It’s my heart

maunya di posting di facebook. tapi, karena internetnya gratisan dan gak bisa buka facebook. jadi, saya posting di sini😀 #curcol

happy reading ^^

Kirana menatap bayangan gadis mungil di dalam cermin besar di hadapannya. Ia tersenyum mendapati bayangan dirinya. Dengan santai, ia melangkah menuju ke ruang makan di mana seluruh keluarganya tengah menunggu dirinya untuk makan malam bersama. Namun, belum sampai ia meraih tangga terakhir, langkahnya terhenti. Tatapan mata bulatnya  menatap gadis asing yang kini tengah bersenda gurau dengan seluruh keluarganya. Seorang gadis asing dengan rambut hitam dan sedikit bergelombang. Secarik senyuman tidak suka muncul di bibir merahnya.

“Hmm.”dehem Kirana.

Semua mata pun sukses tertuju pada Kirana.

“Ohh.. cucu nenek udah datang. Sini duduk di sebelah nenek.”ucap nenek Kirana ramah.

Kirana hanya diam. Pandangannya masih pada gadis asing itu. Lebih tepatnya ke tempat duduk yang sedang ditempati gadis itu. Ia memang selalu duduk di sebelah kakak laki-lakinya. Namun kini, tempat itu ditempati oleh gadis itu.

“Ya udah, Kiran duduk di sebelah kakak ya dan Tika kamu bisa kan geser satu kursi?”ucap kakak laki-laki Kirana seakan paham maksud tatapan adik kesayangannya itu.

“Iya kak. Gak masalah kok.”jawab gadis asing yang dipanggil Tika tadi, atau tepatnya Cantika.

Kiran yang masih memasang tampang dinginnya pun akhirnya duduk di sebelah kiri kakaknya. Sedangkan Tika berada di sebelah kanan kakak laki-laki Kiran.

“Kiran, sebelumnya perkenalkan dia Cantika. Kamu bisa memanggilnya Tika. Dia adalah anak sahabat papa dari desa. Dan mulai saat ini Kiran bakalan tinggal di sini barengan kita.”ujar ayah Kiran.

“Tika.”ujar gadis itu sambil memperkenalkan diri dan mengulurkan tangan kanannya.

“Kiran.”jawab Kiran jutek  dan memablas uluran tangan Tika. Namun, dengan cepat juga ia melepaskannya.

Tika hanya tersenyum manis menanggapi perilaku Kiran.

***

“Uhuk-uhuk.”Tika tersedak.

Dengan tanggap, kakak laki-laki Kiran pun segera memeberikan segelas air putih kepada Tika. Kiran yang melihat itu hanya menatap tidak suka.

“Aku kenyang.”ucap Kiran dan berlalu pergi meninggalkan piringnya yang sebenarnya masih penuh. Bahkan mungkin dia hanya makan satu dua suap saja.

Semua orang yang berada di meja makan hanya menanggapi aneh sikap Kiran. Tak biasanya ia seperti itu. Ditambah lagi hidangan makan malam kali ini adalah semur daging kesukaannya.

“Siapa sih dia? Cari perhatian banget. Semua orang jadi perhatiin dia. Ayah, Bunda, Nenek, Kakak semua perhatian banget sama dia. Cuma tersedak gitu aja manja banget.”

Semenjak masuk ke dalam kamarnya hingga sekarang, Kiran terus saja mengoceh tidak jelas. Yang jelas, ia tidak suka dengan kehadiran Tika di rumahnya.

‘Tok tok tok’

Terdengar suara pintu yang diketok. Tak lama, pintu itu terbuka. Seorang laki-laki rupawan pun muncul dari balik pintu. Ia tersenyum memandang adik kesayangannya yang sedang pura-pura tidur sambil memeluk guling. Dengan hati-hati, ia meletakkan nampan berisi makanan yang dibawanya dan duduk di pinggir ranjang adiknya.

“Kakak tahu kamu belum tidur.”ujarnya lembut sambil merapikan poni adik perempuannya.

Kiran yang memang belum tertidur pun membuka matanya dan mendapati Rafael, kakak laki-lakinya sedang tersenyum lembut.

“Ngapain kakak di sini? Bukannya kakak udah punya adik baru?”

Rafael  mengernyitkan dahinya. Tak mengerti apa maksud perkataan adiknya. Kiran yang sudah terlanjur kesal pun membalikkan badannya memunggungi kakaknya.

“Apa maksud kamu Kiran?”

“Apa perlu aku ngejelasin?”

“Maksud kamu, Cantika? Ya Tuhan, ternyata adik aku cemburu sama Cantika ya.”

“Gak. Aku gak cemburu.”

“Kalau begitu balik badan terus duduk dong.”

“Gak mau. Aku mau tidur.”

“Yakin? Kakak udah bawa semur daging kesukaan kamu lho. Kalau gak mau kakak kasih ke Cantika ya.”

