I Want You – Part IV

“Aku.. Aku.. Aku..”ucap Nisa yang tak ia lanjutkan. Dia malah menangis.

Laki-laki itu pun memeluk Nisa.

“Maafin aku, Nis.”ucapnya sangat lembut.

“Aku cinta kamu, Za. Aku sayang kamu. Aku ingin selalu bersamamu.”ucap Nisa lirih kepada laki-laki yang mendekapnya itu yang ternyata Reza.

“Aku juga cinta dan sayang kamu Nis. Apa kamu mau maafin aku? Kamu mau kan jadi pacar aku lagi?”tanya Reza kesekian kalinya. Nisa hanya mengangguk pelan di dekapan Reza. Reza pun mencium kening Nisa cukup lama.

“Ciee.. yang udah balikan nih. Kita sampai di lupain.”godaku pada Reza dan keluar dari tempat persembunyianku dengan kak Rafa.

“Maaf din, gue lagi seneng ini. Loe ganggu aja.”ucap Reza kesal merasa acaranya ku ganggu.

“Peace Za. Oh ya Nis, kenalin ini tunangan aku. Gue udah ada yang punya kok jadi gak mungkin aku bakal ngerebut si Reza jelek.”ucapku

“Dia kan sukanya sama gue yang ganteng.”ucap kak Rafa PD

“Orang kakak juga jelek.”ejekku.

“Ye, Ganteng kayak gini dibilang jelek.”

“Emang jelek kok.”

“Ganteng.”

“Jelek.”

“Ganteng.”

“Jelek.”

“STOP! Kok jadi kalian sih yang berantem.”teriak Reza kesal. Sedang kami berdua cuman nyengir kuda.

***

 

Part IV

 

Hari ini adalah hari OSPEK terakhir, pertanda aku harus ke Puncak. Kini, aku sedang berdiri di depan gerbang kampus dengan satu travel bag berwarna hitam dengan aksen biru muda menunggu Nisa. Sejak kejadian salah paham itu, kini aku menjadi berteman dengan Nisa. Selain, karena kami satu kampus sepertinya kami cocok.

“Sorry, gue telat.”ucap seorang perempuan bersama seorang laki-laki.

“Gue udah nunggu dari tadi tau, sendirian lagi.”ucapku kesal pada kedua orang itu yang ternyata Nisa dan Reza.

“Sorry deh sorry. Emang calon suami loe kemana?”tanya Nisa.

“Lagi ada meeting penting. Udah ayo buruan. Udah telat ini. Bye Za.”ucapku sambil menarik tangan Nisa.

“Eh, bentar ada yang ketinggalan.”ucap Nisa dan berbalik kemudian mengecup pipi Reza sekilas. Sedang Reza hanya tersenyum.

“Aish, dasar Nisa centil. Buruan.”teriakku.

Kami telah sampai di bus. Tapi, bus telah penuh. Hanya tersisa dua kursi kosong. Satu kursi berada di sebelah Rossa dan satunya di sebelah kak Morgan.

“Gue sama Rossa aja ya. Loe sama kak Morgan aja. OK?”tanya Nisa.

“Enggh.. tapi..”belum sempat ku selesai bicara Nisa langsung saja duduk di sebelah Rossa.

Aku mau tak mau harus duduk di sebelah kak Morgan yang bangkunya berada di belakang Rossa. Dengan malas aku berjalan menuju bangku itu. Setelah menaruh travel bag ku di bagasi atas, aku pun duduk di samping kak Morgan yang sedang membaca buku. Bus pun mulai berjalan meninggalkan halaman kampus. Sepertinya dia tak sadar bahwa ada orang di sampingnya. Baguslah, kalau seperti itu. Namun, tak lama dia pun menyadari kehadiranku.

“Dinda.”ucapnya. Aku hanya diam.“Din, please jangan giniin aku. Katanya kau memaafkan ku. Tapi, kenapa kau tetap bersikap seperti ini padaku?”

“Kak, please jangan mulai deh. Aku udah capek kak. Mau kakak apa sih?”

“Aku ingin kamu jangan giniin aku lagi. Aku ingin kita kembali kayak dulu. Meski ku tahu bahwa kau milik orang lain. Please my angel.”mohonnya.

‘DEGG’

Seketika jantungku seperti berhenti berdetak kata-kata itu.

