I Want You – Part III

“Dinda, kakak bener-bener minta maaf. Kakak ingin kita seperti dulu. Kakak bener-bener khilaf, kakak…”ucap kak Morgan ketika aku sedang mengisi perut sebentar di kantin kampus.

“Stop kak, Dinda udah capek ngedenger penjelasan kakak, itu udah lama banget. Dinda udah maafin kakak kok. Tapi, maaf kak untuk kita seperti dulu aku gak bisa kak. Dulu, kakak pernah ngehibur aku bahwa pangeran kecil aku bakal kembali, dan sekarang pangeran kecil aku telah kembali dan kita akan menikah bulan depan. Ku harap kakak bisa ngertiin aku.”ucapku lalu pergi dengan air mata yang telah berkumpul di pelupuk mataku.

PART III

Ku berlari di sepanjang koridor kampus. Pertahananku telah jebol, aku tak kuasa menahan air mata yang sedari tadi telah mendesak keluar. Tak ku pikirkan pandangan orang-orang yang memandang ku. Ku terus berlari, hingga kaki ini berhenti di taman kampus. Dadaku terasa sesak serasa ada sesuatu yang menghimpitnya, sakit itu hadir kembali. Luka lama yang telah ku tutup rapat-rapat selama ini telah terbuka kembali.

“Jangan nangis dong. Air matamu sangat berharga.”

“Pangeran kecil kamu pasti kembali kok.”

“Aku Cinta Kamu.”

“I Miss You.”

“Kamu udah makan kan? Kakak gak mau kamu sakit.”

“Maaf Dinda tapi aku menemukan seorang perempuan lain, yang ternyata juga mencintaiku. Percuma ku jalani hubungan denganmu. Toh, kau juga tidak cinta kan denganku? Kenapa kau menangis seperti itu?”

 “Kau bilang masih mulai kan? Berarti belum sepenuhnya kan? Aku sudah tak mau lagi menunggumu. Sudah ada perempuan di sampingku yang mencintaiku sepenuh hati bahkan dia lebih cantik darimu.”

Kata-kata manis dan kata-kata pahit itu, terngiang-ngiang di otakku.

“Dinda.”ucap seseorang pelan.

“Rezaaa.”ucapku lalu berlari memeluk reza yang berada tak jauh di depanku.

“Hi, kau kenapa?”tanya Reza khawatir. Aku masih menangis di pelukan Reza bahkanair mata ini mengalir semakin deras.

“Kak.. kak Mor.. mor.. gan.”ucapku sesenggukan.

“Udah, loe tenang dulu ya din. Mending kita duduk yuk.”ucapnya dengan lembut dan mengajakku untuk duduk. “Sekarang loe tenang dulu. Baru cerita. Kalau loe mau nangis, nangis aja, nangis sepuasnya. Loe boleh kok pinjem bahu gue.”

Kami berdua hanya diam. Aku masih menangis di pelukan Reza. Lama kelamaan tangisan ku mulai reda, meski dada ini rasanya masih sesak.

“Oh, jadi ini ya gara-garanya.” Ucap seorang wanita yang tiba-tiba muncul di belakang Reza, sontak Reza melepaskan pelukanku. “Reza gue kecewa. Gue udah nunggu dari tadi ternyata loe malah asyik berduaan di sini sama cewek yang gak jelas.”ucap cewek itu yang kemudian pergi.

“Nis.. Nisa.. kamu salah paham.”ucap Reza berteriak berharap bahwa wanita itu akan menghentikan langkahnya. Tapi, wanita itu tetap melangkah bahkan langkahnya kini semakin cepat. Reza masih diam di tempatnya.

“Za, mending kita cepetan kejar dia. Gue gak mau hanya karena gue hubungan loe sama dia berantakan. Ayo!”ucapku mulai normal dan segera mengajak Reza untuk mengejar perempuan itu.

