar jemputku, tapi apa gunanya jika itu hanya sebuah rutinitas. Tak ada satu patah kata pun terucap dari mulut Kak Rafa. Aku sungguh bosan dan sangat bosan dengan keadaan ini.
“Kak. Maaf. Aku benar-benar minta maaf. Jujur aku bingung dengan sifat kakak. Sebenarnya apa salah aku kak? Aku benar-benar bosan dengan sifat kakak yang setiap hari selalu mengacuhkanku.”ucapku pada kak Rafa ketika kami sedang berada di dalam mobil.
Tetap saja, kak Rafa diam. Ia tak bergeming sedikitpun. Sangat sering aku mengucapkan kalimat itu. Dan tak ada reaksi lain selain diam. Aku benar-benar tak kuat menghadapi semua ini.
***
Aku berjalan sendiri di pinggir jalanan sepi ini. Sepulang kuliah, aku tak menunggu jemputan kak Rafa. Aku berlalu dari kampus begitu saja. Aku berjalan tanpa arah dan tujuan. Aku benar-benar putus asa menghadapi sifat kak Rafa.
“Kakak, maaf.”gumamku
Malam telah tiba, aku masih bergumam dan terus berjalan membiarkan kemana langkah kaki ini menuntunku. Butiran-butiran kecil pun turun dari langit yang gelap. Semakin lama butiran-butiran kecil itu semakin besar. Kilat telah menyambar kemana-mana. Namun, itu masih tak menghentikan langkah kakiku untuk berhenti.
Entah sudah berapa jauh aku berjalan. Tiba-tiba bayangan manis tentang aku dan kak Rafa terlintas di pikiranku. Aku tersenyum lemah mengingat semua itu. Dan semuanya menjadi gelap.
***

PART VI

Ku buka mataku perlahan, hanya warna putih yang ku lihat. Bau obat-obatan menyeruak masuk ke hidungku. Tak salah ini pasti rumah sakit. Pasti hal bodoh kemarin yang mengantarku ke sini. Ku lihat mamaku yang sedang tertidur pulas di sofa panjang tak jauh dari tempat tidurku. Dia terlihat sangat lelah. Ku edarkan pandanganku ke seluruh ruangan.
“Kemana kak Rafa? Apa dia memang benar-benar tak peduli denganku?”gumamku kecil.
Ku dudukkan badanku di pinggir tempat tidur tinggi ini. Ku cabut paksa selang infuse yang menancap di tanganku sehingga keluar cairan merah segar yang mengalir. Tanpa memperdulikan itu, ku berjalan meninggalkan ruanganku dengan bertelanjang kaki. Sepertinya ini sudah sangat malam. Koridor rumah sakit pun sangatlah sepi.
Aku berjalan pelan menuju taman di sebelah rumah sakit. Hanya sinar rembulan yang menemaniku malam itu. Aku bersimpuh lemas di rerumputan taman.
“Kakak, maafin Dinda kak. Aku butuh kakak. Aku benar-benar butuh kakak. Apa sebegitu besarnya salahku pada kakak sehingga kakak sangat membenciku? Bahkan kakak juga mengucapkan kata cinta pada orang lain.”gumamku di bawah sinar rembulan.
“Aku rindu kakak. Aku rindu kakak yang dulu. Aku tak pernah mengharapkan kak Rafa yang seperti sekarang. Aku membutuhkan kak Rafa yang dulu.”lagi-lagi aku menangis.
“Sungguh, aku seperti manusia terbodoh di dunia ini. Aku adalah penyebab dari masalah ini. Tapi apa? Aku tak tahu apapun tentang masalah ini.”
“Tuhan, mengapa sampai saat ini aku masih berada di dunia ini? Aku telah kehilangan separuh hidupku Tuhan. Aku telah kehilangannya. Untuk apa aku Kau pertahankan di sini jika hanya untuk menjalani hidup yang tak kan sanggup ku jalani.”
“Aku lelah, Tuhan. Aku lelah.”
Author’s POV
Sedari tadi Rafael memandang dari jauh Dinda yang duduk bersimpuh di taman. Ingin rasanya ia menghampiri belahan jiwanya kemudian mendekapnya. Hatinya sungguh sakit melihat Dinda yang menangis seperti itu. Namun, keegoisan telah mengalahkan semuanya. Ia merasa ini adalah akibat dari perbuatan Dinda sendiri.
-Flashback on-
Siang itu, Rafael sedang sibuk mengurusi urusan kantornya. Ia sangat fokus pada layar laptop di depannya dan sesekali membolak-balik berkas yang terangkum pada sebuah map merah. Namun, pikirannya buyar ketika melihat Asti yang kini telah berdiri di depannya dengan dress hitam selutut.