-Flashback on-

“Tapi, aku mencintaimu. Kau adalah oksigen ku, kau adalah darahku, kau adalah jantungku kau tak bisa hidup tanpa kamu di sisiku.”ucap seorang laki-laki pada perempuan di hadapannya.

“Aku hanya tak ingin mengecewakan kakak. Hatiku telah dibawa ke negeri orang. Aku mencintainya dan aku masih sangat berharap dia akan kembali membawa hatiku yang telah dibawanya. Aku juga mencintai kakak tapi itu hanya sebatas seorang adik ke kakak. Aku sudah menganggap kakak adalah kakak ku sendiri. Hanya kakak yang selalu menghiburku selama ini, selalu memberiku semangat. Tapi, aku rasa aku tak mempunyai perasaan itu. Maafkan aku kak. Aku tak bisa.”jelas si perempuan panjang lebar.

“Aku tahu, aku tahu itu. Tapi tolong terimalah aku. Aku suatu saat kau akan mencintaiku.”ungkapnya.

“Baik, jika itu mau kakak. Tapi, jangan salahkan aku jika suatu hari aku mengecewakan kakak.”

“Thanks my angel.”ucap si laki-laki tersenyum bahagia dan membawa si perempuan di dalam dekapannya.

Seorang laki-laki itu adalah aku dan kak Morgan. Dua bulan sudah Morgan dan Dinda menjalani hubungan itu. Sedikit demi sedikit aku mulai bisa membuka hati untuk kak Morgan, meski cintaku pada kak Rafa tak akan pernah mati sampai kapanpun. Aku tahu, kak Morgan sangat baik. Dia sangat perhatian padaku.

Namun, beberapa hari ini sifatnya berubah. Ia selalu bilang bahwa sedang  sibuk dengan tugas kelompok. Ia memang satu tingkat lebih atas dariku. Sampai pada akhirnya ku beranikan diriku untuk menemuinya di rumahnya. Rencana ingin memberinya surprise karena kedatanganku, tapi ternyata aku salah justru yang diberi kejutan adalah aku. Dengan mata kepalaku sendiri aku melihatnya sedang berciuman dengan seorang perempuan lain di ruang tamu.

“Kakak!”teriakku yang sontak menghentikan aksinya. “Ternyata cinta kakak palsu.”ucapku sesenggukan karena menangis. Dia hanya memandangku yang sedang menangis dengan tatapan tanpa bersalah sedikitpun.

“Maaf Dinda tapi aku menemukan seorang perempuan lain, yang ternyata juga mencintaiku. Percuma ku jalani hubungan denganmu. Toh, kau juga tidak cinta kan denganku? Kenapa kau menangis seperti itu?”

“Aku pikir kakak memang benar-benar mencintaiku. Ternyata aku salah besar. Asal kakak tahu hatiku sudah mulai menerima kakak.”

“Kau bilang masih mulai kan? Berarti belum sepenuhnya kan? Aku sudah tak mau lagi menunggumu. Sudah ada perempuan di sampingku yang mencintaiku sepenuh hati bahkan dia lebih cantik darimu.”

Betapa terkejutnya aku mendengar pernyataan kak Morgan barusan ternyata dia tak sebaik yang ku kira. Segera ku pergi dari hadapan mereka berdua. Sebelum hati ini terlalu sakit.

Satu bulan telah berlalu, namun luka itu masih terasa. Sudah ku coba menutup ini rapat-rapat. Hingga aku mendapatkan sebuah surat. Surat dari kak Morgan.

Dinda, maafkan aku. Ternyata aku salah memilih wanita. Ternyata perempuan itu hanya ingin memanfaatkan kekayaanku saja. Dia tak mencintaiku, bahkan tidak sama sekali. Entah apa yang telah membuatku buta saat itu. Aku terbujuk dengan kata-kata manisnya. Yang jelas aku sangat menyesal sekarang. Aku tahu kau pasti sudah tak mau bertemu ataupun berbicara padaku. Aku akan pergi,kuharap itu bisa menembus kesalahanku. Maafkan aku.

-Morgan-

-Flashback Off-

Tanpa terasa air mataku menetes. Luka ini kembali lagi. Kenapa harus ada kak Morgan lagi di hidupku?

“I’m not your angel again.”teriakku cukup keras dan membuat bus yang tadinya gaduh menjadi sepi, namun tak lama bus menjadi ramai kembali.“Please, Don’t say it. You disappointed me.”ucapku cukup pelan namun masih bisa mendengarkanku.

