Terima Kasih Telah Hadir di Hidupku

Hope you like^^

DINDA’S POV

Sinar hangat sang mentari mulai masuk melalui celah-celah gorden jendela kamarku, membuatku terbangun dari mimpi indahku. Ku tengok handphone ku dan ternyata
1 message received.
From : My hanny
“Bey, maaf hari ini aku gak bisa jemput kmu krn aku hrus ngantar adikku. Maaf ya :* ”

aku pun membalasnya

To : My hanny
“Iya gak papa kok hanny. Hati-hati ya. :* ”

Setelah itu aku bergegas ke kamar mandi.
smbil menunggu aku mandi kenalan yuk….

Perkenalkan namaku Dinda Putri Tanubrata. Aku merupakan adik dari Rafael Handi Tanubrata. Dan yang tadi sms aku, yap dia adalah kekasihku Ilham Fauzie. Kita telah berpacaran 1 tahun lalu. Namun, akhir-akhir ini hubunganku dengannya sedikit renggang. Dia selalu sibuk dengan urusannya sendiri.
Aku sangat mencintai dan menyayanginya.
Setelah 30 menit aku mandi aku segera bersiap dan ke bawah.
“Pagi semua.”sapa ku pada semua penghuni rumah yang telah menunggu ku di meja makan.
“Pagi sayang.”jawab mereka kompak.

“Kak berangkat sekarang yuk.”ajakku pada kakak ku.
“Gak sarapan dulu dek?”tanya kak Rafael.
“Gak deh nanti aja. Aku ada jam pagi nih.”ucapku.
“Iya deh. Ma Pa kita berangkat dulu ya.”pamit Kak Rafael.
“Hati-hati ya sayang..”jawab mereka kompak.
Akhirnya kami pun berangkat. Sesampainya di sekolah, aku disambut oleh sahabatku, Jenni.
“Hai Din.”sapa Jenni.
“Hai Je..”jawabku
“Barengan ke kelas yuk.”ajak Jenni.
“Kak duluan ya.. nanti aku gak pulang bareng kakak ya. Aku mau pergi ke toko buku sama Jenni.”

“Ya dek. Hati-hati ya.”jawab kak Rafael. “Bye..”lanjutnya lalu meninggalkan kami.
Kak Rafael pun pergi ke kampusnya. Sedangkan aku dan Jenni segera berjalan menuju kelas.

***

Saat kami sedang berada di kantin. Tiba-tiba ada yang mengagetkanku dengan menutup mataku dari belakang…

ILHAM’S POV

Bel istirahat telah berbunyi. Akhirnya aku berniat menuju kekantin untuk sekedar mengisi perutku yang kosong. Tampak dari kejauhan bidadariku sedang bercanda ria dengan sahabatnya. Aku pun mencoba mengagetkannya dengan menutupi matanya dengan telapak tanganku.
“Ini pasti my hanny.”tebaknya.
“Tau aja deh kamu.”ucapku.
“Siapa lagi kalau bukan kamu.”ucap Dinda. Ya, wanita itu adalah Dinda, kekasihku.
“Bey, nnt pulang brg agku yya?”tawarku.
“Tapi aku nanti mau ke book store sama Jenny.”jawabnya

“Gak papa kok Din, loe sama Ilham aja.”ucap Jenni yang akhirnya membuka suara.
“Beneran nih?”ucap Dinda.
Aku pun pulang bersama Dinda dan sebelum pulang, aku mengantarkan Dinda ke toko buku.
Setelah mendapatkan novel yang Dinda inginkan, kami pun pulang.

***

DINDA’S POV

Sabtu sore aku duduk di balkon kamarku sambil membaca novel yang kemarin aku beli bersama Ilham.
“END.”kataku dan aku menutup novel tersebut.
Aku mulai bosan.

To : My hanny
“Jalan yuk. Aku bosen nih.”

From : My hanny
“Maaf ya bey, aku harus nganter mama ke dokter. Soalnya, dy lg sakit. Maaf ya.”

To : My hanny
“Iya deh gpp. Get Well Soon ya.”

“Ah, lagi-lagi selalu tak bisa.”gerutuku.
“Jalan sama aku aja yuk.”ajak seseorang yang tiba-tiba muncul di depan.
“Ih. kakak ngagetin aja. Iya deh jalan yuk. BT nih.”jawabku kepada seseorang yang ternyata kakak ku.
“Emang kak Sisi ke mana kak? Kadang gak jalan.”lanjutku.
“Oh, dia ? katanya sih dia mau shopping sama mamanya.”jawab kak Rafael.