Akhirnya kami berlari mengejar perempuan yang notabene adalah pacar Reza. Reza memang pernah bercerita kepadaku bahwa dia mempunyai pacar bernama Nisa. Dan aku yakin, Nisa yang ia panggil tadi adalah Nisa kekasihnya. Rasanya masalah ku hilang seketika. Kini yang ada diotakku hanyalah semoga masalah Reza cepat selesai. Karena, ini semua adalah salahku.

***

 Kini aku dan Reza sedang berada di depan rumah Nisa. Reza pun  mengetuk pintu rumah yang minimalis itu. Perlahan pintu rumah terbuka, keluarlah seorang wanita paruh baya, yang ku yakin pasti mamanya Nisa.

“Eh, nak Reza. Ada apa ya?”tanya mama Nisa ramah

“Iya tante. Nisa nya ada?”

“Oh, ada kok dia ada di kamarnya. Ayo silahkan masuk.”kami pun masuk ke dalam rumah itu. “Kalian langsung ke kamar Nisa aja ya. Tante mau keluar.”

“Baik tante. Terima kasih.”ucapku

Reza pun mengetuk pintu putih itu perlahan.

“Nis, ini aku Reza. Maafin aku Nisa, kamu hanya salah paham.”jelas Reza lembut di depan pintu kamar Nisa.

“Apa, ngapain loe ke sini? Belum puas buat nyakitin gue?”teriaknya dari dalam kamar emosi.

“Nisa, kamu salah paham. Dia itu sahabat aku. Dia sahabat aku Nisa. Aku tak ada hubungan apa-apa dengan dia. Aku sayang kamu, Nis. Cuma kamu yang ada di hati aku.”ucap Reza tegas tapi masih lembut.

“Laki-laki memang sama aja gak ada yang bisa dipercaya. Semuanya bullshit. Gue gak bakal percaya lagi sama semua omong kosong loe.”teriak Nisa dalam kamar.

“Nis, please. Percaya deh sama Reza kita gak ada hubungan apa-apa. Kita hanya sahabat. No more.”ucapku yang akhirnya membuka suara.

“Apa loe? Dasar wanita kegatelan. Bisanya ngerebut pacar orang. Pake acara ngaku-ngaku sahabat lagi.”

“Nisa. Apaan sih. Gak seharusnya kamu ngomong kasar kayak gitu.”ucap Reza sedikit emosi.

“Oh, jadi sekarang kamu lebih ngebelain cewek gak guna itu. Ok, Fine. Kita PUTUS!”ucap Nisa dengan menekan kata putus.

“Nis. Nisa. Aku gak mau putus sama kamu. Aku sayang kamu.”ucap Reza sangat pelan bahkan matanya mulai berkaca-kaca.

“Nisa, gue  mohon Nis. Jangan putusin Reza. Dia gak salah Nis. Loe boleh nge-judge gue. Tapi, please jangan putusin Reza. Dia terlalu sayang ama kamu Nis.”mohonku

‘PRANGG’

Terdengar suara barang pecah yang menghantam pintu dari dalam kamar Nisa.

“NISA!!!”teriak Reza dan menggedor-gedor pintu kamar Nisa dengan keras.

“PERGI LOE BERDUA! GUE GAK SUKA LOE DI SINI! PERGIIII !!!! ATAU GUE BAKAL BUNUH DIRI.”teriak Nisa dari dalam kamarnya semakin menjadinya. Sepertinya emosinya sudah tak terkontrol lagi.

“Za, mending kita pulang. Mungkin Nisa butuh buat menyendiri dulu.”ucapku lembut kepada Reza. Aku takut apa yang dikatakan Nisa bakal benar-benar terjadi. Sedang Reza hanya mengangguk lemah. Tersirat jelas di wajahnya sangat frustasi.

***

“Halo. Gimana Za? Loe baik-baik aja kan?”tanyaku pada Reza saat telepon kami telah bersambung.

“Gue baik-baik aja kok. Tenang aja.”

