My Beloved – Fan Fiction

Annyeong readers. Lagi-lagi aku ngeluarin ff gaje. kayanya ini ff ancur banget >.<  Hope you all like it and so sorry for typo. Happy reading ^^

 

Author            : ayunastiti14

Title     : My Beloved

Rating             : PG-15

Genre : Angst, Romance

Cast     : Cho Kyuhyun

 Kang Soo Kyo (OC)

===========================================================================

Kang Soo Kyo POV

“Pernikahan akan dilangsungkan minggu depan.”putus Harabachi.

Minggu depan? Rasanya seperti mimpi. Ah, terima kasih Tuhan.

Ku pandangi namja tampan dihadapanku. Salah satu member boyband ternama di Korea. Ani, maksudku di Dunia. Super Junior. Yap! Dia adalah Cho Kyuhyun. Sang maknae Super Junior. Aissh, aku mencintainya. Sungguh mencintainya. Bahkan jauh sebelum dia menjadi salah satu member Super Junior.

Dia tersenyum. Senyum keterpaksaan. Matanya memancarkan ketidaksetujuan. Aku sedikit tak nyaman menatap senyumannya. Tapi, aku mencintainya. Aku tak ingin menolak perjodohan ini. Biarlah dia tak mencintaiku. Yang terpenting, sebentar lagi ia akan menjadi milikku. Menjadi pendamping hidupku. Aku memang egois. Bukankah cinta memang egois?

***

Aku berjalan anggun di atas karpet merah yang tergelar panjang menuju altar. Semua keluargaku dan Cho Kyuhyun telah berkumpul. Termasuk para member Super Junior. Ku cengkeram kuat tangan Appa. Semua tamu undangan yang tak seberapa jumlahnya itu menatapku. Aku sungguh gugup sekaligus bahagia menghadapi situasi seperti ini. Di acara ini tak ada satu pun wartawan yang mengetahuinya. Karena kami tidak mau terlalu banyak orang yang mengetahui pernikahan ini. Biarlah para Keluarga saja yang tahu akan hal ini.

Namun, sepertinya hal sama tidak sedang terjadi dengan pria gagah yang tengah berdiri di altar dengan tuxedo hitamnya. Ia tak menampakkan senyumnya sedikitpun. Tak ada sedikitpun guratan bahagia dalam ekspresi wajahnya. Hanya ekspresi yang sulit diutarakan yang terpancar dari wajahnya. Maafkan aku Cho Kyuhyun-ssi aku tak bisa membatalkan pernikahan ini. Aku terlalu mencintaimu.

Langkah ku semakin mendekat dengan pria tampan idamanku. Appa melepaskan cengkeraman tanganku di tangannya dan memberikannya kepada lelakiku. Cho Kyuhyun.

 

Kyuhyun POV

Mengapa ekspresi wajah yeoja ini sangat bahagia. Apa sebegitu mencintai diriku kah yeoja ini? Aku sudah tahu sejak lama bahwa yeoja ini mencintaiku. Hingga aku mengira bahwa perjodohan ini awalnya adalah permintaan darinya. Tetapi, ternyata perjodohan ini adalah sebuah perjanjian sepasang sahabat sejak lama. Bahkan sebelum kami berdua lahir. Ya, kakek kami berdualah dalang dari semua ini.

Sebenarnya dia sungguh cantik. Mata bulatnya, hidung mancungnya, dan juga bibir merahnya yang tipis. Ia sungguh sempurna. Tapi, hatiku telah bersama orang lain. Aku tak mencintainya. Bahkan tidak sama sekali. Aku terlanjur jatuh di jeratan hati wanitaku.

Kini tangan Soo Kyo sedang kugenggam. Sepertinya ia sangat gugup. Bahkan sarung tangan berenda yang membungkus tangannya pun basah karena keringat dingin. Aku bisa merasakan bahwa ia sangat menginginkan pernikahan ini. Maafkan aku Soo Kyo-ya aku menerimamu dalam pernikahan ini semata-mata hanyalah sebuah keterpaksaan saja. Maafkan aku jika aku tak bisa membalas ketulusan cintamu.