“Jangan!”teriak Kiran dan ia segera duduk menghadap kakaknya.

“Kalau gitu makan ya. Kakak yakin kamu tadi belum kenyang kan?”

Kiran yang mendengar itu pun hanya menggeleng. Ia memang sebenarnya belum kenyang.

“Ya udah, dimakan ya. Kakak mau ke kamar dulu.”

“Kakak, Suapin.”

***

“Kak, ayo berangkat.”ajak Kiran dengan seragam putih abu-abunya yang telah rapi.

“Eh, kamu gak makan dulu?”

“Gak. Aku nanti makan di sekolah aja. Ayo kak! Buruan!”

Kiran semakin merengek dan menarik-narik lengan Rafael yang masih menikmati sarapannya. Rafael pun akhirnya pasrah menanggapi perilaku adiknya yang manja ini. Setelah berpamitan dengan seluruh keluarga, akhirnya Rafael dan Kiran pun berangkat.

***

“Kak, nanti kakak jemput aku ya.”

“Kakak gak bisa Kiran. Nanti biar pak Udin aja ya yang jemput.”

“Yah,, kakak. Memang kakak ada urusan apa sih?”

“Kakak hari ini harus temenin Tika jalan-jalan.”

“Oh jadi sekarang Tika lebih penting daripada aku? Ya udah aku bisa pulang sendiri. Kakak gak usah  antar jemput aku lagi. Urusin aja itu adik tercinta kakak.”ujar Kiran cemberut.

“Ya ampun Kiran. Kok kamu ngomongnya begitu sih. Adik aku itu cuman kamu.”

“Kalau begitu jemput aku ya kak.”

“Kamu kenapa sih. Manja banget hari ini.”

“Aku gak manja kakak. Aku kan cuman lagi pengen dijemput kakak. Emang salah?”

“Ya enggak sih. Iya deh nanti kakak yang jemput.”

“Nah begitu kek dari tadi.”

“Kamu memang adik kakak yang paling manja ya.”ucap Rafael sembari mengacak-acak poni Kiran.

“Udah nyampe kak. Aku turun dulu ya. Jangan lupa.”

Kiran pun membuka sabuk pengamannya dan bersiap untuk turun. Namun, ia berbalik lagi dan..

‘Muaahh.’

Kiran mencium kilat pipi Rafael dan keluar dari mobil.

***

“Kayaknya hari ini ada yang ulang tahun deh. Tapi kok tenang-tenang aja ya.”sindir Kiran pada teman sebangkunya.

“Wah, hawa gak enak nih. Kayaknya habis ini bakal ada yang ngehabisin bakso di kantin nih.”sindir balik teman sebangku Kiran, Bisma.

“Eilah Bis. Emang kalau aku minta traktiran bakal ngehabisin semua porsi bakso di Kantin gitu. Gak juga kali.”ujar Kiran menggembungkan pipinya yang chubby sedangkan bibirnya cemberut .

“Ya ampun Kiran, begitu aja ngambek sih.”ujar Bisma sambil mencubit kedua pipi Kiran gemas.

“Bisma! Kebiasaan deh! Senengannya cubitin pipi aku.”

“Habis pipi kamu ngegemesin banget. Apalagi kalau sedang kesel.”

“Aku ngambek nih.”

“Ngambek kok bilang-bilang. Iya deh iya. Ayo ke kantin. Aku traktir sepuas kamu.”

Kiran yang mendengar hal itu tersenyum senang dan segera berlari menyusul Bisma yang telah terlebih dulu beranjak dari kursinya.

***

Bel pulang sekolah telah berbunyi, semua murid tak terkecuali Kiran dan Bisma pun segera beranjak dari tempat duduk mereka.

“Kiran, jalan yuk. Mumpung hari Sabtu.”ajak Bisma.

“Sorry ya Bis. Aku dijemput hari ini.”

“Ha? Beneran dijemput? Tumben. Emang kenapa sih minta jemput segala lagian biasanya juga barengan sama aku.”

“Ya gak papa. Cuman..”

“Kiran!”belum sempat Kira menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba saja ia sudah dikagetkan dengan suara orang yang kemarin malam sempat membuatnya kesal.

Untuk memastikan, Kiran pun membalikkan badannya dan mendapati Tika sedang berjalan ke arahnya dan Bisma.

“Itu siapa? Cantik banget.”tanya Bisma.

Kiran yang masih merasa kesal dengan kehadiran Tika pun hanya diam tak menanggapi ucapan Bisma. Ia masih terlalu fokus dengan dirinya sendirinya.

“Ternyata sekolah kamu bagus ya.”ucap Tika saat sudah berada di dekat Kiran. Ia sungguh merasa kagum dengan sekolah Kiran.

“Gimana kamu bisa di sini?”tanya Kiran to the point.