“Hi, Rafael. Apa kabar?”tanya Asti basa-basi.
“Kok loe tahu kantor gue sih.”
“Iya dong, apa sih yang aku gak tahu. Emm..aku gak disuruh duduk nih.”
“Oya, silahkan duduk.”ujar Rafael mempersilahkan Asti duduk di kursi depan mejanya. “Ada apa ya? tumben ke sini?”
“Raf, maaf kayaknya kamu salah banget deh kalau milih si Dinda.”
“Maksud loe?”tanya Rafael tak mengerti.
“Dinda selingkuh. Baru mau nikah aja udah selingkuh, apalagi nanti kalau udah nikah.”
“Gak usah fitnah deh loe. Kalau niat loe ke sini cuman buat ngomongin itu doang mendingan loe pulang aja. Gue sibuk.”ucap Rafael berusaha positive thinking.
“Aku punya buktinya kok.”ucap Asti kemudian mengeluarkan satu lembar foto dari tas tangan hitamnya dan menunjukkannya ke Rafael.
Sontak mata Rafael melotot melihat foto itu. Foto dua orang, seorang perempuan dan seorang laki-laki yang sedang berciuman di bawah pohon yang cukup besar di tengah kebun teh. Foto itu diambil dari belakang si laki-laki sehingga sangatlah jelas siapa perempuan di foto itu. Dan perempuan itu adalah Dinda, yang tak lain tunangan dan calon istrinya.
“As, loe yakin ini bukan rekayasa?”tanya Rafael tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
“Beneran kok. Gak guna jugaaku bohong sama kamu.”ucap Asti dengan nada yang sangat meyakinkan.
“Gak mungkin si Dinda ngelakuin ini. Ini pasti ulah loe.”ucap Rafael berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa apa yang baru saja dilihatnya hanya rekayasa semata.
“Kamu gak percaya banget sih Raf, lihat deh lihat dengan seksama foto ini. Apa ini rekayasa? Enggak Raf, ini Real.”ucap Asti berusaha meyakinkan Rafael bahwa yang dilihat Rafael adalah benar.
Rafael masih memandang foto itu seksama. Foto ini memang terlihat sangat nyata. Hati Rafael telah panas. Dengan pikiran yang telah dikuasai emosi, ia meremas foto itu lalu dibuangnya ke sembarang tempat. Tersirat kemarahan yang luar biasa di mata Rafael. Dengan emosi yang sedikit menggebu, Rafael pergi meninggalkan ruangannya dan Asti yang masih duduk manis dengan senyum kemenangan.
“Aku akan mendapatkan hatimu lagi Raf.”ucap Asti dengan senyum  yang meyakinkan.
-Flashback Off-
Rafael masih memandang Dinda yang masih menangis dengan air mata yang semakin deras. Namun, ia segera berlari ketika melihat Dinda yang tiba-tiba ambruk dari duduknya. Ia sempat kaget melihat darah di pergelangan tangan kiri Dinda. Sedang di tangan kanan Dinda sedang memegang sebuah serpihan kaca yang entah darimana ia dapatkan itu. Segera ia menggendong Dinda untuk dibawa ke ruang UGD.
“Kak Rafa?”ujar Dinda sangat lirih kemudian pingsan.
Tanpa terasa air mata Rafael menetes. Rasa bersalah sempat terbesit di pikirannya. Ia terus berlari menyusuri koridor rumah sakit. Berusaha berlari secepat mungkin menuju UGD. Sedang, pergelangan tangan Dinda yang digores tadi semakin mengeluarkan banyak darah hingga menetes ke lantai Rumah sakit.
Sesampainya di ruang UGD, Dinda segera ditangani oleh dokter yang memang sedang berjaga. Rafael pun menunggu Dinda di kursi tunggu. Ia hanya bisa menunduk. Tak ada lagi kemarahan dan kekecewaan. Hanya ada perasaan khawatir, gelisah, rasa bersalah, dan menyesal semua menjadi satu. Ia merasa khawatir dengan keadaan Dinda saat ini bagaimanapun ia merasa ini adalah ulahnya. Ia tak mengira bahwa perbuatannya akhir-akhir ini membuat Dinda sangat frustasi sehingga melakukan hal bodoh.
“Maaf Dinda maafkan kakak. Kakak terlalu terbawa emosi.”ucap Rafa menyesal.
Pintu ruang UGD tempat Dinda diperiksa pun terbuka, keluarlah seorang setengah baya dengan jas putih yang melekat di tubuhnya.
“Keluarga pasien.”ucap dokter sedikit keras dan membuat Rafael mendongakkan kepalanya.
“Saya dok. Bagaimana keadaan tunangan saya dok.”
