The Best for You

Title                       : The Best for You

Genre                   : Romance

Rating                   : PG-17

Author                  : ayunastiti14

Cast                       :

  • Park Hyera
  • Kim Ryeowook

Hyera POV

 

Aku sedang duduk bersama di pinggir sungai Han. Menikmati semilir angin malam yang lembut. Memandang aliran  sungai di depanku yang terihat mengkilat ditempa lampu yang bersinar terang di tepi sungai bersama dia, belahan jiwaku. Kim Ryeowook.

“Chagi, kau tahu lusa hari apa?”tanya Ryeowook oppa padaku.

“Tahu. Lusa kan hari Rabu oppa. Mengapa oppa menanyakan itu?”

“Apa menurutmu lusa bukanlah hari special?”

“Spesial? Memang ada apa oppa? Ulang tahun oppa? Bukannya ulang tahun oppa sudah lewat? Lalu?”

“Kau ingat? 25 juli?”

“25 Juli? Our second anniversary?”

1 detik

2 detik

“Kyaa˜ oppa. Anniversary.”teriakku girang dan memeluk Ryeowook oppa di sebelahku.

“Dan lusa, aku akan membawamu ke hadapan kedua orng tuaku. Ottokhae?”

Mendengar ucapan Ryeowook oppa membuatku berpikir. Mengenalkan pada kedua orang tuanya? Bagaimana jika orang tua Ryeowook oppa menolakku? Bahkan mungkin tak suka dan benci kepadaku. Aku takut semua kebahagiaan ini akan berakhir.

“Chagi, Ottokhae?”tanya Ryeowook oppa membuyarkan lamunanku.

“Ngh~ oppa. Apa ini tak terlalu cepat?”tanyaku ragu.

“Ani. Ini adalah waktu yang tepat. Aku ingin segera menikah denganmu.”jawabnya dan mencium pipiku kilat.

Aku hanya tersenyum malu dan mengangguk pelan.

***

Hari ini hari bersejarah untukku. Seperti yang dikatakannya kemarin lusa, ia akan memperkenalkanku kepada kedua orang tuanya sebagai yeojachingunya. Orang yang akan dinikahinya. Aku tersenyum memandang bayanganku di cermin. Aku terlihat cantik dengan gaun putih berbahan satin yang dibelikan oleh Ryeowook oppa sebagai hadiah second anniversary kami. Rambut panjangku yang lurus ku biarkan tergerai dengan bando pita berwarna putih melingkar rapi di kepalaku.

Di saat sedang asyik memandangi diriku di depan cermin, aku mendengar suara klakson mobil. Itu pasti mobil Ryeowook oppa. Dengan sedikit merapikan rambutku, aku pun meraih dompet putih berhias glitter di tempat tidurku dan bergegas menghampiri Ryeowook oppa yang sudah menungguku.

“Oppa, kajja!”ajakku membuat dirinya yang sedang bersandar di depan kap mobilnya mengalihkan  pandangan ke arahku.

Dia hanya diam tercengan, bola matanya yang indah hanya memandangiku dari atas ke bawah dan sebaliknya.

“Oppa?”

Dia masih diam termangu. Entah pikiran apa yang sedang mengganggu otaknya.

“Adakah yang salah?”tanyaku yang masih belum mengerti arti tatapannya.

“Oppa!”bentakku pelan.

“Hah! Ne Chagi. Waeyo?”

“Oppa kenapa sih?”

“Kau cantik.”ucapnya mengerling kepadaku.

***

Aku telah berada di depan pintu rumahnya. Rumah yang cukup besar dan mewah. Lebih besar bahkan dari rumah kedua orang tuaku. Perlahan, kakiku berjalan masuk ke dalam rumah. Aku terus menggenggam erat tangan Ryeowook oppa yang sedang berjalan di sampingku.

Genggaman tanganku semakin erat tatkala mataku bertemu dengan Kim ahjumma. Tatapan yang sulit diartikan. Tatapan tak suka? Mungkin. Aku masih terlalu sulit untuk mengartikan tatapan itu. ryeowook oppa yang menyadari genggaman tanganku teralu erat yang mungkin menyakiti lengannya hanay bisa berbisik lembut di telingaku.

