On a Rainy Days

Ini hanya sebuah cerita fiksi. Sebenarnya ini adalh sebuah potongan-potongan masa lalu.Dan hanya terjadi di dalam di dunia imajinasiku.

Hanya berharap kalian menikmati apa yang telah aku tulis.

Cast : Kim Nana [you] ; Your Bias

***

When the worlds turn dark

And the rain quietly falls

Everything is still

Even today, without a doubt

I can’t get out of it

I can’t get out from the thoughts of you

“Ya! Kim Nana! Jangan hujan-hujanan! Kau bisa sakit!”teriakku lantang pada gadis di hadapanku yang tengah berdiri di tengah hujan menikmati terpaan air hujan yang semakin deras menerpa wajah cantiknya.

“Oppa! Ini sungguh indah. Ini sungguh menyenangkan, oppa. Aku suka hujan.”

Sesaat ia menghentikan aktivitasnya. Memandangku dengan tatapan mata coklatnya yang teduh. Tatapan matanya seakan mengajakku untuk bersamanya. Menikmati hujan yang sangat dia sukai. Aku hanya tersenyum dan menggelengkan kepala. Aku tak suka hujan-hujanan. Ku lihat, dia hanya cemberut. Wajahnya sangat lucu. Ditambah pipi chubbynya yang ia gembungkan. Aku sungguh suka melihatnya cemberut. Tanpa menghiraukan diriku yang sedang tertawa kecil, ia memulai lagi aktivitasnya yang sempat tertunda.

***

“Aku bisa merasakan kehadiranmu, Nana-ya.”gumamku menikmati butiran-butiran air yang jatuh dari langit menerpa wajahku.

“Ini memang sangat menyenangkan. Andai saja waktu itu aku bisa melewati moment ini bersamamu.”

Ku rasakan setiap butiran air yang menerpa wajahku. Menyampaikan setiap kerinduanku kepadanya. Meluapkan segala perasaan cinta yang masih hangat di hati ini.

“Mengapa kau begitu cepat meninggalkanku? Aku terlau lemah tanpamu. Aku terbiasa hidup bersamamu. Aku terbiasa melakukan setiap hal denganmu. Semua ini terlalu sulit. Aku masih sangat mengharapkanmu. Andai saja waktu bisa ku putar kembali, aku tak akan pernah melakukan hal bodoh itu.”

***

Now

I know that it’s end

I know that it’s all foolishness

Now I know that it’s not true

I am just disappointed in myself for

Not being able to get a hold of you

Because of that pride

‘Mianhae oppa. Mungkin ketika oppa membaca surat ini aku telah pergi ke Amerika untuk menyembuhkan penyakitku. Tanpa memberitahumu, aku yakin oppa sudah mengetahui penyakitku ini. Aku sengaja tak memberitahu oppa tentang kepergianku. Aku takut, jika nanti aku berubah pikiran.

Oppa, ku harap  jangan pernah menangis. Aku tak suka melihat oppa menangis. Apalagi jika oppa menangisiku. Oppa sungguh jelek ketika menangis. Aku ingin melihat Yeye oppa yang selalu tersenyum.  Aku suka senyumanmu, oppa. Tersenyumlah untukku dan jangan pernah menangis untukku. Yaksok?

Aku akan selalu berada di hatimu oppa. Dan tepati janjimu. Saranghae.

^Kim Nana^’

“Nado Saranghae Kim Nana.”

Ku peluk erat lembaran kertas putih itu. Tanpa sadar, air mataku menetes. Namun, dengan cepat aku menghapusnya. Aku telah berjanji tak akan pernah menangis dan akan selalu tersenyum.

***

On the rainy days

You come and find me

Torturing me through the night

When it’s the type of day that you really liked

I keep opening the raw memories of you

Making the excuse that it’s all memories

Buliran-buliran air hujan membasahiku jendela kamarku. Aku hanya bisa menatap nanar jendela kamarku itu. Sekarang sudah terlalu larut. Namun, aku tak akan bisa tidur jika hujan belum berhenti. Tak mungkin jika aku harus melewatkan setiap jatuhan hujan. Hanya di saat hujan aku merasa Nana berada di dekatku. Bersamaku dan mendekapku.

