My First and My Last

Sebenarnya ini fanfic lomba. tapi karena tidak menang jadi saya putuskan posting di sini.

happy reading^^

Rena melangkahkan kakinya melewati koridor kampus yang cukup sepi itu. Hanya beberapa mahasiswa yang berlalu lalang. Entah mengapa tiba-tiba langkah Rena sedikit terhuyung, mungkin karena ia sedikt pusing dan saat ini membawa tumpukan buku yang cukup tebal dan berat.

‘happ’

Seorang laki – laki menangkap tubuh Rena yang hampir jatuh jika tidak ditangkapnya.

“Kau tak apa?”tanya laki – laki berkacamata itu.

“Aku tak apa.”jawab Rena sembari bangkit dari dekapan laki-laki manis itu.

“Tapi, wajahmu tampak pucat.”tersirat nada kekhawatiran dari laki-laki itu.

“Aku tak apa. Hanya tadi sedikit tak seimbang. Jadi hampir jatuh.”

“Benar?”Rena hanya mengangguk dengan senyuman termanisnya berharap laki-laki itu percaya dengan ucapannya.

“Baiklah. Lain kali hati-hati ya. Aku pergi dulu.”ucap laki-laki itu tersenyum manis dan berlalu pergi.

***

Rena berjalan melintasi lapangan basket. Dia berharap dengan menyeberangi lapangan basket adalah jalan pintas menuju perpustakaan yang berada di seberang lapangan basket. Ia berjalan santai tanpa memperhatikan orang-orang yang sedang bermain basket.

“Dicky, tangkap bolanya!”teriak Erick, salah seorang teman Dicky.

Namun, Dicky sepertinya sedang melamun. Ia memperhatikan Rena yang sedang melintasi lapangan Basket dengan pandangan lurus ke depan.

‘DUGH’

‘BUGG’

Rena terjatuh pingsan karena Dicky yang tak menangkap bola basket yang dioper Erick sehingga bola itu mengenai kepala Rena sampai Rena terjatuh pingsan. Dicky pun segera menghampiri Rena. Ia segera membopongnyake ruang kesehatan di kampus.

Sesampainya di sana, Dicky segera melepas sepatu dan jaket Rena. Kemudian ia memberi aroma minyak angin di bawah hidung Rena.

Nghh~

Rena mendesah kecil dan ia mengerjap-ngerjapkan matanya. Ia pun berusaha untuk bangun dari tidurnya.

“Eh, jangan bangun dulu. Kau pasti masih pusing.”ucap Dicky khawatir

“Aku baik-baik..-“ belum selesai Rena berbicara, tiba-tiba keluar cairan merah kental dari hidung Rena.

“Eh, kau mimisan.”ucap Dicky panik dan segera mengambil kapas di lemari obat dan segera menyumbat lubang hidung Rena sebagai pertolongan pertama.

Tiba-tiba saja Rena pingsan kembali. Dicky semakin panik. Tanpa basa-basi lagi ia segera membopong Rena ke mobil Yaris hitamnya. Ia membawa Rena ke Rumah sakit terdekat.

***

Sekarang Dicky berada di depan ruang UGD. Ia masih menunggu hasil pemeriksaan dokter. Ia sangat khawatir dengan gadis yang tak dikenalnya itu. Ia tak henti mondar-mandir. Sesekali ia duduk, namun tak lama kemudian di mondar-mandir lagi.

Satu jam sudah, Dicky menunggu. Namun, tak ada tanda-tanda dari kamar berpintu kaca buram itu. Tak lama kemudian, dokter pun akhirnya keluar dengan mimik wajah yang tak bisa diartikan. Segera Dicky menghampiri dokter itu.

“Bagaimana dok?”tanya Dicky dengan wajah yang sudah sangat khawatir.

“Anda siapa?”tanya dokter.

“Ehm.. ehm.. saya.. saya.. pacarnya dok. Iya, saya pacarnya. Bagaimana keadaannya?”ujar Dicky setelah sekian lama memikirkan hubungan yang tepat dengan dia wanita yang sebenarnya tak dikenalnya itu.

“Baiklah. Mari ikut saya.”Dicky hanya mengangguk dan berjalan di belakang dokter.

***

“Boleh saya tahu nama pasien?”tanya dokter kepada Dicky ketika mereka sedang berada di ruangan dokter.

“Eh, ehm nama pasien.. Rena dok. Iya nama pasien Rena.”jawab Dicky yang lagi-lagi mengarang.

“Apa pasien akhir-akhir ini sering pusing dan mimisan?”tanya dokter.