“Nisa gimana za? Loe udah coba buat telepon dia?”

“Udah din, tapi gak ada satu pun respon dari dia.”

“Sabar ya za. Gue minta maaf, gara-gara gue hubungan loe jadi kayak gini.”

“Loe gak salah kok. Tenang aja. Daripada loe minta maaf mulu dari tadi ke gue mending bantuin gue ngebuktiin ke Nisa kalau dia cuman salah paham.”

Setelah terdiam cukup lama, akhirnya

“Gue punya ide za.”

***

“Kakak, bantuin Dinda dong.”ujarku ketika aku sedang berada di mobil kak Rafa.

“Bantuin apa sih?”

Akhirnya aku menceritakan semua masalah Reza dengan Nisa kemarin dan juga menceritakan semua rencana yang telah aku susun dengan Reza kemarin.

“O jadi begitu. Siap tuan putri. Sudah sana masuk.”

“Siap bos.”ucapku berlalu pergi setelah mencium pipi kiri kak Rafa sekilas.

***

Belum jauh aku berjalan meninggalkan gerbang kampus, tiba-tiba saja sudah ada seorang pria yang menghampiriku. Aku masih tetap berjalan santai dan mengacuhkan pria itu.

“Kemarin kemana kamu. Kenapa tiba-tiba menghilang begitu saja.”aku masih tetap mengacuhkan pria itu. “Besok hari terakhir OSPEK, dan besok kita akan pergi ke puncak dan bagi peserta OSPEK yang tidak ikut, maka tidak akan bisa resmi menjadi mahasiswa di sini.”ucap pria itu kemudian pergi.

“Besok? Ke puncak? Berarti durasi ketemu dia makin panjang dong. Aku benci kamu kak Morgan.”gumamku dalam hati.

***

“Nisa, please dengerin gue.”ucapku pada Nisa ketika kami bertemu di koridor kampus. Nisa hanya diam dan memandang sinis ke aku dan berlalu pergi bersama temannya.

“Nis! Reza nunggu loe di taman belakang kampus ini jam 7 malem dan loe bakalan nyesel kalau loe sampe gak dateng.”teriakku cukup kencang di belakang Nisa yang tak terlalu jauh dariku.

***

Malam telah datang, kini aku, kak Rafa, dan Reza telah bersiap di taman belakang kampus. Semua rencana yang telah kami susun rapi. Taman telah kami tata sedemikian rupa. Kami telah menempati posisi masing-masing. Aku dan kak Rafa berada di balik pohon di samping kiri jalan setapak taman. Sedang reza, dia berada di balik pohon di ujung jalan setapak itu.

Setelah menunggu kira-kira 30 menit, akhirnya target yang ditungu-tunggu datang. Siapa lagi kalau bukan Nisa. Tampak Reza yang sedari tadi sudah was-was karena takut Nisa tak akan datang, kini bibirnya dihiasi dengan senyum yang sangat lebar. Saat itu, Nisa hanya memakai pakaian yang sangat sederhana. Mungkin, ia merasa bahwa ini tidak terlalu penting. Dia hanya memakai rok selutut berwarna pastel dan baju you-can-see berwarna putih tulang. Sedangkan rambutnya yang sebahu itu hanya dihiasi bando putih. Cukup simple tapi tetap menarik.

Nisa mulai memasuki jalan setapak taman. Dia berhenti sejenak melihat sesuatu yang hampir saja ia injak. Terlihat setangkai mawar putih di jalan setapak taman itu. Ia pun mengambilnya. Terdapat note di tangkai mawar putih tersebut.

‘Ambilah mawar-mawar itu dan ikuti ke mana mawar itu akan membawamu’

Nisa pun mengambil mawar-mawar yang tergeletak di sepanjang jalan setapak denitu. Ia mengikuti mawar-mawar itu dan mengambilnya. 1,2,3 dan tepat di mawar ke-14 sekaligus mawar putih terakhir di jalan itu. Kini Nisa telah sampai di ujung jalan setapak itu. Ia mengambil mawar terakhir itu, lagi-lagi terdapat note di mawar itu.