“Aku pengen ikut jemput kamu. Sekalian mau lihat-lihat sekolah kamu. Besok Senin aku mau sekolah di sini juga.”ujar Tika santai sambil sesekali mengamati yang ada di sekitarnya. Sepertinya ia sungguh senang tatkala bisa bersekolkah di sini.

Kiran yang mendengar hal itu sontak melebarkan mata bulatnya. Ia tak menyangka, Tika juga akan bersekolah di tempat yang sama dengan dirinya. Kini ia hanya berharap semoga Tika tak sekelas dengan dirinya. Ia akan tambah kesal jikalau Tika harus satu kelas dengan dirinya.

“Perkenalkan. Aku Bisma. Tepatnya, Bisma Karisma.”ujar Bisma memperkenalkan dirinya sendiri.

“Aku Cantika. Kamu bisa memanggil Tika.”ujar Tika tersenyum manis sambil membalas uluran tangan Bisma.

“Namanya cantik. Seperti orangnya.”

Sontak pernyataan itu, membuat pipi Tika merona merah. Sedangkan Kiran hanya menatap tajam kedua orang yang sedang berkenalan itu.

“Omong-omong, bagaimana kamu bisa kenal Kiran?”tanya Bisma.

“Aku tinggal di rumahnya Kiran.”jawab Tika santai.

Bisma yang mendengar itu,tersenyum senang seakan-akan ia mendapatkan kado terindah di hari ulang tahunnya ini.

“Bisma, aku mau pulang. Capek ngedengerin obrolan kalian.”ucap Kiran kesal kemudian berlalu pergi.

Tika yang niatnya memang menjemput Kiran pun akhirnya dengan berat hati harus meninggalkan Bisma dan menyusul Kiran yang sudah melangkah cepat menuju gerbang sekolah.

“Bisma, aku pulang dulu ya. Sampai jumpa besok lusa.”

“Iya. Sampai  jumpa besok lusa. Semoga kita bisa satu kelas.”

***

“Kak Rafael! Kenapa kakak ngajak Tika buat jemput aku sih. Lagipula kenapa juga dia harus sekolah di tempat yang sama kaya aku.”omel Kiran seketika saat ia masuk di kursi penempang sebelah kursi driver.

“Ya ampun Kiran. Dateng-dateng kenapa ngomel sih. Ya kebetulan dong kamu kan jadi ada temen kalau lagi ngerjain tugas biar gak ngerecokin kakak mulu. Lagian Tika bintang kelas lho waktu di sekolahnya yang dulu.”

“Jadi ceritanya kakak udah capek buat ngajarin aku ngerjain tugas nih.”

Rafael hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan adiknya yang sepertinya sangat sensitive sejak kemarin. Dan setiap kali marah pasti ada sangkut pautnya dengan Cantika.

“Kakak!”

“Ada apa sih, Kiran.”

“Aku sebel sama kakak.”

Rafael diam menanggapi sikap adiknya itu. Secara fisik, ia memang seorang gadis SMA yang cantik. Namun, sifatnya sungguh sangat kekanak-kanakan. Ia sering sekali cemberut tanpa alasan yang tak tentu. Namun tak butuh waktu lama, ia bisa kembali tertawa lagi.

Tak terasa mobil Rafael telah berhenti di depan pintu sebuah rumah yang bisa dikatakan cukup besar. Sebuah rumah bergaya eropa klasik yang mewah dan elegan. Dengan emosi , Kiran membuka pintu mobil dan menutupnya kasar. Dengan segera, Rafael mencoba menyusul Kiran. Begitu juga dengan Cantika yang duduk di jok belakang mobil Rafael.

BLAM!

Baru saja langkah kaki Rafael berada di pintu masuk rumah, ia bisa mendengar suara pintu yang ditutup dengan keras. Ia tahu, itu adalah pintu kamar Kirana. Sepertinya Kirana benar-benar kesal dengan Rafael.

“Tika, lebih baik kamu ke kamar saja.”

Cantika mengangguk manis menanggapi perintah Rafael. Rafael yang memang tak berniat sedikitpun untuk menyusul Kirana, ia melanjutkan langkahnya menuju kamarnya yang berada di sebelah kamar Kirana.

***

Rafael terdiam setelah tak sengaja matanya menangkap jarum jam dinding ruang tengah. Tepat pukul delapan malam. Ia pandangi kamar Kirana yang sedari tadi tak terbuka sedikitpun. Sedangkan, jam makan malam telah lewat. Ia tahu adik kesayangannya itu belum mengisi perutnya semenjak tadi siang.

Ia letakkan pelan laptop yang sedari tadi hinggap di pangkuannya. Dengan langkah pasti ia menuju ke kamar  Kirana.

“Kiran, ini kakak.”

Hening. Tak ada sedikitpun suara dari dalam kamar Kirana.

“Kiran.”