“Ia masih tak sadarkan diri. Ia cukup kehilangan banyak darah karena lukanya cukup dalam. Dan dia membutuhkan darah golongan AB. Sayangnya, stok di rumah sakit ini dan PMI sedang habis mengingat golongan darah itu memang sangat sulit dibutuhkan. Dan tolong anda segera mencari bantuan secepat mungkin. Bila satu jam anda belum mendapatkan darah, maka pasien tidak dapat diselamatkan.”jelas dokter panjang lebar.
“Satu jam?”
“Ya. Jangan sampai terlambat. Saya permisi dulu.”ujar dokter itu lalu berlalu pergi.
Rafael masih terduduk lemas di kursi ruang tunggu hingga ada mama Dinda, Reza, dan Nisa yang menghampiri Rafael. Raut wajah khawatir Nampak jelas di wajah mereka.
“Nak Rafa, bagaimana keadaan Dinda.”tanya mama Dinda.
“Dinda masih belum sadar tante. Sekarang dia butuh darah dan stok di rumah sakit habis dan jika satu jam tak mendapatkan, maka jiwanya akan terancam. Sedangkan darah Rafa gak cocok tan.”jelas Rafael.
“Loe udah coba tanya ke PMI?”tanya Reza.
“PMI juga kehabisan darah Za.”jawab Rafael pelan.
“Raf, kamu gak kenapa-kenapa kan?”tanya seorang perempuan yang baru datang.
“Gue gak kenapa-kenapa kok. Dinda lagi butuh darah, As.”ucap Rafael kepada perempuan itu yang ternyata Asti.
“Bisa kamu ikut aku bentar?”
Rafael hanya mengangguk dan mengikuti Asti agak menjauh dari mama Dinda, Reza, dan Nisa.
“Golongan darah aku  AB.”ucap Asti serius.
“Beneran As? Loe mau bantu gue kan?”
“Ok. Aku mau. Tapi, ada syaratnya.”
“Apa? Apapun itu gue bakal penuhin kok.”ucap Rafael bersemangat.
“Bener? Apapun itu? Tenang, hanya ada dua syarat kok.”
Rafael mengangguk yakin.
“Pertama, kamu harus ngomong aku-kamu ke aku dan gak ada loe-gue lagi.”
“Ok. Kalau begitu ayo buruan ikut gue, eh maksudnya aku ke ruangan dokter.”ucap Rafael dan menarik pergelangan tangan Asti.
“Sabar dong Raf. Itu kan baru yang pertama.”tahan Asti sehingga membuat Rafael membalikkan badannya lagi dan menatap mata Asti agar segera mengucapkan syarat berikutnya.
“Yang terkhir, aku pingin kita kembali seperti dulu saat di Paris.”
“Maksud kamu? Kita pacaran lagi?”
“BINGO.”ucap Asti tersenyum.
“Sorry aku gak bisa.”
“Fine. Tapi, aku takkan memberikan darah aku.”ucap Asti mengancam.
“Tapi, bukannya kamu bilang kalau gak akan maksa aku lagi.”
“Iya sih, tapi mulai detik ini kata-kata itu tak berlaku lagi.”
-Flashback On-
Saat itu Rafael sedang sakit dan sedang marah dengan Dinda. Sehingga dia mau menerima tawaran Asti agar mau menyuapinya.
“Raf, aku pingin kita balik lagi kayak dulu.”ucap Asti ketika Dinda telah pergi meninggalkan ruangan Rafael karena merasa dicuekin.
“Sorry. Tapi, loe tahu sendiri kan gue udah punya Dinda.”tolak Rafael.
“Tapi, kamu juga tahu kan kalo Dinda udah main-main di belakang loe.”
“Iya, tapi Gue cinta dia Asti.
“Ok. Aku ngerti kok. Tapi, apa boleh aku minta sesuatu dari kamu?”
“Hmm.”
“Cuman satu kok. Aku janji setelah ini gak bakalan ganggu kehidupan kamu dengan Dinda.”
“Baik, apa itu?”
“Ucapkan kata cinta itu lagi Raf please.”
“Ok. Just once, no more.”
“Aku Cinta kamu, Rafael.”
“Aku juga cinta kamu, Asti.”ucap Rafael dan pada saat itu Dinda mendengarnya.
-Flashback Off-
“Bagaimana Rafael? Hanya ada dua pilihan. Pilih aku atau nyawa Dinda melayang.”
Rafael melihat ke jam tangan silver yang melekat di tangannya. 15 menit lagi nyawa Dinda akan melayang jika ia belum mendapatkan darah. Dia ingin Dinda tetap hidup. Tapi, jika dia menerima tawaran Asti otomatis dia sama saja mengkhianati Dinda.
“Tuhan, apa yang harus aku lakukan?”

1 Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s