“Apakah kalian siap?”tanya seorang pendeta yang mengagetkanku.

“Ah ne.”jawabku seadanya.

***

Acara telah usai. Setelah melalui rangkaian acara yang sangat panjang ditambah lagi acara resepsi yang juga sangat melelahkan, kini aku sedang berada di kamar pengantin. Kamar pengantin? Ya, kamar pengantin. Bukankah sepasang suami istri harus berada di kamar pengantin setelah kini mereka telah sah? Tapi, apakah ini sebuah keharusan. Andwe! Aku tidak mau tidur seranjang dengannya. Aku tak mencintainya.

“Soo Kyo-ya.”

“Ne oppa.”

“Aku ingin kau menandatangani ini.”

“Mwo? Apa itu?”

Ku serahkan selembar kertas putih. Terlihat ekspresi sangat terkejut ketika ia membaca apa isi kertas itu. Ekspresi wajah yang sudah aku duga sebelumnya. Dan sepertinya aku tahu rencana ini tak berhasil.

Soo Kyo POV

Kyuhyun oppa memberiku selembar kertas putih. Isi kertas putih itu sungguh menyakitkanku. Sebegiu tak sukakah dirinya kepadaku? Baru beberapa jam yang lalu kita mengucapkan janji di depan Tuhan dan semua para hadirin. Well, mungkin itu hanyalah janjiku sendiri. Dan aku akan menepatinya, jika ia bahagia. Mengapa tidak? Bukankah cinta itu butuh pengorbanan?

Dadaku semakin sesak saja. Dadaku seakan dihantam oleh ribuan ton beton. Ini sungguh menyakitkan. Namun, ini adalah kenyataan. Kenyataan bahwa ia memang tak mencintaiku. Tak akan pernah ada namaku dihatinya. Air mataku mulai mendesak keluar. Namun, aku bukanlah yeoja lemah. Aku tak akan menangis di depannya. Ya, aku adalah yeoja kuat. Tak akan ada air mata yang jatuh.

“Jadi, harus dimanakah aku menandatanganinya?”tanyaku berusaha tegar.

“Di sini.”tunjuknya tenang di sebuah ruang kosong dengan nama terangku di bawahnya.

Tanganku gemetar. Ini akan membuatnya bahagia. Hanya itu keyakinanku dalam hati untuk saat ini. Aku akan tersenyum bahagia jika ini semua yang terbaik baginya. Aku sudah terlalu egois dengan menerima perjodohan dan pernikahan ini.

Yay! Aku berhasil. Aku berhasil membubuhkan tanda tangan penuh perjuangan ini. Sedikit simpul senyum terbentuk di bibir merahnya. Senyuman yang kusuka. Meski bukan milikku.

“Kyuhyun-ssi aku masih boleh memanggilmu ‘oppa’ kan?”

“Lagipula aku memang lebih tua darimu. Sudah seharusnya kau memanggilku seperti itu.”

“Ne, Kansahamnida.”

“Baik, sepertinya kau saja yang berada di kamar ini. Aku akan tidur di kamar sebelah.”

Dan dia pun pergi. Ku tatap punggungnya hingga hilang tertelan daun pintu yang ia tutup. Aku memandang nanar daun pintu putih itu. Bukankah seharusnya malam ini kita tidur bersama? Soo Kyo pabo! Pikiran konyol macam apa itu?

Tiba-tiba saja air mata yang telah ku tahan sedari tadi menetes. Aku masih tak mengalihkan pandanganku dari daun pintu itu. Berharap Kyuhyun oppa akan kembali dan menemaniku tidur malam ini.

***

Matahari pagi menerobos masuk. Memaksa mataku untuk terbuka. Dengan malas, ku buka mataku. Ku alihkan pandanganku ke sampingku. Tak ada siapapun. Hanya ada ruang kosong. Aku benar-benar tidur sendiri semalam. Itu nyata. Bukanlah sebuah mimpi ataupun halusinasi.

Aku mulai membersihkan badanku. Setelah cukup rapi dengan pakaian rumah seadanya, aku pun menuju ke dapur. Memasak untuk suami tercinta yang tak mencintaiku. Hah, terdengar sangat aneh. Tapi memang itu kenyataannya.