“Tenang sayang, oppa di sini.”

Langkah kaki kami semakin mendekat. Aku membungkukkan badanku pada semua orang di ruangan itu, lalu ikut duduk di samping Ryeowook oppa di sofa hitam panjang di sebelahku.

Aku kembali menggenggam erat telapak tangan Ryeowook oppa. Aku sungguh sangat gugup berada di moment seperti ini. Seakan semua memandangku dengan tatapan tidak suka.

“Jadi apa yang akan kau bicarakan wookie?”tanya Kim ahjussi.

“Perkenalkan appa, eomma. Dia yeojachinguku. Dan sepertinya aku akan melamarnya setelah pertemuan ini.”jawab Ryeowook oppa santai sambil memandang manic mataku dalam.

Aku tersenyum memandang Kim ahjussi dan Kim ahjumma di depaku. Dengan sedikit memaksakan pita suaraku yang seakan tercekat,

“Selamat malam. Park Hyera imnida.”

Ku lihat Kim ahjumma memandangku sinis. Perasaan takut mulai hinggap lagi pada diriku. Takut akan kehilangan prang yang ku sayang.

“Malam semua. Maaf terlambat.”ucap seorang yeoja cantik berambut panjang sedikit bergelombang  mengenakan gaun merah berlengan buntung selutut.

Yeoja itu berjalan dengan sangat percaya diri dengan senyum yang dibuat semanis mungkin. Ia berjalan menghampiri kami. Ani, bukan kami melainkan Ryeowook oppa. Tiba-tiba saja ia mencium bibir Ryeowook oppa sekilas. Apa itu? Bibir? Dasar yeoja murahan! Tak tahukah dia ada aku di sini. Ku pandang wajah Ryeowook oppa sepertinya ia juga sedikit terkejut.

“Minna-ya tak apa acara sesungguhnya belum dimulai.”ucap Kim ahjumma ramah.

Mengapa pandangan Kim ahjumma sangat berbeda ketika kedatanganku? Ah, mugkin itu hanya perasaanku saja. Sebisa mungkin ku coba untuk tetap berpikir positif mencoba menyingkirkan semua pikiran negative yang sedari tadi meracuni pikiranku.

Author POV

Yeoja yang dipanggil Minna itu pun kemudian menghampiri Ny. Kim sembari saling mencium pipi kanan dan kiri. Sepertinya mereka sangat akrab. Minna atau tepatnya Lee Minna pun duduk di sebelah Ny.Kim dengan wajah yang sumringah.

“Nah Wookie. Ini dia yang eomma ceritakan kemarin. Dia Lee Minna yang akan menjadi calon istrimu.

Hyera POV

Mwo?! Calon istri? Bernarkah ini? Dia calon istri Wookie oppa? Lalu apa gunanya aku berada di sini. Apa mungkin ini yang dimaksud dengan memperkenalkan diriku? Ani. Bukan diriku. Tetapi dirinya.

Ku lihat Ryeowook oppa hanya diam. Ekspresi wajah yang sangat sulit ditebak. Aku pun melepaskan genggaman tanganku dengan lembut. Meskipun aku sangat kecewa untuk saat ini. Ryeowook oppa mencoba menahanku, namun dengan lembut juga aku mencoba melepasnya lagi.

“Permisi saya harus pergi. Terima kasih.”ucapku tegas kemudian pergi dari hadapan mereka semua.

“Dasar anak tak tahu sopan santun.”celetuk seseorang di belakangku.

Persetan dengan sopan santun. Yang ku mau sekarang hanyalah pergi dari sini secepatnya. Sebelum rasa sakit ini semakin menggerogoti hati ini.

Ternyata ini adalah kado terspesial di hari anniversary kami. Mengapa Ryeowook oppa tak pernah memberitahukan bahwa ia telah dijodohkan oleh orang tuanya. Dan aku hanyalah yeoja yang tak  pernah dianggap di keluarganya. Mungkin jika ia memberitahu sebelumnya,aku bisa sedikit menerima semua keadaan ini. Dan aku tak akan pernah mengalami kejadian memalukan seperti ini. And now, It’s over. Tak ada kami. Yang ada hanya aku dan dia.