“Iya dok.”jawab Dicky mantap, karena tanpa sepengetahuan Rena ternyata Dicky kerap memperhatikannya. Bahkan, dia kerap memergoki Rena yang sedang mimisan.

“Saya sangat berat mengatakan ini, namun ini harus saya katakan. Pasien Rena menderita Leukimia akut. Dan mungkin umurnya sudah tak lama lagi. Biasanya para penderita penyakit ini hanya dapat bertahan paling lama dua minggu. Yang sabar ya, berikan dia kebahagiaan di akhir hidupnya.”ucap dokter menepuk pelan pundak Dicky berharap memberi kekuatan.

Dicky hanya diam tak percaya. Ternyata, gadis cantik yang bahkan belum ia kenal itu harus mengalami cobaan yang sangat berat ini. Setelah berpamitan dengan dokter, ia seger menemui Rena yang telah dipindahkan ke ruang rawat inap.

Dicky masih diam menatap gadis mungil yang sekarang berbaring lemah di depannya. Wajah dan bibirnya yang tipis itu kini sangat pucat. Dicky memegang tangan gadis itu. Tangannya dingin. Dia pun menggenggam tangan gadis itu berusaha menyalurkan kehangatan. Tiba-tiba tangan gadis itu bergerak. Sebuah senyuman kecil terlukis di bibir Dicky. Perlahan mata Rena mulai terbuka.

“Syukurlah kau telah sadar.”ucap Dicky.

“Terimakasih ya.”ucap Rena lemas.

“Iya sama-sama. Oya, kita belum kenalan nih. Kenalin, namaku Dicky.”ujar Dicky menyunggingkan senyumnya.

“Aku Rena.”ucap Rena tersenyum.

“Rena? Benar nama kamu Rena?”tanya Dicky tak percaya. Rena hanya mengangguk pelan.

“Sepertinya kita berjodoh.”canda Dicky.

“Ha? Darimana kau menyimpulkan itu?”tanya Rena bingung.

“Tadi aku sedikit bingung. Sebenarnya ketika dokter bertanya namamu, jadi aku mengarang dan BINGO.”jelas Dicky semangat.

“Ternyata kau paranormal yang handal.”goda Rena.

“Dicky apa yang dikatakan dokter tentangku?”

“Oh kau tak apa kok. kau hanya kelelahan saja.”ucap Dicky berdusta. “Jangan sampai kecapaian lagi ya.”nasehat Dicky lembut.

***

Dicky pun segera menghubungi orang tua Rena. Setelah menghubungi orang tua Rena ia segera kembali ke ruang rawat Rena. Namun, betapa kagetnya Dicky ketika mendapati Rena tengah menangis tersedu-sedu.

“Hi mengapa kau menangis?”tanya Dicky dan berjalan mendekati Rena.

“STOP!! JANGAN DEKAT-DEKAT DENGANKU .”teriak Rena.

“Hi ada apa denganmu?”tanya Dicky pelan. Dia masih bingung ada apa dengan diri Rena.

“Aku sakit. Aku sakit. Kau tak pantas dekat denganku. Pergilah. Pergi. Kau tak pantas dekat denganku yang berpenyakitan sepertiku.”ucap Rena pelan.

“Ternyata dia sudah tahu. Jangan-jangan dia mendengarkanku yang sedang menghubungi Rena tadi. Ya Tuhan kuatkanlah dia.”gumam Dicky.

Dicky segera memeluk Rena. Namun, Rena malah memukul dada Dicky. Namun, tak sedikitpun Dicky melepaskan pelukannya. Tak lama kemudian pukulan Rena melemah dan hilang. Yang terdengar kini hanya isak tangis Rena. Tubuhnya masih bergetar hebat. Air mata Rena makin deras, bahkan sampai membasahi kaos putih Dicky. Dicky masih diam memeluk Rena. Ia membelai pelan rambut Rena, hanya dengan gerakan ia berusaha menyalurkan ketenangan.

“Tuhan, cobaan apa ini? Waktuku sudah tak lama lagi. Padahal aku masih ingin hidup. Aku ingin merasakan cinta laki-laki yang mendekapku ini. Aku ingin tahu apa dia juga mencintaiku? Aku mencintainya Tuhan. Entah sejak kapan aku mencintainya. Rasa ini muncul begitu saja. Padahal baru beberapa ini aku  mengenalnya. Dan mungkin dialah cinta pertamaku.”gumam Rena dalam hati.

Rena masih merasa nyaman di pelukan Dicky, sedari tadi ia tak melepaskannya.