Semua telah siap. Berbagai hidangan telah tertata apik di atas meja makan. Ku lepas celemek yang melekat di tubuhku. Ku langkahkan kaki mungilku menuju ke kamar Kyuhyun oppa. Tanganku telah bersiap untuk mengetuk pintu.

‘ceklek’

Belum sempat aku mengetuk, pintu telah terbuka. Terpampang jelas wajah seorang namja rupawan.

“Eh, mau apa kau?”tanyanya dingin.

“Ehm.. ani.. aku.. aku hanya ingin membangunkan oppa untuk sarapan.”jawabku sedikit terputus-putus.

Dia hanya mengangguk pertanda mengerti dan berlalu begitu saja menuju meja makan.

“Setelah ini aku mau pergi. Dan mungkin aku baru akan pulang sebelum gelap. Kau tak apa kan sendirian?”

Aiggo, ternyata dia memikirkan diriku juga.

“Ne oppa.”jawabku dengan senyum termanis yang ku punya.

Aku merasa sangat senang. Padahal dia hanya menanyakan ‘kau tak apa kan sendirian?’

***

Jam telah menunjukkan pukul 11 malam. Dan Kyuhyun oppa belum juga kembali. Bahkan makan malam yang telah ku siapkan mungkin sudah dingin. Bukankah dia bilang akan pulang sebelum gelap? Nyatanya, sekarang sudah bukan lagi gelap, tetapi ini sudah hampir tengah malam.

Kyuhyun POV

Ah, bahagianya hari ini. Akhirnya setelah kemarin merasakan hari yang sangat tidak aku inginkan dalam hidup ini, aku bisa pergi jalan-jalan bersama yeojachinguku. Park Hyera. Ia memang sudah mengetahui tentang pernikahanku. Namun, itu bukanlah sebuah masalah. Bukankah 3 bulan lagi aku akan bercerai dengan Soo Kyo dan menikahi Hyera.

“Gomawo oppa.”ujarnya sumringah ketika mobilku telah sampai di depan gerbang rumahnya.

“Cheonma. Aku pulang dulu.”ujarku dan mencium kilat keningnya.

“Ne, oppa. Hati-hati di jalan.”ucapnya menasehatiku sesaat sebelum turun dari mobil.

Aku hanya tersenyum manis dan muali melajukan mobil ke apartemenku.

***

Sepi. Itulah yang kurasakan ketika sampai di apartemen. Kemana Soo Kyo? Ah mungkin ia sudah tertidur pulas di kamarnya. Lagipula ini sudah terlalu malam. Tanpa memikirkan lebih dalam lagi, aku beranjak ke kamarku.

Ku rebahkan tubuhku di atas kasur empuk ini. ku ambil PSP kesayanganku yang bertengger di meja kecil di sebelah tempat tidurku dan mulai memainkannya.

“Hah, rasanya tenggorokanku kering.”

Ku putuskan untuk mengambil minum setelah memastikan persediaan air putih di kamarku telah habis. Dengan santainya dan sedikit bersiul aku melangkah ke dapur. Dan betapa terkejutnya diriku mendapati seorang yeoja sedang tertidur di meja makan yang letaknya tak jauh dari dapur. Wajahnya ia tenggelamkan di lipatan kedua tangannya.

“Soo Kyo?”

Bagaimana bisa ia tertidur di sini? Dan bahkan.. Aiggo, makan malam ini? Sepertinya ia belum menyentuhnya sama sekali. Oh tidak, jangan katakan bahwa ia menungguku pulang untuk makan malam bersama dan ia belum menyantap makan malamnya.

“Soo Kyo-ya.”ucapku pelan sambil mencoba membangunkannya.

Aku tak tega jika harus membiarkannya tertidur di sini. Ia menggeliat pelan dan mulai menegakkan badannya. Matanya mengerjap pelan dan seketika membulat menyadari kehadiranku.

“Oppa? Oppa sudah pulang? Mianhae oppa. Aku ketiduran. Oppa sudah makan?”

Kenapa ia malah meminta maaf dan menanyakan diriku?

“Aku sudah makan di luar. Mengapa kau malah tidur di sini?”tanyaku dingin.