Aku terus berlari hingga akhirnya aku terjatuh karena hak sepatuku patah dan itu membuatku kakiku terkilir. Aku pun duduk di pinggir jalanan yang sangat sepi. Ini memang sakit. Tapi apa yang baru saja ku alami seribu kali lebih sakit.

Aku menengok ke arah jalanan darimana aku datang. Mataku mencoba menangkap sosok namja imut yang amat kucintai, mungkin saja dia sedang berlari menghampiriku sambil memanggil namaku. Berhenti tepat di depanku dan mencoba menenangkanku. Namun, sepertinya ini hanyalah sebuah khayalan semata. Tak mungkin ia berada di sini bersamaku. Sedangkan, di rumahnya yang sangat megah itu ada yeoja yang lebih cantik dariku. Dan sepertinya yeoja itu diterima baik oleh semua anggota keluarganya. Tak ada secuil pun bagian dari diriku yang bisa dibandingkan dengan yeoja itu.

Ku ambil ponsel di dompetku. Menekan nomor telepon taksi langgananku. Tak lama, taksi pesananku datang. Dengan bersusah payah, aku pun berdiri sendiri mengabaikan bantuan sopir taksi yang ingin membantuku dan akhirnya aku berhasil masuk ke dalam taksi.

Lagi-lagi aku menolak bantuan sopir taksi ketika akan turun dan berjalan ke apartemenku di lantai lima. Aku berjalan tertatih dengan sepatu berhakku yang ku jinjing. Setelah memasukkan password untuk apartemenku, aku segera menuju kamar. Mengistirahatkan badan dan pikiran yang terasa amat letih hari ini.

***

Pagi telah datang. Aku sungguh terlalu malas beraktivitas hari ini. Ditambah kakiku yang sempat terkilir kemarin. Membuatku semakin malas saja untuk bergerak. Karena merasa haus, aku pun mencoba meraih gelas di meja kecil di samping tempat tidur. Namun, saking cerobohnya aku akhirnya..

‘PRANGG’

Aku sukses membuat gelas itu berkeping-keping.

Entah apa yang menuntunku seperti ini. Tetapi, otakku memerintahkan tanganku untuk mengambil pecahan gelas kaca yang runcing. Ku tatap ujung runcing serpihan gelas itu yang terlihat sedikit mengkilat ketika tertimpa cahaya matahari. Perlahan ku mulai menggoreskan dalam ujung runcing kaca tersebut di pergelangan tangan bagian dalam. Hingga akhirnya keluarlah cairan kental berwarna merah. Entah mengapa bibirku tersenyum tatkala cairan merah itu semakin banyak.

Aku telah sukses menggores horizontal di pergelangan tangan kiriku sebelah dalam. Serpihan kaca itu masih ku genggam erat. Sangat erat. Darah itu keluar semakin deras. Bahkan kini darah itu telah mengotori bagian paha gaun putihku yang memang sedari malam ku pakai. Aku hanya memandang nanar darah yang sedari tadi tak jua berhenti.

“Hyera-ya.”

Ku dengar suara namja yang memanggilku. Derap langkahnya semakin dekat. Hingga aku melihat sosok yang amat aku kenal berdiri di ambang pintu kamarku.

“Oppa.”

Ku panggil lirih sosok yang termangu di ambang pintu kamarku. Dan kurasa pandanganku kabur hingga akhirnya semuanya gelap.

Ryeowook POV

Pagi ini aku berniat untuk mengunjungi Hyera di apartemennya. Setelah kejadian tadi malam, aku merasa sangat gelisah. Semalam aku dicegah oleh Appa Eomma sehingga aku tak bisa mengejar Hyera. Dan sekarang adalah waktunya aku menjelaskan semua.

