I Want You – Part II

Ku langkahkan kaki ku perlahan masuk ke dalam kelas.

“Siapa nama kamu?”tanya kakak OSPEK cowok yang berbehel dan berambut sedikit panjang dan acak-acak an.

“Din.. Din.. da. Kak.”ucapku terbata

“Pinter banget ya hari pertama udah telat.”sambung seorang cowok yang berkacamata.

“Ma.. ma.af kak.”

“Maaf. Emang gampang. Sekarang loe berdiri di depan kelas dengan salah satu kaki diangkat dan kedua tangan disilangkan di depan dada dengan memegang telinga.”ucap si cowok berbehel.

Dengan sangat terpaksa, aku pun melakukan apa yang diperintahka oleh kedua kakak OSPEK yang menyebalkan. Sedangkan para peserta OSPEK lainnya sepertinya menikmati tontonan gratis ini. Bad day.

Lima menit sudah aku berdiri dengan keadaan seperti. Badanku terasa pegal semua.

“Bisma! Ilham! Apa yang loe berdua lakuin sudah gue bilangkan kalau gak ada kekerasan kayak gini.”ucap seseorang di ambang pintu ruangan. Mendengar suara yang sepertinya familiar ku pun mendongakkan kepalaku yang sedari tadi menunduk dan menengok ke arah sumber suara.

“Kak Morgan?”

PART II

“Dinda?”ucap seseorang yang ku panggil kak Morgan itu.

Ku turunkan kaki ku ke tanah dan ku lepas jeweran tanganku sendiri di telingaku. Aku masih shock melihat siapa yang ku lihat barusan. Dia? Kak Morgan. Kenapa harus bertemu dengannya lagi. Dunia memang sempit sekali. Mengapa di Jakarta yang seluas ini aku masih bisa bertemu dengannya. Today is My bad day.

“Semuanya harap berkumpul di Aula dan bawa barang-barang kalian. Terima kasih.”ucap kak Morgan dengan cukup keras di depan kelas, tepatnya di sebelahku.

Aku hanya diam, sempat ku pandangi wajahnya yang berada di sampingku sangat dekat.

“Matanya dan tatapan matanya masih sama. Masih menawan dan mempesona. Bahkan, sekarang makin menawan dan mempesona. Tapi, tak kan ku biarkan diriku jatuh di lubang yang sama. Aku hanya cinta Kak Rafa, hanya kak Rafa yang ada di hatiku. Hanya kak Rafa yang akan mengisi hatiku Selamanya.”batinku

“Din, ayo kita ke Aula.”ucap kak Morgan sambil meraih pergelangan tanganku.

“Gak usah pegang-pegang kak. Lepas.”ucapku jutek dan berjalan pergi menuju aula.

Kini semua peserta OSPEK sedang berkumpul di Aula yang cukup megah itu. Para peserta menghadap ke depan, tepatnya kepada para panitia OSPEK yang kini sedang berjajar rapi di depan. Terlihat juga kak Morgan di sana.

Ternyata, acara kumpul ini hanya digunakan untuk memperkenalkan beberapa panitia inti dan juga beberapa peraturan selama OSPEK. Tanpa disangka ternyata kak Morgan yang sangat pendiam itu menjadi Ketua Pelaksana dalam OSPEK ini. Karena ini adalah hari pertama OSPEK, tak ada kegiatan yang berarti. Hanya pengumuman-pengumuman yang menurutku sangatlah tidak penting dan membuang waktu.

“Dinda!”panggil seseorang di belakangku ketika aku berjalan hendak ke parkiran kampus karena kak Rafa telah menunggu di sana. Aku hanya berhenti dan diam memantung tanpa menengok ke belakang. “Dinda, aku mau bicara sama kamu.”ucapnya lagi.

“Maaf kakak Ketua pelaksana, saya sudah ada yang menunggu. Jadi saya harus pergi.”ucapku datar dan pergi meninggalkan kak Morgan.

“Din.”ucapnya menahanku untuk pergi dan membalikkan badanku yang sedari tadi memunggunginya.

“Maaf, saya sudah bilang bahwa saya harus pergi.”ucapku tegas dan mencoba melepaskan genggaman tangan kak Morgan di pergelangan tanganku.

“Please din, aku ingin berbicara dengan kamu 15 menit saja.”ucapnya memohon.

“1 menit.”

“5 menit.”

“1 menit.”

“Fine.”jawabnya pasrah. “Apa kamu masih gak mau maafin aku?”

“Aku udah maafin kok. Tapi sudah aku putuskan bahwa tak akan ada lagi namamu dan semua tentangmu di memori otakku ini. Baik, aku harus pergi.”ucapku pergi.