Aku hanya tak ingin ia mengulangi lagi. Setidaknya mungkin dengan aku bersikap seperti ini mungkin ia tak akan melakukan hal bodoh ini lagi.

“Ehm,, aku menunggu oppa. Yah, untunglah oppa sudah makan. Karena masakanku sudah dingin. Dan sepertinya rasanya sudah tak enak.”

Aku diam menatap dirinya yang mulai menyibukkan diri dengan membereskan makan malam yang malang itu.

“Oppa tidur saja. Aku mau membereskan ini dulu.”

“Baiklah.”

Soo Kyo POV

“Baiklah.”jawabnya singkat dan berlalu pergi ke kamarnya.

Sepatah kata yang cukup membuatku sakit hati. Dengan jawaban dingin dan wajah yang sepertinya semakin jelas bahwa ia muak denganku. Aku hanya bisa tersenyum tipis merasakan sakit hati ini.

Ku bereskan makanan-makanan yang memang belum aku sentuh sedari tadi. Namun, mendengarnya sudah makan di luar, sudah cukup membuatku senang. Setidaknya ia tak perlu memakan masakan yang pasti sudah sangat tak enak ini.

***

Alarm dari jam kecil di atas meja sebelah tempat tidurku berbunyi nyaring. Mengusikku dari mimpi indah tentang Cho Kyuhyun suamiku. Dengan separuh mata yang terbuka, aku bergegas membasuh muka dan membersihkan mulut.

Aku tersenyum menatap hasil karyaku yang lebih dari kata sempurna. Hanya sebuah masakan sederhana yang telah tertata rapi di atas meja. Ku rogoh kantong celana pendekku dan tak ku dapati ponsel putih kesayanganku. Dengan tergesa, aku kembali ke kamar. Mataku membulat seketika mendapati puluhan sms dari teman kerjaku.

“Astaga! Aku lupa!”

***

Aiggo, bagaimana bisa aku melupakan acara sepenting ini? Dengan tergesa, aku berlari ke ruang rapat. Hari ini ada rapat besar membahas tentang edisi majalah berikutnya. Yap! Aku adalah seorang jurnalis tabloid remaja ternama di Seoul.

Dengan sedikit kasar, ku dorong keras pintu ruang rapat itu. Bingo! Semua orang menjadi menatapku. Aku hanya menunduk malu karena ketahuan terlambat. Untung saja, rapat masih belum terlalu lama berlangsung.

“Silahkan segera duduk Soo Kyo-ssi anda sudah terlambat.”

Aku hanya menganggukkan kepala mengiyakan perintah redaktur yang telah duduk di ujung meja ruang rapat ini.

Hari telah sore, bahkan sebentar lagi akan gelap. Aku masih berdiri di depan kantor menunggu taksi kosong lewat. Dan sialnya, selalu saja setiap taksi yang lewat telah terisi. Hingga akhirnya datanglah sebuah taksi kosong di hari yang benar-benar telah gelap.

Ku buka pintu taksi belakang.

“Aww.”pekikku tertahan.

Apa karena aku akan kedatangan tamu bulan ini? Ku rasa terlalu cepat. Baru saja lima hari yang lalu adalah hari terakhir tamu bulananku datang.

“Aww.”

Lagi-lagi rasa sakit ini muncul lagi. Bahkan sedikit lebih sakit dari yang pertama. Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala. Mensugesti diriku sendiri bahwa tak akan terjadi apa-apa pada diriku. Ini hanyalah sakit biasa yang akan hilang dengan sendirinya.

“Agassi, sudah sampai.”

“Nde, kansahamnida ahjussi.”ucapku kemudian turun dari taksi dengan rasa sakit yang semakin kuat.

Dengan langkah gontai, aku berjalan menuju pintu lift lantai dasar. Pintu lift ini lama sekali terbuka. Sedangkan kakiku terasa lemas seakan tak kuat menahan berat badanku sendiri. Ku tumpukan tumpukan telapak tanganku berusaha agar aku tak terjatuh sebelum sampai di kamar.