“Hyera-ya”

Aku terus memanggil nama kekasihku itu. Aku ingin menjelaskan ini semua. Aku tak mencintai Minna aku hanya mencintai Hyera. Park Hyera.Namun, tak ada sahutan apapun. Hingga akhirnya aku menemukannya sedang duduk di pinggir ranjang dengan gaun putih yang masih digunakannya kemarin dengan darah yang menghiasi gaun itu. Apa darah? Apa yang terjadi dengan Hyera? Tangan sebelah kanannya sedang menggenggam erat serpihan kaca. Dan lantai kamarnya sangat penuh dengan sepihan kaca.

Aku masih diam mematung di ambang pintu kamarnya.

“Oppa.”

Ia memanggil lirih namaku. Hingga akhirnya dia ambruk ke belakang. Matanya terpejam. Dia pingsan. Dengan segera aku berlari ke arahnya dan segera membawanya ke rumah sakit.

***

Aku sungguh lega, tatkala dokter menyatakan bahwa Hyera dalam keadaan baik-baik saja meskipun ia masih belum sadarkan diri. Untung saja, aku tak terlambat untuk membawanya ke rumah sakit. Ku pandangi wajah manisnya yang sedikit pucat dan ku genggam erat jemari tangannya. Aku sungguh merasa bersalah. Bagaimanapun ini adalah salahku. Aku yang membuatnya seperti ini.

“Chagi, mianhae. Jeongmal mianhe.”

Hanya itu kata-kata yang bisa aku ucapkan. Aku tak bisa berkata apa-apa. Sungguh aku merasa bersalah.

Ku rasakan gerakan kecil di jari tangannya yang ku genggam. Ku lihat matanya mulai bergerak. Ia telah sadar.

“Syukurlah kau sudah sadar.”ucapku bahagia.

Dia hanya diam memandangku. Kemudian ditatapnya jemari tangannya yang masih ku genggam. Matanya memandangi genggaman tanganku dan wajahku bergantian. Matanya mengisyaratkan kepada diriku untuk melepaskan genggaman tanganku. Aku pun melepaskan genggaman tanganku di jemari tangannya.

“Chagi, mianhe.”

Ia bungkam. Dipalingkannya wajahnya. Aku tahu saat ini dia sangat terluka.

“Oppa, tinggalkan aku. Kita tak ada hubungan lagi. Aku tak mau eomma-mu menuduhku telah menculik dirimu.”

Mwo?! Dia memutuskanku? Apa yang dia maksud dengan ‘kita tak ada hubungan lagi’?

“Apa maksudmu?”

“Jebal oppa. Leave me alone.”

“Andwe chagi. Saranghae.”

“Jangan katakan itu di depanku!”bentaknya.

Hyera POV

“Jangan katakan itu di depanku!”sentakku.

Dan seketika itu air mataku mengalir. Aku masih memalingkan wajahku. Jujur, aku sangat sakit mengucapkan ini. Sekarang, aku begitu membenci kata-kata itu. Apalagi itu adalah kata dari seorang namja yang sekuat tenaga ku coba untuk menghilangkan sosok dirinya dari pikiranku.

Ku dengar suara gesekan kursi yang bergesekan dengan lantai. Tak lama, ku rasakan sesuatu yang lembut mencium keningku.

“Saranghae Park Hyera. Jeongmal jeongmal sarangheyo.”bisiknya tepat di telinga kananku.

Tak lama, ku dengar derap suara langkah kaki menuju pintu keluar ruangan ini. Ku tolehkan wajahku. Ku lihat punggung namja yang amat ku kenal menghilang di telan daun pintu bercat putih itu. Dan dengan berat hati aku akan menerima semua kenyataan ini. Kenyataan bahwa usia hubungan yang lama tak memastikan juga akhir yang indah. Aku memang akan melupakanmu, tapi kau akan tetap menjadi kenangan indah yang pernah mengisi hari-hariku. Nado Saranghae, Kim Ryeowook.

“May be you are not mine but your love is mine, and my heart is yours.”

-THE END-

Bagaimana? Jelekkah? Gaje kah? Butuh komentar-komentar bagaimanapun bentuknya.

Kamsa ^^ *bow

1 Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s