‘Apa kau ingat arti jumlah mawar itu? Apa kau mengerti apa arti angka-angka di depanmu itu?’

Tanpa ragu, Nisa memilih angka “2” dari jejeran angka yang bertaburan kelopak mawar merah itu. Mungkin dia ingat tanggal 14 Februari, tanggal yang sangat bersejarah bagi dia dan Reza. Tiba-tiba dari langit muncul kembang api yang sangat indah. Memberi lukisan indah di langit yang gelap. Dan dengan itu munculah sebuah lampion berwarna pink dari kegelapan di depan sana. Lampion itu bertuliskan “Forgive Me, Nisa”. Kemudian, dari balik pohon besar di depan Nisa keluarlah seorang laki-laki berkemeja putih dengan celana jeans hitam panjang membawa sebuket bunga Mawar putih dan merah. Bunga kesukaan Nisa. Ia pun bernyanyi.

I hope you know but I always try

To be a good man until my last breath

I can pretend the feeling for you

You make me feel like i’m free again

Let me kiss you

Let me hold you

Every step you take, every word you say

and every game you play

I’ll be watching you

Cause my love for you forever

I rip my heart out want this love from you

Cause you are the one until my last breath

I can pretend the feeling for you

You make me feel like i’m free again

Let me kiss you

Let me hold you

Every step you take, every word you say

and every game you play

I’ll be watching you

Cause my love for you

Foreverforeverforeverforever

Every step you takeevery word you say

and every game you play

I’ll be watching you

Every step you takeevery word you say

and every game you play

I’ll be watching you

Forever..

Dengan senyum tulus, laki-laki itu berjalan mendekati Nisa yang masih diam mematung. Terlihat mata Nisa yang sudah mulai berkaca-kaca.

“Forgive me, Nisa. I’m sorry. I’m so sorry.”ucap laki-laki berkemeja putih itu lembut. Nisa masih diam. Dia memandang tak percaya siapa yang berdiri di hadapannya sekarang. “Nisa, please jawab.”

“Aku.. Aku.. Aku..”ucap Nisa yang tak ia lanjutkan. Dia malah menangis.

Laki-laki itu pun memeluk Nisa.

“Maafin aku, Nis.”ucapnya sangat lembut.

“Aku cinta kamu, Za. Aku sayang kamu. Aku ingin selalu bersamamu.”ucap Nisa lirih kepada laki-laki yang mendekapnya itu yang ternyata Reza.

“Aku juga cinta dan sayang kamu Nis. Apa kamu mau maafin aku? Kamu mau kan jadi pacar aku lagi?”tanya Reza kesekian kalinya. Nisa hanya mengangguk pelan di dekapan Reza. Reza pun mencium kening Nisa cukup lama.

“Ciee.. yang udah balikan nih. Kita sampai di lupain.”godaku pada Reza dan keluar dari tempat persembunyianku dengan kak Rafa.

“Maaf din, gue lagi seneng ini. Loe ganggu aja.”ucap Reza kesal merasa acaranya ku ganggu.

“Peace Za. Oh ya Nis, kenalin ini tunangan aku. Gue udah ada yang punya kok jadi gak mungkin aku bakal ngerebut si Reza jelek.”ucapku

“Dia kan sukanya sama gue yang ganteng.”ucap kak Rafa PD

“Orang kakak juga jelek.”ejekku.

“Ye, Ganteng kayak gini dibilang jelek.”

“Emang jelek kok.”

“Ganteng.”

“Jelek.”

“Ganteng.”

“Jelek.”

“STOP! Kok jadi kalian sih yang berantem.”teriak Reza kesal. Sedang kami berdua cuman nyengir kuda.

Dibutuhkan comment !😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s