Kak Morgan pun mengangkat wajahku yang memegang daguku dan mengangkat wajahku yang menunduk kini ia menghadapkan wajahku kepadanya. Dia pun menghapus air mata ku yang mengalir dengan kedua ibu jarinya. Kami saling bertatap, aku pun menunduk kembali dan secepat kilat kak Morgan mengangkat wajahku kembali. Membuatku menatap mata teduh itu lagi.

***

Kini, kami telah sampai di puncak. Di tanah lapang yang cukup luas dengan dikelilingi kebun teh, kami semua segera mendirikan tenda sesuai dengan kelompok yang ditentukan. Aku setenda dengan Nisa dan dua orang dari jurusan lain. Pengelompokan kali ini memang dibagi secara acak antar jurusan.

“Bangun.. Bangun… Bangun..”teriak para panitia dari luar tenda yang sontak membangunkanku.

“10,9..”mendengar hitungan segera ku bangunkan Nisa di sebelahku yang sepertinya tak bergeming.

“8,7,,”

“Nis, bangun ayo..”

“5,4,..”

Dengan sedikit malas kutarik tangan Nisa dan kami pun berlari keluar tenda.

“1..”

Tepat hitungan ke satu kami telah sampai di barisan.

“Panitia gila, ini masih jam tiga pagi. Gak tau apa baru tidur 30 menit ini.”keluh Nisa sambil menguap.

“Sekarang kalian harus mencari 3 bendera seperti ini.”ucap seorang wanita perempuan sambil menunjukkan bendera berwarna merah dengan bundaran berdiameter kira-kira 1cm berwarna kuning. “Bendera seperti ini bisa ditemukan di mana saja. Selain mencari bendera kalian harus mencari tanda tangan panitia pelaksana inti dan dari tiga tanda tangan harus ada tanda tangan ketua pelaksana. Wajib. Dan tugas ini dilaksanakan Individu. Mengerti?”

***

Sudah tiga bendera dan dua tanda tangan yang ku dapat? Hanya tinggal tanda tangan si ketua pelaksana, kak Morgan. Haruskah aku bertemu dengannya lagi? Mengapa harus ada OSPEK seperti ini? Ku berjalan dengan sangat malas. Aku tak suka acara seperti ini. Sesekali ku tendang kerikil kecil di jalan berbatu itu.

“Aww.”pekik seseorang dari balik semak belukar di depanku. Sepertinya salah satu kerikil yang ku tendang tadi mengenainya.

Segera ku hampiri seseorang yang memekik kesakitan tadi. Dia sedang duduk memunggungiku sambil mengusap-usap kepalanya.

“Maaf aku tak sengaja.”ucapku dan segera laki-laki itu menoleh.

“Kalau benci denganku, bukan berarti kau harus menimpukku kan?”

“Itu tak ada bandingannya. Sudahlah lagian hanya kerikil kan? Lebih baik kau berikan tanda tanganmu sekarang.”ucapku sambil menyodorkan note kecil dan bolpen ku pada laki-laki itu yang ternyata kak Morgan.

“Tak semudah itu. Kau tahu? Aku menunggumu sedari tadi.”ucapnya sambil tersenyum, senyuman yang tak wajar menurutku.

Tanpa menenerima note kecil dan bolpen yang ku sodorkan tadi, dia menarik dan menabrakkan punggungku ke pohon besar yang berada di belakangku. Dia mencengkeram bahu ku kuat dan menatap mataku tajam. Tatapan yang mengerikan. Entah apa arti tatapan itu. Ku cengkeram note kecil yang ku bawa di depan dadaku kuat-kuat. Aku takut. Ini bukan kak Morgan. Lambat tapi pasti dia mendekatkan wajahnya ke wajahku. Cengkeramannya pada bahuku semakin kuat. Ini sakit, tapi rasa takut yang sekarang menjalari tubuhku mengalhkan rasa sakitku.

Aku tak bisa teriak, rasanya ada yang membungkam bibirku rapat. Aku tak bisa berkata apa-apa. Nafasku sedikit tersengal sepertinya oksigen di planet ini telah habis. Aku hanya bisa memandangnya ngeri.

“Tuhan, tolong aku! Setan apa yang telah menguasai tubuh makhluk di depanku ini. Hilangkan setan itu dari tubuhnya, Tuhan.”do’a ku dalam hati.

Kini hidung kami telah bersentuhan, aku bisa merasakan deru nafasnya dan..

DIBUTUHKAN COMMENT!😀

5 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s