“Gadis ini, aku menyukainya bahkan mungkin aku mencintainya. Sejak tadi ia tak melepaskan pelukanku. Senyaman apa sih pelukanku?”gumamku dalam hati dan tersenyum kecil.

***

Kini Rena mulai bisa menerima takdir yang harus dijalaninya. Meski badannya sangat rapuh, dia tetap melakukan aktivitas seperti biasanya. Dicky selalu ada di samping Rena. ia selalu memberi semangat kepada Rena. Ia selalu ada ketika sakit Rena kambuh. Dicky adalah semangat Rena menghadapi sakit yang luar biasa itu. Namun, beberapa hari terakhir ini Dicky tak pernah muncul lagi di depan Rena. Entah di mana dia berada. Dicky menghilang begitu saja.

Hari ini, Rena datang ke rumah sakit untuk check-up sendirian. Dia sedikit tak bersemangat karena tak ada Dicky di samping nya. Tak sengaja ia melewati sebuah ruangan yang pintunya terbuka. Ia sengaja melihat siapa pasien yang ada di dalam ruangan tersebut. Seketika Rena kaget, ternyata dia adalah Dicky.

Dicky terbaring lemas di sana. Matanya diperban.

“Dicky.”ucap Rena lirih.

“Siapa itu?”ucap Dicky.

Rena pun berjalan mendekati Dicky tanpa menjawab pertanyaan Dicky.

“Dicky, apa yang terjadi denganmu?”tanya Rena yang kini telah menangis.

“Rena? Bagaimana kau bisa ada di sini?”tanya Dicky yang merasa sangat mengenal suara siapa yang sedang diajaknya biacara.

“Kenapa kau tak memberi tauku? Apa yang terjadi padamu?”

“Aku mengalami kecelakaan dan aku sekarang buta aku hanya bisa melihat kegelapan di dunia ini.”jawab Dicky tegar. “Kau jangan menangis ya. aku bakal sedih kalau kamu juga menangis.”ucap Dicky dan tangannya berusaha meraih wajah Rena dan berusaha menghapus air mata yang telah mengalir dari pelupuk Rena sedari tadi.

***

Setelah mengetahui Dicky sakit, dia menjalani hari-harinya sendiri. Setelah satu minggu ini dia merasa penyakitnya sudah tak pernah kambuh. Namun, tiba-tiba Rena mengalami pusing yang luar biasa. Hidungnya mimisan. Bahkan kali ini semakin banyak.

Kini disaat seperti ini tak ada lagi Dicky di samping Rena. Rena sudah tak tahan lagi, dan akhirnya ia menghembuskan nafas terakhirnya.

***

Dicky sangat senang, ada seorang pendonor baik hati yang bisa menyebabkan Dicky melihat lagi. Namun sayang, dokter yang menangani Dicky tak mau memberi tahu siapa pendonor baik hati itu.

Dicky sangat senang, ia ingin segera memberitahu kepada Rena. Ia pun segera datang ke rumah Rena. Namun, senyum yang telah ia paparkan dari tadi kini hilang bahkan berubah menjadi sebuah tetesan air mata. Dicky sangat kaget sekaligus sedih mendengar berita tentang Rena.

“Nak Dicky, ini ada surat dari Rena.”ucap mama Rena pada Dicky yang saat itu sedang berada di ruang tamu rumah Rena.

Tanpa ba bi bu lagi, Dicky segera membuka amplop biru muda itu. Di bukanya lipatan kertas berwarna putih itu. Terlihat jejeran tulisan rapi tangan Rena.

‘Hi Dicky, jika kamu membuka surat ini pasti kau sudah bisa melihat. Aku senang akhirnya kau bisa melihat lagi. Namun, sayang aku tak bisa ikut merayakan kebahagiaan mu itu. Aku harus pergi dulu.

Aku  sudah tenang di sini, kau tak usah khawatir. Terimakasih kau telah menjadi sahabat dan penyemangatku selama ini. Kehadiranmu sangat berarti di hidupku yang singkat ini. Terima kasih sekali lagi.

Dicky, kalau boleh aku jujur, aku mencintaimu. Entah sejak kapan rasa ini muncul dan ku rasa kau adalah cinta pertamaku. Ku akan selalu mencintaimu Dicky meski aku tak berada di sampingmu. Tapi aku akan selalu di hatimu kan? Meski raga ku telah kembali ke bumi, namun aku senang salah satu bagian tubuhku masih bisa hidup, di matamu. Jaga baik-baik ya.

Always Love you my first and my last love.

-Rena-‘

-The End-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s