Lagi-lagi hanya hening yang diterima Rafael. Baru saja ia akan membalikkan badannya, indra pendengaran Rafael menangkap suara yang sudah dipastikan dari dalam kamar Kiran. Ia mendekatkan telinganya tepat di depan daun pintu kamar Kiran. Mencoba memperjelas apa yang baru saja ia dengarkan.

Suara itu semakin jelas dan semakin keras. Membuat Rafael yakin bahwa itu adalah suara isakan Kirana. Perlahan tangan Rafael menyentuh kenop pintu kamar Kiran. Kebetulan kamar berdaun pintu berwarna putih itu sedang tidak dikunci.

Mata Rafael membulat seketika mendapati kamar adiknya sungguh berantakan. Lembaran-lembaran tissue kusut tergelatak berserakan di atas lantai. Bahkan bantal, guling, dan selimut pun kini berserakan di lantai coklat kamar Kiran. Sedangkan si empunya kamar masih menangis terisak di atas kasur. Ia menyembunyikan kepalanya di antara lututnya. Rambutnya acak-acakan, bahkan seragam sekolah tadi siang masih menempel di badannya.

“Kiran.”panggil Rafael lirih.

Ia berjalan pelan menuju tempat tidur Kiran. Dengan penuh kelembutan dan kasih sayang, ia memeluk adiknya itu. Namun, Kiran malah berusaha untuk melepaskan pelukan itu. Entah mengapa ia masih merasa kesal dengan apa yang ia alami hari ini. Ia merasa semua orang menjadi membela dan memperhatikan Tika. Cantika, seorang gadis yang tiba-tiba muncul di hadapannya, bahkan di hadapan Bisma, sahabatnya yang ia cintai sedari dulu. Namun, hanya dengan sekali bertemu dengan mudahnya Bisma mengatakan bahwa ia menginginkan Tika dan Kiran sangat mengerti bagaimana arti tatapan Bisma untuk Tika.

Rafael masih berusaha memeluk erat Kiran, meskipun sedari tadi Kiran selalu memberontak. Rafael mencoba mengelus lembut punggung Kiran. Mencoba memberikan ketenangan untuk adiknya itu. Tak lama, gerakan Kiran mulai melemah. Mungkin ia sudah terlalu capek untuk mencoba melepaskan diri dari Rafael.

“Kakak.”ucap lirih Kiran. Mata bulatnya menatap Rafel dalam.

“Iya sayang.”balas Rafael lembut.

“Kakak. Kiran sayang kakak. Jangan tinggalin Kiran.”ucap Kiran dan memeluk tubuh kekar Rafael.

“Kakak gak akan tinggalin kamu. “

“Janji?”

“Iya sayang. Kenapa kamu tanya seperti itu?”

“Entahlah kak. Kiran hanya merasa sebentar lagi kita akan berpisah. Dan Kiran hanya tak mau itu terjadi. Kiran hanya terlalu sayang dengan kakak.”batin Kiran.

***

Sinar matahari menelusup masuk. Membawa secercah semangat di pagi hari yang cerah. Seorang gadis berperawakan mungil masih setia tertidur pulas di balik selimutnya. Hingga suara jam weker bermotif mickey mouse itu berbunyi nyaring memekikkan telinga.

Kiran hanya menggeliat kecil. Sedangkan lelaki bermata sipit di sebelah Kiran sudah mulai terusik dengan bunyi jam weker itu. Dengan sedikit nyawanya yang telah terkumpul, ia bergerak mematikan jam weker .

“Kiran, bangun. Sudah jam 6. Bukannya hari ini kamu mau jogging sama Bisma?”

“Gak ah kak. Masih ngantuk. Minggu depan saja.”

“Kalau gak mau juga gak papa. Tika udah siap lho. Mungkin Bisma bakalan ngajak Tika.”

“TIDAK!!!”histeris Kiran dan segera saja bergegas ke kamar mandi.

Rafael hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah adiknya. Ia merasa Kiran selalu saja sensitif dengan Tika. Bahkan hanya dengan mendengar namanya saja.

***

“Bismaaa!!!”teriak Kiran menghampiri Bisma.

Ia terlihat sungguh senang mendapati Bisma yang kini tengah menunggunya. Bisma hanya tersenyum tipis melihat Kiran.

“Bisa kita berangkat sekarang?”tanya Kiran bersemangat.

“Sebentar. Kita tunggu si Cantik sebentar.”

“Cantik?”

“Iya Cantik. Cantika.”

Kiran yang tadinya sungguh bersemangat seketika lesu. Mengapa selalu Cantika? Hanya itu yang selalu Kiran pikirkan.

“Ayo kita berangkat!”ajak Tika yang ternyata kini sudah berdiri tepat di samping Bisma.