Akhirnya pintu lift terbuka juga. Segera ku tekan tombol 14. Lift mulai berjalan. Sungguh mengapa lift ini berjalan lamban sekali.

Aku berdiri di depan pintu apartemenku. Aku masih berusaha memasukkan rangkaian password untuk membuka pintu apartemen. Mungkin karena rasa sakit yang semakin menjadi, membuatku otakku bermasalah dan aku selalu salah memasukkan password yang padahal telah ku hapal di luar kepala.

“Arrggh!!!”erangku.

Ini sungguh sakit. Mengapa jadi seperti ini? Aku terduduk lemas sambil memegangi perutku di lantai depan apartemenku. Ku tekan kuat-kuat perutku, berharap bisa mengurangi rasa sakit yang seakan mulai menjalar di setiap inchi tubuhku.

“Aww!!”

Ini terlalu sakit. Tubuhku juga serasa semakin lemah. Hingga akhirnya aku hanya bisa menatap sosok namja yang berdiri di hadapanku.

“Soo Kyo-ya!”

Kyuhyun POV

Hari telah gelap. Jam telah menunjukkan pukul 7 malam. Namun, Soo Kyo belum juga pulang. Ah, kenapa tiba-tiba perasaanku menjadi gelisah seperti ini. Aku merasa ada hal buruk yang sedang terjadi.

“Semoga firasatku salah.”doa’ku lirih.

Ku pandangi layar kaca di depanku. Sudah berulang kali aku menggantinya. Tapi tak ada tayangan yang menarik. Tanpa alasan yang jelas, kegelisahan ini semakin menjadi. Sungguh firasatku sangat kuat bahwa ada hal buruk terjadi di luar sana.

“Aww!!”

Terdengar suara rintihan kesakitan yang cukup keras dari luar. Dengan cepat aku segera menuju pintu apartemen dan betapa terkejutnya diriku mendapati Soo Kyo yang sedang duduk lemas bersandar di dinding koridor apartemen sambil memegangi perutnya. Ia terlihat seperti sedang menahan sakit yang teramat sangat.

“Soo Kyo-ya.”pekikku pelan.

Namun, dia malah pingsan. Ku angkat tubuh mungil dirinya ke kamarnya. Dengan cepat, ku tekan nomor dokter Park. Sambil menunggu dokter Park, aku membuka sepatu berhak yang ia gunakan dan juga membuka blaser kerjanya.

Badannya hangat. Namun dia tidak sedang demam. Mungkin suhu tubuhnya sedikit naik. Wajah cantiknya sangat pucat. Sebenarnya apa yang terjadi hingga ia duduk lemas di koridor apartemen. Ku dudukkan tubuhku di samping ranjang. Ku amati setiap centi wajahnya. Sungguh, ia sangat cantik.

***

“Bagaimana dokter keadaan.. eh.. istri saya.”

“Sepertinya penyakit maag-nya yang sudah kronis sedang kambuh. Dan karena sakit yang luar biasa, dia jatuh pingsan. Anda harus menjaganya dengan baik. Terlebih perhatikan pola makannya. Ia harus makan teratur. Tidak makan yang terlalu pedas dan asam. Jika tidak penyakitnya bisa semakin parah.”nasehat dokter Park.

“Ne, Kansahamnida ahjussi.”

Aku sedikit terkejut mendengar penjelasan dokter Park. Penyakitnya pasti kambuh karena diriku semalam, ditambah lagi tadi pagi dia belum sempat sarapan. Aku yakin dia belum makan sedari malam.

Ku mendekat ke arah ranjang. Ku selimuti tubuhnya dengan selimut tebal nan hangat. Aku tersenyum memandangnya. Lalu, ku kecup lembut keningnya dan diriku beranjak ke sofa putih di kamarnya yang tepat menghadap ke balkon.

Soo Kyo POV

Perlahan, ku coba membuka kedua mataku.

“Argh.”rintihku.

Kepalaku terasa pusing, ditambah lagi perutku yang masih terasa sedikit perih.

“Soo Kyo-ya.”panggil lirih seorang namja dengan suaranya yang sangat familiar di telingaku. Aku diam. Tak sedikitpun berniat untuk menatap wajah itu. Rasanya diriku terlalu lemah untuk menggerakkan kepalaku.