“Hmmm…Bentar ya. Ganti baju dulu.”kataku seraya pergi.
“Ya udah deh. Kakak ambil mobil dulu ya.”kata kak Rafael lalu pergi.
…tin…tin..tintintin…
terdengar suara klakson mobil kak Rafael.
“Aduh. Sabaran dikit napa. Selalu deh.”gerutuku sambil berlari kecil menuju sumber suara.
“Ah.. selalu deh gak sabaran.”ucapku sedikit kesal.
“Kamu sih lama amat.”ucap Kak Rafael sambil mengacak-acak poniku yang telah rapi.
“Aduh.. Kakak ! kusut kan.”ucapku tambah kesal.

***
Tibalah kami di sebuah Pusat perbelanjaan.
“Kak.. Bentar deh.”ucapku sambil ngeloyor pergi dan meninggalkan kak Rafael.
“Oh.. jadi tempat praktek dokter itu ada di sini ya.”sindirku pada seseorang yang lewat di depanku.
Dia langsung membelalak kaget melihatku.
“Din…Din..Da..”ucapnya terbata-bata.
“Terus ini ya mama kamu. Cantik banget ya. Masih muda lagi. Terus kayaknya sehat-sehat aja malahan kelihatan bugar.”lanjutku.
“Din.. tunggu din. Aku bisa jelasin ini.”ucapnya.

“Gak ada yang bisa dijelasin lagi, ham. Aku sudah terlanjur sakit. Terimakasih telah mengisi kekosongan hatiku selama ini.”ucapku mulai tak bisa membendung air mataku yang kini telah membasahi pipiku.
Aku pun berlari menuju ke jalan raya. Dan Ilham masih mencoba mengejarku.
“Dindaaaaa… Awaasss!!”teriak Ilham.
Ketika sebuah mobil hampir menabrakku, aku merasa ada seseorang yang mendorongku begitu kuat sehingga aku terhindar dari kecelakaan tersebut. Aku pun membalikkan badanku..
Dan..

Dann..
“ILHAMMMM!!!!”teriakku seketika.
Aku melihat Ilham telah bersimbah darah. Dia terluka sangat parah. Aku pun mendekatinya, berharap aku salah lihat dan bukan Ilham yang ada di depan mataku.
Namun, takdir berkata lain itu memang Ilham.
Aku pun menaruh kepala Ilham di pangkuanku. Dan ia menggenggam tanganku.
“Bey, ma..afin a..ku ya. A..ku me..mang sa..lah.”ucapnya terbata-bata.
“Iya aku udah maafin kamu kok. Kamu harus kuat ya.”ucapku berusaha tersenyum namun air mata semakin deras mengalir dr mataku

“Aku sayang kamu Hanny..Kamu harus kuat kamu harus bertahan.”ucapku.
“A..ku ju..ga sa..yang ka..mu bey, ma.a..fin se..mua ke..sa..lahan..ku ya. Ki..ta pas..ti bi..sa ber..te..mu la..gi di Sur..ga..”ucap Ilham tersenyum.
“I…Lo..vE..you.”lanjutnya.
Dan ia pun memejamkan mata. Tangannya yang tadi menggenggam tanganku erat mulai merenggang dan kini terlepas.
“Ilham.. Bangun ham..”teriakku histeris sambil menggoyangkan tubuh ilham yang kini telah lemah tak berdaya.

“Dek, kamu harus kuat. Kamu harus sabar. Ilham telah tenang di alam sana.”ucap Kak Rafael yang ternyata sedari tadi telah berdiri di belakangku.
“Gak kak. Ilham masih hidup. Hannyy! bangun! jangan bercanda dong. Bangunnn!!!”ucapku masih tak percaya.

AUTHOR’S POV
Karena tak kuat. Akhirnya, Dinda pingsan dan Rafael membawa Dinda pulang. Sedangkan Ilham, ia telah dibawa Ambulance.
***
“ngh..”Dinda mulai sadar.
“Ilham..”
“Kamu sudah sadar dek?”ucap Rafael yang dari kemarin setia menunggu Dinda.

“Ilham mana kak?”tanya Dinda.
Rafael hanya diam.
“Kak, Ilham mana?”tanya Dinda lagi-lagi. Kali ini lagi-lagi ia menetesan air mata.
“Adek, Ilham udah tenang. Kamu harus ikhlas ya.”ucap Rafael berusaha menenangkan adiknya.
Dinda hanya bisa menangis. Ia sadar kini Ilham telah tiada. Ilham yang sangat ia cintai. Ilham yang mengisi hatinya selama ini. Kini telah pergi untuk selamanya.
“I Love You hanny. Terima Kasih telah hadir di Hidupku.”batin Dinda.
-END-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s