Bisma tersenyum lebar melihat Tika. Tanpa berbicara sepatah kata pun tiba-tiba saja Bisma menarik pergelangan tangan Tika dan berjalan meninggalkan Kiran yang masih berdiri mematung. Namun, tak lama Kiran juga mengikuti langkah Bisma. Ia sungguh kesal. Mengapa hidupnya menjadi sungguh tak tenang setelah kehadiran Tika? Ini baru dua hari. Bagaimana jika ini berlangsung selamanya. Mungkin Kiran bisa gila.

***

Berbagai umpatan telah sukses meluncur pelan dari mulut Kiran. Sedari tadi ia hanya mendecak kesal melihat tingkah Bisma dan Tika. Mereka sudah seperti layaknya orang berpacaran. Bergandengan tangan, saling bersuap-suapan snack, dan berbagai kegiatan yang menyebabkan Kiran bertambah kesal.

“Bagaimana kalau kita mencari sarapan di dekat sini? Sepertinya cacing-cacing di perutku sudah memberontak.”ujar Bisma diiringi tawa ringan dari Tika.

“Bagaimana jika kita makan di warung seberang jalan? Sepertinya makanannya lezat.”usul Tika.

“Boleh. Ayo!”

Kiran hanya bisa mengerucutkan bibirnya. Sedari tadi Bisma dan Tika hanya mengobrol sendiri. Seakan tak ada dirinya di sekitar mereka. Akhirnya, dengan sangat tidak bersemangat Kiran mengekor pada Bisma dan Tika. Mulut Kiran tak henti-hentinya mengomel dengan mata yang tak pernah lepas dari sosok Bisma dan Tika di depannya.

“Aw!”rintih Kiran.

“Hiks. Bisma.”

Karena tak memperhatikan jalan, ia tersandung jalan aspal yang ternyata berlubang itu. Ia duduk tersimpuh di tengah jalan memegangi lututnya yang terluka tergores aspal jalanan. Kiran hanya bisa menangis menatap kakinya yang terluka. Padahal hanya luka kecil. Namun, dia sudah terisak. Kiran memang sungguh manja. Jadi, bukan hal baru jika ia gampang sekali menangis. Bisma yang sudah sampai di seberang jalan dan sempat mendengar rintihan Kiran segera berbalik dan berniat untuk membantu Kiran sahabatnya yang sungguh manja itu.

“KIRANNN!!! AWASSS!!!”

Seketika teriakan Bisma terdengar membahana. Namun, terlambat. Kendaraan beroda dua itu sudah berhasil menabrak tubuh mungil Kiran. Dan dalam sekejap, tubuh gadis manja itu telah terkulai lemas di jalanan bersama darah yang mengucur dari bagian-bagian tubuhnya yang terluka.

***

Kiran masih sibuk mengatur napasnya agar kembali normal. Kejadian di mimpi itu terasa sungguh nyata. Rafael yang terbangun karena teriakan yang tiba-tiba meluncur dari mulut kecil Kiran hanya mampu mengelus pelan rambut Kiran, memberikan pengertian bahwa semua akan baik-baik saja. Kiran yang mulai tenang tiba-tiba saja menangis, mata bulatnya memandang kosong ke depan.

“Kirana cantik, kenapa menangis? Jangan dipikirkan lagi mimpi buruk itu.”

Kiran masih menangis. Ia merasa dadanya sungguh sesak. Ia merasakan bahwa mimpi itu begitu nyata. Bahkan kematian sempat terlintas dalam benaknya.

“K..kak te..rima ka..sih.”ucap Kiran susah payah.

Rafael hanya mengernyitkan dahi tak mengerti. Semakin lama ia merasa sikap Kiran semakin aneh.

***

Bisma dan Cantika bersenda gurau dengan santainya. Seakan-akan mereka sudah benra-benar mengenal satu sama lain. Namun, di mata Kiran mereka sungguh menyebalkan, karena mereka berdua tak sedikitpun memandang Kiran.

‘BRAK’

Kiran menggebrak mejanya dengan keras yang sontak membuat seluruh pasang mata di ruangan itu memandangnya. Namun, tanpa menghiraukan tatapan-tatapan temannya, Kiran beranjak pergi dari kelas. Sedangkan, Bisma dan Cantika hanya saling memandang bingung dengan sikap Kiran.

Kiran masih terus berjalan, hingga akhirnya sampailah dia di halaman belakang sekolah. Ia duduk bersandar di bawah pohon beringin besar di sana. Menatap kosong hijaunya rerumputan di depannya.

“Hi anak manja.”seru seseorang dari balik pohon di belakang Kiran.

Kiran tak bergeming sedikitpun mendengar kata-kata itu. Ia lebih dari tahu siapa yang sedang berada di belakangnya sekarang. Lelaki berperawakan tinggi kurus itu pun duduk bersandar di sebelah Kiran.