“Soo Kyo-ya bagaimana keadaanmu? Apa perutmu masih sakit?”tanyanya lembut.

Aku hanya memberikan gelengan lemah tersenyum. Berharap Kyuhyun oppa segera pergi meninggalkanku sendiri. Aku tak mau terlalu jauh jatuh terlalu dalam pesonanya. Aku terlalu takut jika nanti aku tak bisa melepasnya.

“Sebentar. Kau harus makan. Aku akan buatkan bubur untukmu.”

“Tak usah repot-repot oppa. Aku bisa membuat sendiri. Bukankah hari ini oppa ada jadwal dengan para member Super Junior?”

“Ani. Hari ini semua jadwalku telah kubatalkan. Jangan pernah membantahku. Kau hanya perlu diam di sini. Arraseo?”ucapnya dan berlalu pergi.

Tanpa sadar, bibirku tersenyum kecil.

***

“Ayo, kau baru makan dua suap.”ucapnya membujukku agar membuka mulut.

Dia perhatian sekali. Andai aku bisa memiliki hatinya.

“Shireo oppa. Aku sudah kenyang.”

“Apa buburnya tak enak?”

“Ani. Hanya aku sudah sangat kenyang.”

“Satu suap lagi.”

Akhirnya dengan sedikit terpaksa, aku membuka mulutku. Bubur ini rasanya sungguh pahit. Atau mungkin memang lidahku yang sedang bermasalah. Entahlah.

***

Hatiku sungguh sakit, seakan ribuan ton batu menimbunnya. Apa yang dia lakukan selama seminggu terakhir ini, tak lebih hanya sebuah belas kasihan semata. Tak lebih dari itu. Dan terlebih tak ada sedikitpun cinta. Sesak. Dada ini terasa sungguh sesak. Ingin rasanya aku berteriak di depan wanita itu. Meneriakkan bahwa lelaki di sampingnya sekarang ini adalah suamiku. Cho Kyuhyun. Namun, itu tak mungkin ku lakukan. Bagaimanapun juga Kyuhyun oppa sangat mencintai wanita itu. Ia sangat mencintainya. Dan aku tahu betul itu. Setidaknya, ada sedikit kebahagiaan melihatnya tersenyum meskipun senyuman itu bukan karena diriku dan bukan untuk diriku.

Ku tatap dua gelas minuman di hadapanku. Sempat terbesit sebuah ide buruk yang akan kulakukan terhadap salah satu gelas itu. Ingin rasanya aku menuangkan racun di dalamnya. Agar dia mati. Agar wanita itu tak hadir lagi dalam kehidupan Cho Kyuhyun. Dan aku akan bisa memiliki sepenuhnya hati Kyuhyun oppa.

Ku gelengkan cepat kepalaku. ‘Hati tak bisa dipaksa’. Yap, hati tak akan pernah bisa dipaksa. Semua orang memiliki hak untuk mencintai dan dicintai. Begitu juga diriku, bukankah aku telah mengambil hakku untuk mencintai. Dengan langkah mantap, aku berjalan ke ruang tengah. Meletakkan dua gelas di atas meja di hadapan sepasang anak manusia yang sedang berbahagia.

“Gomawo Soo Kyo-ya.”ujar Park Hyera yang tak lain yeojachingu Kyuhyun oppa.

“Cheonma. Aku permisi dulu oppa, Hyera-sii.”

“Ah ne.”

***

Author POV

Tak terasa tiga bulan kehidupan rumah tangga Soo Kyo dan Kyuhyun. Semuanya berjalan baik-baik saja. Soo Kyo masih menjalani kehidupannya sebagai jurnalis dan juga menjadi istri yang baik.

Namun, entah setan apa yang sedang merasuki Kyuhyun beberapa minggu terakhir ini sifatnya menjadi sedikit berubah. Ia sudah tak sedingin dulu lagi. Bahkan baru tadi siang, saat Kyuhyun selesai menjalani sesi pemotretan sebuah majalah tiba-tiba saja ia menelpon Soo Kyo. Namun tak ada sedikitpun hal yang mereka bicarakan. Kyuhyun hanya diam mendengarkan suara Soo Kyo yang memanggil-manggil dirinya.