Aku bisa menatap wajah manisnya. Menatap manik matanya yang coklat. Melihat pipinya yang chubby. Aku ingin menyentuhnya. Memeluk hangat tubuhnya. Namun, itu tak pernah bisa. Aku hanya bisa menatap senyumnya yang sungguh menawan.

***

“Nana-ya kau harus makan.”

Sudah berulang kali aku membujuknya untuk makan. Sudah dari pagi hingga malam seperti ini ia belum makan sedikitpun. Hanya karena aku lupa memberikannya bunga mawar tadi pagi. Ya, aku memang harus memberinya bunga mawar setiap hari Selasa.

“Shireo oppa. Aku sedang marah denganmu.”

“Hhh ayolah Kim Nana. Kau mau sampai kapan tidak mau makan?”

“Jangan mengajakku bicara oppa. Aku sedang marah denganmu.”

“Kalau begitu katakan padaku apa yang bisa ku perbuat agar kau tak marah lagi denganku. Apapun akan ku lakukan.”

“Jinjjayo oppa? Apapun?”

“Ne. sekarang katakanlah. Tetapi setelah itu kau harus makan.”

“Aku ingin oppa memberikanku bunga mawar setiap hari. Jika oppa sampai melanggar yang ini aku tak akan pernah mau makan.”

Mwo?! Jadi hanya itu yang harus ku lakukan agar ia mau makan? Ckckck kau sungguh kekanakan Kim Nana.

“Ne. Aku akan mengabulkannya. Sekarang kau harus makan.”

“Suapi ya oppa.”

***

“Oppa, rumah seperti apa yang kau inginkan jika kita menikah nanti?”tanyanya di saat kami sedang terbaring di rerumputan memandang langit gelap di atas sana.

“Seperti apapun bentuk rumah itu aku akan tetap menyukainya. Asal kau ada di sisiku. Memang kau ingin rumah yang seperti apa?”

“Aku ingin rumah beratap kaca. Aku ingin merasakan hujan. Merasakan seakan buliran air hujan itu jatuh membasahi tubuhku. Karena oppa suka sekali memarahiku ketika aku hujan-hujanan.”

“Ya! Itu ku lakukan juga karena aku menyayangimu chagi. Aku tak ingin kau jatuh sakit. Dan itu terbukti kan? Kau sering pilek jika hujan-hujanan.”

“Tapi oppa. Aku suka hujan. Aku suka ketika air hujan menyentuh kulitku. Ketika suara air hujan menenangkan indra pendengaranku. Aku sungguh suka itu oppa.”

“Itu terserah kau Kim Nana. Sekeras apapun aku melarangmu, kau tetaplah Kim Nana yang sangat menyukai hujan.”

***

I take a step forward

I don’t even make the effort to escape

Now

I erased all of you

I emptied out all of you

But when the rain falls again

All the memories of you I hid effort

It all comes back

It must be looking for you

Aku sedang berada di balkon kamarku. Memandangi hujan dan langit yang gelap. Tak sengaja pandanganku terhenti saat melihat seorang namja dan seorang yeoja sedang berada di bawah hujan. Sang namja dengan bunga warna merahnya sedang berjongkok seperti seorang pangeran yang sedang melamar sang putri. Sebuah kenangan yang lagi-lagi mengingatkanku tentang Kim Nana. Yeojachinguku yang telah pergi.

Aku hanya tersenyum miris mengingat nasib diriku sendiri. Merasakan betapa hampanya hidup ini tanpa dirinya. Dirinya yang suka hujan. Dirinya yang suka mawar merah. Dan dirinya yang sangat manja dan kekanakan. Aku sungguh merindukan itu semua.

***

Now there is no path for me to return

But looking at your happy face

I will still try to laugh since

I was the one

Without the strength to stop you

What can I do about something that already ended?

I’m just regretting after like the stupid fool I am

 -FIN-

Kekeke ^^

Saya sendiri yang menulis sebenarnya juga gak paham dengan apa yang saya tulis.

Jadi harap maklum, jika ini sangatlah tidak menarik.

Hanya ingin menulis saja.

Annyeong ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s