“Aku tahu suatu saat kau pasti akan kembali lagi di sini. Apa kau mau menjawab pertanyaanku waktu itu? Bukankah sudah jelas bahwa Bisma menyukai Cantika?”ujar lelaki itu sambil melihat lurus ke depan.

“Bukankah waktu itu sudah sangat jelas bahwa aku tak bisa menerimamu. Mengapa kau yakin sekali bahwa aku akan merubah jawabanku?”

“Karena penantianmu akan Bisma pasti akan berakhir sia-sia.”

“Muhammad Dicky Prasetyo, sampai kapanpun jawabanku untukmu tak akan pernah berubah. Kau hanyalah seorang teman untukku. Jangan sampai hal ini malah membuat diriku membencimu.”

“Percayalah, akan ada seorang wanita yang lebih baik dariku yang akan mencintaimu tulus. Jangan terlalu mengharapkanku, jika kau tak ingin merasakan sakit hati yang lebih dari ini.”ujar Kiran lagi dan berlalu pergi meninggalkan Dicky yang masih termenung diam.

***

Dua bulan sudah Kiran hidup bersama Cantika. Perasaan tidak suka itu pun masih menyelemuti hati Kiran. Belum lagi, sekarang ini Cantika dan Bisma telah menjadi sepasang kekasih tepat dua minggu yang lalu saat ulang tahun Cantika.

Hari itu, semuanya tampak bersuka cita terkecuali Kirana. Sepanjang acara ia hanya bisa mengerucutkan bibirnya. Ia sungguh tak mengerti dengan sikap keluarganya. Dulu, saat ulang tahun Kiran yang ke-17 ia harus mati-matian merayu ayahnya agar mau merayakan ulang tahunnya. Namun, ini sungguh berbeda dengan Cantika. Cantika bahkan sempat menolak keras tentang pesta ulang tahunnya ini, menurutnya ini akan membuang uang saja. Dan akhirnya, pesta ini terselenggarakan atas dasar permohonan dari seluruh keluarga kepada Cantika.

“Arrgghh!!!”teriak Kiran.

Ia sungguh tak bisa menangkap maksud dari semua ini. Bahkan, semakin hari ia semakin merasa kesepian. Dia semakin jarang mendengar tutur kata lembut Rafael yang dulu selalu bisa menenangkannya.

“Sebenarnya apa yang kau inginkan? Kau selalu saja mengadukan tentang kejelekan Cantika. Kau selalu saja menyalahkan Cantika, seakan-akan hanya dirimulah yang paling benar. Kakak kecewa dengan kamu, Kiran.”

Kata-kata itu selalu saja terngiang-ngiang di otak Kiran. Sifat Rafael berubah. Tak ada lagi sayang, tak ada lagi senyum tulus yang selalu Rafael berikan pada Kiran. Hanya kata-kata menyakitkan yang kini ia dengarkan. Bahkan Kiran merasa dirinya seperti orang asing di rumahnya. Taka ada lagi kehidupan penuh tawa seperti dulu.

***

Kiran menutup matanya, merasakan hembusan lembut angin sore yang menerpa wajahnya. Ia merasa damai tatkala angin menerpa wajahnya. Ia merasa seakan semua masalah hilang begitu saja.

“Angin sungguh damai, akankah aku bisa merasakannya lebih lama lagi?”gumam Kiran.

Perlahan Kiran membuka matanya, tetesan air hujan mulai turun membasahi bumi. Entah apa yang sedang Kiran pikirkan. Melihat tetesan hujan yang semakin besar, ia melangkahkan kakinya keluar kamar dan mengambil payung yang berada di pojokan teras rumahnya. Dengan senyum yang mengembang, ia langkahkan kakinya keluar gerbang rumahnya.

“Aku merindukan hujan.”ujar Kiran lalu membuang payungnya.

Ia berdiri di tengah jalan. Merentangkan tangannya. Menengadahkan kepalanya. Memejamkan matanya dan merasakan buliran air hujan membasahi seluruh tubuhnya. Ia sungguh menikmati hujan kala itu, hingga dari kejauhan tampak sebuah mobil dengan kecepatan tinggi berjalan ke arah Kiran. Klakson mobil itu telah berbunyi untuk sekian kalinya. Namun, tak sedikitpun Kiran merubah posisinya.

“KIRAN AWASSS!!!”

‘Brakk’

Kecelakaan pun tak terelakkan. Kiran yang terbuang ke sisi jalan pun hanya bisa meringis kesakitan karena lutut dan siku nya terluka. Sedangkan seorang wanita penolong Kiran pun telah berlumuran darah. Dengan sedikit tertatih, Kiran menghampiri wanita itu. Namun, betapa terkejutnya Kiran. Wanita itu tak lain adalah orang yang selama ini membuatnya selalu berteriak kesal.