“Oppa, bolehkah aku mempunyai satu permintaan kepadamu?” tanya Soo Kyo saat mereka sedang duduk bersama di teras belakang apartemen. Menikmati keindahan matahari terbenam.

Kyuhyun hanya diam. Dia memandang ke arah Soo Kyo dengan pandangan yang sulit diartikan. Soo Kyo hanya bisa harap-harap cemas menunggu jawaban Kyuhyun.

“Jebal oppa, hanya satu. Dan aku tak akan pernah lagi meminta apapun padamu.”

“Baik. Apa permintaanmu?”

Soo Kyo tersenyum manis dengan mata yang berbinar senang.

“Aku hanya ingin merasakan benar-benar mempunyai suami yang mencintaiku. Setidaknya pernikahanku ini tak berjalan sia-sia. Hanya jadikan aku istrimu yang kau cintai oppa. Jebal, hanya besok. Dan aku hanya meminta satu jam. Tak lebih, oppa. Ku mohon.”

“Bukankah, jika kita bercerai kau pasti akan menemukan namja lain yang mencintaimu, huh? Kenapa harus memintaku?”

 

Soo Kyo POV

“Bukankah, jika kita bercerai kau pasti akan menemukan namja lain yang mencintaimu, huh? Kenapa harus memintaku?”

Aku menundukkan kepalaku. Rasanya air mataku sudah mendesak ingin keluar. Pertanyaan Kyuhyun oppa benar-benar menyiksa batinku. Aku hanya mencintaimu, oppa. Selamanya aku hanya mencintaimu. Tak akan ada namja lain yang bisa menggantikanmu. Aku hanya meminjam hatimu selama satu jam, oppa tak lebih. Aku benar-benar ingin merasakannya. Hanya satu jam oppa.

“Baiklah.” Katanya singkat dan berlalu pergi. Aku yang masih kaget hanya bisa tersenyum senang. Tuhan, terima kasih.

***

Ini adalah hari terakhir pernikahanku. Yah, hari terakhir. Setelah ini aku akan benar-benar pergi dari kehidupan Kyuhyun oppa. Namun hari ini juga akan menjadi hari terindah dalam hidupku. Kyuhyun oppa akan berpura-pura mencintaiku. Yah, meski ku tahu ini semua hanyalah kepura-puraan semata, setidaknya aku bisa benar-benar merasakan hal yang mengesankan dalam hidupku.

Sore telah menjelang, dan sesuai janjinya Kyuhyun oppa akan menemaniku sore ini. Kami berjanji akan bertemu di taman. Dengan menggunakan rok pendek bermotif bunga dengan atasan polos dan sedikit make-up tipis di wajahku aku berangkat menuju taman.

Taman sore itu ternyata cukup ramai. Dan tak jauh dari tempatku berdiri sekarang mataku menangkap sosok yang sangat kucintai. Siapa lagi kalau bukan Kyuhyun oppa J

Aku berjalan menghampirinya yang sedang tersenyum lembut kepadaku. Aiggo, dia sungguh tampan. Ketika aku sudah berada di dekatnya tiba-tiba saja dia menarik pinggangku dan kami akhirnya berjalan ke sudut taman yang lain dengan tangannya yang melingkar di pinggangku.

“Andai saja, aku bisa memiliki seorang anak.”

Kyuhyun POV

“Andai saja, aku bisa memiliki seorang anak.”katanya lirih melihat sekumpulan anak-anak kecil yang sedang bermain-main.

Ya Tuhan, kenapa tiba-tiba hatiku terasa sesak ketika dia mengucapkan hal itu. Apa aku mulai mencintainya. Ani. Kau hanya mencintai Hyera, Cho Kyuhyun!

“Sebentar lagi aku yakin kau akan mendapatkan seorang anak dari seseorang yang benar-benar mencintaimu.”

“Nde oppa. Gomawo.”sahutnya dengan wajah yang sedikit menunjukkan guratan kesedihan.

Ya! Kyuhyun pabo! Kenapa kau berkata seperti itu, bukankah kau berjanji akan berpura-pura mencintainya. Sepertinya ia sedih.