***

Ku langkahkan kaki ku ke parkiran kampus untuk menemui kak Rafa yang sudah menjemputku. Ku edarkan pandanganku ke seluruh parkiran kampus. Pandanganku terhenti ketika melihat seorang laki-laki berjaket biru tua yang kini tengah memunggungiku yang tengah asyik berbincang dengan seorang perempuan. Ku sipitkan mataku berharap bisa melihat lebih jelas siapa laki – laki dan perempuan yang sedang berbincang itu. Tak salah lagi, itu Kak Rafa, tapi siapa perempuan itu? Ah, pasti hanya teman. Aku tak ingin hanya Karena kesalah pahaman ku hubungan ku akan hancur. Ku hampiri kak Rafa.

“Kakak, maaf ya lama nunggu.”ucapku yang kemudian bergelayut di lengan kiri kak Rafa manja. Ku lihat perempuan itu hanya memandang ku sebal.

“Hi, Dinda. Aku juga baru dateng kok.”Aku hanya tersenyum. “Oya, kenalin ini Asti. Asti, ini Dinda”ucap Kak Rafa.

“Oh, Hy. Dinda.”ucapku tersenyum sambil mengulurkan tanganku ke perempuan yang bernama Asti tersebut.

“Hm.. Raf gue duluan ya. Bye.”ucap Asti berlalu pergi tanpa membalas uluran tanganku.

“Oh, iya hati-hati ya. Bye.”ucap kak Rafa sambil melambaikan tangannya.

“Hmhm kak. Itu tadi siapa sih? Kok sepertinya gak suka gitu sama aku.”tanyaku penasaran

“Oh, itu temen kakak kok. Dia sebenernya baik kok, cuman kalau sama orang baru emang gitu.”aku cuman mengangguk mendengar penjelasan kak Rafa, meski masih terasa ada yang mengganjal. “Kita ke percetakan yuk.”ajak kak Rafa saat kita sudah berada di dalam mobil.

“Ngapain kak?”

“Ya pesen undangan dong.”jawab kak Rafa antusias

“Emang beneran ya kak? Kalau aku gak mau gimana?”

“Beneran nih gak mau? Kalau gitu aku sama Rena aja deh.”

“Eh, jangan dong.”

“Kok jangan katanya gak mau.”

“eng.. aku kan ngomongnya kalau bukan berarti gak mau.”

“Berarti mau dong.”

“Terserah kakak deh.”

“Kamu lucu deh.”ucap kak Rafa sambil tertawa. Sedang aku hanya manyun, karena merasa terpojokkan dengan omongan ku sendiri.

***

“Siang, mas mbak. Ada yang bisa saya bantu?”ucap si mbak petugas percetakan dengan ramah.

“Siang, Kita mau pesan undangan pernikahan untuk bulan depan bisa?”ucap kak Rafa.

“Bisa, ini ada beberapa pilihan, silahkan dipilih.”ucap si mbak petugas itu sambil menyerahkan sebuah buku bercover hitam yang lumayan tebal yang berisi contoh-contoh undangan pernikahan.

Dengan seksama, aku dan kak Rafa membolak-balik buku itu, sesekali terdapat perdebatan kecil antara kami karena berselisih pendapat.

“Nah, ini dia.”ucapku dan kak Rafa berbarengan.

Akhirnya, pilihan kami jatuh di undangan bernuansa black and gold. Senada dengan tema pernikahan kami.

***

Siang telah berganti malam, sedangkan malam telah berganti pagi. Sinar matahari mulai masuk di celah jendela kamarku. Memberikan kehangatan mentari ke dalam kamarku yang cukup besar ini. Ku menggeliat di dalam selimut, sinar matahari telah menganggu tidurku yang nyaman. Segera ku langkahkan kakiku ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan bersiap untuk menjalani aktivitas hari ini yang sepertinya sangat padat.

Dengan pakaian yang simple, aku pun telah siap berangkat ke kampus.

‘drrtt.. drrtt.. drrttt..’

Hapeku bergetar, ada sms masuk.

‘Sayang, maaf ya aku gak bisa nganterin kamu ke kampus. Hari ini ada meeting pagi. Maaf ya kamu diantar Mang ujang aja ya. Hati-hati di jalan, jangan lupa sarapan. :* ‘

‘Sip ganteng, kakak juga hati-hati ya. take care yourself. :* ’

***

“Dinda, kakak bener-bener minta maaf. Kakak ingin kita seperti dulu. Kakak bener-bener khilaf, kakak…”ucap kak Morgan ketika aku sedang mengisi perut sebentar di kantin kampus.

“Stop kak, Dinda udah capek ngedenger penjelasan kakak, itu udah lama banget. Dinda udah maafin kakak kok. Tapi, maaf kak untuk kita seperti dulu aku gak bisa kak. Dulu, kakak pernah ngehibur aku bahwa pangeran kecil aku bakal kembali, dan sekarang pangeran kecil aku telah kembali dan kita akan menikah bulan depan. Ku harap kakak bisa ngertiin aku.”ucapku lalu pergi dengan air mata yang telah berkumpul di pelupuk mataku.

Masih sangat dibutuhkan comment nya. thanks before ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s