“Cantika,”

***

Kiran hanya bisa terdiam bersandar di dinding rumah sakit. Pikirannya sungguh kacau. Sedangkan, bunda Kiran masih menangis sesenggukan dengan ayah Kiran di sebelahnya yang masih berusaha menenangkan istrinya itu. Di ujung koridor nampak Rafael dan Bisma yang datang. Terlihat jelas raut kekhawatiran di wajah mereka.

“Ayah, bagaimana bisa ini terjadi?”tanya Rafael pada ayahnya.

“Cantika tertabrak mobil setelah mencoba menyelamatkan Kiran.”jawab ayah Rafael berusaha tegar.

Seketika wajah Rafael memerah menahan amarah. Ia berjalan mendekati Kiran yang sedang terduduk di lantai. Sebuah tamparan telak pun mendarat mulus di pipi Kiran. Kiran memandang Rafael bingung sambil memegang pipi kirinya yang perih karena tamparan kakaknya.

“Sekarang kau puas?”tanya Rafael dengan nada tinggi.

“Apa maksud kakak?”tanya Kiran yang memang tak mengerti apa yang dikatakan oleh Rafael.

Mendengar jawaban Kiran, kilatan kemarahan pun semakin terlihat jelas di mata Rafael. Bahkan telapak tangan Rafael pun hampir saja mendarat di pipi Kiran kalau saja Bisma tak mencegahnya.

“Dasar manusia tak tahu diuntung. Kau bukan siapa-siapa di keluarga ini. Tapi apa yang kau lakukan terhadap Cantika? Kau ingin membunuhnya?”

Kiran hanya bisa terisak lebih dalam mendengar teriakan Rafael. Perasaan kecewa terhadap dirinya sendiri pun sempat merayapi hatinya. Perempuan yang selama ini tak disukainya, ternyata yang telah menyelamatkan nyawanya. Belum lagi melihat kemarahan Rafael yang begitu besar terhadap dirinya, membuat dirinya semakin merasa bersalah.

Dengan ekspresi yang sulit diartikan, dokter keluar dari pintu tempat Cantika diperiksa. Kiran yang saat itu sedang terduduk bersandar dinding segera bangkit mendekati dokter.

“Penyakit kelainan jantung yang diderita peserta semakin akut. Ditambah lagi karena peristiwa kecelakaan yang baru saja dialami pasien, membuat tubuhnya semakin lemah. Dan setelah ini, hidup pasien akan sangat bergantung dengan alat-alat medis.”

Seakan dihantam ribuan beton, dada Kirana seketika mersa sungguh sesak. Andai saja, dirinya tak ceroboh mungkin ini semua tak akan terjadi. Andai saja Cantika tak menolongnya, mungkin dirinyalah yang harus merenggang nyawa. Rafael pun tak akan mungkin membentaknya. Kiran sungguh merasa menyesal.

“Jika sampai terjadi sesuatu buruk menimpa adik kandungku. Aku tak akan pernah memaafkanmu, gadis sial.”umpat Rafael tepat dihadapan Kirana.

Mata bulat Kiran membelalak kaget mendengar hal itu. Jadi, selama ini dia bukanlah bagian dari keluarga ini? Bagaimana bisa ia sangat tak menyukai Cantika yang bahkan sebenarnya mempunyai hak yang lebih besar dibadingkan dirinya. Bagaimana bisa ia memiliki sifat sejelek itu?

Kaki kecil Kiran pun melangkah mundur melihat semua orang yang selama ini ia anggap sebagai keluarganya. Keluarga yang sudah belasan tahun memberikannya materi dan kasih sayang. Hingga langkahnya semakin jauh, dan ia berbalik berlari menjauh. Hingga akhirnya ia menemukan sebuah ruangan dokter yang tadi memeriksa Cantika.

“Lalu dok, apa yang harus dilakukan agar Cantika bisa hidup normal kembali?”

“Donor jantung. Itu adalah satu-satu jalan agar hidup Cantika bisa normal. Namun, seperti yang kita ketahui donor jantung hanya bisa dilaksanakan oleh orang yang sudah meninggal atau mungkin orang yang diperkirakan hidupnya tak akan lama lagi. Dan jantung dari orang yang baru meninggal hanya bisa bertahan selama sepuluh menit untuk dapat didonorkan.”

“Saya tahu siapa pendonor itu dok. Namun, saya mohon tolong anda serahkan ini kepada keluarga pasien setelah operasi itu berhasil, dok.”

“Baiklah. Lalu, siapa pendonor jantung itu?”

“Saya,”

***

Kaki kecil Kiran berhenti tepat di pinggir sebuah lantai teratas sebuah gedung. Mata bulatnya menatap ngeri pandangan di bawah sana. Semua memang salah. Ini adalah hal terbaik yang bisa ia lakukan untuk membalas semua kebaikan orang-orang yang selama ini telah hidup bersama dirinya. Hanya ini satu-satu jalan membuat orang-orang yang disayanginya tersenyum.