“Oppa, sebentar lagi.”ucapnya.

“Nde?”

“Sebentar lagi, oppa. Bisakah kau menutup matamu?”

“Ah ne.”

Ku tutup kedua mataku. Sebenarnya apa yang sedang direncanakan oleh yeoja ini?

“Oppa, bisa kau buka kedua telapak tanganmu di depan dadamu?”

“Ne,”

“Oppa, apapun yang terjadi jangan buka matamu.”

Aku hanya mengangguk menanggapi permintaannya. Lalu, tiba-tiba saja aku merasakan sebuah ciuman kilat mendarat di pipi kiriku. Namun, berdasar permintaannya aku tak akan membuka mataku.

Dunia ini terasa begitu gelap. Mengapa dia lama sekali menyuruhku membuka mata?

“Soo Kyo-ya. Jangan mengerjaiku.”

Tak ada sahutan. Hanya terdengar suara tawa anak-anak kecil. Akhirnya, dengan sedikit ragu-ragu aku membuka mataku. Dan betapa terkejutnya diriku mendapati tak ada sosok siapapun di depan mataku. Hanya ada kumpulan anak kecil tadi yang sudah berpindah tempat sedikit jauh dari tempatku sekarang. Dan hal selanjutnya yang ku temukan adalah secarik kertas berwarna biru di tanganku.

“Sepertinya aku mengenal tulisan tangan ini.”

 

‘Annyeong, Oppa ^^

Sepertinya satu jam sudah berlalu dengan sangat cepat bagiku. Oppa, sekarang detik kebahagiaanmu akan benar-benar dimulai. Setelah membaca surat ini, aku jamin kau tak akan lagi bisa melihat diriku. Aku berjanji tak akan pernah menampakkan diriku di depanmu.

Oppa, mianhe. Jeongmal mianhe. Karena kehadiranku, hidupmu benar-benar kacau. Aku telah mengubah semua rencana indahmu bersama Hyera eonni. Bahkan aku benar-benar lancang karena telah memohon kepadamu sebuah permintaan konyol. Mianhe Oppa. Jeongmal mianhe.

Oppa, aku telah menyiapkan segala sesuatunya sebelum aku benar-benar pergi. Aku yakin, tanpa aku harus menulisnya lagi di surat ini kau pasti tahu apa yang ku maksud. Aku telah menyiapkan berkas-berkas itu beserta tanda tanganku di atas tempat tidurmu. Kau hanya tinggal membubuhkan tanda tanganmu dan segera berikan kepada pengacara Kim. Detik itu juga kita telah resmi berpisah oppa. Dan kau bisa segera menikah dengan Hyera eonni. Karena kita tak akan pernah bertemu, aku akan mengucapkan di sini saja.

“Chukaeyo Oppa. Semoga pernikahan kalian selalu dilimpahkan kebahagiaan. Amien.”

Cukupkah oppa? Hehehe. Bukankah aku telah menjadi orang pertama yang mengucapkannya? Kekeke.

Oppa, gomawo. Jeongmal gomawo. Terima kasih atas segalanya dalam tiga bulan ini oppa. Terima kasih atas semua yang telah kau berikan selama ini. Perhatianmu saat aku sakit. Aku benar-benar bahagia kala itu, oppa. Terima kasih karena oppa telah mengabulkan permintaaku hari ini oppa. Aku benar-benar bahagia. Terima kasih oppa. Terima kasih. Kau benar-benar orang yang baik.

Sekian oppa, aku rasa ini sudah terlalu panjang. Setelah ini lupakan kita pernah mengenal oppa. Jaga kesehatanmu, oppa. Aku menyayangimu ^^

-Park Soo Kyo-

 

Ku peluk erat surat terakhir dari Soo Kyo. Maafkan aku Soo Kyo-ya, aku tak bisa membalas cintamu yang luar biasa. Aku hanya menyukaimu. Dan itu tak lebih. Ku harap, kau mendapatkan namja yang benar-benar mencintaimu.

 

-FIN-

Fiuuh~ akhirnya selesai juga🙂 bagaimana reader? Give a comment, please.

20 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s