***

Semua orang sungguh bahagia, mengetahui semua baik-baik saja. Bahkan operasi berjalan lancar, dan kini Cantika bisa hidup normal kembali.

“Rafael, kamu tahu dimana Kirana? Sudah beberapa hari setelah hari kecelakaan Cantika ia tak ada?”tanya Bunda Rafael.

Rafael yang saat itu sedang menyuapi Cantika yang telah sadar pasca operasi memandang kesal bundanya.

“Bunda, tak adakah pertanyaan lain yang bisa bunda tanyakan? Biarlah gadis tak tahu diuntung itu pergi.”

“Rafa! Bagaimanapun juga dia adalah bagian keluarga kita.”

“Sudah tidak untuk sekarang ini, bunda. Ia hampir saja membunuh Cantika. Untung saja ada pendonor jantung baik hati yang mau menyumbangkan jantungnya.”

Cantika hanya tersenyum tipis mendengar perkataan Rafael.

“Kak, bagaimana jika aku yang berharap Kiran ada di sini. Apa kakak akan menuruti permintaanku?”tanya Cantika ragu.

Rafael tampak berpikir keras mendengar permintaan adiknya itu.

“Baiklah,”jawab Rafael dengan hati yang sedikit berat.

“Permisi, maaf saya hanya mau menyampaikan ini.”ujar seorang suster berparas cantik yang tiba-tiba saja masuk bersama sebuah amplop biru muda di tangannya.

“Ini surat dari siapa, sus?”tanya bunda Rafael.

“Maaf ibu, mungkin ibu bisa membacanya sendiri. Permisi.”pamit suster itu sopan.

“Terimakasih sus.”

Bunda Rafael pun membuka amplop biru tersebut. Tiba-tiba saja ia sudah terduduk lemas di atas lantai dengan air mata yang mengalir deras.

“Bunda,”

Rafael yang merasa penasaran pun akhirnya membuka surat beramplop biru itu. dan tak dapat dipungkiri, penyesalan pun menyeliputi hatinya. Bagaimana bisa ia menjadi manusia yang dengan secepat itu terbawa emosi. Bahkan di saat terakhirnya, ia belum sempat untuk meminta maaf. Dan kini ia harus kehilangan sosok manja yang menghiasi hari-harinya selama ini.

‘Mungkin ketika kalian semua membaca surat ini, aku telah tiada. Hanya ada jantungku yang bisa hidup di tubuh Cantika. Itu adalah hal terakhir yang bisa aku berikan kepada keluarga ini. Hanya itu satu-satunya jalan agar aku bisa membalaskan kebaikan kalian.

Kak Rafael, Kiran memohon maaf atas semua kesalahan Kiran. Kiran sangat tahu bahwa Kiran memang manusia ceroboh dan tak tahu diri. Namun, kak aku sungguh bersyukur bisa merasakan bagaimana rasanya memiliki keluarga. Meskipun pada akhirnya, aku tahu mereka bukanlah keluarga sedarahku. Meskipun begitu aku merasa sungguh beruntung. Aku beruntung memiliki saudara seperti kak Rafa yang selalu bisa membimbing diriku, memberikan diriku kasih sayang. Aku sungguh beruntung kak. Aku sungguh beruntung memilikimu. Andai saja sifatku tak sejelek ini, apakah aku masih bisa bersama kak Rafa? Bagaimanapun juga, ini adalah jalan takdirku. Semua yang kujalani dalam hidup ini adalah hal-hal indah yang tak akan pernah aku lupakan. Aku sungguh menyayangimu, kak. Apapun tanggapanmu tentang diriku, seluruh jiwa dan ragaku sangat menyayangimu dan sampai kapanpun tak akan pernah hilang.

Ayah, Bunda Kiran minta maaf atas kesalahan Kiran selama ini. Atas semua kebodohan yang telah Kiran lakukan. Atas semua hal yang bahkan tak seharusnya Kiran dapatkan. Terima kasih atas semua kebaikan kalian. Semoga persembahan terakhir Kiran ini bisa membalas kebaikan semua. Meskipun, Kiran tahu itu semua tak akan pernah bisa terbalaskan.

Untuk Cantika, aku minta maaf yang sebesar-besarnya. Tak seharusnya aku mendapatkan semua yang seharusnya kau dapatkan. Bisma pun sungguh cocok bersanding bersamamu. Tak seharusnya aku marah melihat hubungan kalian. Tak seharusnya aku cemburu melihat kalian yang sungguh serasi. Karena aku bukanlah siapa-siapa. Aku bukanlah apa-apa. Bahkan, manusia seperti ku tak ada baiknya hidup di dunia ini. Maafkan aku, Tika. Semoga jantung ku cocok untukmu.

Terimakasih untuk semuanya.

Love,

 

Kirana

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s